“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KAJIAN SYADZ DAN MAHFUZH
(suatu perbandingan)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Hadits merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al Qur'an. Keotentikannya mestinya terjaga dan teruji. Baik sanad  (rangkaian para periwayat dari awal sampai akhir) maupun matannya (redaksi pesan). Metode mengujian harus terukur dan terjamin. Sebagai langkah awal adalah mengumpulkan semua hadits semakna atau sama lafazh, tergantung materi apa yang harus teruji. Selanjutnya, memastikan hadits yang akan diuji harus maqbul (hasan atau shahih), baik sanad atau pun matannya. Tentunya harus paham ilmu yang harus diterapkan, minimal ilmu tarikh ar ruwat, jarhu wa ta'dil, sabab wurudil hadits, ilmu mukhtaliful/musykilul hadits. Singkatnya ilmu riwaayah dan diraayatul hadits. Selnjutnya ilmu-terkait seperti 'ulumul qur'an. Tetapi yang paling penting adalah paham bahasa Arab dan ilmu terkait dengan ini.

Hal yang dapat membantu untuk pengujian ini adalah pendapat para ulama yang berkompeten dalam bidang tafsir dan hadits. Terkadang memang bisa juga diketahui dari periwayat sendiri. Tujuannya bagi pengkaji adalah sebagai bahan pertimbangan dan informasi tentang masalah yang ingin dipastikan kedudukannya.

Sebagai kata kunci dalam bahasan ini adalah kajian, syadz dan mahfuzh. Dalam hal ini adalah terkait dengan kedudukan atau kualitas hadits hadits.

I. TENTANG HARI PERMULAAN PENCIPTAAN
(penciptaan alam "sabtu - jum'at" 7 hari atau 6 hari)

حَدَّثَنِي سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَا حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَقَالَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ حَدَّثَنَا الْبِسْطَامِيُّ وَهُوَ الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى وَسَهْلُ بْنُ عَمَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ ابْنُ بِنْتِ حَفْصٍ وَغَيْرُهُمْ عَنْ حَجَّاجٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ. (رواه مسلم؛ ٤٩٩٧ - صحيح)

Telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus dan Harun bin 'Abdullah mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dia berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Umayyah dari Ayyub bin Khalid dari 'Abdullah bin Rafi' -budak- Ummu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangannya, lalu beliau bersabda: 'Allah Azza wa Jalla menjadikan tanah pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad, menumbuhkan pohon-pohon pada hari Senin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Kamis, dan menjadikan Adam 'Alaihis Salam pada hari Jum'at setelah ashar, yang merupakan penciptaan paling akhir yaitu saat-saat terakhir di hari jum'at antara waktu ashar hingga malam." (HR. Muslim: 4997 - shahih dari Abu Hurairah). Lihat juga Ahmad: 7991 - shahih dari Abu Hurairah.

Para periwayat:
1. 'Abdur Rahman bin Shakr, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
2. 'Abdullah bin Rafi', ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Rafi' negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: al 'Ajli, Abu Zur'ah, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, adz Dzahabi berkata, "mereka men-tsiqahkannya. Begitu juga Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat.
3. Ayyub bin Khalid bin Syafwan, ia tabi'ul atba' kalangan tua negeri hidup Madinah. Al Azdi menilainya laisa haditsuhu bidzaak dan Ibnu Hibban men-tsiqahkannya.
4. Isma'il bin Umayyah bin 'Amru bin Sa'id bin al 'Ash, ia tabi'in tidak jumpa shahabat negeri hidup Marur Rawdz wafat tahun 144 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat dan adz Dzahabi menilainya tsiqah serta Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat.
5. 'Abdul Malik bin 'Abdul 'Aziz bin Juraij, ia tabi'in tidak jumpa shahabat negeri hidup Marur Raudz dan wafat tahun 150 H. Penilaian ulama: adz Dzahabi menilainya salah satu ahli ilmu, Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat. Al 'Ajli menilainya tsiqah dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, faqih."
6. Hajjaj bin Muhammad, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Syam dan wafat tahun 206 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan Ibnu Madini menilainya tsiqah serta Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat. Adz Dzahabi menyebutnya al Hafizh.
7. Suraij bin Yunus bin Ibrahim, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu al Harits negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 235 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i menilainya laisa bihi ba's, Abu Hatim menilainya shaduq, adz Dzahabi menilainya hafizh dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah 'abid.

