“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


SILSILAH HADIS DHA'IF DAN MAUDHU`
DAN PENGARUHNYA BAGI UMAT
Karya: AL-ALBANI
Oleh: Samsurizal

I.       Pendahuluan

A.    Biografi Singkat al-Albani

            Nama Lengkapnya Muhammad Nashiruddin al-Albaniy Ibn Nuh Najati bin Adam. Populer dengan al-Albaniy, yakni dinisbahkan kepada tempat lahirnya Albania. Disebut juga dengan Abu Abdurrahman, bapaknya Abdurrahman, anaknya yang sulung. Ia lahir 1332 H bertepatan 1914 H di kota Asy-Qudarah, Ibukota Albania.[1]
            Al-Albaniy lahir dari keluarga miskin, jauh dari kemewahan. Ayahnya bekerja sebagai reparator arloji, tetapi mereka merupakan keluarga yang ta’at dan cinta ilmu pengetahuan. Ayahnya, Nuh Najati al-Albaniy adalah lulusan Lembaga Pendidikan Ilmu-Ilmu Syari’at di Ibukota Dinasti Utsmaniyyah (kini Istanbul). Setelah itu ia pulang kenegerinya, dan banyak orang belajar padanya.
            Ketika Raja Zagho naik tahta di Albania, ia mengubah sistem pemerintah yang sekuler dan mengikuti kebijakan Turki. Wanita di Negeri itu diperintahkan untuk melepaskan hijab. Keadaan menjadi kacau, fitnah dan kerusakan terjadi dimana-mana. Nuh dan beberapa kepala keluarga lainnya mengkhawatirkan kebebasan diri dan keluarga mereka dalam menjalankan ajaran Islam. Maka, mereka hijrah ke Syam, selanjutnya ke Damaskus dan menetap di sana.
            Di daerah itu, al-Albaniy mengecap pendidikan formal dan non-formal. Ia membaca, berdiskusi, dan mengkaji, serta mengarang beberapa buku. Pada waktu ia berumur 22 tahun, al-Albaniy pergi lantaran berbeda pendapat dengan ayahnya. Namun, walau begitu ayahnya membekalinya dengan dana 25 Riyal Syiria. Salah seorang saudaranya juga memberinya 200 Riyal. Dengan uang itu, ia menyewa satu kedai untuk membuka usaha reparasi arloji. Di samping itu, ia juga mulai mendirikan kelompok diskusi beberapa buku terutama buku-buku hadis dan fiqh al-hadis dengan beberapa temannya.
            Pada awal bulan Ramadhan tahun 1400 H, ia pindah ke Oman dan mendirikan rumah disana, tepatnya di Mark Utara. Di sana ia terus melakukan kegiatan da’wah dan tarbiyah di atas pondasi manhaj salafi. Al-Albaniy adalah seorang yang tawadhu’ dalam menerima kebenaran, berpegang pada kebenaran dimanapun dan kepada siapapun. Ia juga seorang yang penyayang, santun, dan senang membantu orang yang membutuhkan.
            Dalam hal ibadah, ia selalu menjaga agar sesuai dengan Al-Sunnah, baik dari segi sifat, jumlah, waktu, serta senantiasa mengaplikasikan dalam hal makan, minum, berpakaian dan mu’amalah. Ia juga rajin melakukan shalat sunat dan puasa (Senin dan Kamis). Hatinya cepat tersentuh setiap kali mendengar ayat suci al-Qur’an mendengar hadis-hadis nabi yang berisikan ancaman dan janji, atau nasehat-nasehat para ulama tentang kematian, melihat suatu kebaikan, bahkan ketika ia dipuji dan di sanjung. Bila hari Jum’at tiba, setiba di mesjid ia selalu shalat dua raka’at sebelum imam naik mimbar. Setiap tahun ia berusaha untuk menunaikan haji dan umrah, terkadang dua kali umrah dalam setahun. Ia telah menunaikan haji lebih dari 30 kali.
            Al-Albaniy wafat sebelum matahari terbenam hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H, bertepatan 1999 M, dalam usia 88 tahun, di kota Oman Ibukota Yordania. Sesuai dengan wasiat beliau agar dishalatkan setelah shalat isya’ pada hari wafatnya dan dimakamkan di daerah Hamlan, Mark Utara.
1.      Guru-Gurunya
Diantara gurunya adalah orangtuanya sendiri, kerabat ayahnya yaitu Muhammad Sa’id al-Burhani, al-‘Allamah Muhammad Bahjah al-Baithar, dan sebagian ulama yang ada di Damaskus.[2]
2.      Murid-Muridnya
Banyak orang yang belajar, walaupun hanya mempelajari satu atau dua pelajaran atau cukup dengan satu atau dua fatwa. Di antara murid-muridnya adalah Syaikh Muhammad Nasib al-Rifa’i, Syaikh Muhammad Zuhair al-Syawisy, Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, Syaik Muhammad ‘Id Abbasiy, Syaikh Ali al-Khasyan, Ali Hasan al-Hilbiy, Syaikh Salim al-Hilaliy, Prof. Mahmud Mahdi al-Istanbuliy, Abu Ishaq al-Huwainiy.
3.      Perjalanan Mencari Ilmu
Ketika orangtuanya hijrah ke Damaskus, al-Albaniy dimasukkan ke Madrasah Jam’iyyah al-Is’af al-Khairiy sampai selesai dengan prestasi gemilang. Ia juga belajar kepada kerabat ayahnya Muhammad Sa’id al-Burhaniy yang mengajarkannya miraqiy al-falah dalam fiqh al-Hanafi. Ia juga menghadiri halaqah al-‘Allamah Muhammad Bahjah al-Baithar. Ia belajar tajwid al-Qur’an pada orangtuanya ketika masih kecil. Ayahnya juga mengajarkannya sharf dan fiqh. Ayahnya sangat fanatik terhadap mazhab Hanafi.
Setelah belajar dengan para Syaikh yang mulia, ia mulai serius mempelajari ilmu hadis secara riwayah dan dirayah. Ia pernah berkata, “Nikmat yang diberikan oleh Allah kepadaku sangat banyak sehingga aku tidak bisa menghitungnya, dan mudah-mudahan yang terpenting ada dua, pertama, aku bisa belajar bahasa arab dengan mudah. Seandainya kami masih tinggal di Albania, maka aku akan kesulitan untuk mempelajarinya. Kedua, aku punya banyak waktu untuk menuntut ilmu dan pergi ke pustaka al-Zahiriyyah”. Ini semua di mulai ketika al-Albaniy berumur 20 tahun setelah dapat pengaruh dari pembahasan-pembahasan majalah al-manar Mesir yang mana pemrednya adalah Muhammad Rasyid Ridha”.[3]
Imam al-Albaniy juga terpengaruh oleh manhaj syaikhul islam ibn Taimiyyah dan muridnya Ibn al-Jauzi serta syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang mana semuanya mengajak untuk mengikuti al-Qur’an dan sunnah, dan kembali pada keduanya dalam setiap perkara dan memerangi ahli sesat dan bid’ah. Makanya ia sering memakai fatwa mereka. Ia pernah berkata, “Manhaj kita mengikuti apa yang ada dalam al-Qur’an dan hadis, dan apa-apa yang telah ditetapkan oleh ulama-ulama terdahulu”.
4.      Sasaran Da’wah al-Albaniy
Ada enam point penting dakwah beliau yaitu:
a.       Kembali kepada kitabullah dan Sunnah Nabi
b.      Mengenalkan umat dengan agama mereka yang benar
c.       Da’wah kepada mentauhidkan Allah SwT.
d.      Mengakrabkan sunnah kepada umat dan mengajak mereka untuk mengamalkannya;
e.       Berusaha mengamalkan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam;
f.       Menghidupkan pemikiran islam yang bebas dalam koridor kaidah-kaidah Islam.[4]

