SILSILAH
HADIS DHA'IF DAN MAUDHU`
DAN PENGARUHNYA
BAGI UMAT
Karya: AL-ALBANI
Oleh: Samsurizal
I. Pendahuluan
A. Biografi Singkat al-Albani
Nama
Lengkapnya Muhammad Nashiruddin al-Albaniy Ibn Nuh Najati bin Adam. Populer
dengan al-Albaniy, yakni dinisbahkan kepada tempat lahirnya Albania. Disebut
juga dengan Abu Abdurrahman, bapaknya Abdurrahman, anaknya yang sulung. Ia
lahir 1332 H bertepatan 1914 H di kota Asy-Qudarah, Ibukota Albania.[1]
Al-Albaniy
lahir dari keluarga miskin, jauh dari kemewahan. Ayahnya bekerja sebagai
reparator arloji, tetapi mereka merupakan keluarga yang ta’at dan cinta ilmu
pengetahuan. Ayahnya, Nuh Najati al-Albaniy adalah lulusan Lembaga Pendidikan
Ilmu-Ilmu Syari’at di Ibukota Dinasti Utsmaniyyah (kini Istanbul). Setelah itu
ia pulang kenegerinya, dan banyak orang belajar padanya.
Ketika
Raja Zagho naik tahta di Albania, ia mengubah sistem pemerintah yang sekuler
dan mengikuti kebijakan Turki. Wanita di Negeri itu diperintahkan untuk
melepaskan hijab. Keadaan menjadi kacau, fitnah dan kerusakan terjadi
dimana-mana. Nuh dan beberapa kepala keluarga lainnya mengkhawatirkan kebebasan
diri dan keluarga mereka dalam menjalankan ajaran Islam. Maka, mereka hijrah ke
Syam, selanjutnya ke Damaskus dan menetap di sana.
Di
daerah itu, al-Albaniy mengecap pendidikan formal dan non-formal. Ia membaca,
berdiskusi, dan mengkaji, serta mengarang beberapa buku. Pada waktu ia berumur
22 tahun, al-Albaniy pergi lantaran berbeda pendapat dengan ayahnya.
Namun, walau begitu ayahnya membekalinya dengan dana 25 Riyal Syiria. Salah
seorang saudaranya juga memberinya 200 Riyal. Dengan uang itu, ia menyewa satu
kedai untuk membuka usaha reparasi arloji. Di samping itu, ia juga mulai
mendirikan kelompok diskusi beberapa buku terutama buku-buku hadis dan fiqh
al-hadis dengan beberapa temannya.
Pada
awal bulan Ramadhan tahun 1400 H, ia pindah ke Oman dan mendirikan rumah
disana, tepatnya di Mark Utara. Di sana ia terus melakukan kegiatan da’wah dan
tarbiyah di atas pondasi manhaj salafi. Al-Albaniy adalah seorang yang tawadhu’
dalam menerima kebenaran, berpegang pada kebenaran dimanapun dan kepada
siapapun. Ia juga seorang yang penyayang, santun, dan senang membantu orang
yang membutuhkan.
Dalam
hal ibadah, ia selalu menjaga agar sesuai dengan Al-Sunnah, baik dari
segi sifat, jumlah, waktu, serta senantiasa mengaplikasikan dalam hal makan,
minum, berpakaian dan mu’amalah. Ia juga rajin melakukan shalat sunat dan puasa
(Senin dan Kamis). Hatinya cepat tersentuh setiap kali mendengar ayat suci
al-Qur’an mendengar hadis-hadis nabi yang berisikan ancaman dan janji, atau
nasehat-nasehat para ulama tentang kematian, melihat suatu kebaikan, bahkan
ketika ia dipuji dan di sanjung. Bila hari Jum’at tiba, setiba di mesjid ia
selalu shalat dua raka’at sebelum imam naik mimbar. Setiap tahun ia berusaha
untuk menunaikan haji dan umrah, terkadang dua kali umrah dalam setahun. Ia
telah menunaikan haji lebih dari 30 kali.
Al-Albaniy
wafat sebelum matahari terbenam hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H,
bertepatan 1999 M, dalam usia 88 tahun, di kota Oman Ibukota Yordania. Sesuai
dengan wasiat beliau agar dishalatkan setelah shalat isya’ pada hari wafatnya
dan dimakamkan di daerah Hamlan, Mark Utara.
1. Guru-Gurunya
Diantara gurunya
adalah orangtuanya sendiri, kerabat ayahnya yaitu Muhammad Sa’id al-Burhani,
al-‘Allamah Muhammad Bahjah al-Baithar, dan sebagian ulama yang ada di
Damaskus.[2]
2.