Lihat juga: Ahmad: 7991 - shahih dari Abu Hurairah. Tanpa Suraij bin Yunus bin Ibrahim, selebihnya adalah periwayat yang sama.

Hadits tersebut berillat karena bertentangan dengan al Qur'an dan hadits mutawatir menyebutkan bahwah penciptaan hal tersebut dalam enam hari. Diantaranya firman Allah,

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗوَلَىِٕنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَٓا اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ. (سورة هود/١١: ٧)

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Hud/11: 7).

Jalan keluarnya adalah jika periwayatnya maqbul maka hadits tersebut di-tawaqufkan atau tidak dapat dijadikan hujjah. Untuk hadits ini adalah lebih bijak di-taqaqufkan.

Hadits di atas juga dikritik oleh Yahya bin Ma'in dan al Bukhari yang jelas lebih 'alim daripada imam Muslim. Imam al Bukhari berkata, ini adalah perkataan Ka'ab al Ahbar, yang benar adalah telah ditetapkan secara mutawatir bahwa, Allah menciptakan alam semesta dalam enam hari.
Seyokyanya hari terakhir penciptaan adalah hari Kamis.

II. DUA PENYEBAB KUFUR
(contoh hadits syadz dan mahfuzh)

Sebagai contoh yang ingin penulis paparkan kali ini adalah hadits tentang dua penyebab seseorang menjadi kufur. Berikut paparannya,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ. (رواه مسلم: ١٠٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan lafazh tersebut miliknya. Dan telah menceritakan kepada kami bapakku dan Muhammad bin Ubaid semuanya dari al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada manusia ada dua hal yang menjadikan mereka kafir; mencela nasab dan meratapi mayit." (HR. Muslim: 100 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Begitu juga riwayat Ahmad: 8551, 9313 dan 10030 shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja lafazh hadits riwayat Ahmad: 8551 dan 9313 terjadi keterbalikan (maqlub) matan hadits dengan mendahulukan kalimat "meratapi mayat" (niyaahah) sebelum kalimat "mencela nasab" (ath tha'nu fin nasbi) sebagaimana lafazh berikut:

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اثْنَانِ هُمَا كُفْرٌ النِّيَاحَةُ وَالطَّعْنُ فِي النَّسَبِ. (رواه أحمد: ٨٥٥١)

Telah menceritakan kepada kami Aswad berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Dua perkara dari kekafiran adalah meratapi mayat dan mencela nasab." (HR. Ahmad: 8551 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثِنْتَانِ هُمَا بِالنَّاسِ كُفْرٌ نِيَاحَةٌ عَلَى الْمَيِّتِ وَطَعْنٌ فِي النَّسَبِ. (رواه أحمد: ٩٣١٣)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Al A 'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Dua perkara dari kekafiran yang dilakukan oleh orang-orang adalah meratapi mayat dan mencela nasab." (HR. Ahmad: 9313 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: pada keempat sanad hadits tersebut terdapat periwayat bernama Sulaiman bin Mihran yang dililai yudallis dan tsiqah hafizh oleh Ibnu Hajar. Disamping para ulama kritikus hadits menilainya tsiqah. Al 'Ali dan an Nasa'i menilainya tsiqah tsabat, Abu Hatim berkomentar tsiqah hadits dijadikan hujjah. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat.
Karena matannya terbalik atau menyalahi riwayat yang diriwayat oleh orang lebih tsiqah dari Ahmad, maka dua hadits terakhir dikategorikan syadz. Dan hadits riwayat Muslim: 100 dan Ahmad: 10030 dikatakan mahfuzh atau terjaga (matannya), dan lafazhnya sama. Wallahu a'lam bish Shawaab.

III. SHALAT TIDAK DAPAT DIPUTUS OLEH SUATU APA PUN (contoh hadits syadz dan mahfuzh)

HADITS SYADZ

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ وَهِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ
قُلْتُ لِجَابِرِ بْنِ زَيْدٍ مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ قَالَ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ الْمَرْأَةُ الْحَائِضُ وَالْكَلْبُ
قَالَ يَحْيَى رَفَعَهُ شُعْبَةُ. (رواه النسائي: ٧٤٣)

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syu'bah dan Hisyam dari Qatadah dia berkata; aku bertanya kepada Jabir bin Zaid apa yang bisa memutus shalat? Dia menjawab, Ibnu Abbas pernah berkata; yang bisa memutus shalat adalah perempuan yang haid dan anjing. Yahya berkata; Hadis ini telah dimarfu'-kan oleh Syu'bah. (HR. An Nasa'i: 743 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

