“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

DINASTI GHAZNAWI

Oleh: Samsurizal, MA

 

 

A.    PENDAHULUAN

 

Dinasti Ghaznawi pernah berjaya di wilayah Pakistan, Iran dan India. Dinasti ini hampir menguasai ke tiga wilayah ini. Rentetan sejarah panjang Dinasti Ghaznawi bermula sejak tahun 977 M sampai dengan 1160 M.

Dalam perjalanan pemerintahan Dinasti Ghaznawi mengalami banyak hal. Baik itu, kemajuan, ataupun kemunduran dan sebagaimana biasanya sebuah kerajaan Ghaznawi sering dilanda keributan antara pihak keluarga kerajaan.

Oleh karena itu, di dalam makalah ini akan membahas bagaimana lahirnya Dinasti Ghaznawi, pertumbuhan, perkembangan, kemajuan-kemajuannya, dan kemunduran serta  runtuhnya Dinasti Ghaznawi.

 

B.     SEJARAH BERDIRI DINASTI GHAZNAWI

 

Dinasti Gaznawi adalah salah satu dinasti yang berdiri pada masa Daulah Abbasiyah. Dinasti ini didirikan oleh seorang budak berkebangsaan Turki yang bernama Alptigin. Karirnya berawal dari Dinasti Samaniyah sebagai seorang pengawal.[1] Berkat keuletannya, jabatan Alptigin kemudian menanjak menjadi kepala pengawal dan akhirnya pada tahun 961 M, ia berhasil menduduki posisi komandan pasukan di Khurasan yang masih berada di bawah kekuasaan Dinasti Samaniyah.[2] Pada waktu itu kekuasaan dipegang oleh seorang amir yang bernama Abd Al-Malik.[3]

Ketika Abd Al-Malik meninggal, Alptigin  mencoba untuk melibatkan diri dalam suksesi kepemimpinan bersama dengan Bal’ami. Karena Alptigin tidak setuju dengan terpilihnya Mansur, dia melarikan diri dengan membawa pasukannya menuju Ghazna. [4]

Pada tahun  962 M, Alptigin meninggalkan Dinasti Samaniyah menuju ke perbatasan kerajaan sebelah Timur. Ia sampai di Ghazna sebuah kota di Afganistan dan mendirikan kerajaan yang independen, yang pada akhirnya disebut imperium Ghaznawi di Afganistan dan Punjab.[5] Hasan bin Ibrahim Hasan menyebutkan bahwa Ghazna sebelum dikuasai oleh Dinasti Samaniyah  dipimpin oleh ayahnya sendiri.[6]

Berbekal pengalamannya di Dinasti Samaniyah, Alptigin mendirikan pemerintahannya, dan dengan semangat yang kuat dan dukungan dari para pengikutnya, Alptigin menjalankan roda pemerintahan dengan baik, sehingga karirnya sebagai pemimpin terus menanjak. Ia memimpin Dinasti Ghaznawi selama ± 16 tahun.[7]

Pada tahun 976 M Alptigin wafat. Kemudian, tampuk pemerintahan dipegang oleh Sebuktigin yang merupakan menantu dari Alptigin.[8]

Hasan bin Ibrahim mengatakan bahwa Ishaq bin Alptigin, pada saat wafatnya Alptigin melihat kondisi bahwa ayahnya tidak memilih penggantinya, baik dari kalangan keluarga maupun kerabat. Dia mengumpulkan pasukan militer dan mencoba untuk mencari siapa yang akan memimpin mereka. Kemudian terjadi perselisihan, dan akhirnya mereka sepakat untuk memilih Sebuktigin untuk memimpin mereka. Hal ini nampaknya tidak serta merta menjadikan Sebuktigin menjadi Kepala Pemerintahan. Karena Sebuktigin baru diangkat dan diambil sumpah setelah diketahui kepribadian, watak dan sifatnya, baik itu intelektualitas, moralitas, dan agamanya.[9]

Sebuktigin  naik tahta pada tahun 976 M. Ia adalah seorang yang bijaksana dalam memimpin rakyatnya dan administrator ulung. Hal ini membuatnya sangat disanjung dan disayang oleh rakyatnya.