II.    Pembahasan

Mengutip pernyataan al-Albani dalam mukaddimah kitab Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`if wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah bahwa perhatian beliau terhadap penerbitan kitab ini lebih serius daripada karya beliau yang lain.5
Para ulama dari segala penjuru dunia telah banyak mengetahui betapa pentingnya makalah (tentang hadis dhaif) dan manfa’atnya bagi umat. Maka al-Albaniy mengingatkan bahwa apa yang mereka tulis itu adalah salah, yang mana mereka (para ulama) mengira bahwa hadis-hadis itu adalah shahih, karena ia sudah tertulis dalam buku-buku, dan telah beredar dari mulut ke mulut. Termasuk yang telah membantu menyebarkannya adalah teknologi yang ada di zaman sekarang, seperti radio, koran-koran, majalah dan lain-lain. Maka menjadi bagi ulama yang masih sadar untuk memperbaikinya.
Al-Albaniy berkata, “Di zaman Ibn al-Jauzi saja sedikit ulama yang membahas hadis yang dhaif dan maudhu’, apalagi di zaman sekarang, sudah barang tentu jumlah mereka lebih sedikit. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi umat untuk menjelasakan hadis-hadis yang dhaif dan maudhu’, supaya orang-orang lebih hati-hati”. Imam Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Lebih baik aku mencari sebuah ‘illat  hadis daripada membuat hadis yang tidak aku ketahui”.6