HADITS MAHFUZH

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ ح قَالَ الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي مُسْلِمٌ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ
ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ. (رواه البخاري: ٤٨٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh bin 'Iyats berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah. (dalam jalur lain disebutkan) Al A'masy berkata, telah menceritakan kepadaku Muslim dari Masruq dari 'Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat; anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, "Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sedangkan aku berbaring di atas ranjang antara beliau dan arah kiblatnya. Sehingga ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau." (HR. Al Bukhari: 484 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Lihat juga: al Bukhari: 5804, Muslim: 791 dan 794, Ahmad: 23024 dan An Nasa'i: 751 - shahih dari 'Aisyah.

Begitu juga hadits dari 'Urwah bin Az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bi Qu, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Hadits dimaksud sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ عُرْوَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَعَائِشَةُ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى الْفِرَاشِ الَّذِي يَنَامَانِ عَلَيْهِ. (رواه البخاري: ٣٧١)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari 'Irak dari 'Urwah, bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang shalat, 'Aisyah berbaring antara beliau dengan arah kiblatnya, di atas tempat tidur yang digunakan untuk tidur keduanya." (HR. Al Bukhari: 371 - shahih dari 'Urwah bin az Zubair)

Catatan: hadits terkait dengan ini dalam ensiklopedi hadits 9 imam sebanyak 17 buah.

SIMAKLAH RIWAYAT BERIKUT:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ عَقِيلِ بْنِ جَابِرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ
فِيمَا يَذْكُرُ مِنْ اجْتِهَادِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِبَادَةِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي مَوْضِعٍ آخَرَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ مِنْ نَجْدٍ فَأَصَابَ امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِلَى نَجْدٍ فَغَشِينَا دَارًا مِنْ دُورِ الْمُشْرِكِينَ قَالَ فَأَصَبْنَا امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْهُمْ قَالَ ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاجِعًا وَجَاءَ صَاحِبُهَا وَكَانَ غَائِبًا فَذُكِرَ لَهُ مُصَابُهَا فَحَلَفَ لَا يَرْجِعُ حَتَّى يُهْرِيقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمًا قَالَ فَلَمَّا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ الطَّرِيقِ نَزَلَ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ وَقَالَ مَنْ رَجُلَانِ يَكْلَآَنَا فِي لَيْلَتِنَا هَذِهِ مِنْ عَدُوِّنَا قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ نَحْنُ نَكْلَؤُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَخَرَجَا إِلَى فَمِ الشِّعْبِ دُونَ الْعَسْكَرِ ثُمَّ قَالَ الْأَنْصَارِيُّ لِلْمُهَاجِرِيِّ أَتَكْفِينِي أَوَّلَ اللَّيْلِ وَأَكْفِيكَ آخِرَهُ أَمْ تَكْفِينِي آخِرَهُ وَأَكْفِيكَ أَوَّلَهُ قَالَ فَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ بَلْ اكْفِنِي أَوَّلَهُ وَأَكْفِيكَ آخِرَهُ فَنَامَ الْمُهَاجِرِيُّ وَقَامَ الْأَنْصَارِيُّ يُصَلِّي قَالَ فَافْتَتَحَ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ فَبَيْنَا هُوَ فِيهَا يَقْرَأُ إِذْ جَاءَ زَوْجُ الْمَرْأَةِ قَالَ فَلَمَّا رَأَى الرَّجُلَ قَائِمًا عَرَفَ أَنَّهُ رَبِيئَةُ الْقَوْمِ فَيَنْتَزِعُ لَهُ بِسَهْمٍ فَيَضَعُهُ فِيهِ قَالَ فَيَنْزِعُهُ فَيَضَعُهُ وَهُوَ قَائِمٌ يَقْرَأُ فِي السُّورَةِ الَّتِي هُوَ فِيهَا وَلَمْ يَتَحَرَّكْ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَقْطَعَهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ لَهُ زَوْجُ الْمَرْأَةِ بِسَهْمٍ آخَرَ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَانْتَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي وَلَمْ يَتَحَرَّكْ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَقْطَعَهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ لَهُ زَوْجُ الْمَرْأَةِ الثَّالِثَةَ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَانْتَزَعَهُ فَوَضَعَهُ ثُمَّ رَكَعَ فَسَجَدَ ثُمَّ قَالَ لِصَاحِبِهِ اقْعُدْ فَقَدْ أُوتِيتُ قَالَ فَجَلَسَ الْمُهَاجِرِيُّ فَلَمَّا رَآهُمَا صَاحِبُ الْمَرْأَةِ هَرَبَ وَعَرَفَ أَنَّهُ قَدْ نُذِرَ بِهِ قَالَ وَإِذَا الْأَنْصَارِيُّ يَمُوجُ دَمًا مِنْ رَمْيَاتِ صَاحِبِ الْمَرْأَةِ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَخُوهُ الْمُهَاجِرِيُّ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَلَا كُنْتَ آذَنْتَنِي أَوَّلَ مَا رَمَاكَ قَالَ فَقَالَ كُنْتُ فِي سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَدْ افْتَتَحْتُهَا أُصَلِّي بِهَا فَكَرِهْتُ أَنْ أَقْطَعَهَا وَايْمُ اللَّهِ لَوْلَا أَنْ أُضَيِّعَ ثَغْرًا أَمَرَنِي بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِهِ لَقَطَعَ نَفْسِي قَبْلَ أَنْ أَقْطَعَهَا. (رواه أحمد: ١٤٣٣٦)