Murid-Muridnya
Banyak orang yang belajar, walaupun
hanya mempelajari satu atau dua pelajaran atau cukup dengan satu atau dua
fatwa. Di antara murid-muridnya adalah Syaikh Muhammad Nasib al-Rifa’i, Syaikh
Muhammad Zuhair al-Syawisy, Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, Syaik Muhammad ‘Id
Abbasiy, Syaikh Ali al-Khasyan, Ali Hasan al-Hilbiy, Syaikh Salim al-Hilaliy,
Prof. Mahmud Mahdi al-Istanbuliy, Abu Ishaq al-Huwainiy.
3. Perjalanan Mencari
Ilmu
Ketika
orangtuanya hijrah ke Damaskus, al-Albaniy dimasukkan ke Madrasah Jam’iyyah
al-Is’af al-Khairiy sampai selesai dengan prestasi gemilang. Ia juga belajar
kepada kerabat ayahnya Muhammad Sa’id al-Burhaniy yang mengajarkannya miraqiy
al-falah dalam fiqh al-Hanafi. Ia juga menghadiri halaqah
al-‘Allamah Muhammad Bahjah al-Baithar. Ia belajar tajwid al-Qur’an pada
orangtuanya ketika masih kecil. Ayahnya juga mengajarkannya sharf dan fiqh.
Ayahnya sangat fanatik terhadap mazhab Hanafi.
Setelah
belajar dengan para Syaikh yang mulia, ia mulai serius mempelajari ilmu hadis
secara riwayah dan dirayah. Ia pernah berkata, “Nikmat yang diberikan oleh
Allah kepadaku sangat banyak sehingga aku tidak bisa menghitungnya, dan
mudah-mudahan yang terpenting ada dua, pertama, aku bisa belajar bahasa arab
dengan mudah. Seandainya kami masih tinggal di Albania, maka aku akan kesulitan
untuk mempelajarinya. Kedua, aku punya banyak waktu untuk menuntut ilmu dan
pergi ke pustaka al-Zahiriyyah”. Ini semua di mulai ketika al-Albaniy
berumur 20 tahun setelah dapat pengaruh dari pembahasan-pembahasan majalah
al-manar Mesir yang mana pemrednya adalah Muhammad Rasyid Ridha”.[3]
Imam al-Albaniy juga terpengaruh oleh
manhaj syaikhul islam ibn Taimiyyah dan muridnya Ibn al-Jauzi serta syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab, yang mana semuanya mengajak untuk mengikuti al-Qur’an
dan sunnah, dan kembali pada keduanya dalam setiap perkara dan memerangi ahli
sesat dan bid’ah. Makanya ia sering memakai fatwa mereka. Ia pernah berkata,
“Manhaj kita mengikuti apa yang ada dalam al-Qur’an dan hadis, dan apa-apa yang
telah ditetapkan oleh ulama-ulama terdahulu”.
4. Sasaran Da’wah
al-Albaniy
Ada enam point penting dakwah
beliau yaitu:
a. Kembali kepada
kitabullah dan Sunnah Nabi
b. Mengenalkan umat
dengan agama mereka yang benar
c. Da’wah kepada
mentauhidkan Allah SwT.
d. Mengakrabkan sunnah
kepada umat dan mengajak mereka untuk mengamalkannya;
e. Berusaha mengamalkan
kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam;
II. Pembahasan
Mengutip pernyataan
al-Albani dalam mukaddimah kitab Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`if wa
al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah bahwa perhatian beliau
terhadap penerbitan kitab ini lebih serius daripada karya beliau yang lain.5
Para ulama dari segala penjuru dunia telah banyak
mengetahui betapa pentingnya makalah (tentang hadis dhaif) dan manfa’atnya bagi
umat. Maka al-Albaniy mengingatkan bahwa apa yang mereka tulis itu adalah
salah, yang mana mereka (para ulama) mengira bahwa hadis-hadis itu adalah
shahih, karena ia sudah tertulis dalam buku-buku, dan telah beredar dari mulut
ke mulut. Termasuk yang telah membantu menyebarkannya adalah teknologi yang ada
di zaman sekarang, seperti radio, koran-koran, majalah dan lain-lain. Maka
menjadi bagi ulama yang masih sadar untuk memperbaikinya.
