“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]



KATA AL-QISHSHAH YANG DISIFATI AL-HAQQ

A. Pengertian, Maksud dan Tujuan Terkait dengan Kata Qishshah dan Kata al-Haqq
Pada Bab II penulis telah menguraikan tentang kata al-Qishshah dan konsep Qishshah dalam al-Qur’ân.  Pada bab III tentang kata al-Haqq dan konsep-konsepnya. Dalam bab ini penulis akan menguraikan pengertian, maksud dan tujuan kedua komponen ini, sebagai inti dari penelitian tentang kata al-Qishshah yang disifati al-Haqq.

1. Pengertian kata al-Qishshah dan kata al-Haqq

Al-Qur’ân memuat kata al-Qishshah dalam 14 surat, 25 ayat dan 30 kali. Dari segi tema Qishshah (kisah), tersebar dalam 91 surat, terdiri dari 1629 ayat dalam al-Qur’ân, sebagian ada yang diulang-ulang. Ini lebih banyak kalau dibandingkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang yang lainnya, seperti masalah ibadah dengan segala macamnya terdapat kurang lebih 140 ayat, tentang mu`amalat, ahwal al-syakhsiyah, jinayat, peradilan dan persaksian hanya sekitar 200 ayat tersebar dalam berbagai surat, terkadang tidak terhimpun dalam satu surat. Begitu juga dibandingkan dengan masalah keimanan sebanyak kurang lebih 136 ayat dan mengenai hidup kemasyarakatan sebanyak 228 ayat. Lebih lanjut Harun Nasution mengemukakan pendapat para ahli bahwa mengenai ilmu-pengetahuan, fenomena dalam al-Qur’ân memuat kurang lebih 150 ayat.

Demikian juga, hadits-hadits hukum menurut Ibnu Qayyim al-Jauziy dalam bukunya I`lâm al-Muwaqqi`în jumlahnya sekitar 4.500 hadits.1 Hadits-hadits yang dihitung oleh Ibnu Qayyim tersebut tentunya hadits-hadits yang menurutnya dapat dijadikan landasan untuk menetapkan hukum, karena ia termasuk ulama yang sangat ketat dalam menerima hadits (mutasyaddid).

Terkadang al-Qur’ân dalam menyampaikan kisah menggunakan kata naba’a, yang mempunyai pengertian kisah, berita yang berfaedah dan mempunyai manfaat yang besar.2 sejauh penelitian penulis dengan mengumpulkan ayat-ayat yang menggunakan kata naba’a dari setingkat kata sebanyak 12 buah. Terdapat dalam QS. al-Mâ’idah/5: 27, al-An`âm/6: 34 dan 67, al-A`râf/7: 175, al-Tawbah/9: 70, Yûnus/10: 71, al-Syu`arâ’/26: 69, al-Qashash/28: 3, Shâd/38: 21 dan 67, dan al-Taghâbun/64: 5. Semua ayat tersebut mempunyai makna kisah dan berita.

Selain itu juga, kata naba’a dari segi berawalan dan berakhiran terdapat dalam al-Qur’ân sebanyak 22 buah. Berdasarkan penelusuran akar kata naba’a sebanyak 80 buah dan akar kata bawa’a sebanyak 17 buah.3 Berhubungan dengan kata ini penulis cukupkan sampai disini. Karena tidak termasuk fokus pembicaraan dalam bab ini, agar tidak meragukan.

Sesuai dengan fokus penelitian penulis adalah kata Qishshah. Kata al-Qishshah berasal dari bahasa Arab al-qashshu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Al-Qur’ân menyebutkan kata ini dalam tiga pengertian yaitu terkait dengan pengertian hukum Qishâsh (pembalasan yang sama), kisah itu sendiri dan mengikuti jejak.

Sedang secara istilah Qishshah4 berarti berita al-Qur’ân tentang hal-ihwal umat terdahulu, kenabian dan peristiwa yang telah dan akan terjadi dimasa akan datang. Ini bersifat berkesinambungan atau saling terkait. Dengan metode kisah ini pesan yang disampaikan lebih meresap dan cepat diterima.

Sedangkan kata al-Haqq dalam al-Qur’ân tersebar dalam 57 surat, terdiri dari 212 ayat dan terulang sebanyak 227 kali. Kandungan dari ayat-ayat yang terkait dengan ini adalah membicarakan hal-hal penting, berikut beberapa fokus dan contoh kandungannya; tentang Allâh bersifat al-Haqq (QS. Yûnus/10: 32), al-Haqq datang dari Allâh (QS. al-Baqarah/2: 147), kisah-kisah yang benar (QS. al-Kahfi/18: 13), penciptaan alam dengan al-Haqq (QS. al-Nahl/16: 3), prilaku manusia yang menyimpang dan yang mengikuti al-Haqq (QS. al-Zumar/39: 41), tentang Jihad (QS. al-Hajj/22: 78), berita tentang kematian (QS. Qâf/50: 19), tentang akhirat (QS al-A`râf/7: 8), tentang kepastian hari kiamat untuk menempuh jalan kembali kepada Allâh (QS. al-Naba'/78: 39), serta balasan dan siksaan yang haqq (benar) (QS. Yûnus/10: 53), tentang hadd (hukum) (al-An`âm/6: 57), tentang agama yang al-haqq (QS. al-Shaff/61: 9).

Al-Haqq juga berorientasi keyakinan tentang al-Qur’ân (QS. al-Hâqqah/69: 51), juga islamnya sembilan jin karena mendengar Rasul Allâh Shall Allâhu `alaihi wa Sallam membaca al-Qur’ân (QS. al-Ahqaf/46: 30), tidak kalah pentingnya kata al-Haqq digunakan untuk mempertegas kisah-kisah yang diceritakan oleh Allâh dalam al-Qur’ân yaitu cerita atau berita tentang penciptaan Nabi Adam dan Nabi Isa dalam QS. `Âli `Imrân/3: 62 dan cerita tentang Ashhab al-Kahfi dalam QS. al-Kahfi/18: 13. Jadi, menurut kandungannya kata al-Haqq adalah membahas tentang tauhid uluhiyah, rububiyah, dan al-asma’ wa al-sifat. Ini memberikan kesimpulan bahwa ini lebih menitik beratkan pada masalah akidah atau iman. Bukti sejarah juga telah memberi informasi bahwa ayat-ayat al-Qur’ân terkait dengan akidah lebih banyak turun di Makkah. Demikian juga menjadi dasar bahwa memang ayat-ayat tersebut lebih banyak tergolong Makkiyah.

Setelah penulis teliti kata al-Haqq dalam al-Qur’ân tersebar dalam separoh dari jumlah surat yang ada dalam al-Qur’ân yaitu 57 surat, 45 surat Makiyyah dan 12 surat Madaniyah, serta tiga surat yang diperselisihkan. 212 ayat, yaitu 133 ayat termasuk kelompok Makkiyah dan 79 ayat Madaniyah. 227 kali, 142 kali termasuk kelompok Makkiyah dan 85 kali termasuk kelompok Madaniyah, semuanya mengandung arti kebenaran dalam ungkapan redaksi yang beragam.5

Adapun pengertian kata al-Haqq6 adalah Allâh (al-asmâ’ wa al-shifat) yang menjadikan sesuatu yang penuh hikmah, sebagaimana firman-Nya, artinya: “…dan mereka dikembalikan kepada Allâh, pelindung mereka yang sebenarnya…” (QS. Yûnus/10: 30). Perbuatan Allâh semua adalah al-Haqq. Seperti mati, hari berbangkit, singkatnya semua ciptaan-Nya adalah al-Haqq. Sebagaimana firman-Nya, artinya: “…Allâh tidak menciptakan semua itu kecuali dengan al-Haqq…” (QS. Yûnus/10: 5). Yakin, dengan petunjuk-Nya orang-orang Mukmin yang berselisih menjadi yakin (QS. al-Baqarah/2: 213). Selanjutnya al-Haqq juga termasuk semua firman-Nya, sebagaimana firman-Nya, artinya: “… tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku…” (QS. al-Sajadah/32: 13.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa semua yang terkait langsung dengan Allâh dan hal-hal yang lain di luar itu adalah al-Haqq. Hanya saja perbedaan objek yang dibicarakan dalam ayat al-Qur’ân yang dapat membedakan makna yang dimaksud oleh kata ini. Secara keseluruhan, makna al-Haqq adalah “kebenaran” yang absolut.

