“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KEWAJIBAN ZAKAT FITRAH
Oleh: Samsurizal, S. IQ, S. ThI, MA

Bismillaahir rahmanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan untuk setiap jiwa yang hidup sebelum shalat 'Iedul fitri dilaksanakan. Kewajiban mengeluarkannya sebelum khatib naik mimbar pada saat 'Ied. Syari'at zakat fitrah muncul sebelum disyari'atkannya zakat mal (zakat harta). Oleh karena itu, kekhususannya dan besaran pembayarannya berbeda dengan zakat mal. Selanjutnya, al Qur'an tidak menyebutkan tentang hal tersebut. Kewajiban dan pelaksanaannya diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk mengeluarkan zakat fitrah. Oleh sebab itu informasi tentang zakat fitrah diketahui dari riwayat-riwayat yang ada dalam kitab hadits. Berikut penulis paparkan informasi dimaksud.

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ عَنْ أَبِي عَمَّارٍ قَالَ
سَأَلْتُ قَيْسَ بْنَ سَعْدٍ عَنْ صَدَقَةِ الْفِطْرِ فَقَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ تَنْزِلَ الزَّكَاةُ ثُمَّ نَزَلَتْ الزَّكَاةُ فَلَمْ نُنْهَ عَنْهَا وَلَمْ نُؤْمَرْ بِهَا وَنَحْنُ نَفْعَلُهُ وَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ رَمَضَانُ ثُمَّ نَزَلَ رَمَضَانُ فَلَمْ نُؤْمَرْ بِهِ وَلَمْ نُنْهَ عَنْهُ وَنَحْنُ نَفْعَلُهُ. (رواه أ حمد: ٢٢٧٢٠)

Telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Salamah bin Kuhail dari Al Qasim bin Mukhaimirah dari Abu 'Ammar berkata: Aku bertanya kepada Qais bin Sa'ad tentang zakat fitrah, ia menjawab: Rasulullah ﷺ memerintahkan kami sebelum perintah zakat turun, setelah itu perintah zakat turun dan beliau tidak melarang kami mengeluarkannya dan tidak memerintahkan kami sementara kami tetap melakukannya. Aku bertanya kepadanya Qais tentang puasa 'asyura`, ia menjawab: Rasulullah ﷺ memerintahkan kami (puasa 'asyura`) sebelum turun perintah puasa ramadhan kemudian perintah puasa ramadhan turun, beliau tidak memerintahkan kami dan tidak melarang kami (puasa 'asyura`) sementara kami tetap melakukannya. (HR. Ahmad: 22720 - shahih dari Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdul Malik dan negeri hidup Madinah)

lihat juga Ibnu Majah: 1818 - shahih dari Qais bin Sa'ad. An Nasa'i 2460 - shahih dari Qais bin Sa'ad, begitu juga Ahmad: 22723 - shahih.

Para periwayat hadit riwayat Ahmad: 22720:

1. Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah, ia sahabat kuniyahnya Abu 'Abdul Malik, negeri hidup Madinah.
2. Uraib bin Humaid, ia tabi'in kalangan pertengahan, kuniyahnya Abu 'Ammar negeri hidup Madinah. Ulama menilainya: Yahya bin Ma'in, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, serta Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats Tsiqat.
3. Al Qasim bin Mukhaimarah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Urwah, negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Ulama menilainya: Muhammad bin Sa'ad, Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, al 'Ajli, Ibnu Kharasy dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats Tsiqat.
4. Salamah bin Kuhail bin Husain, ia tabi'in kalangan biasa, kuniyahnya Abu Yahya negeri hidup Kufah dan wafat tahun 121 H.  Ulama menilainya: Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Sa'ad,  al 'Ajli, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Sedang Abu Hatim menilainya tsiqah mutqin, an Nasa'i dan Ya'qub ibnu Syaibah menilainya tsiqah tsabat, Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats tsiqat.
5. Sufyan bin Sa'id bin Masruq, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 161 H. Ulama menilainya: Malik bin Anas dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, Ibnu Hibban menyebut termasuk para huffazh mutqin, Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafidz faqih, 'abid, imam dan hujjah. Sedangkan adz Dzahabi menyebut dia imam.
6. Yazid bin Harun, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Hait dan wafat tahun 206 H. Ulama menilainya: Yahya bin Ma'in, Ibnul Madini, al 'Ajli, Abu Hatim, Ibnu Sa'ad dan Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Qani' menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah dan adz Dzahabi menyebutnya seorang tokoh.

