KERAJAAN TURKI USMANI
Pasca Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M)
sampai Pembubarannya oleh Presiden Mustafa Kemal Attatur
Oleh: Samsurizal, MA
I. Pendahuluan
Kerajaan Turki Usmani merupakan warisan dari Saljuk. Pendiri kerajaan ini bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara negeri Cina. Seiring dengan perkembangannya tumbuh sebagai sebuah kerajaan besar pada masa Muhammad II (Muhammad al-Fatih) 1451-1481 M) setelah dapat menaklukkan Konstantinopel yang merupakan pertahanan terkuat Bizantium tahun 1453 M. Ini memberi jalan ke Turki Usmani ke Eropa. Di masa Sultan Salim I (1512-1520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syria, dan Dinasti Mamalik di Mesir.
Pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M) megarahkan ke seluruh wilayah Turki Usmani tidak pada salah satu arah timur dan barat. Ia berhasil menundukkan Iraq, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian luas wilayah kekuasaan Turki Usmani pada masa ini mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Al-jazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa (Badri Yatim: 2000, 132). Jadi wilayah kekuasaan Turki Usmani adalah mencakup Tiga benua Asia, Afrika dan Eropa. Luasnya wilayah kekuasaannya membuatnya menjadi negara Adikuasa pada masa Muhammad al-Fatih dan puncaknya di masa Sultan Sulaiman al-Qanuni (Firdaus: 2000, 36).
Setelah al-Qanuni mulai mengalami kemunduran karena dipimpin oleh sultan yang lemah dan sering terjadi perebutan kekuasaan serta masa damai yang tidak menguntungkan, ditambah lagi mulai abad ketujuh belas situasi politik Turki Usmani diwarnai dengan kebijakkan desentralisasi yang memberi peluang musuh kerajaan untuk menyusun kekuatan dan menjadi besar sekaligus menjadi pesaingnya di bidang politik dan ekonomi (Badri Yatim: 2000, 91) diiringi juga dengan beberapa perjanjian perdamaian. Pada akhirnya terjadi Perang Dunia I (1914 M) yang sekaligus menjadi sebab satu persatu daerah kekuasaannya habis. Sekitar tahun 1912 dan 1920 M di semenanjung Balkan. Muncul negara-negara baru di wilayah Libanon, Syria, Palestina, Transjordan dan Iraq. Mesir menjadi negara protektorat Inggris, dan bebas secara total dari kekuasaan Turki Usmani. Akhirnya berubah dasar negara dari Khalifah menjadi Republik Turki dipromotori oleh Kemal Attaturk.
II. Pembahasan
A. Kerajaan Turki Usmani Pasca Pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qanuni
Raja-raja Turki Usmani bergelar Sultan dan Khalifah1 sekaligus. Dan pada masa Abdul Majid II (1922-1924 M) kepala pemerintahan hanya bergelar Khalifah tanpa Sultan, dan akhirnya diturunkan pula dari jabatan khalifah. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah berkuasa di bidang agama atau spritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun. Tetapi tidak harus putra pertama yang menjadi pengganti sultan terdahulu. Ada kalanya putra kedua atau ketiga dan selanjutnya menggantikan Sultan. Dalam perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara sultan bukan kepada anaknya. Dan bahkan ada yang dua kali berkuasa seperti sultan Mustafa I putra Muhammad III berkuasa pada tahun 1617-1618 M dan tahun 1622-1623 M, ini terjadi pada periode ketiga kekuasaan Turki Usmani 1566-1699 M.