Selanjutnya kandungan ayat-ayat yang ada kata al-Haqq-nya terkait dengan kisah dalam al-Qur’ân lebih banyak berkenaan dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Ayat-ayat terkait dengan ini adalah 44 ayat dalam 34 tema. Rincian ayat-ayat tersebut dapat dilihat secara rinci sebagai berikut:

a. Permusuhan antara syetan dan manusia (QS. al-Mâ’idah/5: 91, Ibrâhîm/14: 22)
b. Manusia keras kepala (QS. Al-Anfâl/8: 6; al-Anbiyâ’/21: 55)
c. Kekufuran manusia akan nikmat Allâh (QS. al-An`âm/6: 66; Yûnus/10: 23)
d. Ilmu manusia sedikit (QS. al-Qashash/28: 13)
e. Kelemahan manusia (QS. Yûnus/10: 53)
f. Para rasul diutus untuk memberi petunjuk (QS. al-Baqarah/2: 176 dan 213; Âli `Imrân/3: 108; al-Nisâ’/4: 170; al-An`âm/6: 5, 91 dan 151; al-A`râf/7: 43, 53 dan 89; al-Tawbah/9: 33; Yûnus/10: 108; al-Hajj/22: 78; al-Fâthir/35: 24; al-Mukmin/40: 78; al-Fath/48: 28)
g. Manusia makhluk yang dimuliakan (QS. al-Hajj/22: 78)
h. Rizki manusia dijamin Allâh (QS. al-An`âm/6: 151)
i. Bumi disiapkan untuk tempat tinggal manusia (QS. Yûnus/10: 5)
j. Besarnya karunia Allâh pada manusia (QS. al-Qashash/28: 13)
k. Agama bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 91 dan 113)
l. Kelebihan yang diberikan Allâh untuk bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 61)
m. Bangsa Yahudi menyembunyikan kebenaran (QS. al-Baqarah/2: 42, 109 dan 146; Âli `Imrân/3: 71; al-An`âm/6: 91, 114)
n. Penghinaan dan pengusiran bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 61; Âli `Imrân/3: 112)
o. Kemurkaan Allâh terhadap bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 61; Âli `Imrân/3: 112)
p. Orang-orang beriman di kalangan bangsa Yahudi (QS. al-A`râf/7: 159)
q. Kampung tempat bangsa Yahudi melanggar janji di hari Sabtu (QS. al-A`râf/7: 159)
r. Sikap Yahudi terhadap agama-agama samawi (QS. al-Baqarah/2: 91, 176; al-An`âm/6: 96)
s. Kelemahan iman bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 71)
t. Keingkaran dan sifat keras kepala bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 61, 71, 91; Âli `Imrân/3: 21, 112, 181; al-An`âm/6: 91, 114)
u. Kekufuran manusia terhadap nikmat Allâh (dalam 36 surat dan 124 ayat) – lihat tema kisah.
v. Agama bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 91, 113)
w. Keingkaran dan sifat keras kepala bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 42, 61, 71 dan 91; Âli `Imrân/3: 21, 112 dan 181; al-An`âm/6: 91 dan 114)
x. Inkar janji dan kekerasan hati bangsa Yahudi (QS. al-Baqarah/2: 71; al-An`âm/6: 91)
y. Sikap bangsa Yahudi terhadap Nabi-nabi (QS. al-Baqarah/2: 61, 91; Âli `Imrân/3: 21, 112, 181)
z. Sikap bangsa Yahudi terhadap Islam (QS. al-An`âm/6: 91, 114)
aa. Hubungan antara bangsa Yahudi dan orang mukmin (QS. Al-Tawbah/9: 29; al-Mumtahanah/60: 1)
bb. Akidah orang-orang Nasrani (QS. al-Nisâ’/4: 171)
cc. Hubungan antara orang Islam dan Nasrani (QS. al-Tawbah/9: 29; al-Mumtahanah/60: 1)
dd. Orang-orang beriman di kalangan Nasrani (QS. al-Mâ’idah/5: 83 dan 84; al-Hadîd/57: 27)
ee. Sikap orang Nasrani terhadap Nabi `Isa (QS. Al-Nisâ’/4: 171)
ff. Sifat-sifat orang Nasrani (QS. al-An`âm/6: 114; al-Hadîd/57: 27)
gg. Sikap orang Nasrani terhadap Islam (QS. al-Baqarah/2: 109, 146; Âli `Imrân/3: 71; al-Mâ’idah/5: 83; al-An`âm/6: 114)
hh. Kisah Ashhab al-Kahfi (QS. Al-Kahfi/18: 13, 21)

Sedangkan surat yang tidak ada kisah di dalamnya terdiri atas 23 surat, surat-surat tersebut adalah QS. Muhammad/47, Qâf/50, al-Qamar/54, al-Munâfiqûn/63, al-Jin/72, al-Takwîr/81, al-Muthafifîn/83, al-Insyiqâq/84, al-Dhuhâ/93, al-Syarh/94, al-`Alaq/97, al-Zalzalah/99, al-Qâri`ah/101, al-`Ashr/103, al-Humazah/104, al-Mâ`ûn/107, al-Kautsar/108, al-Kâfirûn/109, al-Nashr/110, al-Masad/111, al-Ikhlâsh/112, al-Falaq/113 dan al-Nâs/114. Semua surat ini tidak mengandung kisah sebagai mana yang lainnya. Tetapi ia mengandung kata al-Haqq, seperti surat ke-47 dan surat ke-103.  Dengan demikian dapat diketahui bahwa selain surat-surat ini adalah mengandung kisah.

2. Maksud dan Tujuan

Semua orang Islam akan meyakini bahwa apa pun yang diinformasikan oleh al-Qur’ân adalah firman Allâh dan dapat dipastikan bahwa semuanya mempunyai maksud dan tujuan. Nah, sejauh penelitian penulis berdasarkan penggunaan kata Qishshah yang disifati al-Haqq adalah berfungsi untuk menguatkan, berfungsi sebagai ta’kid dan na`t wa man`ut.7 Pernyataan Allâh dalam menyampaikan pesan-pesan al-Qur’ân agar manusia tidak meragukan pesan yang disampaikan-Nya melalui lisan nabi-Nya. Karena hal tersebut masalah besar, jika tidak dipercayai maka ia dianggap kafir terhadap al-Qur’ân.

Kata Qishshah (kisah) sendiri bermaksud agar pesan-pesan tersebut mudah diserap oleh pendengarnya, karena bangsa Arab pada waktu itu masih awam apalagi terpaut dengan tradisi hapalan mereka tentang silsilah keturunan mereka. Adapun kandungan kisah yang disampaikan bertujuan untuk memberi pelajaran (`ibrah). Sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثاً يُفْتَرَى وَلَـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿١١١﴾ (سورة يوسف/12: 111)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yûsuf/12: 111)

Apabila kata al-Haqq tersebut tergabung dalam satu ayat dengan kata Qishshah adalah untuk menegaskan atau ta’kid bagi mu’akkid-nya yaitu kisah yang telah disampaikan ayat sebelumnya, bahkan terkait dengan semua kisah-kisah yang telah diinformasikan oleh Allâh dalam al-Qur’ân. Dalam hal ini penulis hanya menemukan dalam dua surat dan dua ayat yaitu QS. Âli `Imrân/3: 62 dan al-Kahfi/28: 13. Hasil ini setelah penulis teliti satu per satu antara kata al-Haqq yang telah di kalkulasikan dengan kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’ân. Sebagaimana yang penulis paparkan setelah ini.

B. Kata al-Qishshah yang disifati al-Haqq dalam Al-Qur’ân

Al-Qur’ân menyebutkan kata al-Qishshah berdampingan dengan kata al-Haqq dalam dua ayat, pertama dalam surat Âli `Imrân ayat 62 dan surat al-Kahfi/18 ayat 13. Kata yang pertama dalam kalimat berfungsi sebagai na`at (sifat atau yang disifati) dan kata kedua sebagai man`ut (yang mensifati), masing-masingnya sebagai berikut:

Surat Âli `Imrân ayat 62 berbunyi: 

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿62﴾ (سورة آل عمران/3: 62)

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allâh; dan sesungguhnya Allâh, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Âli `Imrân/3: 62)

Dan firman-Nya dalam surat al-Kahfi ayat 13 sebagai berikut:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ﴿١٣﴾ (سورة الكهف/18: 13)

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. al-Kahfi/18: 13)

Ayat-ayat di atas terkait dengan Qishshah, dan disertai kata al-haqq. Ada perbedaan penggunaan kedua kata ini disandingkan dengan kisah yang tidak disertai dengan kata al-haqq. Perbedaannya adalah kisah yang diceritakan Allâh tersebut adalah kisah yang mengundang pengingkaran terhadap kebenarannya, untuk peristiwa yang luar biasa. Sedang kisah yang tidak disertai kata al-haqq adalah kisah yang tidak ada memiliki dua kriteria tersebut, seperti yang telah penulis paparkan pada bab II dan III.