Zakat fithrah

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مَعْنٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ.

قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرَوَى مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ حَدِيثِ أَيُّوبَ وَزَادَ فِيهِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَرَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ نَافِعٍ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي هَذَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِذَا كَانَ لِلرَّجُلِ عَبِيدٌ غَيْرُ مُسْلِمِينَ لَمْ يُؤَدِّ عَنْهُمْ صَدَقَةَ الْفِطْرِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ و قَالَ بَعْضُهُمْ يُؤَدِّي عَنْهُمْ وَإِنْ كَانُوا غَيْرَ مُسْلِمِينَ وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَإِسْحَقَ. (رواه الترمذي: ٦١٢)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Ma'n telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah ﷺ mewajibkan untuk membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebesar satu sha' dari kurma atau dari gandum atas setiap orang merdeka atau budak baik laki-laki maupun perempuan dari kaum muslimin.

Abu 'Isa berkata, hadits Ibnu Umar adalah hadits hasan shahih. Malik meriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ seperti hadits Ayyub dengan tambahan "Dari kaum muslimin", Namun banyak perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Nafi' tanpa kalimat "Dari kaum muslimin". Oleh karena itu para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, sebagian dari mereka berkata, Jika seseorang memiliki budak-budak kafir maka tidak wajib baginya membayar zakat fitrah mereka, ini adalah pendapat Imam Malik, Syafi'i, dan Ahmad. Dan sebagian yang lain berkata, "wajibnya seseorang membayar zakat fitrah budak-budak mereka walaupun mereka dari kalangan non muslim," ini adalah pendapat Imam Ats Tsauri, Ibnul Al Mubarak dan Ishaq. (HR. At Tirmidzi: 612 - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits ahlul Madinah)

Lihat juga: Bukhari: 1407 dan 1408 dan 1411 - sahih dari Ibnu 'Umar begitu juga al Bukhari: 1414 dari Abi Sa'id al Khudhriy.

Waktu pembayaran zakat fitrah

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ. (رواه البخاري: ١٤٠٧)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin As-Sakkan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jahdham telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari 'Umar bin Nafi' dari bapaknya dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fithrah satu sha' dari kurma atau sha' dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum Muslimin. Dan Beliau memerintahkan agar menunaikannya sebelum orang-orang berangkat untuk shalat ('Ied) ". (HR. Bukhari: 1407 - shahih dari Ibnu 'Umar)