Setelah Sultan al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat.2 Kemunduran Kerajaan Turki Usmani Mulai terlihat sejak wafatnya Sultan Salim II (1566-1573 M) sesudah Sultan Sulaiman Yang Agung Kerajaan Turki Usmani tidak lagi mempunyai sultan-sultan yang dapat diunggulkan. Sejak pemerintahannya, kekuasaan Turki Usmani sudah mulai diungguli oleh kekuasaan Eropa secara perlahan-lahan.3
Keruntuhan imperium Turki Usmani merupakan peristiwa yang kompleks bagi sebuah transformasi masyarakat Islam dari sebuah kerajaan menuju negara modern. Pada proses keruntuhanya imperium Turki Usmani merupakan wilayah yang amat luas dan meliputi semenanjung Balkan, Asia Kecil, Arab Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara. Pengaruhnya menjangkau Asia Tengah Laut Merah dan Gurun Sahara.4
B. Sultan-sultan Turki Usmani Setelah Sulaiman al-Qanuni (1566-1699 M)
Setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat, Turki Usmani pada periode ketiga ini diperintah oleh tiga belas sultan: Salim II (putra Sulaiman I) 1566-1573 M, Murad III (putra Salim II) 1573-1596 M, Muhammad III (putra Murad III) 1596-1603 M, Ahmad I (putra Muhammad III) 1603-1617 M, Mustafa I (putra Muhammad III) 1617-1618 M, Usman II (putra Ahmad I) 1618-1622 M, Mustafa I (yang kedua kalinya) 1622-1623 M, Murad IV (putra Ahmad I), 1623-1640 M, Ibrahim I (putra Ahmad I) 1640-1648 M, Muhammad IV (putra Ibrahim I) 1648-1687 M, Sulaiman III (putra Ibrahim I) 1687-1691 M, Ahmad II (putra Ibrahim I) 1691-1695 M, Mustafa II (putra Muhammad IV) 1695-1703 M.5 Periode ketiga ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun kemunduran segera terjadi.6
Sedangkan pada periode keempat kerajaan Turki Usmani kekuatannya berangsur-angsur surut dan pecahnya wilayah kekuasaan Usmani. Periode ini Turki Usmani diperintah oleh delapan orang sultan: Ahmad III (putra Muhammad IV) 1703-1730 M, Mahmud I (putra Mustafa II) 1730-1754 M, Usman III (putra Mustafa II) 1754-1757 M, Mustafa III (putra Ahmad III) 1757-1774 M, Abdul Hamid (putra Ahmad III) 1774-1788 M, Salim III (putra Mustafa III) 1789-1807 M, Mustafa IV (putra Abdul Hamid) 1807-1808 M, Mahmud II (putra Abdul Hamid) 1808-1839 M).7
Dan periode terakhir (IV) dari tahun 1839-1922 M, kerajaan Turki Usmani ditandai dengan kebangkitan kultur dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide Barat produk dari tanzimat. Periode diperintah oleh enam orang khalifah dan sultan dan satu orang khalifah: Abdul Majid (putra Mahmud II) 1839-1861 M, Abdul Aziz (putra Mahmud II) 1861-1876 M, Murad V (putra Abdul Majid I) 1876-1876 M, Abdul Hamid II (putraAbdul Majid I) 1876-1909 M, Muhammad V (putra Abdul Majid I) 1909-1918 M, dan Muhammad VI (putra Abdul Majid I) 1918-1922 M, serta Abdul Majid II (1922-1924 M), hanya sebagai khalifah, tanpa sultan, yang akhirnya di turunkan pula dari jabatan khalifah. Turki Usmani dihapus oleh Kemal Attatur, dan Turki menjadi negara nasional Republik Turki.8
C. Perjanjian Damai
Perjanjian demi perjanjian dilalui oleh Turki Usmani dengan tujuan untuk mempertahankan kerajaannya, namun setiap perjanjian yang dibuat selalu merugikannya sendiri. Diantara perjanjian tersebut adalah Perjanjian Karlowith tahun 1699 M, sebagai akibat kekalahannya terhadap Jerman, Polandia, dan Rusia setelah pertempuran armada laut tahun 1571 M dengan Spanyol yang di pimpin Don Juan, dan Turki Usmani Kalah. Perjajian Karlowith memaksa Sultan melepaskan Translavia (wilayah Australia), Saladonia dan Karawatai serta Ukraina.9 Seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia, dan Croasia kepada Hapsburg; dan Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia.10
Perjanjian Kinarca11 dengan Catherine II dari Rusia di Kutchuk Kinarca pada masa Sultan Abdul Hamid (1774-1789 M) terjadi pada tahun 1777 M. Isi perjanjian tersebut antara lain (1) Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di Laut Hitam kepada Rusia dan memberi Izin kepada armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan laut putih, dan (2) Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea). Di antaranya benteng Azov. Selain itu Rusia diizinkan mendirikan Gereja di Asitnah dan menjadi pelindung orang-orang Kristen Ortodoks yang berdomisili di wilayah Turki Usmani. Serta jemaat Kristen naik haji ke Palestina harus dibebaskan dari pajak. Juga kerajaan Turki Usmani harus memperhatikan kesejahteraan pendeta dan umat Kristen. Terakhir Turki Usmani harus membayar ganti rugi peperangan kepada Rusia secara berangsur-angsur selama tiga tahun yang jumlahnya tidak sedikit.
Pengaruh Jerman12 terhadap Turki sangat dominan membuatnya bergabung dengan Jerman dan Austria dalam Perang Dunia I pada desember 1914 M. Harapan Turki Usmani adalah dengan bergabung tersebut dapat mengembalikan wilayah-wilayah yang dicaplok Rusia, namun keadaannya malah terbalik yaitu kesultanannya jadi terbecah.
