“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

MAKNA JIHAD DALAM PERSPEKTIF AL QUR'AN DAN AL HADITS
BERJIHAD DENGAN SEGALA POTENSI
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiim,

Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan berjihad, bersungguh dengan maksimal untuk penyempurnaan pelaksanaan syari'at. Potensi untuk pelaksanaan itu sudah dianugerahi oleh Allah sejak azali. Anugerah itu adalah pendengaran, penglihatan dan hati nurani (QS. An Nahal/16: 78 sebagai berikut:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. (سورة النحل/١٦: ٧٨)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahal/16: 78)

Karena semua penggunaannya dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah nanti di akhirat tepatnya pada saat hari hisap. Sebagaimana firman Allah berikut:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا. (سورة الإسرآء/١٧: ٣٦)

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al Israa'/17: 36)

Karena inilah yang menjadi kesempurnaan fitrah manusia agar mampu memikul amanah Allah untuk memakmurkan bumi. Informasi ini diinformasikan oleh Allah,

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ. (سورة السجدة/٣٢: ٩)

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (QS. As Sajadah/32: 9)

Begitu juga dalam QS. Al Mukminuun/23: 78 dan al Muluk/67: 23.

Selanjunya, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan lewat riwayat-riwayat berikut:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ. (رواه أحمد: ١١٧٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata, telah mengabarkan kepada kami Hammad dari Humaid dari Anas ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; "Berjihadlah kalian melawan orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian." (HR. Ahmad: 11798 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhdhar bin Dhamdham bin Zaid bi Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Lihat juga: Abu Daud: 2143, an Nasa'i: 3045, Ahmad: 12097 dan 13146, dan ad Darimi: 2324 - shahih dari Anas bin Malik. Dengan lafazh yang sama,

...جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ. (رواه ابوداود، النسائي، أحمد و الدارمي عن أنس بن مالك)

PAHALA JIHAD DAN BERJAGA DIPERBATASAN

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ أُمَّ حَارِثَةَ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ هَلَكَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ غَرْبُ سَهْمٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْتَ مَوْقِعَ حَارِثَةَ مِنْ قَلْبِي فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ لَمْ أَبْكِ عَلَيْهِ وَإِلَّا سَوْفَ تَرَى مَا أَصْنَعُ فَقَالَ لَهَا هَبِلْتِ أَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ وَإِنَّهُ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى. (رواه البخاري: ٢٦٨٢)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja'far dari Humaid dari Anas, bahwasanya Ummu Haritsah menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang ketika itu anaknya, Haritsah, gugur di perang Badar karena terkena panah yang nyasar. Ia berujar; 'Wahai Rasulullah, engkau tahu kedudukan Haritsah dalam lubuk hatiku, kalaulah dia di surga, aku tidak akan menangisinya, sebaliknya kalaulah tidak, engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan." Nabi bersabda: "Apakah engkau beranggapan bahwa surga hanyalah satu tingkatan, sungguh dalam surga terdapat sekian banyak tingkatan, dan Haritsah berada di surga Firdaus yang paling tinggi." (HR. Al Bukhari: 2682 - shahih dari Anas bin Malik)

Lihat juga: Ahmad: 12723, 12773 dan 13287 - shahih dari Anas bin Malik.

Tambahan tentang surga firdaus oleh Qatadah,

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ فِي تَفْسِيرِ شَيْبَانَ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
أَنَّ الرُّبَيِّعِ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ أُمُّ حَارِثَةَ بْنِ سُرَاقَةَ فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَلَا تُحَدِّثُنِي عَنْ حَارِثَةَ وَكَانَ قُتِلَ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ سَهْمٌ غَرْبٌ فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ صَبَرْتُ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ أَجْتَهِدُ عَلَيْهِ الْبُكَاءَ فَقَالَ يَا أُمَّ حَارِثَةَ إِنَّهَا جِنَانٌ فِي الْجَنَّةِ وَإِنَّ ابْنَكِ أَصَابَ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى
قَالَ قَتَادَةُ وَالْفِرْدَوْسُ رَبْوَةُ الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُهَا وَأَفْضَلُهَا. (رواه أحمد: ١٣٢٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Husain pada tafsir Syaiban dari Qatadah telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik ar-Rubai' mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dia tak lain adalah Ummu Haritsah bin Suraqah. Lalu dia bertanya, wahai Nabiyullah tidak sebaiknyakah anda memberitahukan kepadaku tentang Haritsah??.--ia terbunuh pada perang Badar, karena panah yang nyasar--, jika dia di surga saya bersabar, jika tidak maka saya menangisinya dengan kencang. (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: "Wahai Ummu Haritsah, di surga itu banyak kebun, dan anakmu berada pada surga firdaus yang paling tinggi". Qatadah berkata; firdaus adalah surga yang paling tinggi dan yang paling utama. (HR. Ahmad: 13244 - shahih dari Anas bin Malik)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ أَبَا النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْغَدْوَةُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا. (رواه البخاري: ٢٦٧٨)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Munir dia mendengar Abu An-Nadhar telah bercerita kepada kami 'Abdur Rahman bin 'Abdullah bin Dinar dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad As-Sa'idiy radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ribath (bersiap siaga) satu hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada di atasnya dan tempat cambuk seorang dari kalian di surga lebih baik dari pada dunia dan apa saja yang ada diatasnya dan berangkat pada awal hari (pagi) atau berangkat pada akhir hari (siang) untuk berperang di jalan Allah lebih baik dari pada dunia dan apa saja yang ada di atasnya ". (HR. Al Bukhari: 2678 - dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)

