Hadits Tentang Azan Subuh
Oleh: Samsurizal, MA
Puji dan syukur hanya untuk Allâh semata, shalawat
beserta salam kita do`akan semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyyina Muhammad
shall Allâhu `alaihhi wa sallam, keluarga dan para shahabat, tabi`in,
tabi` al-tabi`in, serta orang yang
mengikuti ajaran beliau sampai hari kiamat.
Islam meletakkan dasar-dasar ajarannya saling berkaiatan
dengan yang lainnya seperti rukun Islam, yaitu syahadatain, shalat, puasa,
zakat, naik haji bagi yang mampu. Semuanya ini mempunyai cabang-cabang
perbuatan yang mesti dilalui sebelum pelaksanaan masing-masing rukun tersebut.
Secara berurutan dapat diuraikan secara
singkat sebagai berikut; syahadat, mesti di dahului oleh iman dan ikhlas dengan
persaksian ke-islam-an; shalat, mesti masuk waktu masing-masing dalam
lima waktu dan wudhuk, dan diluar dari itu ada azan dan iqamah; puasa, mesti
diawali dengan niat yang ikhlas, menahan dari yang merusak baik nilai maupun
keabsahannya; zakat, mesti sampai haul dan nisab-nya; dan naik
haji, mesti ada kemampuan untuk mencukupi yang dimaksudkan tidak menjadikan
orang tersebut melarat setelah selesai melaksanakannya.
Nah, pada kesempatan ini penulis membahas satu sisi
kecil yang terkait dengan rukun islam yaitu shalat[1],
ini berkaitan dengan masalah teknis agar dilaksanakannya secara berjama`ah.
Sebelum pelaksanaan shalat khususnya shalat jama`ah sangat dianjurkan untuk
mengumandangkan azan, seperti sabda beliau:
...إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ
وَالْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ...أَكْثَرُكُمْ قَرْآنًا.[2]
Karena begitu pentingnya azan, maka penulis membahas
masalah Azan, khusus tentang Azan Subuh yang diterangkan oleh hadits-hadits dari
Nabi Muhammad. Dalam pembahasan ini penulis merujuk pada dua kitab yang menurut
penulis sudah mewakili untuk memahami masalah tersebut yaitu kitab Shahih al-Bukhâriy
dan Sunan al-Nasa’iy. Karena sekian banyak hadits tentang azan, masalah azan
subuh penulis temukan dalam kedua kitab ini.
Adapun pelacakan hadits-hadits tentang shalat subuh ini,
penulis menggunakan kitab Al-Mu`jam
Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawiy `an Kutub al-Sittah wa `an Musnad
al-Darimiy wa Muwatha’ Malik wa Musnad Ahmad bin Hanbal, dengan menelusuri kata أَذَّنَ , kemudian
memilih hadits yang berhubungan dengan azan subuh.[3] Isi
Mu`jam sebagaimana terlampir.
Demikianlah gambaran penulisan makalah ini berikut
penulis uraikan beberapa hadits dan pemahaman tentang hadits-hadits tersebut.
Semoga Allâh senantiasa membimbing penulis kepada jalan yang lurus. Amien.
Air Haji, 01 Maret 2008
Penulis,
II.
Pembahasan
A.
Pengertian
Azan dan Pensyari`atan Azan
Secara bahasa, azan berarti
memberitahukan, sedangkan menurut syar`i adalah اَلإِعْلاَمُ
بِدُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ بِاَلْفَاظٍ مَخْصُوْصَةٍ (memberitahukan
masuknya waktu shalat dengan lafazh khusus).[4] Jadi,
beda dengan pemberitahuan-pemberitahuan lain, sebab azan mempunyai
kalimat-kalimat khusus[5] seperti
yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad sendiri. Selanjutnya, azan harus dengan
suara yang maksimal atau keras sehingga orang banyak yang mendengarnya, karena Manusia
maupun Jin yang mendengar suara muadzin tersebut akan menjadi saksi di
hari kiamat kelak.[6]
Al-Qur’ân
memberi informasi dengan perintah untuk menyeru manusia kejalan-Nya,
sebagaimana firman-Nya:
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا
هُمْ نَاسِكُوهُ فَلاَ يُنَازِعُنَّكَ فِي اْلأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ
إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ(67) (سورة الحج/22: 67)
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang
mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan
(syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar
berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj/22: 67)
Kata-kata “serulah ini” terulang dalam al-Qur’ân sebanyak
sembilan kali. Masing-masing lokusnya adalah dalam QS. Al-A`raf/7: 194,
al-Nahl/16: 125, al-Isra’/17: 110, al-Hajj/22: 67, al-Qashash/28: 64 dan 87,
Saba’/34: 22, dan al-Syura/42: 15. terulang dua kali hanya pada QS.