Dinasti Ghaznawi, sebagai salah satu dinasti yang berada di bawah Daulah Abbasiyah, yang dipimpin oleh Sebuktigin mendapat legitimasi dari khalifah Baghdad dan memberinya gelar Nasir Al-Daulah. Selama masa kepemimpinannya, wilayah  kekuasaan Dinasti Ghaznawi semakin luas. Di awali dengan menaklukan Dinasti Syahu di wliayah Punjab. Daerah ini dijadikan sebagai pusat ekspansi sekaligus defending ground di India. Akhirnya wilayah kekuasaan Dinasti Ghaznawi meliputi Baluchistan, Gur, Zabulistan, dan Baktria atau Tukharistan.[10] Ketangguhan Sebuktigin juga terlihat dengan kemampuannya mempertahankan wilayah Transoxania dari serbuan musuhnya.[11]

Keberhasilan yang diperoleh oleh Sebuktigin inilah yang mengakibatkan pemerintahannya mendapat legitimasi dari Khalifah Baghdad sehingga dapat dikatakan Sebuktiginlah sebagai pendiri Dinasti Ghaznawi yang sebenarnya. Pernyataan ini tidak menafikan peranan Alptigin sebagai perintis dinasti ini. Namun kemajuan dan kejayaan pada Dinasti Ghaznawi ini baru terlihat pada masa pemerintahan Sebuktigin dan legitmasi dari pemerintahan di Baghdad juga diperoleh oleh Sebuktigin. Adapun penguasa-penguasa Dinasti Ghaznawi sebagai berikut:

1.      Nasir Al-Daulah Sebuktigin                                              977

2.      Ismail                                                                                997

3.      Yamin Al-Daulah Mahmud Al-Ghaznawi                        998

4.      Jalal Al-Daulah Muhammad                                           1030

5.      Syihab Al-Daulah Mas’ud I                                            1031

6.      Muhammad                                                                     1041

7.      Syihab Al-Daulah Maudud                                             1041

8.      Mas’ud II                                                                        1050

9.      Baha Al-Daulah Ali                                                        1050

10.  Izz Al-Daulah Abd Al-Rasyid                                        1050

11.  Qiwam Al-Daulah Tugril                                                1053

12.  Jamal Al-Daulah Farrukhzad                                          1053

13.  Zahir Al-Daulah Ibrahim                                                1059

14.  Ala Al-Daulah Mas’ud III                                              1099

15.  Kamal Al-Daulah Syirzad                                               1115

16.  Sultan Al-Daulah Arslan Syah                                        1115

17.  Yamin Al-Daulah Bahram Syah                                     1118

18.  Mu’iz Al-Daulah Kusraw Syah                                      1152

19.  Taj Al-Daulah Kusraw Malik                                1160-1186

 

C.    KEMAJUAN DINASTI GAZNAWI

 

Dinasti Ghaznawi adalah salah satu dinasti yang berada di bawah Daulah Abbasiyah yang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan ini terlihat sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sultan Mahmud. Kemajuan yang diperoleh oleh Dinasti Ghaznawi adalah di bidang politik, pertahanan dan keamanan,  ekonomi, pengetahuan dan sastra serta bidang seni dan arsitektur.

1.      Politik dan Pertahanan Keamanan

Perkembangan Dinasti Ghaznawi dalam bidang politik dan pertahanan keamanan dapat dikatakan mencapai kestabilan yang sangat membanggakan. Hal ini terlihat dari luasnya daerah kekuasaan dinasti ini yang meliputi Punjab dan wilayah lembah Hindus di India, seluruh Afganistan dan Persia bagian timur.

Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud, Dinasti Ghaznawi berhasil menguasai hampir seluruh wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Samanid. Selain itu Sultan Mahmud juga berhasil membangun kepercayaan dari berbagai pihak terutama dari rakyatnya sendiri. Hal ini disebabkan karena Dia lahir dari seorang ibu yang berstatus budak. Kepercayaan ini tentu akan melahirkan kestabilan internal sehingga memperkokoh pemerintahan Dinasti Ghaznawi sendiri.[12]

Keberhasilan yang diperoleh oleh Dinasti Ghaznawi, disamping dikepalai oleh seorang kepala pemerintahan yang bijaksana, juga disebabkan oleh faktor-faktor eksternal lainnya. Di antara faktor-faktor tersebut adalah:

a.       Letak Ibukota yang sangat strategis. Memungkinkan pemerintah untuk mengawasi daerah-daerah sekeliling dengan mudah dan dapat menemukan pintu masuk ke daerah Kabul yang mempermudah rangkaian penaklukan ke India.[13]

b.      Adanya konflik dalam negeri  yang  menimbulkan perpecahan di wilayah-wilayah yang akan ditaklukan.[14]

c.       Tersedianya dana yang cukup yang diperoleh dari  rampasan perang

d.      Semangat jihad yang tinggi  dari Sultan Mahmud dan bala tentaranya 

e.       Serangan balasan Sultan Mahmud terhadap serangan yang dilakukan King Japal (Jayapala) merebut wilayah Punjab dan Peshawar ke anak benua India.[15]

2.      Ekonomi

Keberhasilan yang diperoleh oleh Dinasti Ghaznawi dalam memperluas daerah kekuasaannya memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi negara. Sebuktigin terkenal sebagai seorang administrator, sehingga perekonomian Dinasti Ghaznawi berkembang dengan stabil dan kemakmuran merata di tengah masyarakat. Sumber-sumber  pendapatan pemerintah diantaranya  adalah dari pajak, upeti, harta rampasan perang, serta pertanian.

