PENYEBAB WABAH ATAU FITNAH DATANG
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Imam Ibnu Majah meriwayatkan satu hadits dalam sunannya, pada kitab fitnah dalam bab sanksi-sanksi. Terdapat lima penyebab datangnya cobaan bagi kaum muslimin. sebagaimana hadits berikut:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ. (رواه إبن ماجه: ٤٠٠٩)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khalid Ad Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrahman Abu Ayyub dari Ibnu Abu Malik dari Ayahnya dari 'Atha bin Abu Rabah dari Abdullah bin Umar dia berkata, "Rasulullah ﷺ menghadapkan wajahnya ke kami dan bersabda, "Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya;
1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha'un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zalim.
3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan.
4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
5. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka." (HR. Ibnu Majah: 4009 - hasan dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Catatan: pada sanad hadits riwayat Ibnu Majah: 4009, terdapat periwayat yang bernama Khalid bin Yazid bin 'Abdur Rahman, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Hasyim negeri hidup Syam dan wafat tahun 185 H. Penilaian ulama: ad Daruquthni, Abu Daud, Ya'qub bin Sufyan dan as Saji menilainya dha'if. Sementara Ibnu Hajar berkomentar, "dha'if walau ahli fiqih" dan adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkan. Al 'Uqaili menyebutkan, "disebutkan dalam adh dhu'afa'". Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa dan an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan periwayat yang lainnya maqbul, al Albani menilai hadits ini sebagai hadits hasan.
Selanjutnya,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَعْنُ بْنُ عِيسَى عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ حَاتِمِ بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمْ الْأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ. (رواه إبن ماجه: ٤٠١٠)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ma'n bin Isa dari Mu'awiyah bin Shalih dari Hatim bin Huraits dari Malik bin Abu Maryam dari Abdurrahman bin Ghanm Al Asy'ari dari Abu Malik Al Asy'ari dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, sebagian dari umatku akan meminum khamer yang mereka namai dengan selain namanya, akan bernyanyi dengan para biduan disertai dengan alat musik. Allah akan menutupi kehidupan mereka dan akan menjadikan sebagian mereka kera dan babi." (HR. Ibnu Majah: 4010 - shahih dari Abu Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Malik negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)
Begitu juga hadits riwayat Abu Daud: 3203, sedangkan hadits ke 3204,
قَالَ أَبُو دَاوُد حَدَّثَنَا شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ وَاسِطٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مَنْصُورٍ الْحَارِثُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ سَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ وَسُئِلَ عَنْ الدَّاذِيِّ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا قَالَ أَبُو دَاوُد و قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ الدَّاذِيُّ شَرَابُ الْفَاسِقِينَ. (رواه أبوداود: ٣٢٠٤)
Abu Daud berkata; telah menceritakan kepada kami seorang syaikh dari Wasith ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Manshur Al Harits bin Manshur ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats Tsauri ia ditanya mengenai dadzi (biji yang diletakkan pada air perasan hingga mengeras dan memabukkan), kemudian ia menjawab, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh akan ada beberapa orang dari umatku yang minum khamer, mereka menamakannya dengan selain namanya." Abu Daud berkata, "Sufyan Ats Tsauri berkata, "Dadzi adalah minuman orang-orang fasik." (HR. Abu Daud: 3204 - shahih [menurut al Albani] dari Sufyan bin Sa'id bin Masruq, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 161 H. Penilaian ulama: Malik bin Anas dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya tsiqah, tsiqah hafizh faqih, imam dan 'abid. Sedangkan adz Dzahabi menilainya imam. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "termasuk dari para huffazh mutqin".
Demikian juga riwayat an Nasa'i: 5564 - shahih [menurut al Albani] dari shahabat [tidak diketahui], Ibnu Majah: 3376 - shahih dari 'Ubadah bin ash Shamit bin Qais, ia shahabat kuniyahnya Abu al Walid negeri hidup Madinah dan wafat tahun 34 H.
Ingatlah beberapa firman Allah berikut:
Berdo'alah sebagaimana diajarkan oleh Allah dalam firman-Nya,
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. (سورة الممتحنة/٦٠: ٥)
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al Mumtahanah/60: 5)
اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (سورة التغابن/٦٤: ١٥)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar. (QS. At Taghaabun/64: 15)
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. (سورة التغابن/٦٤: ١٦)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At Taghaabun/64: 16)
اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌۙ. (سورة التغابن/٦٤: ١٧)
Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun. (QS. At Taghaabun/64: 17)
عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. (سورة التغابن/٦٤: ١٨)
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. At Taghaabun/64: 18)
Menyimak dari paparan di atas dapat dipahami bahwa fitnah dan wabah muncul disebabkan karena perbuatan dan tabi'at manusia sendiri. Sehingga melakukan perbuatan-perbuatan keji dengan berbagai jenisnya dari perzinaan, tabarruj (memamerkan keindahan dan kecantikan), as-sufuur (menanggalkan hijab), musik, khamar, dan menampakannya serta menyebarkannya secara terang-terangan termasuk diantara sebab-sebab merajalelanya serta menyebarnya berbagai penyakit."
Begitulah Islam mengajarkan umatnya agar selalu mawasdiri dari segala kemungkinan munculnya fitnah. Saling mengingatkan terhadap kebaikan dan bergandeng tangan untuk mencegah dan memberantasnya.
Wallaahu a'lam bish Shawaab.
Billaahit taufiq wal hidaayah,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