Al-Isra’/17: 110, dan QS. Al-Qashash/28: 64 dan 87 (masing-masing satu kali).
Selebihnya satu kali. Dan yang negatif dalam tiga surat yaitu QS. 7, 28, dan
34. Selebihnya untuk menyeru Allah dan kebenaran-Nya. Dengan lafazh secara
berurutan sebagai berikut; فادعو، أدعو، قل ادعوا، ودع، وقيل ادعوا، ودع، قل ادعوا, فادع . Kata yang ditebalkan merupakan
seruan selain Allah.
Azan disyari`atkan pada tahun I hijrah. Berawal dari
musyawarah yang dilakukan nabi dengan para shahabat berkenaan dengan sarana
yang dipergunakan umat Muslim untuk menyeru menunaikan shalat. Ada yang
mengusulkan menggunakan bendera. Dengan demikian orang yang melihatnya
berkewajiban untuk menyampaikan kepada yang lain. Selain itu ada yang
mengemukakan idenya dengan menggunakan terompet seperti halnya orang yang
Yahudi. Selain itu ada ide meniru umat Nashrani dengan menggunakan lonceng. Ide
yang lain lagi mengusulkan dengan mengibarkan api di atas bukit agar terlihat
oleh orang yang melintasinya. Semua ide tersebut ditolak Nabi, karena tasyabbuh
kepada umat lain dan ada kesulitan kalau menggunakan cara-cara tersebut.[7]
Akhirnya, ide untuk menyeru orang untuk shalat dengan melantunkan azan berasal
dari Abdullah ibn Zaid yang bermimpi bahwa umat Muslim menggunakan seruan yang
bersifat mengajak shalat.[8]
Ide yang sama juga diusulkan oleh Umar bin Khaththab. Usul mereka ini diterima
oleh Nabi dan beliau pun memerintahkan Bilal untuk menyerukan azan pada tahun
kedua hijrah.[9]
Inilah yang mengindikasikan pentingnya azan bagi umat
Muslim dengan kalimat khusus tersebut menjadi karakter mereka. Adapun lafazh-lafazh
azan yang dimaksud akan dibahas berikut.
B.
Hadits
Tentang Azan Sebelum Subuh
1.
Riwayat Al-Bukhâriy[10]
1- حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ يُوْنُسَ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ
التَّيْمِىُّ، عَنْ أَبِى عُثْمَانَ النَّهْدِىِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ،
عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ، أَوْ
أَحَدًا مِنْكُمْ، أَذَانُ بِلاَلٍ مِنْ سَحُوْرِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ، أَوْ
يُنَادِي، بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ، وَلِيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ، وَلَيْسَ
أَنْ يَقُوْلَ الْفَجْرُ، أَوِ الصُّبْحُ)). وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ، وَرَفَعَهَا إِلَى
فَوْقُ، وَطَأْطَأَ إِلَى أَسْفَلُ: ((حَتَّى يَقُوْلَ هَكَذَا)). وَقَالَ زُهَيْرٌ
بِسَبَّابَتَيْهِ، إِحْدَاهُمَا فَوْقَ اْلأُخْرَى، ثُمَّ مَدَّهَا عَنْ يَمِيْنِهِ
وَشِمَالِهِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِى)
2- .....
عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِنَّ
بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ
مَكْتُوْمِ)). (رَوَاهُ الْبُخَارِى)
2.
