KEBAIKAN BULAN RAMADHAN
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pengampunan dan terbebasnya para sha'im dari adzab neraka. Pada bulan ini diwajibkan berpuasa bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana orang-orang beriman sebelum umat Nabi Muhammad ﷺ. Mereka berpuasa sesuai syari'at pada waktu itu. Sedangkan, umat nabi Muhammad ﷺ diperintahkan berpuasa sebagaimana perintah Allah dalam al Qur'an surat al Baqarah ayat 183 dan tata caranya dan keutamaannya diatur dan disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Firman Allah terkait dengan hal ini diantaranya,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ. (قرآن سورة البقرة/٣: ١٨٣)
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah/2: 183)
Beberapa hal diingatkan oleh Allah agar kita senantiasa menjaga iman dan anggapan buruk terhadap harta dan keturunan yang membuat orang-orang terdahulu lupa. Firman Allah dimaksud adalah sebagai berikut:
كَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَّاَكْثَرَ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۗ فَاسْتَمْتَعُوْا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِيْ خَاضُوْاۗ اُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ. (قرآن سورة التوبة/٩: ٦٩)
(keadaan kamu kaum munafik dan musyrikin) seperti orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya. Maka mereka telah menikmati bagiannya, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal-hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. At Taubah/9: 69)
Adapun lafazh hadits-hadits terkait dengan menegakkan puasa ramadhan juga dianjurkan menegakkan shalat malam dan malam lailatul qadarnya. Ini menunjukkan bahwa menegakkan rangkaian ibadah ini dengan istiqamah, insya Allah akan menperoleh pahala dan malam lailatul qadar yang dijanjikan oleh Allah. Sebagai rujukan ilmu dan referensi berikut penulis paparkan.
Sebagai gambaran awal, ingat sabda Rasul berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه البخاري: ٣٧)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Fudhail berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Al Bukhari: 37 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Hadits terkait dengan ini berjumlah 45 buah, sebagaimana termaktub dalam kitab hadits 9 imam. Beberapa riwayat dapat dilihat dalam hadits riwayat al Bukhari: 34, 36, 1768, 1869, 1870 dan 1875, Muslim: 1266 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Menegakkan amalan-amalan di bulan Ramadhan selalu dilestarikan sejak diperintahkannya puasa Ramadhan. Hingga sekarang dan bahkan sampai akhir zaman. Hal ini diinformasikan dalam riwayat berikut,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا. (رواه البخاري: ١٨٧٠)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang menegakkan Ramadan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". Ibnu Syihab berkata; Kemudian Rasulullah ﷺ wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadan (secara bersama, jamaah), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan 'Umar bin Al Khaththab radhiyallahu 'anhu. (HR. Al Bukhari: 1870 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lihat juga hadits riwayat at Tirmidzi: 619, an Nasa'i: 2173, Abu Daud: 1164, Ahmad: 6979 dan 9735 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Selanjutnya, menegakkan sunnah shalat malam pada bulan itu,
و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ عَلَى ذَلِكَ. (رواه مسلم: ١٢٦٧)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdu bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ memberikan motivasi untuk mengerjakan (shalat pada malam) Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang menunaikan (shalat pada malam) Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni." Kemudian Rasulullah ﷺ wafat, sementara perkara itu tetap seperti itu. Demikian pula pada kekhilafahan Abu Bakar hingga permulaan kekhilafahan Umar. (HR. Muslim: 1267 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Hanya saja perbedaan lafazh terkait dengan menegakkan shalat malam dan malam lailatul qadar, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَفِي حَدِيثِ قُتَيْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه النسائي: ٢١٧٣)
Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dan Muhammad bin 'Abdullah bin Yazid mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan -dalam suatu lafazh yang "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadhan"- dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu. Dan, barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu." (HR. An Nasa'i: 2173 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Begitu juga pesan dalam hadits riwayat Ahmad: 9735, 6979 dan 9100, an Nasa'i: 2173 dan 2177 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Sejalan dengan riwayat di atas, selanjutnya simak pesan hadits berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنِي عَبْدَةُ عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُا وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا. (رواه البخاري: ١٢٧٢)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihran Ar Razi telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim Telah menceritakan kepada kami Al Auza'i telah menceritakan kepadaku Abdah dari Zirr ia berkata, saya mendengar Ubay bin Ka'ab berkata, dan telah dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata, "Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadar." Ubay berkata, "Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadhan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul Qadar itu adalah malam, dimana Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot." (HR. Al Bukhari: 1272 - shahih dari Ubay bin Ka'ab bin Qais, ia shahabat kuniyahnya Abu al Mundzir negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Begitu juga hadits riwayat Abu Daud: 1178 - shahih dari Mu'awwiyah bin Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dna wafat tahun 60 H. Nabi ﷺ bersabda, "lailatul qadar adalah malam ke dua puluh tujuh " ... قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ". Demikian juga hadits riwayat Muslim: 2000 dan Ahmah: 20248, 20251 - shahih dari Ubay bin Ka'ab bin Qais, ia shahabat kuniyahnya Abu al Mundzir negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Sementara itu hadits riwayat Ahmad: 15466 - dha'if dari 'Abdullah bin Unais, ia shahabat kuniyahnya Abu Yahya negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. menyebutkan pada malam ke-23. Hadits ini munqathi', karena periwayat yang menerima dari 'Abdullah bin Unais terputus. Buktinya periwayat sesudah itu Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amru bin Hazam, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 120 H. Sebab kecil kemungkinan liqa' (masa bertemunya) dengan 'Abdullah bin Unais.
