BUNUH DIRI MASUK NERAKA WALAU PUN SUDAH BERJIHAD
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allah yang Mahaesa, menjamin kehidupan dan rizki bagi semua makhluknya. Begitu juga memberi kemudahan dibalik kesusahan. Memerintahkan kepada manusia agar senantiasa beikhtiyar dan berdoa serta bertawakkal kepada Allah atas semua usaha yang dilakoninya di dunia ini, sehingga di akhirat memperoleh nikmat yang sempurna. Dengan demikian, mereka betul-betul kokoh dalam mengarungi hidup di dunia dan menilmati kebahagiaan sesuai dengan usahanya. Oleh karena itu, mereka dilarang untuk mengingkari nikmat Allah apalagi sampai membunuh diri mereka. Sebagaimana diingatkan oleh Allah dalam al Qur'an surat an Nisa' ayat 29 - 32 berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٢٩)
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An Nisa'/4: 29)
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٣٠)
Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. An Nisa'/4: 30)
اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٣١)
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An Nisa'/4: 31)
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٣٢)
Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa'/4: 32)
Begitupun firman Allah dalam QS. Al Baqarah/2: 195:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٩٥)
Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Baqarah/2: 195)
Selain firman Allah di atas, Rasul menjelaskan dalam hadits-haditsnya sebagaimana diinformasi tentang seseorang yang berjuang di medan pertempuran bersama Rasul dan para shahabat. Namun dia bunuh diri. Selanjutnya tentang macam-macam bunuh diri dan balasan bagi mereka, sebagai berikut:
حَدَّثَنَا حِبَّانُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ شَهِدْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ مَعَهُ يَدَّعِي الْإِسْلَامَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرَ الْقِتَالُ قَاتَلَ الرَّجُلُ مِنْ أَشَدِّ الْقِتَالِ وَكَثُرَتْ بِهِ الْجِرَاحُ فَأَثْبَتَتْهُ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ الَّذِي تَحَدَّثْتَ أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَدْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مِنْ أَشَدِّ الْقِتَالِ فَكَثُرَتْ بِهِ الْجِرَاحُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَكَادَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ يَرْتَابُ فَبَيْنَمَا هُوَ عَلَى ذَلِكَ إِذْ وَجَدَ الرَّجُلُ أَلَمَ الْجِرَاحِ فَأَهْوَى بِيَدِهِ إِلَى كِنَانَتِهِ فَانْتَزَعَ مِنْهَا سَهْمًا فَانْتَحَرَ بِهَا فَاشْتَدَّ رِجَالٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَدَّقَ اللَّهُ حَدِيثَكَ قَدْ انْتَحَرَ فُلَانٌ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَأَذِّنْ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ. (رواه البخاري: ٦١١٦)
Telah menceritakan kepada kami Hibban bin Musa Telah mengabarkan kepada kami Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; kami menghadiri perang Khaibar bersama Rasulullah ﷺ, kemudian Rasulullah ﷺ berkata terhadap seseorang yang turut bersama beliau yang mengaku dirinya muslim, "Orang ini penghuni neraka." Ketika peperangan terjadi, Orang tadi berperang dengan gigih, kemudian orang tersebut terkena luka yang lumayan banyak, dan luka-luka itu pun membuatnya tak bergeming. Seorang sahabat Nabi ﷺ datang dan berujar; 'Hai Rasulullah, apakah Anda telah melihat lelaki yang engkau katakan bahwa dia termasuk penghuni neraka?, sungguh dia telah berperang sedemikian gigihnya dan mendapat luka sedemikian banyak.'. Nabi ﷺ tetap mengatakan, "Dia termasuk penghuni neraka." Nyaris sebagian kaum muslimin menjadi ragu terhadap ucapan beliau. Ketika kondisi dalam sedemikian itu, laki-laki tadi merasakan derita luka yang perih, lantas dengan tangannya ia mengambil kantong anak panahnya, ia ambil salah satu panahnya dan ia pergunakan untuk bunuh diri. Dengan serta merta beberapa lelaki dari kaum muslimin menemui Rasulullah ﷺ dan berujar: 'Wahai Rasulullah, Allah telah membenarkan ucapanmu, sungguh fulan melakukan bunuh diri.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya Bilal, berdirilah, dan umumkanlah, tidak akan masuk surga kecuali mukmin, dan Allah menguatkan agama ini dengan laki-laki yang durhaka." (HR. Al Bukhari: 6116 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Begitu juga diceritakan dalam riwayat al Bukhari: 3882, selanjutnya hadits riwayat Muslim: 162 - shahih hanya saja dikatakan bahwa itu terjadi pada perang Hunain. Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 2834 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H, tetapi dalam hadits ini disebutkan dalam suatu peperangan.