Riwayat Al-Nasâ’iy[11]
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ
قَالَ أَنْبَأَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِى عُثْمَانَ
عَنْ ابْنُ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِنَّ بِلاَلاَ يُؤَذْنُ بِلَيْلٍ لِيُوْقِظَ نَائِمَكُمْ وَلِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ
وَلَيْسَ أَنْ يَّقُوْلَ هَكَذَا يَعْنِى فِى الْصُّبْحِ. (رَوَاهُ النَّسَائِى)
C.
Hadits
Tentang Azan Waktu Subuh
1.
Riwayat Al-Bukhâriy[12]
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ،
قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ:
أَخْبَرَتْنِى حَفْصَةُ: أَنَّ رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اعْتَكَفَ الْمُؤَذِّنُ للِصُّبْحِ
وَبَدَا الصُّبْحُ، صَلَّىرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الْصَّلاَةُ.
(رَوَاهُ الْبُخَارِى)
2.
Riwayat Al-Nasâ’iy[13]
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ
قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ سَائِلاً
سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَقْتِ الصُّبْحِ فَأَمَرَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلاَلاَفّأَذَّنَ حِيْنَ طَلَعَ
اْلفَجْرُ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَخَّرَ الْفَجْرَ حَتَّى أَسْفَرَ ثُمَّ أَمَرَهُ
فَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ قَالَ هَذَا وَقْتُ الصَّلاَةِ. (رَوَاهُ النَّسَائِى)
D.
Bacaan
Azan Waktu Subuh
أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ
أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللهِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِى جَعْفَرٍ عَنْ أَبِى سَلْمَانَ
عَنْ أَبِى مَحْذُوْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُؤَذْنُ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ أَقُوْلُ فِى أَذَانِ اْلفَجْرِاْلأَوَّلِ حَىَّ عَلَى
الْفَلاَحِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. أَخْبَرَنَا عَمْرُوبْنُ عَلِىٍّ
قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَ وَعَبْدُ الرَّحْمَانِ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بِهَاذَ
اْلإِ سْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَانِ وَلَيْسَ بِأَبِى جَعْفَرٍ الْفَرَاءِ.
(رَوَاهُ النَّسَائِى)[14]
E.
Pemahaman
Hadits
Hadits-hadits di atas menunjukkan
bahwa azan sesudah dan sebelum subuh itu sama-sama disyari`atkan. Dilaksanakannya
azan dua kali pada waktu sebelum subuh, ini tergambar dalam hadits dari Ibnu Mas`ud dan `Aisyah baik dari riwayat al-Bukhâriy
maupun al-Nasâ’iy, bahwa ini terjadi pada bulan ramadhan. Setelah azan mereka
sahur sampai tiba waktu subuh atau Ummi Maktum azan subuh. Pada riwayat al-Nasâ’iy
tentang azan sebelum waktu subuh atau fajar al-Suyûthiy dengan mendengar azan
tersebut mereka terbangun dan mereka ingat waktu sahur untuk puasa esoknya.
Jadi, fungsi azan
subuh yang pertama adalah aba-aba untuk bersiap-siap sahur, dan azan kedua
adalah menandakan telah masuknya waktu shalat subuh karena yang dinamakan azan
tersebut adalah azan tanda masuknya waktu shalat. Ada pun kalimat-kalimat yang
dikumandangkan pada azan pertama tidak penulis temukan, berkemungkinan besar
adalah azan dengan lafazh sama dengan azan shalat isya’ yaitu dari lafazh الله أكبر sampai dengan lafazh لاإله إلا الله seperti yang diajarkan oleh nabi, kemudian azan kedua
merupakan azan khusus untuk mengajak shalat subuh dengan menambahkan lafazh
setelah lafazh حي على الفلاح ditambah dengan lafazh الصلاة خير من النوم .