Lihat juga:

Al Bukhari: 6083 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

وَقَالَ
غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ أَوْ مَوْضِعُ قَدَمٍ مِنْ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا يَعْنِي الْخِمَارَ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. (رواه البخاري: ٦٠٨٣)

Dan (masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Anas bin Malik- ) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpagi hari atau bersore hari fi sabilillah adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan nilai busur panah salah seorang dari kalian atau tempat kaki di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kalaulah bidadari surga muncul ke bumi, niscaya akan menerangi yang ada diantara keduanya dan memenuhi keduanya dengan wewangian, dan kerudung (bidadari) lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Al Bukhari: 6083 - shahih dari Anas bin Malik)

Sanad dimaksud adalah:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قال: قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ....."

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja'far dari Humaid dari Anas bin Malik berkata, bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: ...."

Ada 39 hadits terkait hadits di atas. Jadi, secara makna ia adalah mutawatir tentang pahala berangkat perang di jalan Allah pagi atau pun siang hari.

Hadits dha'if tentang masalah ini:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَقَامُ الرَّجُلِ فِي الصَّفِّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الرَّجُلِ سِتِّينَ سَنَةً. (رواه الدارمي: ٢٢٨٩)

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Shalih telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ayyub dari Hisyam dari Al Hasan dari 'Imran bin Hushain bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berdirinya seorang laki-laki di barisan (jihad) di jalan Allah, itu lebih baik daripada ibadahnya seseorang selama enam puluh tahun." (HR. Ad Darimi: 2289 - [isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani] dari 'Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H)

Lihat juga: 9386 - hasan [lafazh: beribadah enam puluh tahun] dari Abu Hurairah.

Para periwayat hadits riwayat ad Darimi: 2289:

1. 'Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H.
2. Al Hasan bin Abi ah Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah dan Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat" juga menilainya yudallis.
3. Hisyam bin Hasan, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad, ia al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sedangkan Ahmad bin Hanbal menilainya shalih, Abu Hatim menilainya shaduq, dan adz Dzahabi menilainya hafizh.
4. Yahya bin Ayub, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Maru dan wafat tahun 168 H. Penikaian ulama: Ahmad bin Hanbal menainya buruk hafalan, Yahya bin Ma'in dan Abu Daud menilainya shalih. Al Bukhari dan Ibrahim al Harabi menilainya tsiqah, Ya'qub bin Sufyan menilainya tsiqah hafizh. Abu Hatim menilainya terdapat kejujuran padanya, an Nasa'i menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hibban mengatakan, "diseburkan dalam ats tsiqat". Ibnu Sa'ad menilainya munkarul hadits, al 'Uqaili mengatakan, "diseburkan dalam adh dhu'afa'", Ibnu 'Adi menilainya shaduq, Ibnu Hajar menilainya shaduq "terdapat kesalahan" dan adz Dzahabi menilainya shalihul hadits.
5. 'Abdullah bin Shalih bin Muhammad bin Muslim, ia tabi'ul atba'kalangan tua kuniyahnya Abu Shalih negeri hidup Maru 222 H. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, Yahya bin Ma'in tsiqah, Ibnul Qaththan menilainya shaduq, Maslamah bin Qasim menilainya la ba'sa bih, Ibnu Hajar menilainya shaduq, katsirul ghalath. Sedangkan adz Dzahabi menainya layyin.