Seseorang yang mati bunuh diri tidak perlu dishalatkan, sebagaimana sikap Rasul dalam riwayat berikut:
حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ زُرَارَةَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُرِحَ فَآذَتْهُ الْجِرَاحَةُ فَدَبَّ إِلَى مَشَاقِصَ فَذَبَحَ بِهِ نَفْسَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ كُلُّ ذَلِكَ أَدَبٌ مِنْهُ هَكَذَا أَمْلَاهُ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ مِنْ كِتَابِهِ وَلَا أَحْسَبُ هَذِهِ الزِّيَادَةَ إِلَّا مِنْ قَوْلِ شَرِيكٍ قَوْلَهُ ذَلِكَ أَدَبٌ مِنْهُ. (رواه أحمد: ١٩٩٦٧)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Amir bin Zurarah, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Jabir bin Samurah bahwa salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ terluka, ia mengeluh sakit karena lukanya, hingga ia menyandarkan dirinya pada busur panah untuk bunuh diri, mengetahui hal itu, Nabi ﷺ tidak menshalatinya. Jabir bin Abdullah berkata, "Itu adalah bentuk pelajaran dari beliau." Demikian sebagaimana yang disebutkan Abdullah bin Amir pada kami dari kitabnya, aku tidak menyangka dengan tambahan ini kecuali dari perkataan Syarik "Itu adalah adab darinya." (HR. Ahmad: 19967 - shahih dari Jabir bin Samurah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H)
Catatan: ada perbedaan pendapat tentang periwayat dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 19967, yaitu:
1. Simak bin Harbi bin 'Aus, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Mughirah dan wafat tahun 123 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq tsiqah, Ibnu Hibban menilainya banyak salah, adz Dzahabi lagi menilainya jelek hafalannya. An Nasa'i berkomentar, "dihaditsnya ada sesuatu".
2. Syarik bin 'Abdullah bin Abi Syarik, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 177 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim menilainya shaduq. Yahya bin Ma'in menilainya shaduq tsiqah, Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Sedangkan Abu Daud menilainya tsiqah, dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh.
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 1515 - shahih dari Jabir bin Samurah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H. Satu riwayat lagi dari Ahmad: 19975 - shahih dari Jabir bin Samurah,
حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ وَإِنَّ رَجُلًا قَتَلَ نَفْسَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ١٩٩٧٥)
Telah menceritakan kepada kami `Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah bahwa sesungguhnya seseorang yang membunuh dirinya, maka Nabi ﷺ tidak menyalatkannya. (HR. Ahmad: 19975 - shahih dari Jabir bin Samurah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H)
BALASAN BAGI ORANG YANG MATI BUNUH DIRI
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ ثُمَّ انْقَطَعَ عَلَيَّ شَيْءٌ خَالِدٌ يَقُولُ كَانَتْ حَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا. (رواه النسائي: ١٩٣٩)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abdul A'la dia berkata; telah menceritakan kepada kami Khalid dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman; Aku mendengar Dzakwan menceritakan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Siapa yang menjatuhkan diri dari gunung, lalu meninggal dunia, ia akan jatuh ke neraka jahanam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang menegak racun, lalu meninggal dunia, racunnya ada di tangannya, ia akan menegaknya di neraka jahanam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan besi, besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya." (HR. An Nasa'i: 1939 - shahih dari shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 5333 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 3374 dan Ibnu Majah: 3451,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَسَا سُمًّا فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا. (رواه أبوداود: ٣٣٧٤)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Abu Mu 'awiyah telah menceritakan kepada kami Al A 'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa meneguk racun, maka di neraka jahanam ia akan meneguk racun yang ada di tangannya tersebut, ia kekal di dalamnya selama-lamanya." (HR. Abu Daud: 3374 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Dan,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَرِبَ سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا. (رواه إبن ماجه: ٣٤٥١)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Waki' dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa minum racun lalu membunuh dirinya, maka ia akan merasakan kelak di neraka jahanam. Ia akan kekal selama-lamanya." (HR. Ibnu