Menurut penulis
untuk sama-sama menjaga kita mesti menerima seperti apa yang terjadi di dalam
masyarakat bahwa ada yang mengamalkan azan subuh dua kali, karena alasannya
pernah dilakukan dimasa rasul. Dan yang satu kali alasannya cukup kuat bahwa
azan itu disyariatkan hanya pada saat waktu shalat masuk. Khusus azan subuh,
kedua paham ini dapat diterima dan diamalkan apa adanya. Jadi, berdasarkan
hadits-hadits di atas dapat dikompromikan satu dengan yang lainnya dalam satu
tema.
III. Penutup
Shalat, terutama shalat berjama`ah (lebih dari satu
orang) sangat dianjurkan untuk mengumandangkan azan dengan suara yang lantang,
sehingga di dengar oleh orang banyak. Karena siapa pun yang mendengar suara
azan itu akan menjadi saksi di hari kiamat berupa amal yang baik dan dinilai
ibadah oleh Allâh.
Sedangkan masalah azan subuh dua kali. Azan pertama
adalah untuk memberitahukan atau aba-aba bersiap-siap untuk shalat subuh atau
yang lainnya, sehingga untuk pelaksanaan shalat subuh menjadi lebih segar.
Kalau itu pada bulan ramadhan azan pertama bertanda waktu sahur. Selanjutnya,
azan kedua adalah menandakan azan untuk waktu subuh telah masuk. Dan lafazh
yang digunakan untuk azan pertama adalah seperti azan waktu isya’, dan untuk
azan tanda masuk waktu subuh, setelah lafazh حي على الفلاح maka
ditambah dengan lafazh الصلاة خير من النوم dua kali dan ditutup dengan lafazh لاإله إلا الله dan الله أكير masing-masing
dua kali.
Selanjutnya, penekanan hadits di atas adalah pada seruan
untuk beribadah. Oleh karena itu perlu seruan tersebut dengan kalimat-kalimat
tauhid, dan yang dapat mengingatkan manusia kepada Allâh. Setelah mereka bangun
dari tidur mereka, maka yang teringat oleh mereka adalah seruan Allâh yang
Mahaagung. Jadi, nilai rabbaniyah tetap melekat pada diri setiap insan
Muslimin, bahkan dapat menggugah hati dan jiwa seluruh makhluk Allâh yang ada
di dunia ini.
Peringatan-peringatan tersebut dinilai ada pada
lafazh-lafazh azan. Oleh sebab itulah azan disyari`atkan dan bukan dengan
lafazh-lafazh lain.
Demikianlah yang dapat penulis pahami dari hadits-hadits
tentang azan shalat subuh. Penulis menyadari banyak kekurangan dalam bahasan
ini, untuk itu penulis memohon saran dan masukan demi sempurnanya pemahaman
terhadap masalah ini. Terima kasih --- والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته .
DAFTAR RUJUKAN
Abdul Qadir, Fath al-Qadir, (Beirut:
Dar al-Fikr, t.th), Juz I
`Abd al-Rahman Ahmad ibn Syu`aib ibn `Aliy al-Kurasaniy al-Nasa’iy, Sunan
al-Nasa’iy bi Syarhi al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthiy wa Hasyiyah al-Imam
al-Sindiy, (Semarang: Thaha Putra, t.th), Juz 11
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl
al-Bukhârîy (selanjutya disebut al-Bukhârîy), Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra,
tth), Juz I
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin
Ibrâhîm bin Mughîrah bin Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut: Dâr al-Kutub,
tth), Juz I
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin
Ibrâhîm bin Mughîrah bin Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut: Dâr al-Kutub,
tth), Juz I
Abu Al-Husain Muslim ibn Hajjaj al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Shahih
Muslim, (t.tp: Dar al-Fikr, 1981), Juz II
Abu `Abd Allâh Muhammad ibn Yazid al-Qazwiniy, Sunan Ibnu Majah,
(Kairo: Dar al-Hadits, t.th) Juz I
Abu Muhammad `Abd Allâh ibn Bahran al-Darimiy, Sunan al-Darimiy, (Beirut:
Dar al-Fikr, t.th), Juz I
Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haqq `Azhim, `Aun al-Ma`bud, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1994), Juz I
Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-`Asqalaniy, Fath al-Bariy, Syarh Shahih al-Bukhâriy,
(Kairo: Dar al-Hadits, 2004), Juz II
Ahmad ibn Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, (t.tp:
Dar al-Fikr, t.th), Jilid 3
Arnold Jhon Winsinck, Al-Mu`jam
Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawiy `an Kutub al-Sittah wa `an Musnad
al-Darimiy wa Muwatha’ Malik wa Musnad Ahmad bin Hanbal, (Laiden: A. J.
