“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

Hadits Tentang Azan Subuh
Oleh: Samsurizal, MA


I.       Pendahuluan
Puji dan syukur hanya untuk Allâh semata, shalawat beserta salam kita do`akan semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyyina Muhammad shall Allâhu `alaihhi wa sallam, keluarga dan para shahabat, tabi`in, tabi` al-tabi`in,  serta orang yang mengikuti ajaran beliau sampai hari kiamat.
Islam meletakkan dasar-dasar ajarannya saling berkaiatan dengan yang lainnya seperti rukun Islam, yaitu syahadatain, shalat, puasa, zakat, naik haji bagi yang mampu. Semuanya ini mempunyai cabang-cabang perbuatan yang mesti dilalui sebelum pelaksanaan masing-masing rukun tersebut. Secara berurutan dapat diuraikan  secara singkat sebagai berikut; syahadat, mesti di dahului oleh iman dan ikhlas dengan persaksian ke-islam-an; shalat, mesti masuk waktu masing-masing dalam lima waktu dan wudhuk, dan diluar dari itu ada azan dan iqamah; puasa, mesti diawali dengan niat yang ikhlas, menahan dari yang merusak baik nilai maupun keabsahannya; zakat, mesti sampai haul dan nisab-nya; dan naik haji, mesti ada kemampuan untuk mencukupi yang dimaksudkan tidak menjadikan orang tersebut melarat setelah selesai melaksanakannya.
Nah, pada kesempatan ini penulis membahas satu sisi kecil yang terkait dengan rukun islam yaitu shalat[1], ini berkaitan dengan masalah teknis agar dilaksanakannya secara berjama`ah. Sebelum pelaksanaan shalat khususnya shalat jama`ah sangat dianjurkan untuk mengumandangkan azan, seperti sabda beliau:
...إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَالْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ...أَكْثَرُكُمْ قَرْآنًا.[2]
Karena begitu pentingnya azan, maka penulis membahas masalah Azan, khusus tentang Azan Subuh yang diterangkan oleh hadits-hadits dari Nabi Muhammad. Dalam pembahasan ini penulis merujuk pada dua kitab yang menurut penulis sudah mewakili untuk memahami masalah tersebut yaitu kitab Shahih al-Bukhâriy dan Sunan al-Nasa’iy. Karena sekian banyak hadits tentang azan, masalah azan subuh penulis temukan dalam kedua kitab ini.
Adapun pelacakan hadits-hadits tentang shalat subuh ini, penulis menggunakan kitab Al-Mu`jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawiy `an Kutub al-Sittah wa `an Musnad al-Darimiy wa Muwatha’ Malik wa Musnad Ahmad bin Hanbal, dengan menelusuri kata أَذَّنَ , kemudian memilih hadits yang berhubungan dengan azan subuh.[3]  Isi Mu`jam sebagaimana terlampir.
Demikianlah gambaran penulisan makalah ini berikut penulis uraikan beberapa hadits dan pemahaman tentang hadits-hadits tersebut. Semoga Allâh senantiasa membimbing penulis kepada jalan yang lurus. Amien.

Air Haji, 01 Maret 2008

Penulis,



II.    Pembahasan
A.    Pengertian Azan dan Pensyari`atan Azan
Secara bahasa, azan berarti memberitahukan, sedangkan menurut syar`i adalah اَلإِعْلاَمُ بِدُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ بِاَلْفَاظٍ مَخْصُوْصَةٍ (memberitahukan masuknya waktu shalat dengan lafazh khusus).[4] Jadi, beda dengan pemberitahuan-pemberitahuan lain, sebab azan mempunyai kalimat-kalimat khusus[5] seperti yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad sendiri. Selanjutnya, azan harus dengan suara yang maksimal atau keras sehingga orang banyak yang mendengarnya, karena Manusia maupun Jin yang mendengar suara muadzin tersebut akan menjadi saksi di hari kiamat kelak.[6]
Al-Qur’ân memberi informasi dengan perintah untuk menyeru manusia kejalan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلاَ يُنَازِعُنَّكَ فِي اْلأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ(67) (سورة الحج/22: 67)
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj/22: 67)