Jihad fi sabilillah sama dengan ibadah tujuh puluh tahun,

فَإِنَّ مُقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا... . (رواه الترمذي: ١٥٧٤)

Lengkapnya tentang hadits semakna dengan hadits di atas dari at Tirmidzi: 1574,

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ أَسْبَاطِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذُبَابٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
مَرَّ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِعْبٍ فِيهِ عُيَيْنَةٌ مِنْ مَاءٍ عَذْبَةٌ فَأَعْجَبَتْهُ لِطِيبِهَا فَقَالَ لَوْ اعْتَزَلْتُ النَّاسَ فَأَقَمْتُ فِي هَذَا الشِّعْبِ وَلَنْ أَفْعَلَ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا تَفْعَلْ فَإِنَّ مُقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ الْجَنَّةَ اغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. (رواه الترمذي: ١٥٧٤)

Telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Asbath bin Muhammad Al Qurasyi Al Kufi berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Hisyam bin Sa'd dari Sa'id bin Abu Hilal dari Ibnu Abu Dzubab dari Abu Hurairah ia berkata, "Seorang laki-laki dari sabahat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewati sebuah lembah yang terdapat mata air yang jernih hingga membuatnya kagum karena bagusnya. Ia lalu berkata, "Sekiranya aku tinggalkan manusia dan menetap di lembah ini. Tetapi sekali-kali aku tidak akan melakukannya hingga aku minta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Kemudian laki-laki itu menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau lalu bersabda: "Jangan kamu lakukan! Sungguh, tempat salah seorang dari kalian di jalan Allah (jihad) lebih utama dari ibadah selama tujuh puluh tahun di dalam rumahnya. Apakah kalian tidak suka jika Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga? Berperanglah kalian di jalan Allah, barangsiapa berperang di jalan Allah meskipun hanya sekadar orang memerah susu unta, maka telah wajib baginya masuk surga." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan." (HR. At Tirmidzi: 1574 - hasan [menurut al Albani] dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Begitu juga pada riwayat Ahmad: 10367 - hasan dari Abu Hurairah)

BERBAKTI PADA KEDUA ORANG TUA YANG MASIH HIDUP SAMA DENGAN JIHAD

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ الْقَطَّانَ عَنْ سُفْيَانَ وَشُعْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا حَبِيبٌ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ حَبِيبٍ سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ بِمِثْلِهِ قَالَ مُسْلِم أَبُو الْعَبَّاسِ اسْمُهُ السَّائِبُ بْنُ فَرُّوخَ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ بِشْرٍ عَنْ مِسْعَرٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي إِسْحَقَ ح و حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ جَمِيعًا عَنْ حَبِيبٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ. (رواه مسلم: ٤٦٢٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harbi keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Habib; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Ibnu Sa'id Al Qaththan dari Sufyan dari Syu'bah keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Habib dari Abu Al 'Abbas dari 'Abdullah bin 'Amru dia berkata; "Seseorang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam minta izin hendak ikut jihad (berperang). Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Jawab orang itu; "Masih!" Sabda beliau: "Berbakti kepada keduanya adalah jihad." Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz Telah menceritakan kepada kami Bapakku Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Habib Aku mendengar Abul 'Abbas, aku mendengar Abdullah bin Amru bin Al 'Ash dia berkata; Seseorang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam -lalu Amru menyebutkan Hadits yang serupa.- Muslim berkata; Abul 'Abbas adalah As Saib bin Farukh Al Makkiy. Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Basyir dari Mis'ar Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyyah bin Amru dari Abu Ishaq Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Al Qasim bin Zakaria Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali Al Ju'fi dari Zaidah keduanya dari Al A'masy seluruhnya dari Habib melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. (HR. Muslim: 4623 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Lafazh lain,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُجَاهِدُ قَالَ أَلَكَ أَبَوَانِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ
قَالَ أَبُو دَاوُد أَبُو الْعَبَّاسِ هَذَا الشَّاعِرُ اسْمُهُ السَّائِبُ بْنُ فَرُّوخَ. (رواه أبوداود: ٢١٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit, dari Abu Al 'Abbas dari Abdullah bin 'Amr, ia berkata; terdapat seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata; wahai Rasulullah, aku ingin berjihad. Beliau berkata: "Apakah engkau memiliki kedua orang tua?" Orang tersebut berkata; ya. Beliau berkata: "Berjihadlah di sisi mereka!" Abu Daud berkata; Abu Al Abbas ini adalah ahli syair, namanya adalah As Saib bin Farrukh. (HR. Abu Daud: 2167 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Lihat juga: al Bukhari: 2782 dan 5515, at Tirmidzi: 1594 dan an Nasa'i: 3052 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail.

"Abu Al Abbas ini adalah ahli syair, namanya adalah As Saib bin Farrukh." (menurut Muslim, Abu Daud dan at Tirmidzi). Muslim menambahkan al Makkiy. Jadi, As Sa'ib bin Farukh al Makkiy.