Berikut penulis akan menguraikannya dalam bentuk uraian analisis dan sistematis, yang bersumber dari beberapa kitab tafsir dan dilengkapi dengan hadits-hadits. Dalam uraian berikut penulis menyusunnya secara berurutan dan berusaha menginterpretasikan dalam bentuk penafsiran mawdhu`iy (tematik). Yaitu terkait dengan dua ayat yang penulis sebutkan di atas.

1.  Al-Qur’ân surat Âli `Imrân/3 ayat 62

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿62﴾ (سورة آل عمران/3: 62)

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allâh; dan sesungguhnya Allâh, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Âli `Imrân/3: 62)

Ayat ini terkait dengan serangkaian kisah yang terjadi pada keluarga, keturunan `Imran. Sejak `Imrân dan Istrinya sampai pada `Isâ binti Maryam. Peristiwa itu terjalin dalam konsep akidah yang hakiki. Sebagaimana yang diceritakan sejak ayat 33-61 dari surat `Âli `Imrân. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحاً وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿٣٣﴾ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٣٤﴾  (سورة آل عمران/3: 33)

“Sesungguhnya Allâh telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allâh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. `Âli `Imrân/3: 33-34).

Cerita yang disampaikan-Nya dalam ayat-ayat tersebut mengandung “keajaiban-keajaiban” yang tidak dapat dicerna oleh akal manusia, tanpa ada rasa iman. Kronologis kisah tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammad dan untuk umatnya. Selanjutnya kronologis tersebut penulis paparkan dalam lima kelompok, pertama keluarga Imran dan Istrinya, Kelahiran Maryam, pengasuh Maryam setelah Imran wafat, Lahir dan Wafatnya Nabi `Isâ serta diangkatnya Nabi `Isâ.

a. Keluarga Imran dan Istrinya

Keluarga Imran diabadikan oleh Allâh dalam al-Qur’an, karena keistimewaan yang ditetapkan-Nya pada keluarga tersebut, sebagaimana firman-Nya, artinya: “Sesungguhnya Allâh telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allâh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Ali `Imrân/3: 33-34). Ayat ini jelas menyatakan pilihan kepada keluarga Imran. Mereka yang disebutkan ayat ini, terbukti telah menjadi tauladan dan sumber ajaran Islam yang diambil dari kisah mereka.

b. Kelahiran Maryam

Allâh menceritakan tentang kelahiran Maryam dalam QS. Âli `Imrân ayat 35-36 yaitu:
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّراً فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٣٥﴾ فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴿٣٦﴾ (سورة آل عمران/3: 36)
“(Ingatlah), ketika isteri `Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allâh lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (QS. Âli `Imrân/3: 35-36)

Maryam lahir dari keluarga `Imran dan Hanah.8 Sebagaimana diceritakan oleh Allâh dalam surat Âli `Imrân ayat 35-36 bahwa istri Imran bernazar kepada Allâh untuk mengabdikan anaknya yang akan lahir di Baitul Maqdis. Namun, apa hendak dikata atas kehendak-Nya anak yang lahir adalah perempuan. Padahal menurut tradisi pada waktu itu anak perempuan tidak layak untuk menunaikan kewajiban itu. Kemudian setelah Imran meninggal ia ditakdirkan diasuh oleh Zakaria. Sebelumnya, seperti yang diinformasikan oleh Allâh kepada Nabi Muhammad bahwa telah terjadi pengundian untuk pengasuhan Maryam seperti yang dijelaskan dalam surat yang sama ayat  44.

c. Pengasuh Maryam Setelah Imran         Wafat

Maryam adalah anak keluarga `Imrân, setelah mereka meninggal ia diasuh oleh Zakaria. Zakaria sendiri belum punya anak, padahal beliau dan istrinya sudah tua. Kisah Zakaria ini disampaikan dalam surat Âli `Imrân ayat 38-41, juga dalam surat Maryam ayat 5, 6 dan 7 dan al-Anbiyâ’ ayat 89. Cerita ini disampaikan Allâh dalam surat yang berbeda dan kepentingan yang sama yaitu agar jadi i`tibar bagi manusia bahwa Allâh membolehkan seseorang untuk mengasuh anak orang lain. Selanjutnya ini menjadi tradisi dalam Islam dengan istilah mengambil anak angkat.

d. Lahirnya Nabi `Isâ 

Nabi Isa yang dikenal sebagai putra Maryam satu-satunya, atas kekuasaan Tuhan ia lahir tanpa ayah. Oleh sebab itu orang bani Isra`il mempermasalahkannya. Adapun kronologis kisah tersebut adalah sebagai berikut:

Dalam surat al-Anbiyâ’ ayat 91 diungkapkan tentang Maryam yang telah menjaga kehormatannya, lalu ditiupkan ke dalam rahimnya ruh (ciptaan-Nya) Allâh jadikan ia sebagai tanda kekuasaan Allâh. Kisah Maryam di ceritakan kepada oleh Allâh kepada Nabi Muhammad yang diceritakan dalam surat Maryam 16-21. Selanjutnya dalam surat Maryam ayat 22-26 diungkapkan tentang hamilnya Maryam dan kemudian ia berpindah ketempat lain yang jauh dari keluarganya. Pada surat yang sama ayat 27-34 diungkapkan bahwa Maryam pulang ke kampungnya dengan membawa anaknya. Dalam ayat ini juga dikemukakan tentang mukjizat Nabi Isa yang dapat berbicara sekalipun masih bayi, hal ini untuk menangkis tuduhan orang Isra’il terhadap ibunya.

Sedangkan mukjizat nabi Isa yang lain diungkapkan dalam surat Âli `Imrân ayat 49. Dimana mukjizatnya yaitu menghidupkan patung burung dari tanah, meyembuhkan orang buta dari lahir, dapat menyembuhkan penyakit lepra, dapat menghidupkan orang yang sudah mati atas kehendak Allâh. Dalam surat al-Mâ’idah ayat 110-114, dijelaskan tambahan mukjizat Nabi Isa selain yang disebutkan dalam surat Âli `Imrân ayat 49 yaitu dapat berbicara waktu masih dalam buaian sampai dewasa. Selanjutnya dalam surat Âli `Imrân ayat 55 kembali diungkapkan tentang Nabi Isa akan dibunuh dan di salib, seperti juga dalam surat al-Nisâ’ ayat 157.


e. Diangkat dan diwafatkannya Nabi `Isâ

Nabi `Isâ a.s. adalah seorang nabi dan rasul Allâh yang diutus kepada kaum Bani Israil.9 Kisah ini disampaikan kepada Nabi Muhammad agar umatnya menjadikannya sebagai pelajaran untuk tidak meniru perbuatan orang-orang Yahudi yang mengkhianati nabi mereka sendiri dengan melakukan makar. Disini, Allâh memperlihatkan bahwa “makar”-Nya paling baik dibanding yang mereka lakukan terhadap nabi-Nya.

Pengangkatan Nabi `Isâ kehadirat-Nya menimbulkan berbagai pemahaman baik dikalangan Yahudi, Nasrani, bahkan sampai kepada mufassir terhadap peristiwa yang suprarasional ini. Perbedaan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu dikalangan Yahudi dan Nasrani, dan dikalangan mufassir.

1) Dikalangan Yahudi dan Nasrani

Orang-orang Yahudi, mereka tidak yakin telah membunuh Isa, sebagaimana firman-Nya:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً ﴿١٥٧﴾ بَل رَّفَعَهُ اللّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً ﴿١٥٨﴾ (سورة النساء/4: 157-158)
“Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allâh", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.  Tetapi (yang sebenarnya), Allâh telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Nisâ’/4: 157-158)

Ayat ini membantah terhadap penyaliban Nabi, sebagaimana dijelaskan oleh Mahmud Yunus yang ia kutib dari Tafsir Muhammad Abduh bahwa orang-orang kafir mengatakan, “Kami telah membunuh Isa anak Maryam dan menyalibnya”. Tetapi sebenarnya mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, melainkan orang lain yang serupa mukanya dengan Isa yaitu Yahuza. Orang-orang yang menangkap Isa pun, mereka tidak begitu mengenal Isa. Oleh sebab itu mereka menangkap Yahuza yang serupa dengan dia. Menurutnya, hal seperti itu banyak terjadi dalam cerita purbakala, yaitu seseorang yang tidak bersalah disuruh bunuh oleh raja, tetapi yang terbunuh orang lain. Karena ketika mereka menangkap Yahuza, Isa lari ke tempat yang aman.