A.    Latar Belakang Penulisan Kitab

            Al-Albaniy memulai karyanya Silsilah hadis dhaif dan maudhu’ dengan makalah-makalah yang dia tulis pada majalah al-Tamaddun al-Islamy al-Ghara’, dengan judul silsilah hadis-hadis dhaif dan maudhu’ dan pengaruh buruknya bagi umat. Hadis-hadis ini ditulis oleh al-Albaniy karena banyaknya beredar hadis-hadis dha’if di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana mungkin seorang Zindiq telah menulis 4000 hadis, dan orang-orang yang dikenal maudhu’ mampu menulis ribuan hadis. Belum lagi ada orang yang menulis hadis demi kepentingan-kepentingan tertentu, yang mana mereka mengira apa yang mereka tulis itu adalah benar!
Dan juga yang mendorong al-Albaniy untuk menulis adalah dorongan dari para ulama untuk meneruskan dalam penulisan di majalah supaya bisa diketahui oleh umat dan supaya tidak ada lagi orang yang berusaha berbohong terhadap Rasul SAW atau paling tidak mereka yang berbohong tidak berani lagi menyandarkan hadisnya kepada Rasul SAW. Walaupun banyak halangan dan rintangan yang menghadang, namun al-Albaniy tidak pernah gentar untuk tetap menulis. Al-Albaniy juga terpengaruh dengan tulisan Muhammad Rasyid Ridha yang menulis tentang hadis-hadis dhaif dalam majalah al-manar Mesir.

B.     Metode Penulisan

Al-Albaniy mengatakan dalam muqaddimahnya bahwa dalam penulisan buku ini, ia tidak mengikuti seseorang dalam menetapkan hukum-hukum hadis, akan tetapi bersandarkan kepada kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan oleh ahli hadis, dan mengikuti apa-apa yang telah mereka tetapkan, apakah hadisnya shahih, dha’if, dan lain-lain. Dan itu di mulai sejak zaman keemasan Islam. Dan ia juga memohon kepada Allah supaya diberi taufiq, dan supaya umat mengetahui. Ia juga berharap mudah-mudahan ada ulama yang akan menyempurnakan kaidah-kaidah yang telah ada, karena ia termasuk ilmu yang paling penting. Dan supaya para orientalis juga akan tahu akan kesalahan mereka.
            Hadis-hadis yang telah ditulis berjumlah sekitar 400 ratusan hadis, maka al-Albany untuk mengumpulkan dalam bentuk buku karena sebelumnya hanya di tulis dalam jurnal atau majalah. Ia berencana mengumpulkannya dalam 4 jilid, setiap juz berisikan 100 hadis, atau lebih banyak, kalau diperlukan. Dan setiap telah tertulis dalam majalah 100 hadis, maka al-Albaniy mencetaknya dalam juz yang lain, dan mengumpulkan setiap lima juz dalam satu jilid.
            Al-Albaniy juga menambahkan terhadap sebagian hadis yang terdapat dalam majalah al-tamaddun al-Islamiy, seperti men-ta’dil uslub kata, dan penambahan tahqiq, dan lain-lain yang bermanfa’at. Kadang-kadang ia mengganti hukum sebuah hadis setelah dilihat jarh dan ta’dilnya, seperti ia mengatakan: “Dhaif jiddan”, pengganti “dhaif” atau sebaliknya, dan “dhaif” pengganti “maudhu’” atau sebaliknya dan seterusnya, dan ini adalah dengan dua tujuan:
  1. Supaya orang-orang tidak mengira bahwa itu adalah kesalahan percetakan
  2. Supaya diketahui bahwa ilmu itu tidak jumud, akan tetapi selalu berkembang dari salah menjadi benar, dari shahih kepada ashah, dan seterusnya. Dan supaya orang-orang mengetahui bahwa kita tidak memaksakan sebuah kesalahan apabila terbukti kebenarannya.7
Khusus Jilid dua beliau tidak mencetak di Lebanon (penerbitan yang dikelola oleh Ustadz Zuhair Syawisy). Karena, telah terjadi perang saudara dan muncul berbagai fitnah di kalangan masyarakat Lebanon yang berkepanjangan---hingga saat ini (1408 H/1988 M). Terpaksa diterbitkan dinegara lain (Riyadh). Karena ada masalah teknis, maka penerbitan tersebut tertunda tidak kurang dari dua tahun.
Kemudian, dalam membahas suatu hadis, langkah pertama yang dilakukan al-Albaniy adalah menyebutkan hukum hadis tersebut, kemudian langkah kedua yaitu menyebutkan dibuku mana saja hadis itu terdapat dengan disertakan pengarang dan perawinya. Langkah ketiga adalah menyebutkan pendapat-pendapat para ulama terhadap hadis yang di bahas disertai hukumnya. Langkah terakhir yang dilakukan al-Albaniy adalah menyebutkan pendapatnya terhadap hadis yang sedang di bahas terkadang menampilkan hadits yang shahih mengenai hadits terkait dengan bahasan tersebut. Sebagai contoh tentang hadits الجنة تحت أقدام الأمهات, من شئن أدخلن ومن شئن أخرجن beliau menampilkan hadits yang shahih yaitu الزمها فإن الجنة تحت رجليها  diriwayatkan oleh al-Nasâ`iy (2/45) dan yang lainnya. Untuk menilai perawi beliau mengambil pendapat seperti Imam Bukhari, Ibnu Hajar, Ibn Thahir dan lain-lain. Referensi yang digunakan diantaranya kita al-Maudhû`ât karya Iman al-Jauziy, al-Mîzân karya al-Dzahabiy, al-Jâmi` al-Shaghîr karya al-Suyuthiy, dan lain-lainnya.
            Kitab Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah ini ditulis sebanyak 10 Jilid dari 5000 hadits yang telah beliau siapkan.8 Masing-masing jilid terdiri dari 500 hadits. Dan ditulis setelah menyeleksi mana hadits yang shahih dan mana yang dha`if. Pada bagian akhir kitab, al-Albaniy membagi daftar isi dari berbagai segi, di antaranya:
a.       Berdasarkan urutan nomor
b.      Berdasarkan urutan huruf
c.       Berdasarkan urutan tema dan bab-bab.9