 

 

3.      Ilmu Pengetahuan dan Sastra

Pengembangan di bidang ilmu pengetahuan tidak terlepas dari perhatian besar dari Sultan Mahmud. Beliau mendirikan sebuah perguruan tinggi di Ghazna yang memiliki seorang guru besar bernama Unsuri. Unsuri adalah seorang ahli fikir dan penyair.[16]

Kecintaannya yang besar  terhadap ilmu pengetahuan juga terbukti dengan banyaknya para ilmuan, filosof dan sastrawan ke istana untuk membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan ilmiah. Di samping itu juga memprakarsai  penulisan tafsir Al-Quran berdasarkan metode qiraah dengan penjelasan dari ilmu nahwu dan sharaf serta keterangan dari hadis-hadis nabi. Penulisan tafsir ini menelan biaya 20.000 dinar. Selain itu,  juga dibangun madrasah dan perguruan tinggi, serta memberikan bantuan kepada pusat-pusat pengajaran dan dana rutin tahunan untuk para intelektualis dan sastrawan.[17]

Pada masa pemerintahan Dinasti Ghaznawi juga lahir ulama seperti Al-Farabi, Al-Biruni, dan Al-Utbi serta masih banyak yang lainnya. Hanya saja, dalam menulis karya ulama-ulama selain tiga orang di atas sering menggunakan bahasa etnis mereka, yaitu bahasa turki, dibanding bahasa arab.

Di samping hal-hal di atas, Mahmud Ghaznawi juga digelari dengan Pelindung Penyair Persia Firdausi. Firdausi adalah pengarang sebuah epik yang berjudul Syah Namah.[18] Syah Namah adalah sebuah epik yang menceritakan  kisah-kisah para raja dan pahlawan Iran kuno.

4.      Seni dan Arsitektur

Pada masa pemerintahan Mahmud diciptakan berbagai kemegahan yang terlihat dari arsitektur istana dan ruangan persidangan, sejumlah masjid dan menara, jalan-jalan sebagai jalur tranportasi sampai ke daerah pendudukan India, museum, waduk dan tempat penampungan air. Pembangunan yang dilakukan oleh Mahmud sebagian besar bahannya diambil dari bekas bangunan yang sudah tua. Seperti masjid yang terdapat di kota Ajmet, masjid Quth yang didirikan di atas rumah pendewaan Hindu.[19]

Keindahan kota Ghazna ini digambarkan oleh Mahmud dengan mengatakan bahwa ketika ia memasuki kota, Ghazna masih seperti gubuk reot dan meninggalkannya seperti istana yang dilapisi marmar.

 

D.    KEMUNDURAN DINASTI GHAZNAWI

 

Kekacauan di tubuh Dinasti Ghaznawi sendiri sudah terjadi sejak meninggalnya Yamin Al-Daulah Mahmud. Mahmud mengangkat anaknya sendiri sebagai Sultan. Akan tetapi setelah Muhammad diangkat sebagai sultan, Mas’ud yang merupakan saudara dari Muhammad merasa lebih berhak untuk jabatan sultan. Rasa percaya diri itu muncul karena keberhasilannya menaklukan Rayy dan Ishfahan.

Pada saat itu, Mas’ud berada di Herrat dan Dia mengirim surat agar Muhammad melepaskan jabatannya. Akhirnya jabatan itu diambil paksa dan Muhammad di bawa ke Herrat sebagai tawanan.

Pada masa pemerintahan Mas’ud, wilayah barat Ghaznawi menjadi rapuh bahkan jatuh ke tangan Dinasti Saljuk. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama, Mas’ud terlalu berkonsentrasi pada wilayah timur Ghaznawi. Kedua, kekuatan militer Ghaznawi terdiri dari berbagai etnis, yaitu Turki, Iran dan India.

Kondisi ini membuat Mas’ud sadar akan ketidak berdayaannya. Oleh karena itu, ia kembali meminta saudaranya Muhammad yang sudah buta untuk menggantikannya.

