“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KEKAYAAN DAN KEMULIAAN SERTA KEFAKIRAN

OLEH: SAMSURIZAL, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum waramatullaahi wabarakaatuh.

Kaya dalam arti cukup dari semua segi dan keinginan yang senantiasa terpuaskan. Seseorang yang banyak materi dan punya kedudukan, belum tentu merasakan cukup dan puas atau ridha dengan kondisinya saat itu. Akan tetapi, kekayaan hakiki terletak pada hati yang merasa cukup dan ridha apa pun kondisinya. Berikut penulis paparkan penjelasan Allah dan Rasul-Nya tentang masalah ini. Dengan harapan dapat dipahami dengan baik dan menambah tawadhuk dan bahagia lahir dan bathin.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. (رواه البخاري: ٦٩٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abu Bakr telah menceritakan kepada kami Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati." (HR. Al Bukhari: 5965 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga: Muslim: 1741, at Tirmidzi: 2245 dan 2295, Ibnu Majah: 4127, Ahmad: 7015, 7240, 7826, 8701, 9341 dan 10535 - shahih dari Abu Hurairah.

Ada dua hadits yang perlu dijelaskan sanad dan matannya: yaitu riwayat Ahmad: 7826 [sanadnya] dan 10535 [matannya]

Pertama: riwayat Ahmad: 7826 tentang sanad,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا بِهِ أَبُو هُرَيْرَةَ
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. (رواه أحمد: ٧٨٢٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq bin Hammam berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih berkata: ini adalah yang diceritakan oleh Abu Hurairah; Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah kaya itu dengan banyak harta, tetapi kaya itu adalah dengan kaya hati." (HR. Ahmad: 7827 - shahih dari Abu Hurairah)

Hadits ini termasuk hadits ahlul Yaman. Jalur sanad dimaksud adalah,

1. 'Abdur Rahman bin Shakhr, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah, negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

2. Hammam bin Munabbih bin Kamil bin Syaikh, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Uqbah negeri hidup Yaman dan wafat tahun 132 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Adz Dzahabi menilainya shaduq, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

3. Ma'mar bin Rausyid, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Urwah negeri hidup Yaman dan wafat tahun 154 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, al 'Ajli dan Ya'qub bin Syu'bah menilainya tsiqah. Abu Hatim menilainya shalihul hadits, an Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menainya tsiqah tsabat. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

4. 'Abdur Razzaq bin Hammam bin Nafi', ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Yaman dan wafat tahun 211 H. Penilaian ulama: Abu Daud dan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. An Nasa'i menilainya tsabat, Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah tsabat, Ibnu 'Adiy menilainya la ba'sa bihi, Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh, adz Dzahabi menilainya seorang tokoh. Sedangkan al 'Ajli berpendapat, "ia adalah tsiqah tertuduh beraliran syi'ah".

Catatan: Sanad hadits riwayat Ahmad: 7827 sama dengan jalur sanad hadits riwayat Ahmad: 7767 - shahih dari Abu Hurairah,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا بِهِ أَبُو هُرَيْرَةَ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَهَذَا يَوْمُهُمْ الَّذِي فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوا فِيهِ فَهَدَانَا اللَّهُ لَهُ فَهُمْ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ الْيَهُودُ غَدًا وَالنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. (رواه أحمد: ٧٧٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq bin Hammam berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih berkata: ini adalah yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Kita datang terakhir dan datang pertama kali di hari kiamat meskipun mereka diberi al kitab sebelum kita dan kita diberi al kitab sesudah mereka. Dan ini adalah hari dimana Allah telah mewajibkan kepada mereka lalu mereka menyelisihinya, lalu Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita. Maka mereka pada hari ini mengikuti kita, besok untuk Yahudi dan Nasrani hari setelahnya." (HR. Ahmad: 7767 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga Bukhari: 231, 828, 847, 2736, 3227, 6134, 6379, 6515 dan 6941, Muslim: 1412, 1413 dan 1414 - shahih dari Abu Hurairah. [Hadits terkait ada 15 buah].