Kata-kata “serulah ini” terulang dalam al-Qur’ân sebanyak  sembilan kali. Masing-masing lokusnya adalah dalam QS. Al-A`raf/7: 194, al-Nahl/16: 125, al-Isra’/17: 110, al-Hajj/22: 67, al-Qashash/28: 64 dan 87, Saba’/34: 22, dan al-Syura/42: 15. terulang dua kali hanya pada QS. Al-Isra’/17: 110, dan QS. Al-Qashash/28: 64 dan 87 (masing-masing satu kali). Selebihnya satu kali. Dan yang negatif dalam tiga surat yaitu QS. 7, 28, dan 34. Selebihnya untuk menyeru Allah dan kebenaran-Nya. Dengan lafazh secara berurutan sebagai berikut; فادعو، أدعو، قل ادعوا، ودع، وقيل ادعوا، ودع، قل ادعوا, فادع . Kata yang ditebalkan merupakan seruan selain Allah.
Azan disyari`atkan pada tahun I hijrah. Berawal dari musyawarah yang dilakukan nabi dengan para shahabat berkenaan dengan sarana yang dipergunakan umat Muslim untuk menyeru menunaikan shalat. Ada yang mengusulkan menggunakan bendera. Dengan demikian orang yang melihatnya berkewajiban untuk menyampaikan kepada yang lain. Selain itu ada yang mengemukakan idenya dengan menggunakan terompet seperti halnya orang yang Yahudi. Selain itu ada ide meniru umat Nashrani dengan menggunakan lonceng. Ide yang lain lagi mengusulkan dengan mengibarkan api di atas bukit agar terlihat oleh orang yang melintasinya. Semua ide tersebut ditolak Nabi, karena tasyabbuh kepada umat lain dan ada kesulitan kalau menggunakan cara-cara tersebut.[7] Akhirnya, ide untuk menyeru orang untuk shalat dengan melantunkan azan berasal dari Abdullah ibn Zaid yang bermimpi bahwa umat Muslim menggunakan seruan yang bersifat mengajak shalat.[8] Ide yang sama juga diusulkan oleh Umar bin Khaththab. Usul mereka ini diterima oleh Nabi dan beliau pun memerintahkan Bilal untuk menyerukan azan pada tahun kedua hijrah.[9]
Inilah yang mengindikasikan pentingnya azan bagi umat Muslim dengan kalimat khusus tersebut menjadi karakter mereka. Adapun lafazh-lafazh azan yang dimaksud akan dibahas berikut.
B.     Hadits Tentang Azan Sebelum Subuh
1.      Riwayat Al-Bukhâriy[10]
1-      حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوْنُسَ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِىُّ، عَنْ أَبِى عُثْمَانَ النَّهْدِىِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ، أَوْ أَحَدًا مِنْكُمْ، أَذَانُ بِلاَلٍ مِنْ سَحُوْرِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ، أَوْ يُنَادِي، بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ، وَلِيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ، وَلَيْسَ أَنْ يَقُوْلَ الْفَجْرُ، أَوِ الصُّبْحُ)). وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ، وَرَفَعَهَا إِلَى فَوْقُ، وَطَأْطَأَ إِلَى أَسْفَلُ: ((حَتَّى يَقُوْلَ هَكَذَا)). وَقَالَ زُهَيْرٌ بِسَبَّابَتَيْهِ، إِحْدَاهُمَا فَوْقَ اْلأُخْرَى، ثُمَّ مَدَّهَا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِى)
2-      ..... عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمِ)). (رَوَاهُ الْبُخَارِى)

2.      Riwayat Al-Nasâ’iy[11]
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ أَنْبَأَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِى عُثْمَانَ عَنْ ابْنُ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ بِلاَلاَ يُؤَذْنُ بِلَيْلٍ لِيُوْقِظَ نَائِمَكُمْ وَلِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَلَيْسَ أَنْ يَّقُوْلَ هَكَذَا يَعْنِى فِى الْصُّبْحِ. (رَوَاهُ النَّسَائِى)

C.     Hadits Tentang Azan Waktu Subuh
1.      Riwayat Al-Bukhâriy[12]
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ:  أَخْبَرَتْنِى حَفْصَةُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اعْتَكَفَ الْمُؤَذِّنُ للِصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ، صَلَّىرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الْصَّلاَةُ. (رَوَاهُ الْبُخَارِى)