Sedangkan orang-orang Nasrani beranggapan bahwa Isa-lah yang disalib oleh orang-orang kafir tersebut. Guna untuk menebus dosa sekalian anak Adam yang telah berbuat dosa sejak dahulu. Mereka yakin bahwa Isa disiksa dan disalib untuk mengampuni dosa sekalian orang yang berdosa di atas bumi ini.
Mahmud Yunus berpendapat bahwa pernyataan di atas tidak masuk akal, karena menurut undang-undang Allâh maupun manusia bahwa siapa yang berdosa dialah yang seharusnya disiksa, bukan yang tidak bersalah sama sekali.10

2) Kalangan Mufassîr

Para mufassir berbeda pendapat terhadap ayat QS. `Âli `Imrân ayat 55 berikut:

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ﴿٥٥﴾ سورة آل عمران/3: 55)

“(Ingatlah), ketika Allâh berfirman: "Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".” (QS. `Âli `Imrân/3: 55)

Quraish Shihab menafsirkan ayat ini “Kapan Allâh memulai puncak makar-Nya yang baik itu? Itu dimulai ketika Allâh mewahyukan kepada Isa dengan firman-Nya, artinya: “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu dan mengangkat jasad atau ruh-mu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir, yang bermaksud membunuhmu dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu secara benar dan tulus di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat, antara lain dengan kedatangan Nabi Muhammad yang membenarkan mereka serta ajaran Isa yang mereka anut secara benar itu. Bahkan pengikut-pengikut Isa –walau hanya pengikut dari segi namanya- sampai kini mengatasi orang-orang kafir, yakni orang-orang Yahudi yang melecehkan Isa dan pengikut-pengikutnya itu. Kemudian hanya kepada Akulah pengembalian kamu semua baik kafir maupun yang mukmin, lalu Aku memutuskan di antara kamu tentang hal-hal yang kamu berselisih padanya.

Ulama berbeda pendapat tentang makna kata mutawaffîka (mewafatkanmu), Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata ini terambil dari kata yang bermakna sempurna. Al-Qur’an menggunakannya antara lain untuk makna mati dan tidur. Dia bermakna mati, karena siapa yang wafat, maka umurnya di dunia telah sempurna, dan karena tidur mirip dengan mati dari sisi hilangnya kesadaran, maka tidur pun dinamai mati oleh al-Qur’an dan sunnah. Sebagaimana firman-Nya, artinya:“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allâh-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. al-An`âm/6: 60). Kata itu juga digunakan dalam arti mengambil secara sempurna.

Lebih lanjutnya ia menjelaskan keanekaragaman makna kata tersebut menjadikan para ulama berbeda pendapat tentang maksud kata mutawaffîka dalam ayat ini. Ditambah lagi dengan perbedaan pendapat tentang ihwal kematian normal dan pembunuhan. Zamakhsyari seorang tokoh Mu`tazilah berpendapat bahwa makna kalimat tersebut adalah sesungguhnya Allâh akan menyempurnakan umur Isa sehingga ia tidak akan terbunuh oleh orang Yahudi, tetapi Allâh menghidupkan dalam usia yang Ia tetapkan, tidak berkurang sedikit pun, baik kekurangan itu akibat pembunuhan, maupun dengan kematian normal sebelum waktu yang Allâh tetapkan.

Quraish Shihab mengatakan pandangan ini ditolak oleh kelompok ulama yang menilai bahwa kematian -apa pun sebabnya- adalah kesempurnaan umur seseorang. Kematian akibat pembunuhan, kecelakaan atau sakit kesemuanya adalah mati dan telah memenuhi usia yang telah ditetapkan Allâh, tidak lebih atau berkurang. Dari sini penganut pandangan ini berkata bahwa mutawaffîka berarti mengambil engkau secara sempurna, yakni melindungimu, sehingga mereka tidak melukai engkau, apalagi mencelakakan dan membunuhmu. Jadi Nabi `Isa tidak terbunuh, sebagaimana disangka oleh orang Nasrani.

Asy-Sya`rawi memilih pendapat yang terakhir ini. Ia membedakan antara kematian normal dan pembunuhan. Memang keduanya mengakibatkan berakhirnya hidup duniawi, tetapi pembunuhan itu mengakibatkan rusaknya tubuh manusia oleh manusia, sedang kematian bukan disebabkan oleh pengrusakan tubuh oleh manusia. Manusia yang mati normal, tubuhnya utuh, organ-organnya sempurna, sedang yang terbunuh, mati karena salah satu organnya dirusak oleh makhluk. Nah, Allâh menyampaikan kepada `Isa bahwa Aku akan menyempurnakan, dalam arti mengambil secara sempurna, tidak sedikit pun dari tubuhmu yang rusak atau berkurang.

Mahmud Yunus menerangkan bahwa Allâh mengangkat Isa kepada-Nya, yaitu mengangkatnya kepada tempat kemuliaan-Nya, atau ke tempat yang disukai-Nya (bukan ke atas langit), karena Allâh itu bukan di atas langit. Ia menyamakan dengan firman Allâh surat al-Shaffat ayat 99, “Saya pergi kepada Tuhan saya; artinya ke tempat yang disukai Tuhan yaitu negeri Syam”.11

Selanjutnya Mahmud Yunus mengatakan bahwa kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa Isa diangkat ke langit, tubuh dan ruhnya. Sebenarnya keterangan ini bukanlah mereka ambil dari ayat tersebut, karena dalamnya cuma mengangkat kepada Allâh, bukan ke atas langit. Melainkan mereka mengambil keterangan itu, dari hadits-hadits Nabi Muhammad, yang menerangkan, bahwa Isa akan turun lagi ke bumi. Sebab turun itu tentu dari tempat yang lebih tinggi yaitu langit.12

Ibnu Katsir menjelaskan berbagai pendapat ulama tentang pengangkatan Nabi Isa kehadirat Allâh sebagaimana bunyi firman-Nya, "inniy mutawaffîka wa râfi`uka ilayya". Berbagai pendapat muncul, diantaranya Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa maksud kalimat "inniy mutawaffîka" adalah mematikan kamu. Muhammad bin Ishaq dari Wahab bin Munabbih Allâh mewafatkannya tiga hari ketika diangkat kehadirat Allâh, sedang kata Ibnu Ishaq mengatakan, “orang-orang nasrani beranggapan bahwa Allâh mewafatkannya selama tujuh hari kemudian dihidupkan kembali”. berbeda dengan yang lainnya Ishaq bin Basyar dari Idris dari Wahab berpendapat bahwa Allâh mewafatkannya selama tiga hari, kemudian membangunkannya dan setelah itu diangkatnya.

Lebih lanjut, Ibnu katsir mengemukakan pendapat sebagaimana hampir sama dengan keadaan ashhab al-kahfi yakni dari riwayat Ibnu bin Abiy Hâtim diceritakan dengan rangkaian sanad – dari al-Hasan bahwa yang dimaksud oleh kalimat “inniy mutawaffîka” wafat dengan menidurkan dan diangkat dalam keadaan tidur pula. Berkata al-Hasan, “Bersabda Rasulullah kepada orang Yahudi, artinya: “Sesungguhnya `Isa tidak mati, dan sesungguhnya akan kembali kepada kamu sebelum hari kiamat”.13

Bagaimana cara yang ditempuh Allâh untuk melindungi `Isa alaihi salam dari makar orang-orang Yahudi yang bermaksud membunuhnya? Ini dijelaskan oleh kata (رافعك إلي) râfi`uka ilayya/mengangkatmu ke-sisi-Ku. Menurut Asy-Sya`rawi Allâh mengangkat Isa secara sempurna yaitu ruh dan jasadnya ke suatu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang kafir, yaitu di sisi-Nya. Kata "ilayya" dipahami oleh banyak ulama dalam arti di langit. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allâh akan mematikan Isa di dunia ini pada suatu tempat yang tidak dikenal oleh musuh-musuhnya kemudian setelah kematian secara normal, diangkatlah ruhnya ke derajat yang sangat tinggi di sisi Allâh.

Pendapat ini tidak sejalan dengan sekian banyak hadits Nabi Shall Allâhu `alaihi wa sallam, yang menginformasikan bahwa Isa suatu ketika akan turun kembali ke bumi. Namun demikian, hadits-hadits tersebut diperselisihkan nilainya. Bahkan sementara peneliti berpendapat bahwa walaupun hadits-nya banyak, tetapi kesemuanya bersumber dari dua orang yaitu Ka`ab al-Ahbâr dan Wahb bin Munabbih. Sementara ulama meragukan loyalitasnya, atau paling tidak kedua tokoh itu tanpa sadar terpengaruh oleh kepercayaan orang-orang Kristen yang meyakini bahwa Isa hidup di langit dan satu ketika akan turun ke bumi.