Dalam riwayat Muslim: 1412,

و حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ الْآخِرُونَ وَنَحْنُ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْدَ أَنَّ كُلَّ أُمَّةٍ أُوتِيَتْ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ ثُمَّ هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْنَا هَدَانَا اللَّهُ لَهُ فَالنَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ الْيَهُودُ غَدًا وَالنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ
و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ الْآخِرُونَ وَنَحْنُ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمِثْلِهِ. (رواه مسلم: ١٤١٢)

Dan Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Abu Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Kita (umat Muhammad) adalah umat yang terakhir (datang ke dunia), tetapi kita adalah umat yang terdahulu (diadili) pada hari kiamat. Padahal seluruh umat telah diberi kitab sebelum kita, sedangkan kita (diberi kitab) setelah mereka. Kemudian pada hari ini, yakni hari yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita, Allah telah memberikan petunjuk kepada kita. Dan umat-umat lain terkait dengan hari itu adalah pengikut, bagi orang-orang Yahudi adalah esok, sementara bagi orang-orang Nashrani adalah esok lusa." Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dan Ibnu Thawus dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Kita (umat Muhammad) adalah umat yang terakhir (datang ke dunia), tetapi kita adalah umat yang terdahulu (diadili) pada hari kiamat." Yakni dengan hadits semisalnya. (HR. Muslim: 1412 - shahih dari Abu Hurairah)

Hal ini juga membantah anggapan kaum Bani Isra'il yang mengganggap diri mereka yang pantas masuk surga atas pengingkaran mereka terhadap al Qur'an dan janji-janji mereka. [lihat QS. Al Baqarah/2: 80 dan penjelasan secara lengkap yang Allah paparkan dalam dua surat dalam al Qur'an secara rinci kisahnya, yaitu surat al Baqarah dan Ali 'Imran].

Tegasnya pernyataan Mereka:

وَقَالُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلَّا مَنْ كَانَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ. (سورة البقرة/٢: ١١١)

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” (QS. Al Baqarah/2: 111)

Sikap mereka masing-masing dipaparkan pada ayat selanjutnya, yaitu ayat 112-113. Mereka saling melempar pernyataan bahwa mempunyai dasar dan dalil masing-masing untuk membenarkan sikap dan perbuatan mereka. Pengingkaran, pembunuhan, penyembahan dan suka ingkar janji serta licik dan piciknya mereka sampai ada yang mengikuti mereka. Warisan ini yang diterima para penguasa kapitalisme, rasisme dan komunisme. Secara tidak sadar orang-orang yang menjual kepentingan akhirat mereka untuk dunia mereka dikalangan umat Islam. Padahal, bakti mereka pada dunia hanya sesaat. Hiruk pikuknya kemewahan dan menguasai dunia dengan pengkhianatan amanah yang mereka terima sejak azali dan awalnya suci untuk memakmurkan bumi dan segala isinya sebagai dicontohkan Nabi dan Rasul yang pernah diutus Allah kepada manusia.

Kedua: riwayat Ahmad: 10535 tentang tambahan matannya,

حَدَّثَنَا كَثِيرٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ قَالَ سَمِعْتُ يَزِيدَ بْنَ الْأَصَمِّ يَقُولُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ
حَدِيثٌ لَا أَحْسِبُهُ إِلَّا رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ وَاللَّهِ مَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ الْفَقْرَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ التَّكَاثُرَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ الْعَمْدَ. (رواه أحمد: ١٠٥٣٥)

Telah menceritakan kepada kami Katsir berkata; telah menceritakan kepada kami Ja'far berkata; aku mendengar Yazid bin Al Asham berkata; Abu Hurairah menjelaskan; sebuan hadits yang aku perkirakan dimarfu'kan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Bukanlah yang disebut kaya itu adalah dengan banyaknya harta, namun kaya itu adalah kaya hati. Demi Allah, aku tidak takut kefakiran melanda kalian, tapi yang aku takutkan adalah harta yang melimpah dan ketergantungan kalian." (HR. Ahmad: 10535 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Pada hadits terakhir ini terdapat perbedaan negeri hidup para periwayatnya, artinya hadits tersebar diberbagai daerah ahlul hadits. Masing-masing negeri hidup mereka secara urut adalah Madinah, Kufah, Jazirah dan Baghdad. Berbeda dari yang lain, seperti hadits riwayat Ahmad: 7240 periwayatnya dari Madinah, Madinah, Madinah dan Kufah. Contoh lain riwayat al Bukhari: 5965 dan at Tirmidzi: 2295. Yaitu Madinah, Madinah, Kufah, Kufah dan Kufah.

Catatan:

Hadits dengan lafazh yang sama dan yang terakhir ini hanya melalui jalur Abu Hurairah.