Majah: 3451 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lebih lanjut, imam Ahmad: 9805,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنِ أَبِي صَالِحٍ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا. (رواه أحمد: ٩٨٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Waki ', dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al A 'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa menenggak racun sehingga membuat dirinya mati maka ia akan menenggaknya kelak di neraka jahanam, ia kekal selama lamanya di dalam neraka dengan kondisi seperti itu. Dan barangsiapa membunuh jiwanya dengan pisau, maka pisau yang ada dalam tangannya tersebut kelak akan menghujam ke perutnya di dalam neraka jahanam, dia kekal selama-lamanya dengan kondisi seperti itu. Dan barangsiapa terjun dari atas tebing sehingga menjadikan jiwanya melayang maka kelak ia akan menerjunkan dirinya dalam neraka jahanam ia kekal selama-lamanya di dalam neraka dengan kondisi seperti itu." (HR. Ahmad: 9805 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
SOLUSI UNTUK MENGHINDARI BUNUH DIRI
Simaklah firman Allah berikut sebagai solusi bagi manusia agar tidak mengikuti jalan membinasakan diri sendiri:
1. SENANTIASA MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Simak firman Allah berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٣٥)
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung. (QS. Al Maidah/5: 35)
Dan, Allah menjelaskan:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ. (قرآن سورة الرعد/١٣: ٢٨)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'du/13: 28)
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. (قرآن سورة العنكبوت/٢٩: ٤٥)
Selanjutnya,
Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabuut/29: 45)
2. MENYADARI BAHWA HIDUP INI ADALAH UJIAN
تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ. (قرآن سورة الملك/٦٧: ١)
Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Muluk/67: 1)
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ. (قرآن سورة الملك/٦٧: ٢)
Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Al Muluk/67: 2)
3. PERBANYAK ISTIGHFAR DAN MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEJADIAN MASA LALU
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٥)
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali 'Imraan/3: 35)
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٦)
Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal. (QS. Ali 'Imraan/3: 36)
Dan firman Allah,
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٧)
Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagai-mana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali 'Imraan/3: 37)
هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٨)
Inilah (Al-Qur'an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali 'Imraan/3: 38)
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٩)
Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (QS. Ali 'Imraan/3: 39)
Nabi Muhammad ﷺ senantiasa mendoakan umatnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya, sebagaiman hak tersebut dianugerahi oleh Allah kepada beliau dalam bentuk syafaatnya,
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٦٤)
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (QS. An Nisa'/4: 64)
4. BERTAFAKKUR (SENANTIASA MENGINGAT NIKMAT ALLAH)
Tafakkur dalam arti memikirkan nikmat Allah yang ada di dunia ini sehingga membuat hati dan fikiran menjadi bersyukur dan senantiasa merendahkan diri dihadapan Allah. Firman Allah tentang hal ini menunjukkan bahwa sikap tafakkur cendrung mengaitkan dengan memikirkan tentang ciptaan-Nya. Lokusnya QS. Al Baqarah/2: 219 dan 266, Ali 'Imraan/3: 191, al An'aam/6: 50, al A'raaf/7: 176 dan 184, Yunus/10: 24, ar Ra'du/13: 3, an Nahal/16: 11, 44 dan 69, ar Ruum/30: 8 dan 21, Saba'/34: 46, az Zumar/39: 42, al Jatsiyah/45: 13 dan al Hasyar/59: 21.
Tafakkur atau tunduk kepada kekuasaan Allah, adalah bentuk ketangguhan manusia terhadap makhluk Allah yang lain. Oleh karena itu, janganlah kita sebagai manusia menjadi lemah. Sehingga menempuh jalan menghinakan diri. Spirit tersebut direkam dari firman Allah berikut:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٩١)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali 'Imraan/3: 191)
Dan firman Allah,
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. (قرآن سورة الحشر/٥٩: ٢١)
Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir. (QS. Al Hasyar/59: 21)
Ayat ini menyinggung tentang kelebihan manusia dengan makhluk-Nya yang lain yaitu akal. Akal yang diliputi dengan ketundukkan kepada kekuasaan Allah. Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