Menurut informasi hadits seperti diterangkan Sya`rawi14, Nabi Isa Al-Masih bin Maryam a.s. akan turun dari langit dan membunuh Dajjal. Sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Bani `Amr bin `Auf dia berkata, “Saya mendengar `Ammiy Mujammi` bin Jâriyah al-Anshariy dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,

يَقْتُلُ اْبنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبَابِ لُدٍّ.
“Dia (`Isa) akan membunuh Dajjal di pintu Lut”.
Menurut al-Tirmidziy Hadits ini hasan shahih.15

Ini menunjukkan bahwa Nabi `Isa akan turun kembali, berdasarkan firman Allâh QS. al-Nisâ`/4 ayat 157-159, Ibn Katsir menafsirkan ayat 159,

وَاِنْ مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ اِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِيَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا.
“Tidak ada seorang pun diantara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (`Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari Kiamat dia (`Isa) akan menjadi saksi mereka.” (QS. Al-Nisâ`/4: 159)

Kata “qabla mautihi” kembali kepada `Isa al-Masih binti Maryam a.s. yang berarti ia akan turun kembali ke bumi, dimana ahli kitab yang sebelumnya pernah berselisih dan saling berseteru akan beriman kepadanya. Mereka yang menganggap Isa Al-Masih sebagai Tuhan seperti anggapan kaum Kristen dan juga mereka yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih a.s. adalah anak haram seperti anggapan kaum Yahudi akan terbongkar kebohongan-kebohongan dan tipu daya yang mereka perbuat setelah turunnya Nabi Isa Al-Masih binti Maryam a.s. sebelum kiamat tiba.

Sehubungan dengan peristiwa yang akan terjadi seperti di atas, maka penyebutan Al-Masih Isa binti Maryam a.s. berarti pula menunjukkan penyebutan Al-Masih Dajjal sekaligus. Al-Masih Dajjal16 yang dalam posisinya sebagai tokoh sesat akan berhadapan dengan Al-Masih Isa binti Maryam a.s. sebagai tokoh kesatria atau pahlawan penyelamat umat dari fitnah Dajjal. Biasanya orang Arab cukup menyebutkan salah satu dari dua hal yang bertentangan untuk menyebutkan semuanya. Selain karena adat dan budaya, pemakaian bahasa semacam ini dapat diketahui dari konteks kalimatnya.

Isa as., ada di langit dan kelak akan turun ke bumi atau telah mati secara normal dan tidak akan kembali hidup ke bumi, hal ini tidaklah menyangkut hal yang prinsip dalam ajaran agama. Pendapat pertama atau kedua yang Anda yakini tidak akan menambah atau pengurangi keberagamaan seseorang. Tetapi dari uraian ayat selanjutnya dapat dijadikan pelajaran bahwa Allâh, membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat.

Jika demikian Allâh tidak meninggalkan siapa pun yang berjuang demi kebaikan, kebenaran dan keadilan. Dia tidak menyia-nyiakan usaha baik seseorang. Kalaupun buah usahanya tidak dapat dia petik saat hidup di dunia ini, maka setelah kematiannya.

Quraish Shihab menyimpulkan bahwa kenaikan Al-Masih baik dipahami dalam arti ruh dan jasadnya, maupun ruhnya saja, menunjukkan bahwa betapa dahsyat dan kuasanya makhluk, dan betapa rapinya rencana untuk melenyapkan kebenaran, dan pemuka-pemukanya, tetapi hasil akhir selalu berpihak kepada kebenaran. Isa Al-Masih apa pun kepercayaan menyangkut dia, yang jelas dan pasti bahwa ia telah mencapai puncak kejayaan. Bukankah ratusan juta manusia mengakui kesucian dan ketulusannya? Bukankah ilmuan, pemimpin perang dan para kepala negara tunduk hormat kepadanya, sedang ia tidak menggunakan senjata atau kekuatan fisik apa pun? Demikian Allâh membela rasul dan para penegak kebenaran.17

Kisah di atas sejalan dengan nama surat dimana Allâh menempatkannya. Surat Âli 'Imrân18 yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat Madaniyah. Dinamakan Âli 'Imrân karena memuat kisah keluarga 'Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa a.s., persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam a.s., kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'Imran ibu dari Nabi Isa. Kalau digabung dengan surat al-Baqarah maka ini akan membawa kabar yang sangat cemerlang. Makanya kedua surat ini dikenal dengan al-Zahrawâni (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahl al-Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa a.s., kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. dan sebagainya.

Terkait dengan hal di atas tentang firman Allâh berikut:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. (سورة الأنبياء/21: 34-35)

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’/21: 34)

Berbeda dengan apa yang dialami Nabi Isa, yaitu ia diangkat oleh Allâh tidak dicabut rohnya. Akan tetapi diangkat secara sempurna oleh Allâh jasad dan rohnya sekaligus. Ini juga menjadi alasan bagi para ulama untuk menguatkan pendapat tentang Nabi Khidir.

Informasi Khidir dan Hidupnya Kekal di Dunia - Hadits-hadits tentang ini panjang kami hanya menyebutkan sebagiannya: Hadits Ibnu `Abbas yang marfu`:

"يلتقى الخضرو إلياس عليهما السلام كل عام فيحلق كل واحد منهمارأس صاحبه...."
"Nabi Khidir `alaihi salam  dengan Nabi Ilyas `alaihi salam bertemu setiap tahun setiap bertemu mereka saling memegang kepala."

Berkata Ibnu Jauziy: Banyak orang tertipu bahwasanya Khidir kekal, padahal kekal itu tidak berlaku pada manusia, Allah berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. (سورة الأنبياء/21: 34-35)

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’/21: 34)

Dan Menukil tahqiq al-Manar al-Munif (Syaikh `Abd. al-Fatah) dalil lain yang dikemukakan Ibnu Jauziy atas batalnya hadits ini tertulis dalam kitabnya عجلة المنتظر في كشف حال الخضر (sesuatu yang ditunggu-tunggu dalam menyingkap prihal Khidir) ia mengemukakan dalil firman Allâh,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ. (سورة ال عمران/3: 81)

“Dan (ingatlah), ketika  Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". (QS. Ali `Imran/3: 81)

Jika Khidir itu Nabi atau Wali maka ia termasuk dalam perjanjian ini, kalau ia hidup di zaman Rasul Allah shall Allahu `alaihi wa sallam sungguh  lebih mulia keadaannya apabila ia berjiwa besar dengan beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul Allah shall Allahu `alaihi wa sallam, dan menolongnya dari musuhnya. Jika dia Wali, maka lebih utama membenarkan apa yang diturunkan padanya. Dan jika ia Nabi maka Musa `alaihi sallam lebih utama dari Khidir. (Dan ditunjukkan oleh hadits riwayat Ahmad dalam Musnadnya dari Jabir bahwasanya Rasul Allah shall Allahu `alaihi wa sallam bersabda: “demi diriku dalam genggaman-Nya, jika Musa hidup tidak ada jalan lain kecuali mengikuti saya”. Kemudian berkata (Ibnu Jauziy), “sungguh ayat yang mulia ini menjadi dalil bahwasanya para Nabi hidup di masa Rasul Allah shall Allahu `alaihi wa sallam maka mereka akan mengikuti dan berada dalam aturannya.”

Dari bahasan terdahulu, pendapat Ibnu Jauziy pantas menjadi pegangan dalam menghukum hadits tersebut. Karena al-Qur’ân dipelihara oleh Allâh, maka apa saja yang menentang dan melawannya tidak mungkin dapat diterima dan diperpegangi. Apabila kita jadikan dasar, maka kita akan mengetahui keshahihan hadits dari kecacatannya, apakah mungkin kita menghukumi atau orang yang menyalahi hadits berupa hukuman yang pasti. Begitulah para perawi jika sampai kepada mereka orang yang hafizh dan bertakwa tidak jauh kesalahan diantara mereka dalam meriwayatkan hadits, sesungguhnya sampai hadits tersebut munqathi`, atau marfu` mauquf … dan semua itu mungkin tidak aneh, yang terpelihara dari kesalahan hanya Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, dan tidak bagi umatnya. Masalah ini disepakati oleh para ahli hadits dan mereka mengetahui dan tidak mengingkarinya. Tetapi kita menyepakati hadits yang dikategorikan Ibnu Jauziy kepada “cacat sanadnya”. Tidak terlihat dalam hadits itu sanadnya shahih, yakni dalam dasar pertentangan hadits dengan al-Qur’an.19

2. Al-Qur’ân surat al-Kahfi/18 ayat 13
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ﴿١٣﴾ (سورة الكهف/18: 13)

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. al-Kahfi/18: 13)