Sejalan dengan hadits-hadits di atas perlu juga diingat pesan Rasul berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عُمَرَ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
خَرَجَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ مِنْ عِنْدِ مَرْوَانَ بِنِصْفِ النَّهَارِ قُلْتُ مَا بَعَثَ إِلَيْهِ هَذِهِ السَّاعَةَ إِلَّا لِشَيْءٍ سَأَلَ عَنْهُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ سَأَلَنَا عَنْ أَشْيَاءَ سَمِعْنَاهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ. (رواه إبن ماجة: ٤٠٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Umar bin Sulaiman dia berkata; saya mendengar Abdurrahman bin Aban bin 'Utsman bin 'Affan dari Ayahnya dia berkata, " Zaid bin Tsabit keluar dari sisi Marwan saat siang hari, aku pun berkata, "Tidaklah ia mengutus seseorang kepadanya di waktu seperti ini kecuali untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Lalu aku tanyakan kepadanya dan ia pun menjawab, "Sesungguhnya kami menanyakan tentang sesuatu yang pernah kami dengar dari Rasulullah ﷺ, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan Allah akan menjadikannya miskin. Tidaklah ia akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatannya, maka Allah akan menyatakan urusannya dan membuatnya kaya hati, serta ia akan diberi dunia sekalipun dunia memaksanya." (HR. Ibnu Majah: 4095 - shahih dari Zaid bin Tsabit bin adh Dhahak, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 45 H)

Kemudian firman Allah dalam hadits Qudsi berikut:

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ زَائِدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي خَالِدٍ الْوَالِبِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَدْ رَفَعَهُ قَالَ
يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ. (رواه إبن ماجه: ٤٠٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud dari Imran bin Zaidah dari Ayahnya dari Abu Khalid Al Walibi dari Abu Hurairah dia berkata, "Saya tidak mengetahui hadits ini melainkan ia telah memarfu'kannya (kepada Nabi), beliau bersabda, "Allah berfirman: "Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (batin). Akan Aku tutupi kemiskinanmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan masuki hatimu dengan kesibukan dan tidak akan Aku tutupi kemiskinanmu." (HR. Ibnu Majah: 4097 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lihat juga: Ahmad: 8342 - shahih dari Abu Hurairah.

Begitu juga hadits riwayat at Tirmidzi: 2390 - shahih dari Abu Hurairah,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ زَائِدَةَ بْنِ نَشِيطٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي خَالِدٍ الْوَالِبِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ.
قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَأَبُو خَالِدٍ الْوَالِبِيُّ اسْمُهُ هُرْمُزُ. (رواه الترمي: ٢٣٩٠)

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Khasyram telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus dari 'Imran bin Za'idah bin Nasyith dari bapaknya dari Abu Khalid Al Walibi dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: Wahai anak Adam, fokuskanlah untuk beribadah kepadaku niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa cukup dan aku tutupi kefakiranmu, jika kamu tidak mengerjakannya Aku akan penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutupi kefakiranmu." Dia berkata: Hadits ini hasan gharib, adapun Abu Khalid Al Walibi namanya adalah Hurmuz. (HR. At Tirmidzi: 2390 - shahih dari Abu Hurairah)

Firman Allah tentang keutamaan Dunia dan Akhirat

1. Dalam Surat Al-Isra' Ayat 18

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا. (سورة الإسراء/١٧: ١٨)

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra'/17: 18)

2. Dalam Surat Al-Hadid/57: 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ. (الحديد/٥٧: ٢٠)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid/57: 20)

3. Dalam Surat Hud/11: 15-16

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. (سورة هود/١١: ١٥-١٦)

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud/11: 15-16)

4. Dalam Surat Asy-Syura/42: 20

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ. (سورة الشورى/٤٢: ٢٠)

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syura/42: 20)

BERSEDEKAH PADA ORANG KAYA

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ رَيْحَانَ بْنِ يَزِيدَ الْعَامِرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ. (رواه أحمد: ٦٢٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sa'ad bin Ibrahim dari Raihan bin Yazid Al Amir dari Abdullah bin Amru dia berkata; Nabi ﷺ bersabda: "Shadaqah itu tidak halal diberikan kepada orang yang kaya dan tidak pula kepada orang yang masih mempunyai kekuatan yang utuh." (HR. Ahmad: 6244 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru)

Lihat juga: Abu Daud 1392, at Tirmidzi: 589 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. An Nasa'i: 2550 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ الْكِنْدِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُجَالِدٍ عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِيِّ عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ أَتَاهُ أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ فَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ وَذَهَبَ فَعِنْدَ ذَلِكَ حَرُمَتْ الْمَسْأَلَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ إِلَّا لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحِيمِ بْنِ سُلَيْمَانَ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٥٩٠)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Sa'id Al Kindi telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Mujalid dari 'Amir As Sya'bi dari Hubsyi bin Junadah As Saluli dia berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda pada waktu haji wada' sambil berdiri di 'Arafah, ketika itu datang seorang badui sambil memegang ujung selendang beliau, dia meminta sesuatu darinya, beliau pun memberinya sesuatu, lantas dia pergi. Sejak saat itu beliau melarang untuk meminta-minta, Rasulullah ﷺ pun bersabda: "Orang yang kaya tidak berhak menerima zakat demikian juga orang yang memiliki anggota badan yang sempurna, kecuali orang yang fakir dan banyak memiliki hutang. Dan barang siapa yang meminta-minta hanya untuk memperbanyak hartanya maka akan datang pada hari kiamat dengan tanda tercela di wajahnya serta dia akan memakan batu dari api neraka, oleh karena itu barang siapa yang ingin sedikit meminta atau banyak meminta lakukanlah (sebagai bentuk ancaman)."