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq Telah menceritakan kepada ku Shadaqah bin Yasar dari 'Aqil bin Jabir dari Jabir bin Abdullah Al Anshari tentang kesungguhan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ibadah. (Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma) berkata; kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, --Pada tempat yang lain dengan redaksi-- kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu peperangan melawan Najid, dan kami dapatkan salah seorang wanita dari kaum musyrik sampai di Najid, lalu kami mendatangi salah satu rumah kaum musyrikin. Kami mendapatkan salah seorang istri dari mereka. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dan datanglah suami wanita tersebut yang tadinya tidak ada. Kemudian disebutkan musibah yang menimpa istrinya lalu dia bersumpah untuk tidak pulang sehingga dapat menumpahkan darah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah melewati beberapa perjalanannya, beliau beristirahat pada sebuah bukit dan bertanya: siapakah dua orang yang akan menjaga kami pada malam ini dari serangan musuh? Maka ada seorang laki-laki dari Muhajirin dan seorang laki-laki dari Anshar berkata; kami wahai Rasulullah! mereka turun ke mulut bukit di bawah para tentara, kemudian orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin, apakah kamu akan menjagaku pada awal malam dan saya pada akhirnya atau kamu menjaga saya pada akhir malam dan saya menjagamu pada awalnya? lalu orang Muhajirin berkata; jagalah pada awalnya dan saya akan menjagamu pada malamnya. Lalu orang Muhajirin tidur sedangkan orang Anshar berdiri dan shalat. Dia membuka bacaan salah satu surat dalam Al Qur'an, maka tatkala dia sedang di tengah-tengah bacaannya maka datanglah suami wanita tadi. Tatkala dia melihat ada laki-laki yang sedang berdiri dia mengetahui itu adalah penjaga pasukan. Maka dia memanahnya dan (orang Anshar tersebut) mencabutnya, dia memanahnya lagi dan dicabutnya lagi dan orang tersebut tetap berdiri dan melanjutkan bacaannya dan tidak menghentikan karena takut dapat memutusnya. Suami wanita tersebut kembali lagi memanahnya dan dicabut lagi dan dia tetap dalam keadaan berdiri shalat dan melanjutkan bacaannya dan tidak menghentikan karena takut dapat memutusnya, kembali lagi suami wanita itu untuk ketiga kalinya memanahnya namun dicabutnya lagi kemudian ruku' dan sujud kemudian berkata kepada sahabatnya, duduklah, saya telah didatangi musuh, lalu orang Muhajirin itu duduk. Ketika laki-laki itu melihat keduanya, dia kabur dan tahu bahwa mereka telah diberi peringatan. orang Anshar tersebut mengeluarkan darah dari lemparan suami wanita tadi. Jabir berkata; lalu saudaranya, orang Muhajirin berkata; semoga Allah mengampunimu, kenapa kamu tidak memanggilku saat pertama kali kamu terkena panah, maka (orang Anshar) berkata; saya sedang membaca sebuah surat al Qur'an, dan saya telah membukanya dalam shalat tersebut dan saya tidak suka jika harus memutusnya, Demi Allah kalau bukan karena saya takut kacaunya perbatasan yang saya diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjaganya, niscaya dia akan memutus nyawaku sebelum saya memutus bacaanku". (HR. Ahmad: 14336 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