Ayat di atas menyebutkan kisah ashhab al-kahfi, yang mengasingkan diri ke dalam gua untuk mempertahankan iman mereka. Kisah ini hanya diceritakan dalam surat al-Kahfi dari ayat sembilan sampai ayat dua puluh enam. ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا ﴿9﴾ إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا ﴿10﴾ فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً ﴿١١﴾ ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَداً ﴿١٢﴾ نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ﴿١٣﴾ وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَهاً لَقَدْ قُلْنَا إِذاً شَطَطاً ﴿١٤﴾ هَؤُلَاء قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً ﴿١٥﴾ وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقاً ﴿١٦﴾ وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُّرْشِداً ﴿١٧﴾ وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظاً وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَاراً وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْباً ﴿١٨﴾ وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَاماً فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَداً ﴿١٩﴾ إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذاً أَبَداً ﴿٢٠﴾ وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِداً ﴿٢١﴾ سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْماً بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاء ظَاهِراً وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَداً ﴿٢٢﴾ وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً ﴿٢٣﴾ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَداً ﴿٢٤﴾ وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً ﴿٢٥﴾ قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَداً ﴿٢٦﴾ (سورة الكهف/18: 9-26)

Terjemahannya:

9. Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
10. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".
11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,
12. kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).
13. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;
14. dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".
15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh?
16. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allâh, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
17. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allâh. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allâh, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
18. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
19. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorangpun.
20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya".
21. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allâh itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya".
22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
23. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,
24. kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allâh". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini".
25. Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
26. Katakanlah: "Allâh lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan".

Pada zaman purbakala ada tujuh orang pemuda yang beriman teguh kepada Allâh. Raja dalam negeri mereka, bernama Dikyanus, memaksa rakyatnya, supaya menyembah berhala tetapi pemuda-pemuda itu tidak mau mengikuti perintahnya. Lalu raja itu mengancam mereka, kalau mereka tidak mau menyembah berhala, maka mereka akan dibunuh. Mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka dan tak mau menyembah berhala, meskipun akan dihukum bunuh. Kemudian mereka bermusyawarah hendak pergi dari negeri itu dan pergi melarikan diri ke dalam gua yang agak  jauh dari negeri tersebut. Ditengah jalan mereka diikuti oleh seekor anjing, lalu mereka usir, tetapi anjing itu terus mengikuti mereka. Setelah sampai mereka di gua itu, lalu masuk ke dalamnya, sedangkan anjing tersebut menjaga dipintu gua.

Disana mereka mengabdi kepada Allâh dan akhirnya mereka di tidurkan oleh Allâh, hingga tidak dapat mendengar apa-apa. Mereka tidur dalam gua itu selama 309 tahun. Raja Dikyanus yang kejam itu mati, dan digantikan oleh raja-raja sesudahnya. Akhirnya digantikan oleh seorang raja yang beriman kepada Allâh dan berlaku adil terhadap rakyatnya.

Pada masa raja terakhir ini terjadi perbedaan paham tentang tentang hidup berbangkit untuk menerima balasan yang paling adil dari Allâh. Diantara mereka ada yang beriman kepada hari berbangkit, dan sebagian mengingkarinya. Lalu raja itu memohon kepada Allâh, supaya menunjukkan jalan kebenaran kepada rakyatnya. Tak lama kemudian, salah seorang pengembala kambing merobohkan tutup lobang gua tempat dimana pemudah-pemuda itu di tidurkan oleh Allâh, untuk tempat kambing-kambingnya, hingga terbangun mereka semuanya. Maka terjadi dialog diantara mereka: kata sebagian mereka, “Berapa lama kita tidur disini?”. Sahut seorang, “Kita tidur disini sehari”. Kata yang lainnya, “Sehari atau setengah hari”. Kata yang lain, “Allâh lebih mengetahui, berapa lama kita tidur di sini. Kemudian diutuslah salah seorang dari  mereka untuk pergi ke kota negeri itu untuk membeli makanan dengan uang perak yang dibawanya dahulu ke dalam gua itu, seraya berkata, “Pergilah membeli makanan yang enak dan bawalah kemari dan hendaknya berlaku lemah lembut, supaya jangan orang mengetahui keadaan kita disini. Djika mereka mengenal kita, tentu mereka merajam kita atau memaksa kita, supaya kembali memeluk agama mereka”.

Setelah masuk ke dalam kota, lalu ia membeli makanan untuk dibawa ke dalam gua dan dibayarnya dengan uang perak keluaran (buatan) raja Dikyanus dahulu. Ketika penjual makanan itu melihat uang itu, dituduhnya pesuruh itu mendapat uang simpanan raja purbakala, maka dibawanya pergi menghadap raja. Setelah raja melihat uang lama itu, maka ia bertanya, “dari mana kamu mendapatkan uang itu?, jawabnya, “uang itu kami bawa dari kota ini, ketika kami melarikan diri masuk kedalam gua, lantaran kami akan dibunuh oleh raja Dikyanus, karena kami tidak mau menyembah berhala. Tanya raja, “Dimanakah gua itu?, ia menjawab, “Letaknya sebelah sana”. Kemudian raja bersama pembesarnya-pembesarnya melihat gua itu ditemani pesuruh tersebut. Ketika raja dan pembesar-pembesarnya melihat tujuh orang pemuda dan seekor anjingnya, mereka ta`jub dan terheran, karena raja Dikyanus itu sebenarnya telah lebih 300 tahun lamanya meninggal dunia. Berarti mereka telah lebih 300 tahun tidur di gua itu. Disini mereka mendapat dalil dan keterangan, bahwa Allâh berkuasa menghidupkan orang mati, untuk dibalas dan di adili semua perbuatannya di atas dunia ini. Karena Allâh berkuasa menidurkan pemudah-pemuda itu selama lebih dari 300 tahun lamanya, kemudian dibangunkannya kembali, tentu Allâh kuasa pula untuk menghidupkan orang yang telah mati pada hari kiamat.

Kemudian pemuda-pemuda itu mengucapkan selamat tinggal kepada raja, lalu mereka kembali ke tempat tidurnya masing-masing. Ketika itu Allâh mewafatkan mereka. Maka dengan hati yang sangat terharu, raja itu mengafani mereka dengan kainnya sendiri dan memasukkan ke dalam tabut (peti), lalu dikuburkannya disana, kemudian dibuatnya Masjid dipintu gua itu sebagai penghormatan terhadap pemuda-pemuda itu.20

Ada beberapa perbedaan penafsiran dalam ayat di atas seperti kata al-Raqîm, sebagian mufassir mengartikannya sebagai nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat. Pada ayat 16, percakapan itu terjadi karena ilham dari Allâh. Ingat ayat 12 yang artinya: “kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).”

Selanjutnya pada ayat 21 Allâh menyebutkan perselisihan pada masa raja yang beriman kepada Allâh dan adil, yaitu tentang hari kiamat, apakah itu akan terjadi atau tidak dan apakah dibangkitkan pada hari kiamat dengan jasad dengan ruh atau ruh saja. Maka Allâh mempertemukan mereka dengan pemuda-pemuda dalam cerita di atas. Peristiwa dibangunkannya kembali pemuda-pemuda dan anjingnya sebagai bukti bahwa hari kiamat itu pasti datang dan pembangkitan pada hari kiamat itu adalah jasad dan jiwa (ruh).21

Kemudian ayat 22 diceritakan tentang perselisihan di kalangan Ahl al-Kitab dan yang lainnya pada zaman Nabi Muhammad. Mereka memperselihkan jumlah ashhab al-kahfi tersebut. Lebih jelasnya sebaiknya kita simak kandungan ayat tersebut:
“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.”  (QS. al-Kahfi/18: 22)

