PUASA SUNAT
ENAM HARI DI BULAN SYAWAL
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Al Qur'an tidak pernah berbicara tentang puasa sunat enam hari dalam bulan Syawal. Ia merupakan puasa sunat yang senantiasa dikerjakan oleh Rasul semasa hidup beliau. Sehingga menjadi pahala sunnah yang baik bagi umatnya. Pahala puasa enam hari di bulan Syawal sangat besar, ia sebagai pahala tambahan dari puasa di bulan Ramadhan bagi sha'im (yang berpuasa) setara dengan puasa sunat setahun penuh. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat-riwayat berikut:
حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ وَسَعْدِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ. (رواه أبوداود: ٢٠٧٨ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami An Nufaili, Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Shafwan bin Sulaim serta Sa'd bin Sa'id, dari Umar bin Tsabit Al Anshari, dari Abu Ayyub sahabat nabi ﷺ, dari Nabi ﷺ, beliau berkata: "Barangsiapa yang melakukan puasa pada Bulan Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada Bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa satu tahun." (HR. Abu Daud: 2078 - shahih dari Khalid bin Zaid bin Kulaib)
Lihat juga: Muslim: 1984, at Tirmidziy: 690, Ibnu Majah: 1706 dan Ahmad: 22454 semuanya shahih dari Abu Ayyub atau Khalid bin Zaid bin Kulaib. Lafadz riwayat Muslim, "Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa (tahun)."
Sama dengan riwayat Ahmad: 22433 dari Abu Ayyub.
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ أَخُو يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ ثَابِتٍ رَجُلٌ مِنْ بَنِي الْحَارِثِ أَخْبَرَنِي أَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهْرِ. (رواه أحمد: ٢٢٤٦٩ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Sa'ad bin Sa'id Al Anshari saudara Yahya bin Sa'id, telah mengabarkan kepadaku Umar bin Tsabit -seorang dari bani Al Harits- telah mengabarkan kepadaku Abu Ayyub Al Anshari, dia berkata; saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan syawal, maka itulah puasa setahun penuh". (HR. Ahmad: 22459 - shahih dari Khalid bin Zaid bin Kulaib)
Lihat juga: Ahmad: 13783 - dha'if dari Jabir bin 'Abdullah al Anshariy. Hadits berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ يَعْنِي ابْنَ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ جَابِرٍ الْحَضْرَمِيُّ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَسِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ السَّنَةَ كُلَّهَا.
حَدَّثَنَاه الْحَسَنُ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ جَابِرٍ الْحَضْرَمِيُّ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ. (رواه أحمد: ١٣٧٨٣ - ضعيف)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Sa'id yaitu Ibnu Abu Ayyub telah menceritakan kepadaku 'Amr bin Jabir Al Hadlromi berkata; saya telah mendengar Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata; saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan enam hari bulan Syawal, maka dia seperti puasa setahun penuh".
Telah menceritakannya kepada kami Al Hasan telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Jabir Al Hadhrami berkata; saya telah mendengar Jabir bin Abdullah berkata; saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: lalu menyebutkan secara makna. (HR. Ahmad: 13783 - dha'if [karena 'Amru bin Jabir al Hadhramiy dinilai kadzdzaab] dari Jabir bin 'Abdullah al Anshariy)
Para periwayat:
1. Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.
2. Amru bin Jabir, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Zur'ah negeri hidup Maru. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, Abu Hatim menilainya shalihul hadits, Abul Fath al Azdy menilainya kadzaab dan Ibnu Hajar menilainya dha'if syi'i.
3. Sa'id bin Miqlash abi Ayyub, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Yahya negeri hidup Maru dan wafat tahun 161 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i menilainya tsiqah, Ibnu Hibban mengatakan diaebutkan dalam ats tsiqat. Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim menilainya la ba'sa bih serta Muhammad bin Sa'id menilainya tsiqah tsabat.
4. Abdullah bin Yazid, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Abdur Rahman negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 213 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduuq. An Nasa'i, Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya tsiqah, serta Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats tsiqat.
Hadits setema tetapi berbeda lafazhnya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَامَةَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ
أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ كَانَ يَصُومُ أَشْهُرَ الْحُرُمِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُمْ شَوَّالًا فَتَرَكَ أَشْهُرَ الْحُرُمِ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يَصُومُ شَوَّالًا حَتَّى مَاتَ. (رواه إبن ماخه: ١٧٣٤ - ضعيف)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi dari Yazid bin Abdullah bin Usamah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim bahwa Usamah bin Zaid melakukan puasa pada bulan-bulan haram. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Berpuasalah di bulan Syawal. " Maka kemudian, ia tidak lagi berpuasa di bulan-bulan haram dan tidak pernah berhenti puasa Syawal hingga meninggal. " (HR. Ibnu Majah: 1374 - hasan dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup 54 H. Sedangkan 'Abdul Aziz bin Muhammad bin Ubaid bin Abi Ubaid, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 187 H. Ia diinilai oleh Abu Zur'ah seorang yang buruk hafalannya, al 'Ajli menilainya tsiqah, Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat, Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa).
Demikianlah penjelasan tentang puasa enam hari di bulan syawal. Tidak ada penjelasan khusus tentang hari-hari tertentu pelaksanaannya secara khusus apakah harus berurutan atau tidak. Hemat penulis, pelaksanan puasa sunat tersebut masih dalam bulan syawal. Jadi, boleh dilakukan secara berurutan maupun tidak. Hal yang terpenting adalah sama seperti puasa sunat yang lain yaitu menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