Al-Albaniy berkata, “Di zaman Ibn al-Jauzi saja
sedikit ulama yang membahas hadis yang dhaif dan maudhu’, apalagi di zaman
sekarang, sudah barang tentu jumlah mereka lebih sedikit. Oleh karena itu sudah
menjadi kewajiban bagi umat untuk menjelasakan hadis-hadis yang dhaif dan
maudhu’, supaya orang-orang lebih hati-hati”. Imam Abdurrahman bin Mahdi
berkata, “Lebih baik aku mencari sebuah ‘illat hadis daripada membuat hadis yang tidak aku
ketahui”.6
A. Latar Belakang Penulisan Kitab
Al-Albaniy
memulai karyanya Silsilah hadis dhaif dan maudhu’ dengan
makalah-makalah yang dia tulis pada majalah al-Tamaddun al-Islamy al-Ghara’,
dengan judul silsilah hadis-hadis dhaif dan maudhu’ dan pengaruh
buruknya bagi umat. Hadis-hadis ini ditulis oleh al-Albaniy karena banyaknya
beredar hadis-hadis dha’if di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana
mungkin seorang Zindiq telah menulis 4000 hadis, dan orang-orang yang dikenal maudhu’
mampu menulis ribuan hadis. Belum lagi ada orang yang menulis hadis demi
kepentingan-kepentingan tertentu, yang mana mereka mengira apa yang mereka
tulis itu adalah benar!
Dan juga yang
mendorong al-Albaniy untuk menulis adalah dorongan dari para ulama untuk
meneruskan dalam penulisan di majalah supaya bisa diketahui oleh umat dan
supaya tidak ada lagi orang yang berusaha berbohong terhadap Rasul SAW atau
paling tidak mereka yang berbohong tidak berani lagi menyandarkan hadisnya
kepada Rasul SAW. Walaupun banyak halangan dan rintangan yang menghadang, namun
al-Albaniy tidak pernah gentar untuk tetap menulis. Al-Albaniy juga terpengaruh
dengan tulisan Muhammad Rasyid Ridha yang menulis tentang hadis-hadis dhaif
dalam majalah al-manar Mesir.
B. Metode Penulisan
Al-Albaniy mengatakan
dalam muqaddimahnya bahwa dalam penulisan buku ini, ia tidak mengikuti
seseorang dalam menetapkan hukum-hukum hadis, akan tetapi bersandarkan kepada
kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan oleh ahli hadis, dan mengikuti apa-apa yang
telah mereka tetapkan, apakah hadisnya shahih, dha’if, dan lain-lain.
Dan itu di mulai sejak zaman keemasan Islam. Dan ia juga memohon kepada Allah
supaya diberi taufiq, dan supaya umat mengetahui. Ia juga berharap
mudah-mudahan ada ulama yang akan menyempurnakan kaidah-kaidah yang telah ada,
karena ia termasuk ilmu yang paling penting. Dan supaya para orientalis juga
akan tahu akan kesalahan mereka.
Hadis-hadis
yang telah ditulis berjumlah sekitar 400 ratusan hadis, maka al-Albany untuk
mengumpulkan dalam bentuk buku karena sebelumnya hanya di tulis dalam jurnal
atau majalah. Ia berencana mengumpulkannya dalam 4 jilid, setiap juz berisikan
100 hadis, atau lebih banyak, kalau diperlukan. Dan setiap telah tertulis dalam
majalah 100 hadis, maka al-Albaniy mencetaknya dalam juz yang lain, dan
mengumpulkan setiap lima juz dalam satu jilid.
Al-Albaniy
juga menambahkan terhadap sebagian hadis yang terdapat dalam majalah al-tamaddun
al-Islamiy, seperti men-ta’dil uslub kata, dan penambahan tahqiq,
dan lain-lain yang bermanfa’at. Kadang-kadang ia mengganti hukum sebuah hadis
setelah dilihat jarh dan ta’dilnya, seperti ia mengatakan: “Dhaif
jiddan”, pengganti “dhaif” atau sebaliknya, dan “dhaif”
pengganti “maudhu’” atau sebaliknya dan seterusnya, dan ini adalah
dengan dua tujuan:
- Supaya orang-orang tidak mengira bahwa itu adalah kesalahan percetakan
- Supaya diketahui bahwa ilmu itu tidak jumud, akan tetapi selalu berkembang dari salah menjadi benar, dari shahih kepada ashah, dan seterusnya. Dan supaya orang-orang mengetahui bahwa kita tidak memaksakan sebuah kesalahan apabila terbukti kebenarannya.7
Khusus Jilid dua
beliau tidak mencetak di Lebanon (penerbitan yang dikelola oleh Ustadz Zuhair
Syawisy). Karena, telah terjadi perang saudara dan muncul berbagai fitnah di
kalangan masyarakat Lebanon yang berkepanjangan---hingga saat ini (1408 H/1988
M). Terpaksa diterbitkan dinegara lain (Riyadh). Karena ada masalah teknis,
maka penerbitan tersebut tertunda tidak kurang dari dua tahun.