Tidak lama berselang, Maudud bin Mas’ud pulang dari Balkh dan terjadi salah faham. Ia mengira Muhammad merebut kekuasaan dari ayahnya. Kemudian Maudud membentuk barisan dengan sisa pasukannya menghadapi Tugril. Dalam perang itu, Maudud menang dan berhasil membunuh Muhammad dan anaknya Ahmad.

Pada masa pemerintahan Maudud terjadi serangan dari Bani Saljuk yang mengakibatkan jatuhnya Iran ketangan Saljuk. Kemudian pemberontakan Gur yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaannya. Dalam kondisi kritis seperti ini, Maudud menikah dengan cucu Tugril Beg, sehingga Dinasti Ghaznawi selamat dari ambisi Saljuk dan berhasil memulihkan wilayah Transaxonia.

Sepeninggal Maudud Ghaznawi kembali diperebutkan oleh keluarga kerajaan. Situasi ini berhasil didamaikan oleh Abdur Rasyid. Selain itu, Abd Al-Rasyid juga berhasil menumpas pemberontakan.

Faruzdak bin Mas’ud I setelah menggantikan Abdur Rasyid berhasil mengatasi kekacauan yang melanda Ghaznawi. Bahkan Khurasan yang sudah dikuasai oleh Saljuk kembali dapat dikuasai. Hanya saja tidak bertahan lama.

Keadaan yang tenang, tentram dan damai kembali dirasakan oleh Dinasti Ghaznawi pada masa pemerintahan Ibrahim dan anaknya Mas’ud III. Ibrahim adalah seorang yang bijak, saleh dan cinta damai. Selain itu Dia juga mampu berdiplomasi dengan Bani Saljuk. Begitupun dengan anaknya Mas’ud III yang kemudian dinikahkan dengan salah seorang putri dari Bani Saljuk.

Sepeninggal Mas’ud III, perang saudara kembali terjadi. Hal ini semakin memperlemah Dinasti Ghaznawi. Bahkan Bahram meninggalkan tahta karena merasa terancam dan meminta Saifuddin Suri untuk menggantikannya sementara. Selain itu Dinasti Ghaznawi bertahan karena dukungan dari Sultan Sanjar. Namun pada masa  pemerintahan Kusraw Malik musuh-musuh Ghaznawi semakin gencar setelah meninggalnya Sultan Sanjar. Wilayah Ghazna menjadi rebutan Turki dan diberikan kepada Syihabuddin yang dikenal dengan nama Mu’izuddin Muhammad Guri.

Malik Syah bin Kusraw Malik disandera. Dan pada tahun 1187, Kusraw Malik ditangkap karena mencoba meminta bantuan kepada orang-orang Hindu. Bapak dan anak ini akhirnya dibunuh di Guristan. Kemunduran Dinasti Ghaznawi disebabkan oleh:

1.      Terjadinya konflik internal dalam perebutan kekuasaan dalam kerajaan, karena ada anggapan bahwa perngganti yang ditetapkan oleh sultan terdahulu atau yang sedang menjabat tidak memiliki kualifikasi dan di sisi lain ada yang merasa lebih berhak.

2.      Kesiapan penguasa, baik fisik maupun mental, serta intelektual untuk menjadi seorang pemimpin.

3.      Pembunuhan Syaifuddin yang dilakukan secara demonstratif yang mengakibatkan terpicunya dendam dan melahirkan perang antara Bahram dan Alauddin.

4.      serangan dari pihak luar seperti bani saljuk dan kerajaan ghurriyah

Masa pemerintahan Dinasti Ghaznawi berakhir pada tahun 1037 M. keruntuhannya ditandai dengan serangan yang dilakukan oleh Bani Saljuk yang dipimpin oleh Saljuq bin Tufaq.

Bani Saljuk  berhasil menaklukkan sebagian besar kekuasaan Dinasti Ghaznawi. Mereka membentuk etnik yang kuat wilayah timur Daulah Abbasiyah dengan menguasai Turkistan, India dan Afganistan dan pada tahun 429 H mereka memasuki Khurasan.[20]

 

E.     PENUTUP

 

Dinasti Ghaznawi merupakan salah satu dari sekian banyak lembaran sejarah Islam.  Dinasti ini tergolong muda usia ± 130 tahun. Namun demikian, Ia tetap memberikan sumbangsih kepada dunia.