C.    Penilaian Ulama terhadap al-Albaniy

            Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Abdulllah bin Baz mengatakan, “Aku tidak mengetahui orang yang lebih tahu tentang ilmu hadis pada zaman ini kecuali syaikh Nasir”. Ia juga mengatakan bahwa syaikh al-Albaniy adalah mujaddid zaman ini. Al-Allamah Muhammad bin Shalih mengatakan bahwa al-Albaniy adalah muhaddis pada zaman ini dan menguasai ilmu hadis secara riwayah dan dirayah. Al-Allamah Hamad al-Ansari mengatakan bahwa al-Albaniy mempunyai pengetahuan yang laus dalam ilmu hadis. Para ahli hadis di India mengatakan bahwa al-Albaniy orang yang punya andil besar dalam hadis Nabi pada zaman ini. Para ulama di Lembaga Fatwa kerajaan Arab Saudi mengatakan bahwa al-Albaniy mempunyai pengetahuan yang luas dalam ilmu hadis. Al-Allamah Ahmad bin Yahya al-Najmiy mengatakan bahwa syaikh Muhammad Nashir adalah muhaddis yang besar dan populer. Dr. Yusuf  Qardhawi berkata, “Muhaddis negri Syam adalah Nashiruddin al-Albaniy”.

D.    Karya-Karya al-Albaniy

            Sudah banyak buku yang telah di tulis oleh al-Albaniy, diantaranya:
  1. Adab al-Zafaf  fi al-Sunnah al-Muthahhirah
  2. Ahkam al-Jana’iz
  3. Al-Tawassul wa Ahkamuhu wa Anwa’uhu
  4. Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah
  5. Silsilah al-Ahadis al-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawaiduha
  6. Silsilah al-Ahadis al-Dha’ifah wa Atsaruha al-Sayyi’ ala  al-Ummah
  7. Qiyam Ramadhan
  8. Sifatu Shalat al-Nabi.10
  9. Mukhtashar Shahih Bukhari
  10. Dan lain-lain. 