Kemudian, dalam
membahas suatu hadis, langkah pertama yang dilakukan al-Albaniy adalah
menyebutkan hukum hadis tersebut, kemudian langkah kedua yaitu menyebutkan
dibuku mana saja hadis itu terdapat dengan disertakan pengarang dan perawinya.
Langkah ketiga adalah menyebutkan pendapat-pendapat para ulama terhadap hadis
yang di bahas disertai hukumnya. Langkah terakhir yang dilakukan al-Albaniy
adalah menyebutkan pendapatnya terhadap hadis yang sedang di bahas terkadang
menampilkan hadits yang shahih mengenai hadits terkait dengan bahasan tersebut.
Sebagai contoh tentang hadits الجنة تحت أقدام الأمهات, من
شئن أدخلن ومن شئن أخرجن beliau menampilkan hadits yang
shahih yaitu الزمها فإن الجنة تحت رجليها diriwayatkan oleh al-Nasâ`iy (2/45) dan yang lainnya. Untuk
menilai perawi beliau mengambil pendapat seperti Imam Bukhari, Ibnu Hajar, Ibn
Thahir dan lain-lain. Referensi yang digunakan diantaranya kita al-Maudhû`ât
karya Iman al-Jauziy, al-Mîzân karya al-Dzahabiy, al-Jâmi` al-Shaghîr
karya al-Suyuthiy, dan lain-lainnya.
Kitab Silsilah al-Ahâdîts
al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah ini ditulis
sebanyak 10 Jilid dari 5000 hadits yang telah beliau siapkan.8 Masing-masing jilid terdiri dari
500 hadits. Dan ditulis setelah menyeleksi mana hadits yang shahih dan mana
yang dha`if. Pada bagian akhir kitab, al-Albaniy membagi daftar isi dari
berbagai segi, di antaranya:
a. Berdasarkan
urutan nomor
b. Berdasarkan
urutan huruf
C. Penilaian Ulama terhadap al-Albaniy
Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin
Abdulllah bin Baz mengatakan, “Aku tidak mengetahui orang yang lebih tahu
tentang ilmu hadis pada zaman ini kecuali syaikh Nasir”. Ia juga mengatakan
bahwa syaikh al-Albaniy adalah mujaddid zaman ini. Al-Allamah Muhammad
bin Shalih mengatakan bahwa al-Albaniy adalah muhaddis pada zaman ini
dan menguasai ilmu hadis secara riwayah dan dirayah. Al-Allamah
Hamad al-Ansari mengatakan bahwa al-Albaniy mempunyai pengetahuan yang laus
dalam ilmu hadis. Para ahli hadis di India mengatakan bahwa al-Albaniy orang
yang punya andil besar dalam hadis Nabi pada zaman ini. Para ulama di Lembaga
Fatwa kerajaan Arab Saudi mengatakan bahwa al-Albaniy mempunyai pengetahuan
yang luas dalam ilmu hadis. Al-Allamah Ahmad bin Yahya al-Najmiy mengatakan
bahwa syaikh Muhammad Nashir adalah muhaddis yang besar dan populer. Dr.
Yusuf Qardhawi berkata, “Muhaddis
negri Syam adalah Nashiruddin al-Albaniy”.
D. Karya-Karya al-Albaniy
Sudah banyak buku yang telah di
tulis oleh al-Albaniy, diantaranya:
- Adab al-Zafaf fi al-Sunnah al-Muthahhirah
- Ahkam al-Jana’iz
- Al-Tawassul wa Ahkamuhu wa Anwa’uhu
- Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah
- Silsilah al-Ahadis al-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawaiduha
- Silsilah al-Ahadis al-Dha’ifah wa Atsaruha al-Sayyi’ ala al-Ummah
- Qiyam Ramadhan
- Sifatu Shalat al-Nabi.10
- Mukhtashar Shahih Bukhari
- Dan lain-lain.