Beril, 1965), Juz I
Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah, Sunan al-Tirmidziy, (Beirut: Dar
al-Fikr, 1994), Juz I
Jalâludîn al-Suyûthîy, Sunan
al-Nasâ`îy, (Semarang: Thaha Putra, 1348 H/1930 M), Cet. I, Juz II
Muhammad Rawwas Qal`ah Jiy, Mausu`ah
Fiqh Zaid ibn Tsabit wa Abiy Hurairah, (Beirut: Dar al-Nafais, 1993
Malik ibn Anas, Al-Muwatha’, (Beirut: Dar al-Kutub `Ilmiyah, t.th),
Jilid I
Tim Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi
Islam, (Jakarta: Ichtiar van Hoeve, t.th), Juz I
Muhammad Syaukaniy, Nail
al-Authar, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), Juz II
Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl
al-Bukhârîy, Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang:
Thaha Putra, t.th), Juz I
......وَصَلُّوا كَمَا
رَأَيْتُمُونِىأُصَلِّى. فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ
أَحَدُكُمْ وَاْليَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُم.
Selama ada contoh dari beliau, maka cara tersebut tidak terlarang
untuk ditiru. Lihat Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârîy
(selanjutya disebut al-Bukhârîy), Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz I, 117, dan
lihat juga Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin
Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut:
Dâr al-Kutub, tth), Juz I, h. 154-155
[2] Jalâludîn al-Suyûthîy (selanjutya disebut al-Suyûthîy), Sunan
al-Nasâ`îy, (Semarang: Thaha Putra, 1348 H/1930 M), Cet. I, Juz II, h.
9-10. Lihat juga al-Bukhâriy, Juz I, h. 117 dengan tidak menggunakan lafazh أَكْثَرُكُمْ
قَرْآنًا. Ini menunjukkan
sangat dianjurkannya azan.
[3] Arnold Jhon Winsinck (selanjutnya disebut
Winsinck), Al-Mu`jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawiy `an Kutub
al-Sittah wa `an Musnad al-Darimiy wa Muwatha’ Malik wa Musnad Ahmad bin
Hanbal, (Laiden: A. J. Beril, 1965), Juz I, h. 42-44
[4] Muhammad Rawwas Qal`ah Jiy, Mausu`ah Fiqh Zaid
ibn Tsabit wa Abiy Hurairah, (Beirut: Dar al-Nafais, 1993), h. 63; lihat
juga Abdul Qadir, Fath al-Qadir, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz I, h.
239
[5] Lafazh azan dan cara
menjawabnya telah diterangkan dalam hadits-hadits rasul
diantaranya hadits dari Abiy Sa`id al-Khudriy, Umar bin Khaththab, Mu`awiyah
bin Abiy Sofyan, `Abd Allâh bin `Amr bin
`Ash, Sa`id bin Abi Waqas, `Aisyah, Ummu
Habibah, dan Habsyah (ini yang penulis temukan. Contoh hadits tersebut,
sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa`id al-Khudriy dan Umar bin Khaththab
berikut:
1- أَنَّ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ
فَقُولُوا مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ.