Untuk menentukan nasib Turki Usmani setelah kekalahannya pada Perang Dunia I, maka di adakan perjanjian Serves yang membuat Turki Usmani kehilangan lagi wilayahnya. Perancis, Inggris , Rusia, dan Itali sepakat untuk membagi-bagi wilayah Turki Usmani. Tahun 1918 Eropa mengalahkan aliansi militer Jerman, Turki dan Austria. Setelah itu Inggris menaklukkan Palestina, Syria dan Iraq, sedangkan kekuatan gabungan mengambil alih kontrol atas kota Istanbul.
Inggris dan Prancis sepakat membagi Timur Tengah menjadi beberapa negara, termasuk Libanon dan Syria yang berada dibawah pengaruh Prancis dan Palestina, Yordania dan Iraq berada di bawah pengaruh Inggris. Itali menguasai Anatolia barat daya, Yunani menguasai Thrace, Izmir dan Kepulauan Aegea. Armenia menjadi negara merdeka dan Kurdistan menjadi propinsi yang merdeka. Akhirnya habis seluruh wilayah Turki Usmani pada sekitar tahun 1920 M.
D. Pembentukan Negera Republik oleh Mustafa Kemal Attaturk
Turki Usmani dihapuskan oleh Kemal Attaturk, ia adalah tokoh utama gerakan Ideologi Nasionalis Turki (Turanisme) yang mendapat inspirasi dari para tokoh Usmani Muda. Usmani Muda adalah produk Tanzimat13 sejak 1860, melahirkan intelektual dengan buah pikiran “untuk mempertahankan kerajaan Turki hanya dengan mengadopsi peradaban Eropa tanpa perubahan dari sisi struktur” mereka mulai bergerak pada masa pemerintahan Sultan Hamid II naik tahta.
Otoritas para sultan Turki Usmani berbentuk kultur kosmopolitan yang terdiri dari kultur Arab, Persia, Bizantium, dan unsur kultur bangsa Eropa.14 Akhirnya pada tahun 1909 mereka berhasil mengalahkan gerakan pro-Abd Hamid dengan bantuan pejabat berkebangsaan Arab. Atas dasar ideologi ini Turki Usmani menjadi negara Nasional Republik Turki tahun 1924 M sampai sekarang. Turki Usmani berkuasa selama 625 tahun, sejak 1229-1924 M.
Institusi khilafah yang telah ada sejak era Abu Bakar Al-Shiddiq (abad ke-8) dan berlangsung selama berabad-abad akhirnya lenyap pada abad ke-20 (1924). Symbol polity (kesatuan politik) umat Islam itu sengaja dihapus Mustafa Kemal Attaturk ketika dia mendeklarasikan Republik Turki dan sekaligus pula menurunkan Sultan dari tahtanya. Akibatnya umat Islam se-dunia bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Pemimpin Islam dunia pun segera merujuk kepada Al-Qur’an untuk mencari konsep ummah sebagai dasar filosofis untuk menghidupkan kembali institusi khilafah. Akan tetapi, sejarah membuktikan, bahwa institusi khilafah itu telah mati dan tidak dapat dihidupkan kembali. Upaya merealisasikan filsafat ummah terus dilakukan. Akhirnya berdirilah Organisasi Konferensi Islam (OKI).15
Ini berarti pemerintahan yang berbentuk khalifah telah mengalami perubahan pada bentuk lain sesuai dengan ide-ide yang muncul dari pengaruh Eropa. Selanjutnya mengalami perubahan kearah modernisasi pemerintahan yang dominasi oleh pihak Eropa sendiri.
E. Faktor-faktor Kejatuhan Turki Usmani
1. Faktor Intern
Kelemahan Para Sultan dan Birokrasi, Kemunduran dalam Bidang Ekonomi, Wilayah yang Luas dan Ledakkan Penduduk, Dekadensi Moral Para Sultan, Budaya Korupsi Para Sultan, Pengaruh Para Istri-istri Sultan, Keterbelakangan dalam Bidang Industri Perang, Munculnya Gerakan Nasionalisme.
2. Faktor Ekstern
Kebangkitan Eropa yang ditunjukkan oleh pengaruh system pemerintahan, dan perlahan menguasai pemerintahan. Puncak kehancuran itu terjadi setelah Perang Dunia I pada tahun 1914 M.