2.      Riwayat Al-Nasâ’iy[13]
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ سَائِلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَقْتِ الصُّبْحِ فَأَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلاَلاَفّأَذَّنَ حِيْنَ طَلَعَ اْلفَجْرُ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَخَّرَ الْفَجْرَ حَتَّى أَسْفَرَ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ قَالَ هَذَا وَقْتُ الصَّلاَةِ. (رَوَاهُ النَّسَائِى)
D.    Bacaan Azan Waktu Subuh
أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللهِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِى جَعْفَرٍ عَنْ أَبِى سَلْمَانَ عَنْ أَبِى مَحْذُوْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُؤَذْنُ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ أَقُوْلُ فِى أَذَانِ اْلفَجْرِاْلأَوَّلِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. أَخْبَرَنَا عَمْرُوبْنُ عَلِىٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَ وَعَبْدُ الرَّحْمَانِ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بِهَاذَ اْلإِ سْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَانِ وَلَيْسَ بِأَبِى جَعْفَرٍ الْفَرَاءِ. (رَوَاهُ النَّسَائِى)[14]

E.     Pemahaman Hadits
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa azan sesudah dan sebelum subuh itu sama-sama disyari`atkan. Dilaksanakannya azan dua kali pada waktu sebelum subuh, ini tergambar dalam hadits dari Ibnu Mas`ud dan `Aisyah baik dari riwayat al-Bukhâriy maupun al-Nasâ’iy, bahwa ini terjadi pada bulan ramadhan. Setelah azan mereka sahur sampai tiba waktu subuh atau Ummi Maktum azan subuh. Pada riwayat al-Nasâ’iy tentang azan sebelum waktu subuh atau fajar al-Suyûthiy dengan mendengar azan tersebut mereka terbangun dan mereka ingat waktu sahur untuk puasa esoknya.
Jadi, fungsi azan subuh yang pertama adalah aba-aba untuk bersiap-siap sahur, dan azan kedua adalah menandakan telah masuknya waktu shalat subuh karena yang dinamakan azan tersebut adalah azan tanda masuknya waktu shalat. Ada pun kalimat-kalimat yang dikumandangkan pada azan pertama tidak penulis temukan, berkemungkinan besar adalah azan dengan lafazh sama dengan azan shalat isya’ yaitu dari lafazh الله أكبر  sampai dengan lafazh لاإله إلا الله seperti yang diajarkan oleh nabi, kemudian azan kedua merupakan azan khusus untuk mengajak shalat subuh dengan menambahkan lafazh setelah lafazh حي على الفلاح ditambah dengan lafazh الصلاة خير من النوم .
Menurut penulis untuk sama-sama menjaga kita mesti menerima seperti apa yang terjadi di dalam masyarakat bahwa ada yang mengamalkan azan subuh dua kali, karena alasannya pernah dilakukan dimasa rasul. Dan yang satu kali alasannya cukup kuat bahwa azan itu disyariatkan hanya pada saat waktu shalat masuk. Khusus azan subuh, kedua paham ini dapat diterima dan diamalkan apa adanya. Jadi, berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dikompromikan satu dengan yang lainnya dalam satu tema.

III. Penutup
Shalat, terutama shalat berjama`ah (lebih dari satu orang) sangat dianjurkan untuk mengumandangkan azan dengan suara yang lantang, sehingga di dengar oleh orang banyak. Karena siapa pun yang mendengar suara azan itu akan menjadi saksi di hari kiamat berupa amal yang baik dan dinilai ibadah oleh Allâh.
Sedangkan masalah azan subuh dua kali. Azan pertama adalah untuk memberitahukan atau aba-aba bersiap-siap untuk shalat subuh atau yang lainnya, sehingga untuk pelaksanaan shalat subuh menjadi lebih segar. Kalau itu pada bulan ramadhan azan pertama bertanda waktu sahur. Selanjutnya, azan kedua adalah menandakan azan untuk waktu subuh telah masuk. Dan lafazh yang digunakan untuk azan pertama adalah seperti azan waktu isya’, dan untuk azan tanda masuk waktu subuh, setelah lafazh حي على الفلاح maka ditambah dengan lafazh الصلاة خير من النوم dua kali dan ditutup dengan lafazh لاإله إلا الله dan الله أكير masing-masing dua kali.
Selanjutnya, penekanan hadits di atas adalah pada seruan untuk beribadah. Oleh karena itu perlu seruan tersebut dengan kalimat-kalimat tauhid, dan yang dapat mengingatkan manusia kepada Allâh. Setelah mereka bangun dari tidur mereka, maka yang teringat oleh mereka adalah seruan Allâh yang Mahaagung. Jadi, nilai rabbaniyah tetap melekat pada diri setiap insan Muslimin, bahkan dapat menggugah hati dan jiwa seluruh makhluk Allâh yang ada di dunia ini.
Peringatan-peringatan tersebut dinilai ada pada lafazh-lafazh azan. Oleh sebab itulah azan disyari`atkan dan bukan dengan lafazh-lafazh lain.
Demikianlah yang dapat penulis pahami dari hadits-hadits tentang azan shalat subuh. Penulis menyadari banyak kekurangan dalam bahasan ini, untuk itu penulis memohon saran dan masukan demi sempurnanya pemahaman terhadap masalah ini. Terima kasih --- والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته .

DAFTAR RUJUKAN
Abdul Qadir, Fath al-Qadir, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), Juz I
`Abd al-Rahman Ahmad ibn Syu`aib ibn `Aliy al-Kurasaniy al-Nasa’iy, Sunan al-Nasa’iy bi Syarhi al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthiy wa Hasyiyah al-Imam al-Sindiy, (Semarang: Thaha Putra, t.th), Juz 11
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârîy (selanjutya disebut al-Bukhârîy), Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz I
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut: Dâr al-Kutub, tth), Juz I
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut: Dâr al-Kutub, tth), Juz I
Abu Al-Husain Muslim ibn Hajjaj al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Shahih Muslim, (t.tp: Dar al-Fikr, 1981), Juz II
Abu `Abd Allâh Muhammad ibn Yazid al-Qazwiniy, Sunan Ibnu Majah, (Kairo: Dar al-Hadits, t.th) Juz I
Abu Muhammad `Abd Allâh ibn Bahran al-Darimiy, Sunan al-Darimiy, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), Juz I
Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haqq `Azhim, `Aun al-Ma`bud, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), Juz I
Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-`Asqalaniy, Fath al-Bariy, Syarh Shahih al-Bukhâriy, (Kairo: Dar al-Hadits, 2004), Juz II
Ahmad ibn Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, (t.tp: Dar al-Fikr, t.th), Jilid 3
Arnold Jhon Winsinck, Al-Mu`jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawiy `an Kutub al-Sittah wa `an Musnad al-Darimiy wa Muwatha’ Malik wa Musnad Ahmad bin Hanbal, (Laiden: A. J. Beril, 1965), Juz I
Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah, Sunan al-Tirmidziy, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), Juz I
Jalâludîn al-Suyûthîy, Sunan al-Nasâ`îy, (Semarang: Thaha Putra, 1348 H/1930 M), Cet. I, Juz II
Muhammad Rawwas Qal`ah Jiy, Mausu`ah Fiqh Zaid ibn Tsabit wa Abiy Hurairah, (Beirut: Dar al-Nafais, 1993
Malik ibn Anas, Al-Muwatha’, (Beirut: Dar al-Kutub `Ilmiyah, t.th), Jilid I
Tim Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar van Hoeve, t.th), Juz I
Muhammad Syaukaniy, Nail al-Authar, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), Juz II
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârîy, Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra, t.th), Juz I