Allah memberi lima kebaikan di bulan Ramadhan yang tidak diberikan pada umat terdahulu. Sebagaimana sabda Rasul berikut:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي هِشَامٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيَتْ أُمَّتِي خَمْسَ خِصَالٍ فِي رَمَضَانَ لَمْ تُعْطَهَا أُمَّةٌ قَبْلَهُمْ خُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوا وَيُزَيِّنُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ ثُمَّ يَقُولُ يُوشِكُ عِبَادِي الصَّالِحُونَ أَنْ يُلْقُوا عَنْهُمْ الْمَئُونَةَ وَالْأَذَى وَيَصِيرُوا إِلَيْكِ وَيُصَفَّدُ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ فَلَا يَخْلُصُوا إِلَى مَا كَانُوا يَخْلُصُونَ إِلَيْهِ فِي غَيْرِهِ وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَهِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ قَالَ لَا وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرَهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ. (رواه أحمد: ٧٥٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Abi Hisyam dari Muhammad bin Al Aswad dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Umatku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya pada bulan Ramadan; bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak misik, para malaikat memintakan ampunan untuk mereka hingga berbuka, dan pada setiap harinya Allah 'Azza wa Jalla menghiasi surga mereka, kemudian Allah berfirman: 'hampir saja para hamba-Ku yang shalih dihindarkan dari kepayahan dan gangguan dan berjalan kepadamu (surga). 'dan di dalam bulan Ramadhan para setan dibelenggu hingga mereka tidak bebas menggoda orang yang berpuasa sebagaimana mereka bebas mengganggu selainnya, dan akan diampuni dosa-dosa mereka (orang yang berpuasa) di akhir malam bulan Ramadan." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah apakah itu Lailatul qadar?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak, akan tetapi seorang yang beramal akan ditepati pahalanya jika telah selesai melaksanakan amalannya." (HR. Ahmad: 7576 - dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan menarik dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 7576 ini terdapat periwayat bernama Muhammad bin al Aswad bin Khalaf bin 'Abdi Yaghuts, ia shahabat. Ia menerima hadits dari 'Abdullah bin 'Abdur Rahman bin 'Auf, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 94 H. Hadits ini merupakan hadits periwayatan dari shahabat kepada tabi'in, kemudian diterima oleh shahabat. Artinya terjadi umpan balik bagi shahabat yang tidak mendengar langsung dari Rasul. Ini bukti bahwa kesinambungan periwayatan telah terjadi dan terjaga.
Selanjutnya juga dapat dijelaskan bahwa dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 7576 terdapat periwayatan bernama Hisyam bin Ziyad bin Abi Zaid, ia tabi'ut atba'kalangan tua kuniyahnya Abu al Miqdam dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Zur'ah dan Abu Hatim menilainya dha'iful hadits. At Tirmidzi, an Nasa'i, ad Daruquthni dan al 'Ajli serta Ya'qub bin Sufyan menilainya dha'if. Sementara Ibnu Hajar menilainya matruk. Adz Dzahabi berkomentar, "mereka mendha'ifkannya". Sedangkan Yahya bin Ma'in dan Abu daud menilainya laisa bi tsiqah. Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Semuanya ini tentu tidak terlepas dari sikap istiqamah dan senantiasa mawasdiri dan selalu memperbaiki diri. Hal ini, memang berat akan tetapi pahalanya sangat besar melebih kesenangan dan kekayaan yang pernah dimiliki oleh manusia di dunia ini, yang pernah ada. Sebagaimana pesan yang diabadikan oleh Allah dalam al Qur'an berikut:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ. (القرآن سورة يوسف/١٢: ١١٢)
Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Yusuf/11: 112)
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