Lihat juga: an Nasa'i: 2474, al Bukhari: 1411 dan 1413 Muslim: 1645 dan 1646 - shahih. Abu Daud: 1372 dan 1373 - shahih dari Ibnu Umar beliau melakukan sehari atau dua hari sebelumnya 'Iedul Fitri. Al Bukhari: 1409, 1410 dan 1412 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Ukuran zakat fitrah satu sha' atau diqiyaskan dengan ukuran makanan pokok lain.
Hitung-hitungannya mungkin agak panjang maka perlu disingkat bahwa, satu mud, 1x 382.5 = 510 gr. Berarti, 1 sha' (empat kali berat satu mud) adalah 510 gr x 4 = 2,040 gr. Selanjutnya karena perbedaan takaran tiap-tiap daerah maka rentang dapat digunakan 2.5 Kg - 3 Kg makanan pokok perjiwa yang lahir sebelum shalat 'Ied sampai yang tua atau meninggal sebelum shalat 'Ied.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ مُعَاوِيَةُ الْمَدِينَةَ فَتَكَلَّمَ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ إِنِّي لَأَرَى مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ
قَالَ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ يَرَوْنَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ صَاعًا وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ صَاعٌ إِلَّا مِنْ الْبُرِّ فَإِنَّهُ يُجْزِئُ نِصْفُ صَاعٍ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَأَهْلُ الْكُوفَةِ يَرَوْنَ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ. (رواه الترمذي: ٦٠٩)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Zaid bin Aslam dari 'Iyadl bin Abdullah dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa pada zaman Nabi ﷺ kami mengeluarkan zakat fitrah sebesar satu sha' dari makanan atau dari gandum, atau kurma, atau anggur kering, atau aqith, hal ini terus berlangsung sampai datangnya Mu'awiyah ke Madinah dan berkhutbah di hadapan manusia, diantara isi khutbahnya, Saya berpendapat bahwa dua mud gandum syam sama dengan satu sha' kurma dalam zakat fithrah. kemudian manusia memilih pendapatnya Mu'awwiyah, namun saya tetap mengeluarkannya satu sha' seperti dahulu.

Abu 'Isa berkata, ini merupakan hadits hasan shahih dan diamalkan oleh sebagian ulama seperti Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Sebagian para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan yang lainnya berpendapat bahwa setiap makanan (zakatnya) satu sha', kecuali gandum yang hanya setengah sha', ini adalah perkataan Sufyan Ats Tsauri dan Abdullah bin Al Mubarak dan penduduk Kufah berpendapat bahwa zakat fitrah sebesar setengah sha' dari gandum. (HR. At Tirmidziy: 609 - shahih dari Abi Sa'id al Khudhriy)

Lihat juga: An Nasa'i: 2465 - shahih dari Abi Sa'id.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ وَكَانَ مَعْمَرٌ يَقُولُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ثُمَّ قَالَ بَعْدُ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ عَلَى كُلِّ حُرٍّ وَعَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ فَقِيرٍ أَوْ غَنِيٍّ صَاعٌ مِنْ تَمْرٍ أَوْ نِصْفُ صَاعٍ مِنْ قَمْحٍ قَالَ مَعْمَرٌ وَبَلَغَنِي أَنَّ الزُّهْرِيَّ كَانَ يَرْوِيهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ٧٣٩٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri, -dan Ma'mar berkata; dari Abu Hurairah, kemudian setelah itu berkata; - dari Al A'raj dari Abu Hurairah dalam hadits: "Zakat fithrah wajib atas setiap hamba baik yang merdeka atau budak, laki laki atau perempuan, kecil atau besar, fakir atau kaya dengan ukuran satu sha' kurma atau setengah sha' gandum." Ma'mar berkata: dan telah sampai kepadaku bahwa Az Zuhri meriwayatkan hadits ini hingga sampai kepada Nabi ﷺ. (HR. Ahmad: 7399 - shahih dari Abu Hurairah) adapun hadits riwayat Abu Daud: 1379 dari Tsa'labah bin Su'air adalah dha'if.

Manfaat Zakat Fithrah

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلَانِيُّ وَكَانَ شَيْخَ صِدْقٍ وَكَانَ ابْنُ وَهْبٍ يَرْوِي عَنْهُ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ مَحْمُودٌ الصَّدَفِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Telah menceritakan kepada Kami Mahmud bin Khalid Ad Dimasyqi dan Abdullah bin Abdurrahman As Samarqandi berkata; telah menceritakan kepada Kami Marwan, Abdullah berkata; telah menceritakan kepada Kami Abu Yazid Al Khaulani ia adalah syekh yang jujur, dan Ibnu Wahb telah meriwayatkan darinya, telah menceritakan kepada Kami Sayyar bin Abdurrahman, Mahmud Ash Shadafi berkata; dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (shalat 'Ied) maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat 'Ied maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah. (HR. Abu Daud: 1371 - Hasan dari Ibnu 'Abbas)

