“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KODOK (adh Dhufda'u) DAN AMTSILAHNYA

Kodok adalah salah satu dari tiga binatang yang disebutkan sebagai sumber bencana bagi rakyat Mesir. (Rujuklah QS. AL-A'RAF/7: 33). Kodok adalah binatang yang mengalami metamorfosa dari telur, berudu, katak berekor dan kodok. Uniknya, berudu yang awalnya terlihat lucu akhirnya berubah  menjadi kodok yang menjijikan, menyeramkan dan berbau busuk ...jika diri anda awalnya menyenangkan orang, namun akhirnya berubah menjadi sosok yang menakutkan dan menjijikan, maka metamorfosis anda adalah keliru. (tulisan teman dari teman)

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ. (سورة الأعراف/٧: ٣٣) 

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A'raf/7: 33)

KITA LIHAT RIWAYAT TENTANG KODOK

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ
أَنَّ طَبِيبًا ذَكَرَ ضِفْدَعًا فِي دَوَاءٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِهِ. (رواه النسائي: ٤٢٨٠)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dari Ibnu Abu Dzi`b dari Sa'id bin Khalid dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abdurrahman bin Utsman bahwa terdapat seorang dokter menyebutkan kodok sebagai obat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau melarang dari membunuhnya. ((HR. An Nasa'i: 4280 - shahih [menurut al Albani] dari Abdur Rahman bin 'Utsman bin 'Ubaidillah, ia shahabat negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 73 H) 

Tegasnya, 

حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ قَالَ
ذَكَرَ طَبِيبٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَوَاءً وَذَكَرَ الضُّفْدَعَ يُجْعَلُ فِيهِ فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الضُّفْدَعِ. (رواه أحمد: ١٥١٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Sa'id bin Khalid dari Sa'id bin Musayyab dari Abdurrahman bin 'Utsman berkata; ada seorang tabib di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan suatu obat, yaitu berupa katak. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang membunuh katak. (HR. Ahmad: 15197 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Utsman)

Lihat juga: Ahmad: 15489 dari 'Abdur Rahman bin 'Utsman)

Dalam riwayat ad Darimi: 1914 dari 'Abdur Rahman bin 'Utsman dengan tidak menyebutkan sebab dilarangnnya membunuh katak. Berikut, 

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ خَالِدٍ الْقَارِظِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ الضِّفْدَعِ. (رواه الدرمي: ١٩١٤)

Telah mengabarkan kepada kami 'Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Sa'id bin Khalid Al Qarizhi dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abdurrahman bin Utsman bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak. (HR. Ad Darimi: 1914 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Utsman)

Seluruh riwayat dari 'Abdur Rahman bin 'Utsman dalam sanadnya terdapat Sa'id bin Kahalid bin 'Abdullah bin Qariz, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya dha'if, Ibnu Hajar menilainya shaduq dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Selebihnya periwayat maqbul.

Jalur lain, dari Abu Hurairah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْفَضْلِ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ. (رواه إبن ماجه: ٣٢١٤)

Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abdurrahman bin Abdul Wahab keduanya berkata; telah memberitakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Al Fadhal dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang membunuh Shurad (sejenis burung pipit), katak, semut dan Hud hud." (HR. Ibnu Majah: 3214 - shahih dari Abu Hurairah, nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhr negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Namun, kalau dilihat sanadnya terdapat periwayat bernama: Ibrahim bin al Fadhal, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan at Tirmidzi menilainya dha'iful hadits. Al Bukhari dan an Nasa'i menilainya munkarul hadits. Abu Zur'ah menilainya dha'if, as Saji mengatakan, "disebutkan dalam adh dhu'afa'", ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya matruk. Sedangkan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya".

Kita lihat riwayat Ahmad: 3072 - dari 'Abdullah bin 'Abbas, 

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ حُدِّثْتُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ النَّحْلَةِ وَالنَّمْلَةِ وَالصُّرَدِ وَالْهُدْهُدِ
قَالَ يَحْيَى وَرَأَيْتُ فِي كِتَابِ سُفْيَانَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ أَبِي لَبِيدٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ. (رواه أحمد: ٣٠٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij ia berkata; Aku telah diceritakan dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang membunuh lebah, semut, burung Shurad dan burung Hud hud. Yahya berkata; Dan aku melihat dalam kitab Sufyan dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abu Labid dari Az Zuhri. (HR. Ahmad: 3072 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Sanad paling shahih, karena para periwayat dalam sanadnya tanpa ada penilaian jarh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]