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Abdurrahim bin Sulaiman seperti hadits di atas. Abu 'Isa berkata, melalui sanad ini, hadits Hubsyi merupakan hadits gharib. (HR. At Tirmidzi: 590 - dha'if dari Hubsyiy bin Junadah bin Nashar, ia shahabat kuniyahnya Abu al Janub negeri hidup Kufah)

Catatan: Hadits ini sebagaimana penjelasan imam at Tirmidzi bahwa hadits ini gharib, karena hanya diriwayatkan oleh Hubsiy bin Junadah. Selanjutnya, hadits ini dha'if disamping lafazhnya berbeda dan pernyataan yang berbelit-belit yang tidak sesuai dengan bahasa kenabian yang terstruktur dan teratur juga dalam sanad terdapat periwayat yang bernama: Mujalid bin Sa'id bin 'Umair, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 144 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hajar menilainya dha'if. Ibnu Sa'ad menilainya dha'iful hadits, al Bukhari menilainya shaduq dan disebutkan dalam adh dhu'afa'. Bahkan Ibnu Hajar menambahkan ia berubah diakhir usianya.
Selebihnya adalah periwayat maqbul.

KEKAYAAN DAN KEMULIAAN

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ. (رواه مسلم: ٤٦٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ bersabda, "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim: 4689 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga diriwayatkan imam at Tirmidzi: 1952, Ahmad: 8647 dan 9268 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Redaksi matan berbeda, tetapi maknanya sama.

Pernyataan imam Malik,

و عَنْ مَالِك عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ عَبْدٌ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ قَالَ مَالِك لَا أَدْرِي أَيُرْفَعُ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ لَا. (رواه مالك: ١٥٩٠)

Dari Malik dari Al 'Ala` bin Abdurrahman bahwasanya ia mendengar dia berkata, "Harta tidak akan berkurang karena sedekah, dan Allah tidak menambah seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang hamba itu bertawaduk kecuali Allah mengangkat derajatnya." Malik berkata, "Aku tidak tahu apakah hadits ini marfu' kepada Nabi ﷺ atau tidak." (HR. Malik: 1590 - dari al 'Alaa' bin 'Abdur Rahman bin Ya'qub, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sybul negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H)

Catatan: al 'Alaa' bin 'Abdur Rahman bin Ya'qub, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sybul negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H. Penilaian ulama: Ibnu 'Adi mentakatan, "Aku tidak melihat dia memiliki masalah", an Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa. Ibnu Hibban mentsiqahkannya. Abu Hatim mengatakan, "shalih, perawi tsiqah meriwayatkan darinya dan aku mengingkarinya. At Tirmidzi mengatakan, "tsiqah menurut ahli hadits". Ahmad bin Hanbal mengatakan, "tsiqah, aku tidak pernah mendengar seseorang menyebutnya dengan keburukan".

Pernyataan imam Malik tersebut tidak memengaruhi keshahihan hadits di atas karena periwayatannya mempunyai banyak jalur sanad dan shahih menurut ulama hadits.

MELUANGKAN WAKTU UNTUK IBADAH ALLAH TUTUP KEFAKIRAN

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ زَائِدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي خَالِدٍ الْوَالِبِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَدْ رَفَعَهُ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ. (رواه إبن ماجة: ٤٠٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud dari Imran bin Zaidah dari Ayahnya dari Abu Khalid Al Walibi dari Abu Hurairah dia berkata, "Saya tidak mengetahui hadits ini melainkan ia telah memarfu'kannya (kepada Nabi), beliau bersabda, "Allah berfirman, "Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (bathin). Akan Aku tutupi kemiskinanmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan masuki hatimu dengan kesibukan dan tidak akan Aku tutupi kemiskinanmu." (HR. Ibnu Majah: 4097 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits Qudsi)

Demikian juga hadits riwayat at Tirmidzi: 2390 dan Ahmad: 8342 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Wallahu a'lam bish Shawab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]