III.  Penutup

Melihat susunan kitab ini, al-Albaniy membagi hadits dari segi kualitas dalam tiga kategori yaitu shahih, dhai`f, dan maudhu`, tidak memakai istilah hasan. Ini jelas mengikuti metode Imam al-Bukhari dan Ibn Hajar. Usaha yang dilakukan oleh al-Albaniy ini, banyak terbantu dari buku-buku kaidah yang telah ada seperti al-Maqâshid al-Hasanah fi bayâni katsîr min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah karya Syaikh Syams al-Dîn Muhammad ibn `Abd al-Rahmân al-Sakhâwiy (wafat 906 H).11 Beliau lebih banyak menjelaskan keadaan sanad daripada matan. Ini mengindikasikan bahwa metode yang digunakan adalah metode kritik keshahihan sanad hadits. Dalam kitab Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah beliau menjelaskan juga hadits shahihnya.
Akhirnya penulis mengakui atas ketidak sempurnaan bahasan ini, karena keterbatasan waktu dan kemapuan penulis. Maka dari hal ini semua, demi tercapainya apa yang kita harapkan penulis mengharap konstribusi saudara-saudara dan dapat didiskusikan kembali.



REFERENSI

Al-Albaniy, Muhammad Nashiruddin, Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Beirut: al-Maktab al-Islamiy), 1985, Jilid I
-----------------------------------------------, Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Riyadh: Al-Ma`ârif, 1408 H), Cet. IV, Jilid II.
Al-Sakhâwiy, Syams al-Dîn Muhammad ibn `Abd al-Rahmân, Al-Maqâshid al-Hasanah fi bayâni katsîr min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, t.th)
Muhammad Ali, Ibrahim, Muhammad Nâshiruddin al-Albaniy Muhaddits al-‘Ashr wa Nashir al-Sunnah, (Damaskus: Dar al-Qalam, 2005)
Al-Albaniy, Muhammad Nashiruddin, Shifat Shalat Nabi, (Yokyakarta: Media Hidayah, 2000), Edisi Revisi, Cet. I; penterjemah: Muhammad Thalib


[1]Ibrahim Muhammad Ali (selanjutnya disebut Ibrahim), Muhammad Nâshiruddin al-Albaniy Muhaddits al-‘Ashr wa Nashir al-Sunnah, (Damaskus: Dar al-Qalam), 2005, h. 11
[2]Ibrahim, Ibid, Hal: 12
[3]Ibrahim, Ibid, Hal: 14
[4] Ibrahim, Ibid, Hal: 48
5 Muhammad Nashiruddin al-Albaniy (selanjutnya disebut al-Albaniy), Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Riyadh: Al-Ma`ârif, 1408 H), Cet. IV, Jilid II, h. c.
6 Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Beirut: al-Maktab al-Islamiy), 1985, Jilid I, h. 7
7 Al-Albaniy, Jilid I, h. 8
8Al-Albaniy, Jilid II, h. c, lihat juga Muqaddimah Jilid III, 2; sebagian besar hadits-hadits tersebut beredar melalui lisan, dan juga terdapat dalam berbagai kitab dengan khusus, dan permasalahan berbeda-beda, begitu juga metode yang digunakan masing-masing penulisnya.
9 Al-AlBaniy Jilid I, op.cit.,h. 513
10 Dalam kitab sifat shalat nabi ini beliau dizhalimi, karya karya beliau tersebut dimanfaatkan oleh penerbit Maktab al-Islami. Banyak sekali kesalahan yang tidak sesuai dengan sebenarnya yang beliau miliki. Seperti merobah muqaddimah antara cetakan yang lainnya. Mereka juga menghapus tanggal pembuatan buku tersebut, dan lain sebagainya. Lihat pengantar al-Albaniy, Shifat Shalat Nabi, (Yokyakarta: Media Hidayah, 2000), Cet. I, h. 16-82; penerjemah: Muhammad Thalib.
11 Syams al-Dîn Muhammad ibn `Abd al-Rahmân Al-Sakhâwiy, Al-Maqâshid al-Hasanah fi bayâni katsîr min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, t.th); sebagai contoh hadits no. 373 tentang hadits “sorga dibawah telapak kaki Ibu” "الجنة تحت أقدام الأمهات"
dalam kitab silsilah hadits-hadits dha`if dan maudhu` Jilid II halaman 59 terdapat tambahan redaksi yaitu “من شئن أدخلن ومن شئن أخرجن”.  Komentar mereka hampir sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]