RASULULLAH MENCIUM ISTRI BELIAU PADAHAL BELIAU SEDANG BERPUASA
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem.
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ فِي شَهْرِ الصَّوْمِ. (رواه مسلم: ١٨٥٩)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa'id dan Abu Bakar bin Abu Syaibah -Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami -sementara dua orang yang lain berkata- telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Ziyad bin Ilaqah dari Amru bin Maimun dari Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata, "Rasulullah ﷺ menciumnya di bulan puasa." (HR. Muslim: 1859 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits ini masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari tiga orang gurunya yang tsiqah, yaitu pertama, Yahya bin Yahya bin Bukair bin 'Abdur Rahman w. 226. Kedua, Qutaibah bin Sa'id bin Jamil bin Tharif bin 'Abdullah w. 240 H. Dan ketiga, Abu Bakar bin Abi Syaibah 235 H)
Demikian juga hadits riwayat Muslim: 1885, at Tirmidzi: 659 dan Ibnu Majah: 1673 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Keduanya termasuk hadits 'aziz. Mereka meriwayatkan dari dua orang guru yang tsiqah. Semuanya meriwayatkan dari Salim bin Sulaim w. 179 H. Begitu juga hadits riwayat Abu Daud: 2035 - shahih dari 'Aisyah.
Penjelasan tentang beliau sedang berpuasa diketahui dari hadits riwayat imam Muslim,
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ. (رواه مسلم: ١٨٦١)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Zinad dari Ali bin Al Husain dari Aisyah radhiallahu'anha, bahwasanya, "Nabi ﷺ mencium istrinya padahal beliau sedang berpuasa." (HR. Muslim: 1861 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lebih jelasnya alasan kenapa beliau mencium dan mencumbui (yuqabbilu wa yubaasyiru) istri beliau, berikut diriwayatkan oleh imam al Bukhari,
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ
وَقَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
{ مَآرِبُ }
حَاجَةٌ قَالَ طَاوُسٌ
{ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ }
الْأَحْمَقُ لَا حَاجَةَ لَهُ فِي النِّسَاءِ. (رواه البخاري: ١٧٩٢)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, Syu'bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah radhiallahu'anha berkata, "Nabi ﷺ mencium dan mencumbu (istri-istri Beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian". Dan Al Aswad berkata; Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata, istilah ma'aarib maknanya adalah keperluan (seperti dalam QS. Tha Ha ayat 18) artinya hajat. Dan berkata, Thowus (seperti dalam QS. An-Nuur ayat 31) artinya: orang dungu yang tidak punya keinginan lagi terhadap wanita. (HR. Al Bukhari: 1792 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat Muslim: 1854, 1855 dan 1856 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Tampa kata "yuabbilu". Sedangkan dalam riwayat Muslim: 1860, 1861 dan 1862 dengan kata "yuqabbilu" mencium.
Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa tidak apa-apa seorang suami mencium dan mencumbui istrinya jika tidak ada khawatir terpengaruh oleh nafsu sex. Rasulullah melakukan hal tersebut karena beliau mampu mengendalikan nafsunya. Sehingga kasih sayang tercurah tanpa membatalkan ibadah puasa. Karena puasa adalah amalan syari'at yang sangat istimewa dibanding syari'at yang lain baik wajib maupun sunatnya. Pahala puasa hanya Allah yang akan membalasnya, maka tidak berlaku hitung-hitungan pahala seseorang (Bani Adam) satu kebaikan dibalas sepuluh sampai dengan tujuh ratus kali lipat tergantung tinggkat keikhlasannya.
Sebagai muslim sejati mesti merenungkan kasih sayang Allah kepada hambanya yang beriman dan bertakwa serta sabar melakukan amal-amal shalih.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ. (قرآن سورة الزمر/٣٩: ١٠)
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan. (QS. Az-Zumar/39: 10)
قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ. (قرآن سورة الزمر/٣٩: ١١)
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az-Zumar/39: 11)
Ingat juga firman Allah:
مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزٰىٓ اِلَّا مِثْلَهَاۚ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِيْهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. (قرآن سورة غافر/٤٠: ٤٠)
Siapa yang mengerjakan keburukan tidak dibalas, kecuali sebanding dengan keburukan itu. Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, akan masuk surga. Mereka dianugerahi rezeki di dalamnya tanpa perhitungan. (QS. Gāfir/40: 40)
Firman Allah di atas mampu menjaga keyakinan orang yang beriman untuk istiqamah dalam beramal. Sehingga mereka berhak memeroleh pahala dan rizki yang tak terhingga dari Allah di akhirat.
Untuk lebih jelasnya tentang perhitungan (hisab pahala) lihat tulisan penulis tentang: PERBEDAAN HISAB DAN PENAMPAKAN AMAL
(kitab amal yang diserahkan dari sisi kanan dan dari sisi kiri) di : https://ibnusyamsir.blogspot.com/2021/04/perbedaan-hisab-dan-penampakan-amal-al.html?m=1
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