“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


ZAKAT PROFESI
(ditinjau dari perspektif al Qur'an dan al Hadits)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Zakat merupakan bukti nyata ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan bentuk solidaritas sosial (al-takaful al-ijtima’i). Secara syari'at, zakat merupakan rukun Islam kelima dan mempunyai fungsi sangat penting. Al-Qur'an mengungkapkan kewajiban zakat bersamaan dengan kewajiban shalat sebanyak 82 (delapan puluh dua) tempat dalam ayat dan surat berbeda. Dalam ajaran Islam dikenal dua bentuk zakat yaitu zakal harta (mal) dan zakat diri (fitrah). Pada kesempatan kali ini penulis ingin memaparkan bagian dari zakat mal yaitu zakat profesi (jasa/keahlian).

Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari sumber usaha profesi. Istilah profesi, disebut sebagai profession dalam bahasa ‎inggris, yang dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan tetap dengan keahlian ‎tertentu, yang dapat menghasilkan gaji, honor, upah, atau imbalan. Persoalan zakat profesi adalah persoalan ijtihadi, yang dikaji dengan seksama berdasarkan hukum syari'at dengan memperhatikan hikmah zakat dan dalil-dalil syar'iy yang berkaitan dengan masalah zakat, infaq dan shadaqah. Dasar kewajiban zakat profesi secara eksplisit hanya terdapat dalam QS. Al Baqarah/2: 267 berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٦٨)

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (QS. Al Baqarah/2: 267)

Ayat di atas menjelaskan ada dua kategori harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, yaitu hasil usaha (al kasbu) dan hasil bumi. Al Qur'an tidak menyebutkan atau merinci jenis hasil usaha atau hasil pertanian yang wajib dizakatkan. Hal itu menunjukan bahwa ayat tersebut berlaku umum, apapun jenis usaha dan pertanian yang halal dan baik wajib dikeluarkan zakatnya.

Imam at Tirmidzi dalam sunannya meriwayat hadits tentang sababun nuzul ayat tersebut sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ السُّدِّيِّ عَنْ أَبِي مَالِكٍ عَنْ الْبَرَاءِ { وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ } قَالَ نَزَلَتْ فِينَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ كُنَّا أَصْحَابَ نَخْلٍ فَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي مِنْ نَخْلِهِ عَلَى قَدْرِ كَثْرَتِهِ وَقِلَّتِهِ وَكَانَ الرَّجُلُ يَأْتِي بِالْقِنْوِ وَالْقِنْوَيْنِ فَيُعَلِّقُهُ فِي الْمَسْجِدِ وَكَانَ أَهْلُ الصُّفَّة لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ إِذَا جَاعَ أَتَى الْقِنْوَ فَضَرَبَهُ بِعَصَاهُ فَيَسْقُطُ مِنْ الْبُسْرِ وَالتَّمْرِ فَيَأْكُلُ وَكَانَ نَاسٌ مِمَّنْ لَا يَرْغَبُ فِي الْخَيْرِ يَأْتِي الرَّجُلُ بِالْقِنْوِ فِيهِ الشِّيصُ وَالْحَشَفُ وَبِالْقِنْوِ قَدْ انْكَسَرَ فَيُعَلِّقُهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنْ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ } قَالَ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أُهْدِيَ إِلَيْهِ مِثْلُ مَا أَعْطَاهُ لَمْ يَأْخُذْهُ إِلَّا عَلَى إِغْمَاضٍ أَوْ حَيَاءٍ قَالَ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ يَأْتِي أَحَدُنَا بِصَالِحِ مَا عِنْدَهُ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ وَأَبُو مَالِكٍ هُوَ الْغِفَارِيُّ وَيُقَالُ اسْمُهُ غَزْوَانُ وَقَدْ رَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ السُّدِّيِّ شَيْئًا مِنْ هَذَا. (رواه الترمذي: ٢٩١٣)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Isra`il dari As Suddi dari Abu Malik dari Al Barra` "Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya." QS. Al-Baqarah/2: 267, Al Barra` berkata, "Ayat ini turun kepada kami wahai orang-orang Anshar, dahulu kami adalah pemilik kurma, setiap orang datang membawa hasil kurmanya sesuai banyak sedikitnya, seseorang datang membawa setangkai atau dua tangkai lalu menggantungkannya di masjid, sementara penghuni halaman masjid (ahlush shuffah) tidak memiliki makanan, jika salah seorang dari mereka merasa lapar, mereka datang ke tangkai-tangkai kurma dan memukulnya dengan tongkat hingga busr (kurma muda) dan kurma berjatuhan, lalu mereka memakannya, sedangkan orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan, datang dengan membawa satu tangkai kurma yang keras lagi jelek dan satu tangkai yang sudah rusak, kemudian digantungkan di masjid, maka Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan ayat, "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya." (QS. Al-Baqarah/2: 267). Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya salah seorang dari kalian diberi seperti yang diberikan kepada orang lain, niscaya dia tidak akan mengambilnya kecuali dengan memejamkan matanya atau dengan rasa malu, " Al Barra` berkata, "Setelah itu, setiap orang dari kami datang dengan membawa kurma paling bagus yang ia miliki."

Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib shahih. Abu Malik adalah Al Ghifari (dari penduduk Ghifar) dan dinamakan juga Ghazwan. Sufyan Ats Tsauri telah meriwayatkan sebagian hadits ini dari As Suddi. (HR. At Tirmidzi: 2913 - shahih dari al Barra' bin bin 'Azib bin al Harits, ia shahabat kunoyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H)

Pertanyaannya, apa yang akan diinfakkan/zakatkan? Berapa kadarnya?. Hal ini diberitahukan oleh Allah dalam al Qur'an sebagai berikut:

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢١٥)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah/2: 215)

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢١٩)

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (QS. Al Baqarah/2: 219)

Infaq yang dikeluarkan tersebut, sebagaimana yang disinggung dalam ayat di atas adalah kelebihan setelah dikeluarkan untuk kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan dan papan. Diluar dari hal tersebut adalah kewajiban lain yaitu utang. Ayat-ayat terkait dengan utang dan membayarnya dikaitkan dengan warisan, sebelum dibayar utang si mayit harta warisannya belum bisa dibagikan kepada ahli waris (QS. An Nisa'/4: 11-12). Artinya, hutang adalah kewajiban dunia dan akhirat, sedangkan kebutuhan pokok adalah hal yang wajib terpenuhi di dunia.

PERBANYAKLAH BERSEDEKAH

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَدَّقُوا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي دِينَارٌ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ أَنْتَ أَبْصَرُ. (رواه النسائي: ٢٤ه٨)