Lebih jelasnya adalah pada riwayat Abu Daud: 2168 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H berikut:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ دَرَّاجًا أَبَا السَّمْحِ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّ رَجُلًا هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْيَمَنِ فَقَالَ هَلْ لَكَ أَحَدٌ بِالْيَمَنِ قَالَ أَبَوَايَ قَالَ أَذِنَا لَكَ قَالَ لَا قَالَ ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَاسْتَأْذِنْهُمَا فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ وَإِلَّا فَبِرَّهُمَا. (رواه أبوداود: ٢١٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahab, telah mengabarkan kepadaku 'Amr bin Al Harits, bahwa Darraj Abu As Samah telah menceritakan kepadanya dari Abu Al Haitsam, dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa seorang laki-laki berhijrah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Yaman dan berkata; apakah engkau memiliki seseorang di Yaman? Ia berkata; kedua orang tuaku. Beliau berkata: "Apakah mereka berdua mengizinkanmu?" Ia berkata; tidak. Beliau berkata: "Kembalilah kepada mereka berdua dan mintalah izin kepada mereka, apabila mereka mengizinkan maka berjihadlah dan jika tidak maka berbaktilah kepada mereka berdua!" (HR. Abu Daud: 2168 - shahih [shahih menurut al Albani] dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Catatan: Dalam sanad terdapat periwayat bernama Darraj bin Sam'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu as Samah negeri hidup Maru dan wafat tahun 126 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, Ahmad bin Hanbal mengatakan, "haditsnya munkar". Ibnu Hibban dan Ibnu Sahin mentsiqahkannya. Selebihnya periwayat maqbul.

MENINGGAL KARENA JIHAD ADALAH SYAHID DAN KARAMAHNYA

MATI SYAHID

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَنَّ لَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ غَيْرُ الشَّهِيدِ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ. (رواه مسلم: ٣٤٨٩)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dia berkata, "Saya mendengar Anas bin Malik menceritakan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidak satupun seseorang yang masuk surga ingin kembali ke dunia, sekalipun seluruh dunia dan isinya diberikan kepadanya, kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan hendak kembali (ke dunia) kemudian terbunuh hingga sepuluh kali, karena ia melihat mulianya mati syahid." (HR. Muslim: 3489 - shahih dari Anas bin Malik)

Lihat juga: at Tirmidzi: 1567 dan 1585- shahih dari anas bin Malik.

Lafazh lain "'alal ardhi"

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْهَيْثَمِ أَبُو قَطَنٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا وَإِنَّ لَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ غَيْرَ الشَّهِيدِ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ فَيُقْتَلَ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ أَوْ مَعْنَاهُ. (رواه احمد: ١١٥٦٥)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru Ibnul Haitsam Abu Qathan berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidak ada seorangpun yang masuk surga kemudian ingin kembali ke dunia untuk mengerjakan amalannya kecuali orang yang mati syahid, dia ingin dikembalikan lagi ke dunia untuk berperang hingga mendapatkan syahid lagi karena karamah yang didapatkannya." atau yang semakna dengan ini." (HR. Ahmad: 11565 - shahih dari Anas bin Malik)

Lihat juga: al Bukhari: 2606 dan Ahmad: 13417 - shahih dari Anas bin Malik. Atau lafazh lain lagi,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ وَحَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَإِنَّ لَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ غَيْرَ الشَّهِيدِ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ. (رواه أحمد: ١٢٣٠٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hajjaj berkata, telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Qatadah berkata, saya telah mendengar Anas bin Malik menceritakan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada orang yang masuk surga menyukai dikembalikan lagi ke dunia walau apapun diberikan kepadanya kecuali orang yang syahid. Dia berangan-angan kalaulah dikembalikan lalu terbunuh, dikembalikan lalu terbunuh (nabi mengulanginya sepuluh kali) karena melihat karamah yang diberikan." (HR. Ahmad: 12309 - shahih dari Anas bin Malik, hadits ahlul Bashrah)

TEMPAT ORANG MATI SYAHID

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا. (سورة النساء/٤: ٦٩)

Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nisa'/4: 69)

ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ عَلِيْمًا. (سورة ألنساء/٤: ٧٠)

Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui. (QS. \n Nisa'/4: 70)

BERJIHAD MESTI BERSAMA

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا خُذُوْا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوْا ثُبَاتٍ اَوِ انْفِرُوْا جَمِيْعًا. (سورة النساء/٤: ٧١)

Wahai orang-orang yang beriman! Bersiapsiagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok, atau majulah bersama-sama (serentak). (QS. An Nisa'/4: 71)

Sebab,

وَاِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَّيُبَطِّئَنَّۚ فَاِنْ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالَ قَدْ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيَّ اِذْ لَمْ اَكُنْ مَّعَهُمْ شَهِيْدًا. (سورة النساء/٤: ٧٢)

Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.” (QS. An Nisa'/4: 72)

Lihat sampai ayat 77.

Ingat,

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَالِ هٰٓؤُلَاۤءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا. (سورة النساء/٤: ٧٨)

Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?” (QS. An Nisa'/4: 78)

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا  ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا. (سورة النساء/٤: ٧٩)

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (QS. An Nisa'/4: 79)

Juga firman Allah berikut,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ. (سورة آل عمران/٣: ١٤٥)

Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali 'Imran/3: 145)

Wallaahu a'lam bish Shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]