HADITS DHA'IF TENTANG INI

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُعَلَّى الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ الْعُرَنِيُّ قَالَ
ذُكِرَ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ قَالَ بِئْسَمَا عَدَلْتُمْ بِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ كَلْبًا وَحِمَارًا لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَقْبَلْتُ عَلَى حِمَارٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ حَتَّى إِذَا كُنْتُ قَرِيبًا مِنْهُ مُسْتَقْبِلَهُ نَزَلْتُ عَنْهُ وَخَلَّيْتُ عَنْهُ وَدَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاتِهِ فَمَا أَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ وَلَا نَهَانِي عَمَّا صَنَعْتُ وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَجَاءَتْ وَلِيدَةٌ تَخَلَّلُ الصُّفُوفَ حَتَّى عَاذَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ وَلَا نَهَاهَا عَمَّا صَنَعَتْ وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي مَسْجِدٍ فَخَرَجَ جَدْيٌ مِنْ بَعْضِ حُجُرَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَهَبَ يَجْتَازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَنَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَفَلَا تَقُولُونَ الْجَدْيُ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ. (رواه أحمد: ٢١١٢)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ashim telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mu'ali Al 'Athar telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Urani berkata; disebutkan dari Ibnu Abbas; bahwa shalat akan terputus dengan lewatnya anjing, keledai dan wanita. Ia berkata; "Alangkah buruknya kalian menyamakan perempuan muslimah dengan anjing dan keledai. Aku telah mengambil kesimpulan; bahwa aku datang dengan naik keledai sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama orang-orang, sehingga ketika aku berada dekat tempat kiblatnya aku turun dan berjalan mamasuki shaf shalat lalu aku shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang apa yang aku perbuat. Pernah pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama orang-orang, ketika itu datang seorang budak wanita masuk melewati shaf shalat sampai di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang tindakannya itu. Serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah shalat di masjid lalu keluarlah anak kambing dari salah satu kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan pergi melewati depan beliau maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mencegahnya." Ibnu Abbas berkata; "Mengapa kalian tidak mengatakan anak kambing itu memutus shalat?." (HR. Ahmad: 2112 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim)

Catatan:

Periwayat terputus setelah Ibnu 'Abbas dan 'Ali bin 'Ashim bin Suhaib, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Haity dan wafat tahun 201 H. Penilaian ulama: adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya", al 'Ajli menilainya tsiqah, al Bukhari menilainya laisa bi qawi dan Ibnu Hajar menilainya shaduq "terdapat kesalahan".

Apalagi hadits dha'if berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ التَّنُوخِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا مَوْلًى لِيَزِيدَ بْنِ نِمْرَانَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ نِمْرَانَ قَالَ
لَقِيتُ رَجُلًا مُقْعَدًا شَوَّالًا فَسَأَلْتُهُ قَالَ مَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَتَانٍ أَوْ حِمَارٍ فَقَالَ قَطَعَ عَلَيْنَا صَلَاتَنَا قَطَعَ اللَّهُ أَثَرَهُ فَأُقْعِدَ. (رواه أحمد: ١٦٠١٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Sa'id bin Abdul Aziz At-Tanukhi berkata; telah menceritakan kepada kami budak milik Yazid bin Nimran berkata; telah menceritakan kepadaku Yazid bin Nimran berkata; saya pernah bertemu seseorang yang hanya bisa duduk di tempatnya, lalu saya bertanya kepadanya. Dia lantas menceritakan suatu peristiwa, 'Saya pernah lewat di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (ketika beliau shalat) dan saya saat itu menunggang keledai betina atau keledai-si perawi tidak ingat, lalu beliau bersabda: "Dia telah memutus shalat kami semoga Allah memutus nama baiknya setelah meninggal, dan jadikanlah ia hanya bisa duduk." (HR. Ahmad: 16013 - dha'if dari periwayat tidak diketahui)

Para periwayat:

1. Nama tidak diketahui
2. Yazid bin Nimran bin Yazid, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat", Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah.
3. Sa'id [maula Yazid bin Nimran], ia tabi'in [tidak jumpa shahabat]. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat", adz Dzahabi menilainya dimajhulkan, Ibnu Hajar dan Abu Hatim menilainya majhul.
4. Sa'id bin 'Abdul 'Aziz bin Abi Yahya, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Syam dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id, al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah imam.
5. Adhdhahak bin Makhlad bin Adhdhahak bin Muslim, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kunitahnya Abu 'Ashim negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 212 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, sedangkan adz Dzahabi menilainya al Hadizh.