2- قال قال رسول الله
صلى الله عليه وسلم إِذَا قال الْمُؤَذِّنُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
فَقَالَ أَحَدُكُمْ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ
لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ قاَلَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ
بِاللهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ
إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ قَالَ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ قَالَ اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قاَلَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ لاَإِلَهَ
إِلاَّ اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Hadits pertama dari Abu Sa`id yang di-takhrij oleh al-Bukhari,
Muslim, al-Tirmidziy, al-Nasa`i, Abu Daud, dan Ibnu Majah. Masing kitab; lihat
dalam Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-`Asqalaniy, (selanjutnya disebut
al-Asqalaniy), Fath al-Bariy, Syarh Shahih al-Bukhâriy, (Kairo: Dar
al-Hadits, 2004), Juz II, h. 107; Abu Al-Husain Muslim ibn Hajjaj al-Qusyairiy
al-Naisaburiy, (selanjutnya dikenal dengan Imam Muslim), Shahih Muslim, (t.tp:
Dâr al-Fikr, 1981), Juz II, 84-85; Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah,
(selanjutnya dikenal dengan al-Tirmidziy), Sunan al-Tirmidziy, (Beirut: Dâr
al-Fikr, 1994), Juz I, h. 252; `Abd al-Rahman Ahmad ibn Syu`aib ibn `Aliy
al-Kurasaniy al-Nasa’iy, (selanjutnya dikenal dengan al-Nasâ’iy), Sunan
al-Nasa’iy bi Syarhi al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthiy wa Hasyiyah al-Imam
al-Sindiy, (Semarang: Thaha Putra, t.th), Juz 11, 23; Abu Thayyib Muhammad
Syams al-Haqq `Azhim, Selanjutnya dikenal dengan Abu al-Tayyib), `Aun al-Ma`bud,
(Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), Juz I, h. 224; Abu `Abd Allâh Muhammad ibn Yazid
al-Qazwiniy, (selanjutnya dikenal dengan Ibnu Majah), Sunan Ibnu Majah,
(Kairo: Dar al-Hadits, t.th) Juz I, h. 238; Ahmad ibn Ahmad ibn Hanbal,
(selanjutnya dikenal dengan Ahmad ibn Hanbal), Musnad al-Imam Ahmad ibn
Hanbal, (t.tp: Dâr al-Fikr, t.th), Jilid 3, h. 472; Malik ibn Anas, Al-Muwatha’,
(Beirut: Dar al-Kutub `Ilmiyah, t.th), Jilid I, h. 67; dan Abu Muhammad `Abd Allâh
ibn Bahran al-Darimiy, (selanjutnya dikenal dengan al-Darimiy), Sunan
al-Darimiy, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz I, h. 272.
Jawaban yang lain seperti عَلَى ْالِفطْرَةِ seperti yang diriwayatkan oleh Muslim halaman 84 merupakan jawaban temporer waktu situasi perang,
dan makna kalimat tersebut adalah عَلَى اْلإِسْلاَمِ. Dan jawaban أشهد
ان لا إله إلا الله adalah خرجت من النر . Selanjutnya, jawaban الصلاة خير من النم jawabannya صدقت وبركت . Dan diantara azan dan iqamah ada
shalat dua rakaat seperti sabda beliau dari `Abd Allâh ibn Mughaffal al-Muzaniy
(dalam shahih Bukhari Juz I hal. 117) berikut:
قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((بَيْنَ كُلِّ أَذَنَيْنِ
صَلاَةٌ-ثَلاَثًا-لِمَنْ شَاءَ))
Keterangan masalah ini penulis cukupkan sampai disini. Karena hal ini sudah
dapat dimaklumi.
[6] Al-Suyuthiy, op.cit., h. 12-13
[7] Lihat Tim Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar
van Hoeve, t.th), Juz I, h. 197
[9] Tim Ensiklopedi Islam, loc.cit.
[10] Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârîy (selanjutya
disebut al-Bukhârîy), Shahîh al-Bukhârîy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz I, 116, dan
lihat juga Abiy `Abd Allâh Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin
Burdazabah, Shahih al-Bukhârîy, (Beirut:
Dâr al-Kutub, tth), Juz I, h. 152-253
[11] Jalâludîn al-Suyûthîy (selanjutya disebut al-Suyûthîy), Sunan al-Nasâ`îy,
(Semarang: Thaha Putra, 1348 H/1930 M), Cet. I, Juz II, h. 11
[12] Al-Bukhârîy, Ibid. h. 152
[13] Al-Suyûthîy, op.cit., h. 11-12
[14] Al- Suyûthîy, ibid. h. 13-14



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