[1] Shalat, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasul adalah:
 ......وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِىأُصَلِّى. فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَاْليَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُم.
Selama ada contoh dari beliau, maka cara tersebut tidak terlarang untuk ditiru. Lihat Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârîy (selanjutya disebut al-Bukhârîy), Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz I, 117, dan lihat juga Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut: Dâr al-Kutub, tth), Juz I, h. 154-155
[2] Jalâludîn al-Suyûthîy (selanjutya disebut al-Suyûthîy), Sunan al-Nasâ`îy, (Semarang: Thaha Putra, 1348 H/1930 M), Cet. I, Juz II, h. 9-10. Lihat juga al-Bukhâriy, Juz I, h. 117 dengan tidak menggunakan lafazh أَكْثَرُكُمْ قَرْآنًا. Ini menunjukkan sangat dianjurkannya azan.
[3] Arnold Jhon Winsinck (selanjutnya disebut Winsinck), Al-Mu`jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawiy `an Kutub al-Sittah wa `an Musnad al-Darimiy wa Muwatha’ Malik wa Musnad Ahmad bin Hanbal, (Laiden: A. J. Beril, 1965), Juz I, h. 42-44
[4] Muhammad Rawwas Qal`ah Jiy, Mausu`ah Fiqh Zaid ibn Tsabit wa Abiy Hurairah, (Beirut: Dar al-Nafais, 1993), h. 63; lihat juga Abdul Qadir, Fath al-Qadir, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz I, h. 239
[5] Lafazh azan dan cara menjawabnya telah diterangkan dalam hadits-hadits rasul diantaranya hadits dari Abiy Sa`id al-Khudriy, Umar bin Khaththab, Mu`awiyah bin Abiy Sofyan,  `Abd Allâh bin `Amr bin `Ash, Sa`id bin Abi Waqas, `Aisyah,  Ummu Habibah, dan Habsyah (ini yang penulis temukan. Contoh hadits tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa`id al-Khudriy dan Umar bin Khaththab berikut:
1- أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ.
2- قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا قال الْمُؤَذِّنُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ قاَلَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ قَالَ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ قَالَ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قاَلَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Hadits pertama dari Abu Sa`id yang di-takhrij oleh al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidziy, al-Nasa`i, Abu Daud, dan Ibnu Majah. Masing kitab; lihat dalam Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-`Asqalaniy, (selanjutnya disebut al-Asqalaniy), Fath al-Bariy, Syarh Shahih al-Bukhâriy, (Kairo: Dar al-Hadits, 2004), Juz II, h. 107; Abu Al-Husain Muslim ibn Hajjaj al-Qusyairiy al-Naisaburiy, (selanjutnya dikenal dengan Imam Muslim), Shahih Muslim, (t.tp: Dâr al-Fikr, 1981), Juz II, 84-85; Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah, (selanjutnya dikenal dengan al-Tirmidziy), Sunan al-Tirmidziy, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), Juz I, h. 252; `Abd al-Rahman Ahmad ibn Syu`aib ibn `Aliy al-Kurasaniy al-Nasa’iy, (selanjutnya dikenal dengan al-Nasâ’iy), Sunan al-Nasa’iy bi Syarhi al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthiy wa Hasyiyah al-Imam al-Sindiy, (Semarang: Thaha Putra, t.th), Juz 11, 23; Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haqq `Azhim, Selanjutnya dikenal dengan Abu al-Tayyib), `Aun al-Ma`bud, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), Juz I, h. 224; Abu `Abd Allâh Muhammad ibn Yazid al-Qazwiniy, (selanjutnya dikenal dengan Ibnu Majah), Sunan Ibnu Majah, (Kairo: Dar al-Hadits, t.th) Juz I, h. 238; Ahmad ibn Ahmad ibn Hanbal, (selanjutnya dikenal dengan Ahmad ibn Hanbal), Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, (t.tp: Dâr al-Fikr, t.th), Jilid 3, h. 472; Malik ibn Anas, Al-Muwatha’, (Beirut: Dar al-Kutub `Ilmiyah, t.th), Jilid I, h. 67; dan Abu Muhammad `Abd Allâh ibn Bahran al-Darimiy, (selanjutnya dikenal dengan al-Darimiy), Sunan al-Darimiy, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz I, h. 272.
Jawaban yang lain seperti عَلَى ْالِفطْرَةِ seperti yang diriwayatkan oleh Muslim halaman 84 merupakan jawaban temporer waktu situasi perang, dan makna kalimat tersebut adalah عَلَى اْلإِسْلاَمِ. Dan jawaban أشهد ان لا إله إلا الله adalah خرجت من النر . Selanjutnya, jawaban الصلاة خير من النم jawabannya صدقت وبركت . Dan diantara azan dan iqamah ada shalat dua rakaat seperti sabda beliau dari `Abd Allâh ibn Mughaffal al-Muzaniy (dalam shahih Bukhari Juz I hal. 117) berikut:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((بَيْنَ كُلِّ أَذَنَيْنِ صَلاَةٌ-ثَلاَثًا-لِمَنْ شَاءَ))
Keterangan masalah ini penulis cukupkan sampai disini. Karena hal ini sudah dapat dimaklumi. 
[6] Al-Suyuthiy, op.cit., h. 12-13  
[7] Lihat Tim Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar van Hoeve, t.th), Juz I, h. 197
[8] Muhammad Syaukaniy, Nail al-Authar, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz II, h. 15
[9] Tim Ensiklopedi Islam, loc.cit.
[10] Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârîy (selanjutya disebut al-Bukhârîy), Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz I, 116, dan lihat juga Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut: Dâr al-Kutub, tth), Juz I, h. 152-253
[11] Jalâludîn al-Suyûthîy (selanjutya disebut al-Suyûthîy), Sunan al-Nasâ`îy, (Semarang: Thaha Putra, 1348 H/1930 M), Cet. I, Juz II, h. 11
[12] Al-Bukhârîy, Ibid. h. 152
[13] Al-Suyûthîy, op.cit., h. 11-12
[14] Al- Suyûthîy, ibid. h. 13-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]