Selanjutnya Abu Daud meriwayatkan hadits berikut dan penjelasannya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
أَحْسَبُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى غَيْرِ سُتْرَةٍ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْخِنْزِيرُ وَالْيَهُودِيُّ وَالْمَجُوسِيُّ وَالْمَرْأَةُ وَيُجْزِئُ عَنْهُ إِذَا مَرُّوا بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى قَذْفَةٍ بِحَجَرٍ
قَالَ أَبُو دَاوُد فِي نَفْسِي مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ شَيْءٌ كُنْتُ أُذَاكِرُ بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَغَيْرَهُ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا جَاءَ بِهِ عَنْ هِشَامٍ وَلَا يَعْرِفُهُ وَلَمْ أَرَ أَحَدًا يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ هِشَامٍ وَأَحْسَبُ الْوَهْمَ مِنْ ابْنِ أَبِي سَمِينَةَ يَعْنِي مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَعِيلَ الْبَصْرِيَّ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ وَالْمُنْكَرُ فِيهِ ذِكْرُ الْمَجُوسِيِّ وَفِيهِ عَلَى قَذْفَةٍ بِحَجَرٍ وَذِكْرُ الْخِنْزِيرِ وَفِيهِ نَكَارَةٌ قَالَ أَبُو دَاوُد وَلَمْ أَسْمَعْ هَذَا الْحَدِيثَ إِلَّا مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي سَمِينَةَ وَأَحْسَبُهُ وَهِمَ لِأَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُنَا مِنْ حِفْظِهِ. (رواه أبوداود: ٦٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il bekas budak Bani Hasyim Al Bashri, telah menceritakan kepada kami Mu'adz telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari 'Ikrimah dari Ibnu Abbas dia berkata; saya kira (hadits ini) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian shalat tanpa ada sutrah (pembatas), maka anjing, keledai, babi, orang Yahudi dan wanita dapat memutuskan shalatnya (apabila lewat di depannya), dan cukuplah baginya (apabila mereka hendak lewat di hadapannya) untuk melempar dengan batu." Abu Daud mengatakan; "Menurutku hadits ini ada masalah, ketika aku menyebutkan hadits tersebut kepada Ibrahim, maka ia tidak pernah tahu seorang pun yang datang (meriwayatkan) dari Hisyam dan dia juga tidak mengetahuinya, begitu juga aku tidak pernah melihat seorang pun yang pernah meriwayatkan dari Hisyam, saya kira Ibnu Abu Saminah yaitu Muhammad bin Isma'il Al Bashri bekas budak Bani Hasyim, terdapat keraguan (dalam riwayatnya) dan kemungkaran, karena ia menyebutkan; "Orang Majusi" dan "Melemparnya dengan batu" (dalam riwayatnya pula) dia menyebutkan "babi" sehingga (riwayatnya) munkar, Abu Daud berkata; "Aku tidak pernah mendengar hadits ini kecuali dari Muhammad bin Isma'il bin Abu Saminah, dan saya kira dia banyak keraguan karena dia meriwayatkan kepada kami dari hafalannya sendiri." (HR. Abu Daud: 604 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Majusiy adalah agama orang Persia, sebagaimana diungkapkan riwayat berikut:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عِمْرَانَ الْقَطَّانِ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
إِنَّ أَهْلَ فَارِسَ لَمَّا مَاتَ نَبِيُّهُمْ كَتَبَ لَهُمْ إِبْلِيسُ الْمَجُوسِيَّةَ. (رواه أبوداود: ٢٦٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan Al Wasithi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bilal, dari Imran Al Qaththan dari Abu Jamrah, dari Ibnu Abbas; ia berkata; sesungguhnya penduduk Persia tatkala Nabi mereka meninggal maka Iblis menjadikan Al Majusiyyah sebagai pengganti agama nabi mereka. (HR. Abu Daud: 2645 - hasanul isnad mauquf [menurut al Albani] dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Wallaahu a'lam bish Shawaab.
Billahit taufiq wal hidaayah,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]