III. Penutup
Melihat susunan kitab
ini, al-Albaniy membagi hadits dari segi kualitas dalam tiga kategori yaitu
shahih, dhai`f, dan maudhu`, tidak memakai istilah hasan. Ini jelas mengikuti
metode Imam al-Bukhari dan Ibn Hajar. Usaha yang dilakukan oleh al-Albaniy ini,
banyak terbantu dari buku-buku kaidah yang telah ada seperti al-Maqâshid
al-Hasanah fi bayâni katsîr min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah
karya Syaikh Syams al-Dîn Muhammad ibn `Abd al-Rahmân al-Sakhâwiy (wafat 906 H).11 Beliau lebih banyak menjelaskan
keadaan sanad daripada matan. Ini mengindikasikan bahwa metode yang digunakan
adalah metode kritik keshahihan sanad hadits. Dalam kitab Silsilah
al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah beliau
menjelaskan juga hadits shahihnya.
Akhirnya penulis
mengakui atas ketidak sempurnaan bahasan ini, karena keterbatasan waktu dan
kemapuan penulis. Maka dari hal ini semua, demi tercapainya apa yang kita
harapkan penulis mengharap konstribusi saudara-saudara dan dapat didiskusikan
kembali.
REFERENSI
Al-Albaniy,
Muhammad Nashiruddin, Silsilah al-Ahâdîts
al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah,
(Beirut: al-Maktab al-Islamiy), 1985, Jilid I
-----------------------------------------------,
Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa
al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Riyadh: Al-Ma`ârif, 1408 H), Cet. IV, Jilid II.
Al-Sakhâwiy, Syams al-Dîn Muhammad ibn `Abd al-Rahmân,
Al-Maqâshid al-Hasanah fi bayâni katsîr min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘ala
al-Alsinah, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, t.th)
Muhammad
Ali, Ibrahim, Muhammad Nâshiruddin al-Albaniy Muhaddits al-‘Ashr wa Nashir
al-Sunnah, (Damaskus: Dar al-Qalam, 2005)
Al-Albaniy, Muhammad Nashiruddin, Shifat Shalat Nabi, (Yokyakarta: Media
Hidayah, 2000), Edisi Revisi, Cet. I; penterjemah: Muhammad Thalib
[1]Ibrahim Muhammad Ali (selanjutnya disebut Ibrahim), Muhammad
Nâshiruddin al-Albaniy Muhaddits al-‘Ashr wa Nashir al-Sunnah, (Damaskus:
Dar al-Qalam), 2005, h. 11
[2]Ibrahim, Ibid, Hal: 12
[3]Ibrahim, Ibid, Hal: 14
[4] Ibrahim, Ibid, Hal: 48
5 Muhammad Nashiruddin al-Albaniy (selanjutnya disebut al-Albaniy), Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah
wa al-Maudhu`ah wa Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Riyadh: Al-Ma`ârif, 1408 H),
Cet. IV, Jilid II, h. c.
6 Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah wa
Atsaruhâ al-Sayyi` fi al-Ummah, (Beirut: al-Maktab
al-Islamiy), 1985, Jilid I, h. 7
7 Al-Albaniy, Jilid I, h. 8
8Al-Albaniy, Jilid II, h. c, lihat juga Muqaddimah Jilid III, 2;
sebagian besar hadits-hadits tersebut beredar melalui lisan, dan juga terdapat
dalam berbagai kitab dengan khusus, dan permasalahan berbeda-beda, begitu juga
metode yang digunakan masing-masing penulisnya.
9 Al-AlBaniy Jilid I, op.cit.,h. 513
10 Dalam kitab sifat shalat nabi ini beliau dizhalimi, karya karya
beliau tersebut dimanfaatkan oleh penerbit Maktab al-Islami. Banyak sekali
kesalahan yang tidak sesuai dengan sebenarnya yang beliau miliki. Seperti
merobah muqaddimah antara cetakan yang lainnya. Mereka juga menghapus tanggal
pembuatan buku tersebut, dan lain sebagainya. Lihat pengantar al-Albaniy, Shifat
Shalat Nabi, (Yokyakarta: Media Hidayah, 2000), Cet. I, h. 16-82;
penerjemah: Muhammad Thalib.
11 Syams
al-Dîn Muhammad ibn `Abd al-Rahmân Al-Sakhâwiy, Al-Maqâshid al-Hasanah fi
bayâni katsîr min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah, (Beirut: Dâr
al-Kutub al-`Ilmiyah, t.th); sebagai contoh hadits no. 373 tentang hadits
“sorga dibawah telapak kaki Ibu” "الجنة تحت أقدام الأمهات"
dalam
kitab silsilah hadits-hadits dha`if dan maudhu` Jilid II halaman 59 terdapat
tambahan redaksi yaitu “من شئن أدخلن ومن شئن أخرجن”. Komentar mereka hampir sama.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