Yang perlu digaris bawahi dari kandungan ayat di atas adalah kata “jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. Kalimat ini merupakan batasan bahwa tak seorang pun di antara orang yang berselisih itu mengetahui berapa jumlah ashhab al-kahfi itu. Jadi, berdasarkan pernyataan ini tertolaklah riwayat yang menyatakan tentang jumlah dan siapa nama mereka seperti yang dijelaskan dalam tafsir al-Tsa`labi bahwa diriwayatkan oleh Sadiy, Wahab bin Munabbih dan lain-lainnya sebagai berikut: “… Maktsalimitsa, pemuda yang paling besar dan pemimpin mereka, Imlikha, yang paling tanpan, rajin beribadah dan penuh semangat, Maktsisa, Martus, Nawanus, dan Kidastitanus, sedang anjing mereka bernama Qithmir…”. Kemudian dia menyataka: “Ka`ab berkata, “Mereka menjumpai anjing yang sakit-sakitan itu di jalan sedang membututi mereka. Berkali-kali mereka berusaha mengusir anjing itu. Kemudian anjing itu berdiri di atas kedua kakinya dan mengadahkan “tangan” ke langit seperti orang yang sedang berdoa kemudian mengatakan, “Kalian jangan takut kepada saya”. Saya adalah kekasih yang paling dicintai Allâh. Tidurlah, saya akan menjagamu ...”. Anehnya lagi al-Tsa`labi melanjutkan kisah tersebut dan mengatakan bahwa Nabi Muhammad memohon  agar dipertemukan dengan pemuda-pemuda itu tetapi Allâh memberikan jawaban: “Kamu tidak akan bisa menemui mereka di dunia ini. Utuslah empat orang sahabatmu yang terpilih untuk menyampaikan risalahmu dan mengajak mereka untuk beriman”.22 --- kisah ini banyak keanehan--- salah satunya kalimat “untuk menyampaikan risalahmu dan mengajak mereka untuk beriman”, bukankah mereka adalah orang yang beriman?. Sejalan dengan pernyataan ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Mahmud Yunus dalam tafsirnya Qur’ân al-Karîm bahwa mereka telah diwafatkan oleh Allâh setelah Raja Dikyanus mengetahui jawaban dari perselisihan rakyatnya. Penulis tidak mau meneruskan kisah yang disebutkan oleh al-Tsa`labi ini karena sangat tidak masuk akal.

Riwayat tentang kisah di atas banyak sekali. Sepengetahuan penulis belum ada kajian khusus tentang hadits-hadits tersebut dan bagaimana kedudukannya, maqbûl (dapat diterima) atau mardud (tidak dapat dijadikan hujjah). Kalau dia maqbûl, maka ia layak dimasukkan ke dalam kajian hadits mukhtalif. Dari banyak hadits yang terkait dengan ash-hab al-kahfi, tentunya ada yang berstatus shahih atau hasan (maqbul). Kalau demikian halnya, sangat layak dikaji karena dalam riwayat itu disebut nama shahabat yang terpercaya yaitu Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas.23

Kisah ashhab al-kahfi bertujuan untuk membuktikan bahwa akan adanya hari berbangkit, dan isyarat kebangkitan itu adalah dengan jasad dan ruh. Ayat-ayat dalam surat al-Kahfi ini tidak menyebutkan berapa jumlah dan siapa nama mereka dan anjing yang bersama mereka bahkan warna anjing juga tidak dijelaskan. Jadi dari rentetan kisah tersebut adalah untuk memberi petunjuk kepada orang yang berselisih tentang hari kiamat dan apakah dengan jasad dan ruh atau hanya ruhnya saja?. Masalah yang lainnya hanya sebagai “bumbu” pesan yang disampaikan agar lebih benarik. Allâhu Akbar, alangkah bijaknya Allâh atas kisah ini.

Secara tidak langsung terdapat isyarat kenapa Allâh menyebut kata al-Kahfi sebanyak sepuluh kali dalam kisah ashhabulkahfi di atas, menurut penulis dan ini adalah interpretasi bahwa kata-kata al-Kahfi dalam kisah ini terdapat sepuluh buah, ini setara dengan eksistensi Allâh sebagai al-Haqq dan tergabung dengan kata al-khalq. Ini semua menunjukkan kesempurnaan Allâh dan janji-janji, berikut takdir yang diberlakukan kepada makhluk-Nya.

Sejalan dengan kisah di atas, yaitu untuk pembuktian adanya hari berbangkit yaitu kisah orang yang dimatikan oleh Allâh selama seratus tahun. Kisah ini termaktub dalam QS. al-Bagarah/2: 259 yang menyebutkan bahwa sebuah negeri yang telah hancur luluh, lalu ia berkata, “Bagaimana Allâh menghidupkan (negeri) ini setelah hancur?”, lalu Allâh mematikannya selama seratus tahun---sampai akhir ayat--, dan Allâh buktikan bagaimana cara menghidupkan yang telah mati. Melihat hal tersebut, ia berkata, “Saya mengetahui bahwa Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu”.24

Kenapa Allâh langsung memperlihatkan kekuasaannya? Karena mereka yang memperselisihkan tentang hari berbangkit dan bagaimana Ia membangkitnya adalah orang-orang yang beriman. Ini sekaligus bukti firman Allâh berikut:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْياً بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ لِمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢١٣﴾ (سورة البقرة/2: 213)
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allâh mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allâh menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allâh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allâh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. al-Baqarah/2: 213).

Menurut Al-Imâm Hâfizh Jalâluddîn al-Suyûthiy, al-Dur al-Mantsûr fî al-Tafsîr bi al-Ma’tsûr,25 sebagai berikut:
وَأَخْرَجَ اِبْنُ جَرِيْرٍ وَاِبْنُ الْمَنْزِرِ عَنِ السُّدِيِّ قَالَ فِي قِرَاءَةِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ: "فَهَدَى اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ" يَقُوْلُ: "اِخْتِلَفُواْ عَنِ اْلإِسْلاَمِ". وَأَخْرَجَ اِبْنُ جَرِيْرٍ عَنِ الرَّبِيْعِ قَالَ: "فِي قِرَاءَةِ أُبَيْ بِنْ كَعْبٍ :" فَهَدَى اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ لِمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ". (سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ/2: 213). فَكَأَنَّ أَبُوْالْعَالِيَةِ يَقُوْلُ: "فِي هَذِهِ اْلآيَةِ يَهْدِيْهِمْ لِلْمَخْرَجِ مِنَ الشُبْهَاتِ وَالضَّلاَلاَتِ وَالْفِتَنِ.

"Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Munzi dari al-Suddiy berkata, "pada qira'ah Ibnu Mas`ud (kalimat) "Maka Allâh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang ", dia berkata (al-Suddiy), "Bertentangan tentang ajaran Islam". Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari al-Rabi` berkata, "pada qira'ah Ubay bin Ka`ab, begitu juga Abu al-`Aliyah, mereka mengatakan, "Mereka (yang berselisih) itu akan diberi petunjuk untuk keluar dari berbagaimacam subhat, kesesatan dan fitnah."

Jadi Maksud ayat di atas adalah Allâh akan memberi petunjuk ketika umat Islam berada dalam perselisihan pendapat tentang Islam. Dan Allâh akan mengeluarkan orang-orang yang beriman dari berbagaimacam subhat, kesesatan dan dari hal yang menggodanya (fitnah-fitnah) untuk melakukan hal demikian kepada jalan yang lurus (Islam murni).

Muhammad `Aliy al-Shâbûniy dalam Shafwah al-Tafâsir juga menerangkan maksud ayat di atas bahwa Allâh akan menunjuki orang-orang yang dikehendaki dengan hidayah-Nya kepada jalan menuju surga yang penuh kenikmatan.26 Atau dengan kata lain kepada jalan kedamaian tanpa perselisihan, memberi keyakinan terhadap kekuasaan Allâh.

Dari kisah-kisah di atas dapat disimpulkan bahwa ketika Allâh menggabungkan kata al-Haqq dengan kata al-Qashash, maka kisah itu adalah sebuah jalan untuk menyampaikan pesan yang luar biasa dan itu mudah bagi Allâh. Selain dari ini, yaitu tidak menutup kisah tersebut dengan kata al-Haqq, maka kisah itu sudah terbukti dan tidak banyak yang menjadi perdebatan. Lagi pula kisah tersebut telah ditegaskan oleh ayat lain bahwa itu adalah benar. Seperti kisah tentang hari kiamat, Allâh katakan bahwa hari Kiamat itu adalah haqq.

C. Analisis

Kata al-Qishshah mempunyai arti hukum bunuh, kisah itu sendiri dan mengikuti jejak. Sedangkan kata al-Haqq berarti “kebenaran” yang dapat digunakan untuk Allâh, ciptaan-Nya, firman-Nya dan segala sesuatu yang terkait langsung dengan-Nya. Al-Qur’ân menggunakan kata pertama sebagai penguat atau ta’kid, dan yang kedua sama dengan kata naba’a atau sebaliknya. Karena yang disampaikan adalah sesuatu yang mempunyai faidah dan manfaat yang besar untuk memperkokoh akidah umat Islam. Selanjutnya dapat dijadikan hujjah bagi orang mukmin untuk argumen mematahkan bantahan orang-orang yang mengingkari kisah yang diceritakan oleh al-Qur’ân..