Hadits dha'if tentang masalah ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حُمَيْدٌ أَخْبَرَنَا عَنْ الْحَسَنِ قَالَ
خَطَبَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي آخِرِ رَمَضَانَ عَلَى مِنْبَرِ الْبَصْرَةِ فَقَالَ أَخْرِجُوا صَدَقَةَ صَوْمِكُمْ فَكَأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَعْلَمُوا فَقَالَ مَنْ هَاهُنَا مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قُومُوا إِلَى إِخْوَانِكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الصَّدَقَةَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ شَعِيرٍ أَوْ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ قَمْحٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ
فَلَمَّا قَدِمَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَأَى رُخْصَ السِّعْرِ قَالَ قَدْ أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَلَوْ جَعَلْتُمُوهُ صَاعًا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ قَالَ حُمَيْدٌ وَكَانَ الْحَسَنُ يَرَى صَدَقَةَ رَمَضَانَ عَلَى مَنْ صَامَ. (رواه الدرمي: ١٣٨١)

Telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin Al Mutsanna, telah menceritakan kepada Kami Sahal bin Yusuf, ia berkata; Humaid telah mengabarkan kepada Kami dari Al Hasan, ia berkata; Ibnu Abbas rahimahullah berkhutbah pada akhir Ramadhan diatas mimbar Bashrah, lalu berkata: keluarkanlah zakat puasa kalian! Seakan orang-orang belum mengetahuinya, lalu dia berkata lagi; siapakah disini dari penduduk Madinah, ajarkanlah ! Sesungguhnya mereka belum mengetahui. Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat ini satu sha' dari kurma atau gandum atau setengah sha' dari biji gandum, bagi setiap orang yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun wanita, yang besar maupun yang kecil. Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu datang ia melihat murahnya harga, ia berkata; Allah telah melapangkan rizki kalian kalau seandainya kalian menjadikan satu sha' pada segala sesuatu. Humaid berkata; Al Hasan berpendapat bahwa zakat Ramadhan (fitrah) adalah kewajiban orang yang berpuasa. (HR. Abu Daud: 1381 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Rawi terputus setelah sahabat 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim ia sahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marul Rauwdz wafat tahun 68 H, yaitu kalangan tabi'ut tab'in kalangan tua. Satu lagi pendapat yang lemah adalah pendapat al Hasan. Humaid berkata; Al Hasan berpendapat bahwa zakat Ramadhan (fitrah) adalah kewajiban orang yang berpuasa. Pendapat ini hanya terdapat pada riwayat Abu Daud: 1381.

Catatan: karena kewajiban mengeluarkan zakat fitrah lebih dahulu dilakukan yaitu tahun kedua hijrah, maka pembagian zakat fithrah awalnya untuk makan faqir dan miskin saja. Setelah turun ayat tentang zakat terutama QS. At Taubah ayat 60, maka diberikan kepada hasnaf yang delapan.

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. (قرآن سورة التوبة/٩: ٦٠)

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. At Taubah/9: 60)

Karena itu juga menurut Umar bin Khathtab kewajiban membayar zakat fitrah adalah bagi penanggung nafkah untuk membayarkannya.

Lihat juga: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah Abu Bakar as Silmiy an Naisaburiy, Shahih Ibnu Khuzaimah, tahqiq Muhammad Mushthafa al A'zhamiy, Bairut: al Maktab al Islamiy, 1970, Juz IV, h. 66.

BAHAYA MENAHAN HAK ORANG LAIN

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي أَخِي عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي مُزَرِّدٍ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا. (رواه البخاري: ١٣٥١) 

Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya saudaraku dari Sulaiman dari Mu'awiyah bin Abu Muzarrid dari Abu Al Hubab dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata, "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata, "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) ". (HR. Al Bukhari: 1351 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Muslim: 1678 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]