Dalam rentetan sejarah Dinasti Ghaznawi mengalami kemajuan pada masa Sebuktigin, Yamin Al-Daulah Mahmud, kemudian mulai mengalami kemunduran sejak Yamin Al-Daulah Mahmud turun tahta. Masa-masa setelahnya dapat dikatakan sebagai masa-masa menunggu waktu runtuh. Hanya saja masih ada Ibrahim dan anaknya yang mengembalikan kedamaian dan ketentraman ke tengah Ghaznawi. Namun selanjutnya kembali terlibat perang saudara dan akhirnya jatuh ketangan turki. Disamping itu, terlihat seakan-akan Dinasti Ghaznawi tidak mempersiapkan kader pemimpin.

 

                                           

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Ahmad, Jamil, Seratus Muslim Terkemuka, (Pustaka Firdaus:Jakarta, 1994)

Al-Afifi, Abd Al-Hakim, 100 Peristiwa dalam Islam, (Pustaka Hidayah:  Bandung, 2002)

Ali, Syed Amir,  The Short Story of Saracen, (Kitab Bhalvan: New Delhi, 1981)

Al-Khair, Abd dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Ikhtiar Baru Van Hoeve: Jakarta)

Amin, Ahmad, Dzuhur Islam, (Maktabah Al-Nahdhah Al-Misriyah: Kairo, 1996),

Bosworth, CE, The Encyclopedia of Islam, (E.J. Brill: Leiden, 1991)

Firdaus dan Desmaniar, Negara Adikuasa Islam, (IAIN IB Press: Padang, 2000)

Hasan, Hasan Ibrahim, Tarikh Al-Islam: Al-Siasiy wa Al-Diniy wa Al-Tsaqafi wa Al-Ijtima’iy, (Maktabah Al-Nahdhah Al-Mishriyah: Kairo)

Hitti, Philip K., History of Islamic Societies, (The Micmillan Press: London, 1974)

Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam, Terj. Ghufran Mas’adi, (Raja Grafindo: Jakarta, 1999)

Sou’yb, Joesoef  , Sejarah Daulah Abasiyah II, (Bulan Bintang: Jakarta, 1977)

Watt, W. Montgomery,  Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Terj. Hartono Hadikusumo, (Tiara Wacana: Yokyakarta, 1990)


[1] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Terj. Ghufran Mas’adi, (Raja Grafindo: Jakarta, 1999), Cet. I, hlm. 226

[2] Philip K. Hitti, History of Islamic Societies, (The Micmillan Press: London, 1974). Cet. X, hlm. 464

[3] Abd Al-Khair dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Ikhtiar Baru Van Hoeve: Jakarta) hlm 150

[4] Ibid.

[5] CE Bosworth, The Encyclopedia of Islam, (E.J. Brill: Leiden, 1991), hlm 1050

[6] Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh Al-Islam: Al-Siasiy wa Al-Diniy wa Al-Tsaqafi wa Al-Ijtima’iy, (Maktabah Al-Nahdhah Al-Mishriyah: Kairo), hlm 92

[7] W. Montgomery Watt,  Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Terj. Hartono Hadikusumo, (Tiara Wacana: Yokyakarta, 1990), hlm 212

[8] Ahmad Amin, Dzuhur Islam, (Maktabah Al-Nahdhah Al-Misriyah: Kairo, 1996) Cet. IV, hlm 277

[9] Hasan Ibrahim Hasan, op.cit. hlm 92

[10] Abd Al-Khair dkk, op.cit. hlm 150

[11] Syed Amir Ali,  The Short Story of Saracen, (Kitab Bhalvan: New Delhi, 1981) hlm. 307

[12] Abd Al-Khair dkk, Op.Cit. hlm 151

[13] Philip K. Hitti. Op.Cit. hlm 464

[14] Dinasti Samanid yang ditaklukkan oleh Dinasti Ghaznawi pada masa pemerintahan Sultan Mahmud.Dinasti Samanid yang ditaklukkan oleh Dinasti Ghaznawi pada masa pemerintahan Sultan Mahmud, sudah mengalami kemunduran. Disamping konflik internal Dinasti Samanid juga berperang melawan dinasti-dinasti lainnya. Namun akhirnya jatuh di tangan Dinasti Qarakhani.

[15] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Abasiyah II, (Bulan Bintang: Jakarta, 1977), hlm 245

[16] Ibid. hlm 246

[17] W. Montgomery Watt,  Op.Cit. hlm 214

[18] Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, (Pustaka Firdaus:Jakarta, 1994) hlm. 72

[19] Firdaus dan Desmaniar, Negara Adikuasa Islam, (IAIN IB Press: Padang, 2000), hlm 72

[20] Abd Al-Hakim Al-Afifi, 100 Peristiwa dalam Islam, (Pustaka Hidayah:  Bandung, 2002), hlm 233

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]