Kisah yang diuraikan oleh Allâh dalam al-Qur’ân yang mendapat menegasan secara langsung adalah kisah keluarga Imran dan Ashhab al-kahfi. Namun, secara tidak langsung, semuanya sudah disimpulkan satu persatu oleh Allâh, sebagaimana penulis sebutkan pada bab-bab sebelumnya. Seperti Allâh adalah al-Haqq, maka dalam kisah disebutkan hal-hal yang terkait dengan kisah orang-orang yang mengingkari ketetapan Allâh, orang-orang Quraisy yang juga mengakui adanya Tuhan, ini diceritakan dalam QS. al-Zukhruf/43: 9. Kisah-kisah tersebut adalah ghaib dan terjadi di masa lalu. Selanjutnya ada lagi masalah-masalah ghaib seperti kematian, hari akhirat dan lainnya itu semua adalah haqq, Allâh melengkapinya dengan kisah-kisah. Seperti kisah kaum `Ad dan kaum Tsamud karena mendustakan hari kiamat Allâh menghancurkan mereka. Azab yang menimpa mereka adalah haqq. Jadi, masalah yang diberitakan Allâh dengan haqq, banyak dijelaskan dalam bentuk kisah, agar mudah dipahami dan menarik.


1 Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet. II, h. 26-30; dan Abdul al-Salim Mukrim, Pemikiran Islam Antara Akal dan Wahyu, penerjemah: Anwar Wahdi Hasi, (Jakarta: Mediyatama Sarana, 1988), Cet. I, h. 45-49; juga Wajidi Sayadi, Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), Cet. 2, h. 28-28 dan 42, 43
2 Ahmad Musthasâ al-Marâghiy, Tafsîr al-Marâghiy, (ttp: tp, tth), Juz VI, h. 96; Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amiliy Abu Ja`far al-Tabariy, Jami` al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, pentahqiq: Ahmad Muhammad Syakir,(tp. : ttp., 2000), h. 112
3 Harf Information Technology Co., Al-Qur’ân Al-Karim, Versi ketujuh 7.10m, 2000
4 Mannâ’ Khalîl al-Qaththân, Mabâhits fî `Ulûm al-Qur'ân, (ttp. : Mansyurât al-`Ashr al-Hadîts, Cet. 3, h. 305; lihat juga Ibn Manzhur, Lisan Arab, tahqiq oleh: `Abdullah `Ali al-Kabir, dkk, (ttp: tp, tth), Jilid V, h. 3650; Muhammad Fu’ad `Abd al-Bâqiy, Al-Mu’jam..., h. 546
5 Muhammad Fu’ad `Abd al-Bâqiy, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Fâzh al-Qur’ân al-Karîm, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1987), h. 208-212
6 dorar@gawab.com, Abu al-Qasim al-Husaini bin Muhammad al-Ma`ruf (al-Raghib al-Ashfahaniy, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma`rifah, t.th)
7 Khâlid bin `Utsman al-Sabat, Qawâ`id al-Tafsîr Jam`an wa Dirâsah, (ttp.: Dâr Ibnu `Affân, tth), Jilid I, h. 455, sebagaimana dalam kaidah tafsir disebutkan, “setiap masalah yang besar lagi penting banyak dalam bentuk ta’kid” (كلما عظم الإهتمام كثر التأكيد ).
8 Muhammad Yunus, Tafsir Qur’ân Karim, (Jakarta: Al-Hidayah, 1969), Cet. XII, h. 46
9 QS. al-Nisâ’/4: 171-172
10 Mahmud Yunus, op. cit., h. 94-95
11 Mahmud Yunus, Ibid., h. 94
12 Mahmud Yunus, Ibid., h. 96
13 Lihat Maktabah Syâmilah dalam tafsir Ibnu Katsir, Juz II h. 47
14 Mutawalli Sya`rawi, Kemunculan Nabi Isa, Imam Mahdi dan Dajjal,judul asli: Alâmat Al-Qiyâmah Al-Kubra, (Jakarta: Qultum Media, 2006), Cet. I, h. 88
15 Al-Tirmidzi, al-Jâmi` al-Shahih “Sunan al-Tirmidziy”, ditahqiq oleh: Kamal Yusuf al-Haut, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, tth), Juz IV, h. 447
16 Lihat Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal Sudah Muncul dari Khurasan: Menyingkap Subhat dan Kedustaan Beghawan Shri Satya Sai Baba Diakah Al-Masih yang Dijanjikan?, (Solo: Granada Mediatama, 2007), Cet. VIII, ia mengupas hadits-hadits tentang Dajjal dan memadukan sifat Dajjal dengan Sai Baba.
17 Quraih Shihab, Tafsir al-Mishbâh, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Cet. IX, h. 102-105, Nabi Isa menurut perhitungan para ahli diangkat ke langit pada antara tahun 26, 27, atau 29 M dalam usia 23 tahun, ia lahir bukan tahun 1 M, tetapi tahun 4, 6, atau 7 M lihat Rauf Syalabi, op.cit., h. 89
18 Pokok-pokok isinya: 1.  Keimanan: Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi Isa a.s.; ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh Nabi. 2. Hukum-hukum: Musyawarah; bermubahalah; larangan melakukan riba. 3. Kisah-kisah: Kisah keluarga 'Imran; perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya. 4. Dan lain-lain: Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyâbihât; sifat-sifat Allâh; sifat orang-orang yang bertakwa; Islam satu-satunya agama yang diridhai Allâh; kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan; pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allâh; perumpamaan-perumpamaan; peringatan-peringatan terhadap Ahli Kitab; Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya; faedah mengingat Allâh dan merenungkan ciptaan-Nya.
19 Musfir Gharamillah al-Damimiy, Maqayyis Ibnu Jauziy fi Naqd al-Sunnah min Khilal Kitabihi al-Maushu`at, (ttp: Dar al-Madaniy, 1405 H/1984 M), Cet. I, h. 49-51
20 Mahmud Yunus, op. cit., h. 311-315
21 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro, 2007), Cet. X, h. 296
22 Muhammad Husain al-Dzahabi, op. cit., h. 28-29, dan riwayat ini juga disampaikan oleh al-Thabari dari Ibnu Ishaq, yang banyak mengetahui kisah itu. Juga riwayat dari Wahab bin Munabbih, Ibnu Abbas, dan Mujahid. Riwayat tersebut mengenai nama-nama, zaman, tempat, nama anjing (apakah bernama Qitmir atau yan lainnya), dan warna anjing (merah atau kuning). Lihat Rosihan Anwar, Melacak Unsur-unsur Isra`iliyat…op. cit., h. 108. Ia menempatkan pada bahasan kisah Isra`iliyat yang di-tawaquf-kan. Kisah ini terdapat dalam Tafsir al-Thabari (tidak jelas dan tidak dikomentari), dan Ibnu Katsir Juz II halaman 71. Lihat juga Ahmad Dimyathi, Kisah-kisah Isra`iliyat… op. cit., h. 10, Tafsir al-Munir. disebut riwayat ini ada perbedaan jumlah ashhabulkahfi yaitu tujuh orang dan sembilan orang. Jadi, tidak kepastian dari jumlah tersebut.  Begitu juga tentang warna anjing yang menemani mereka.
23 Untuk kajian hadits-hadits mukhtalif ini dapat digunakan kitab antara lain: kitab Ikhtilaf al-Hadits karya al-Syafi`iy, kitab Takwil Mukhtalif al-Hadits Karya Ibnu Qutaibah, kitab Musykilul Atsar karya al-Thahâwiy, dan kitab Ma`anil Atsâr karya Ibnu Jarir al-Thabariy, serta kitab Musykil al-Hadits wa Bayanihi karya  Ibnu Farak. Untuk lebih jelas pembahasannya lebih baik merujuk pada kitab-kitab berikut: Edi Safri, Al-Imam al-Syafi`iy: Metode Penyelesaian Hadits-hadits Muktalif, (Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 1999), Cet. I; Ibnu Qutaibah, Takwil Mukhtalif al-Hadits, (Kairo: al-Kulliyat al-Zhariyat, 1966); Abu Yasir al-Hasan al-`Ilmiy, Fiqh al-Sunnah al-Nabawiyah Dirasatan wa tanzilan, (tt.p: t.th.).  Ulama yang menulis kitab-kitab tersebut seperti al-Syafi`iy (w. 204 H), Ibnu Qutaibah (w. 271 H), Abu Yahya bin Sajiy (w. 307), al-Thahawiy (w. 321 H), dan Ibnu Jauziy (w. 597 H)
24 Departemen Agama RI, op. cit., h. 43
25 Al-Imâm Hâfizh Jalâluddîn al-Suyûthiy, al-Dur al-Mantsûr fî al-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, (Bairut: Dâr al-Ihya’ al-Turâts al-`Arabiy, 2001 M/1421 H), Juz I, h. 545
26 Muhammad `Aliy al-Shâbûniy, Shafwah al-Tafâsir, (Makah: al-Tijariyah, 1976), Jilid I., h. 136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]