III. Penutup
Sebagaimana kerajaan-kerajaan yang pernah tumbuh dan berkembang di dunia Islam, tidak terlepas dari proses pertumbuhan, perkembangan mencapai puncak kejayaan, lalu akhirnya mengalami kemunduran yang kemudian disusul dengan kehancuran. Begitu juga Turki Usmani dalam lima periode: Periode I 1299-1402, mulai berdirinya kerajaan ini, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur. Periode II, merupakan masa restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansi yang terbesar. Periode III, merupakan periode dimana Turki Usmani mampu mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun, kemunduran segera terjadi. Periode IV, masa surutnya kekuatan kerajaan Turki Usmani, terutama pada masa Sultan Abdul Hamid I (1774-1789 M). Dan periode V, ditandai dengan kebangkitan cultural administrative dari negara di bawah pengaruh ide-ide Barat akhirnya semua wilayahnya habis. Bahasan di atas berkisar antara periode III-V, pemerintahan Turki Usmani selama dua abad.
Daftar Rujukan
Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, (Jakarta: Logos, 1997), Cet. 1
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), Ed. 1, Cet. 10
Firdaus & Desmaniar, Negara Adikuasa Islam (Fase Kedua Abad XIV-XX Masehi), (Padang: IAIN Press, 2000), Cet. I
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), Ed. 1, Cet. 2
Juhana S. Praja, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Teraju, 2002), Cet. I1 Gelar Khalifah bagi Kerajaan Turki Usmani: Menurut Syalabi seperti yang dikutip Badri Yatim bahwa jauh sebelum kerajaan Usmani telah ada tiga khalifah dalam satu masa. Pada abad ke-10 M, para penguasa dinasti Fathimiyah di Mesir memakai gelar khalifah. Tidak lama setelah itu, Abd. Al-Rahman al-Nashir di Spanyol menyatakan diri sebagai Khalifah melanjutkan dinasti Umayyah di Damaskus, bahkan ia mencela para pendahulunya yang berkuasa di Spanyol yang merasa cukup dengan gelar “amir” saja. Jadi, ada kemungkinan para penguasa Usmani sudah memakai gelar ini sebelum menaklukkan Mamalik di Mesir, tempat bertahta para khalifah Abbasiyah, untuk kemudian meminta gelar itu oleh Sultan Salim I. (lihat Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), Ed. 1, Cet. 10, h. 133).
2 Badri Yatim, ibid., h. 163
3 Firdaus & Desmaniar, Negara Adikuasa Islam (Fase Kedua Abad XIV-XX Masehi), (Padang: IAIN Press, 2000), Cet. I, h. 36
4 Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, (Jakarta: Logos, 1997), Cet. 1, h. 91
5 Syafiq A. Mughni, ibid., h. 62
6 Syafiq A. Mughni, ibid., h. 62
7 Syafiq A. Mughni, ibid., h. 64
8 Syafiq A. Mughni, ibid., h. 66
9 Firdaus, op.cit., h. 38
10 Badri Yatim, op.cit., h. 165
11 Badri Yatim, ibid., h. 165 dan Firdaus, op.cit., h. 38
12 Di bidang militer, Jerman telah melatih 42 orang tentara Turki Usmani di bawah pimpinan Jenderal Liman Von Sanders tahun 1914 M. (lihat juga Syafiq A. Mughni, op.cit., h. 118 dan Firdaus, op.cit., h. 40).
13 Tanzimat atau dalam bahasa Turki dikenal dengan Tanzimat-i Khairiye adalah gerakan pembaharuan di Turki yang diperkenalkan ke dalam system birokrasi dan pemerintahan Turki Usmani semenjak pemerintahan Sultan `Abd al-Majid (1839-1861 M), putra Sultan Mahmud II, dan Sultan `Abd al-`Aziz (1861-1876 M). Kata tersebut mengandung arti mengatur, menyusun dan memperbaiki. Pada periode ini banyak diterbitkan peraturan yang bertujuan untuk memperlancar proses pembaharuan. Pembaharuan tersebut dimulai dengan diumumkannya deklarasi Gulkhane, Khatt-i Syerif Gulkhane, pada tanggal 3 November 1839/26 Sya`ban 1255. Tanzimat ini ditindak lanjuti oleh Khatt-i Humayun yang diumumkan pada 18 Pebruari 1856. Kata Tanzimat sendiri secara resmi telah tercantum dalam dokumen kerajaan pada pemerintahan Sultan Mahmud II, dan periode Tanzimat berakhir pada awal pemerintahan Abd Hamid II, 1880 M. Tokoh utamanya adalah Mustafa Pasya (Bayrakdar) lahir di Ruschuk, Istanbul tahun 1800 M. Dan tokoh lainnya yaitu Mustafa Rasyid Pasya (1800-1858 M) ia dikenal dengan arsitek pembaharuan abad XIX di Turki. (lihat Syafiq A. Mughni, ibid., h. 125-126).
14 Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), Ed. 1, Cet. 2, h. 492
15 Juhana S. Praja, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Teraju, 2002), Cet. I, h. 69-70.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