Telah mengabarkan kepada kami 'Amru bin 'Ali dan Muhammad bin Al Mutsanna dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu 'Ajlan dari Sa'id dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersedekahlah kalian", lalu seseorang berkata ya Rasulullah aku hanya memiliki satu dinar, beliau menjawab, "Bersedekahlah dengannya untuk dirimu, " ia berkata aku mempunyai yang lain, beliau bersabda, "Bersedekahlah untuk istrimu, " ia berkata aku mempunyai yang lain, beliau bersabda, "Bersedekahlah untuk anakmu, " ia berkata aku memiliki yang lain, beliau bersabda, "Bersedekahlah untuk pembantumu, " ia berkata aku memiliki yang lain, beliau bersabda, "Engkau lebih tahu yang berhak engkau beri." (HR. An Nasa'i: 2488 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Begitu juga hadits riwayat Abu Daud: 1441 [hasan menurut al Albani], Ahmad: 7112 dan 9705 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Pada kesempatan lain, yaitu pada saat pelaksaan jumatan beliau juga pernah memerintahkan untuk bersedekah,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ حَدَّثَنَا عِيَاضٌ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَدَعَاهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ الْجُمُعَةَ الثَّانِيَةَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَدَعَاهُ فَأَمَرَهُ ثُمَّ دَخَلَ الْجُمُعَةَ الثَّالِثَةَ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ تَصَدَّقُوا فَفَعَلُوا فَأَعْطَاهُ ثَوْبَيْنِ مِمَّا تَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ تَصَدَّقُوا فَأَلْقَى أَحَدَ ثَوْبَيْهِ فَانْتَهَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَرِهَ مَا صَنَعَ ثُمَّ قَالَ انْظُرُوا إِلَى هَذَا فَإِنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي هَيْئَةٍ بَذَّةٍ فَدَعَوْتُهُ فَرَجَوْتُ أَنْ تُعْطُوا لَهُ فَتَصَدَّقُوا عَلَيْهِ وَتَكْسُوهُ فَلَمْ تَفْعَلُوا فَقُلْتُ تَصَدَّقُوا فَتَصَدَّقُوا فَأَعْطَيْتُهُ ثَوْبَيْنِ مِمَّا تَصَدَّقُوا ثُمَّ قُلْتُ تَصَدَّقُوا فَأَلْقَى أَحَدَ ثَوْبَيْهِ خُذْ ثَوْبَكَ وَانْتَهَرَهُ. (رواه أحمد: ١٠٧٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa 'id dari Ibnu 'Ajlan berkata; telah menceritakan kepada kami Iyadh dari Abu Sa 'id ia berkata, "Pada hari Jumat seorang lelaki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah ﷺ di atas mimbar, lalu beliau memanggil dan menyuruhnya shalat dua rakaat. Kemudian ketika ia masuk ke dalam masjid pada Jumat kedua dan Rasulullah ﷺ ada di atas mimbar, beliau memanggil dan menyuruhnya shalat dua rakaat. Kemudian ketika ia masuk ke dalam masjid pada Jumat ketiga dan Rasulullah ﷺ ada di atas mimbar, beliau memanggil dan menyuruhnya shalat dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, "Bersedekahlah kalian, " lalu mereka pun melakukannya, beliau kemudian memberikan kepada orang tersebut dua lembar kain dari apa yang para sahabat sedekahkan. Setelah itu beliau bersabda lagi, "Bersedekahlah kalian, " lalu orang tersebut melemparkan salah satu kain miliknya sehingga Rasulullah ﷺ menghardiknya karena tidak suka dengan apa yang ia perbuat. Beliau lalu bersabda, "Lihatlah kepada laki-laki ini, sesungguhnya ia masuk ke dalam masjid dalam keadaan kotor, lalu aku panggil dia dan aku berharap agar kalian bisa memberikan kepadanya lalu kalian pun bersedekah kepadanya, dan agar kalian memberikan pakaian kepadanya tetapi kalian tidak melakukannya, lalu aku katakan kepada kalian, "Bersedekahlah kalian, " lalu kalian pun bersedekah. Lalu aku berikan kepadanya dua lembar kain dari yang kalian sedekahkan, setelah itu aku berkata, "Bersedekahlah kalian," lalu ia melemparkan salah satu kain miliknya, ambillah kain milikmu, " dan beliau pun menghardiknya. (HR. Ahmad: 10768 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Bersedekah bukan saja kaum laki-laki yang diperintahkan tetapi juga para perempuan. Sebagaimana sabda Beliau berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ فَيَبْدَأُ بِالصَّلَاةِ فَإِذَا صَلَّى صَلَاتَهُ وَسَلَّمَ قَامَ فَأَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ جُلُوسٌ فِي مُصَلَّاهُمْ فَإِنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ بِبَعْثٍ ذَكَرَهُ لِلنَّاسِ أَوْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ بِغَيْرِ ذَلِكَ أَمَرَهُمْ بِهَا وَكَانَ يَقُولُ تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا وَكَانَ أَكْثَرَ مَنْ يَتَصَدَّقُ النِّسَاءُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى كَانَ مَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ فَخَرَجْتُ مُخَاصِرًا مَرْوَانَ حَتَّى أَتَيْنَا الْمُصَلَّى فَإِذَا كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ قَدْ بَنَى مِنْبَرًا مِنْ طِينٍ وَلَبِنٍ فَإِذَا مَرْوَانُ يُنَازِعُنِي يَدَهُ كَأَنَّهُ يَجُرُّنِي نَحْوَ الْمِنْبَرِ وَأَنَا أَجُرُّهُ نَحْوَ الصَّلَاةِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ مِنْهُ قُلْتُ أَيْنَ الِابْتِدَاءُ بِالصَّلَاةِ فَقَالَ لَا يَا أَبَا سَعِيدٍ قَدْ تُرِكَ مَا تَعْلَمُ قُلْتُ كَلَّا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَأْتُونَ بِخَيْرٍ مِمَّا أَعْلَمُ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ انْصَرَفَ. (رواه مسلم: ١٤٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Daud bin Qais dari Iyadl bin Abdullah bin Sa'd dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya Rasulullah ﷺ ketika keluar pada hari Idul fitri dan Idul adha, beliau selalu memulainya dengan shalat. Dan jika beliau telah selesai mengerjakan shalat dan menutupnya dengan salam, beliau segera berdiri menghadap ke arah para jamaah yang sedang duduk di tempat mereka shalat. Apabila beliau memiliki suatu keperluan seperti ingin mengutus sebuah pasukan beliau mengumumkannya kepada para jamaah, atau beliau memiliki keperluan lain beliau menyuruh mereka agar mengerjakannya. Dan beliau selalu bersabda, "Bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian!." Dan orang yang paling banyak bersedekah adalah dari kalangan kaum wanita. Kemudian setelah itu beliau baru meninggalkan lapangan. Hal ini masih terus berlangsung sampai pada masa Marwan bin Al Hakam. Aku keluar dengan menggandeng Marwan hingga sampai di lapangan. Namun ternyata Katsir bin Ash Shalt telah membangun mimbar yang terbuat dari tanah dan batu bata. Dan tiba-tiba Marwan menarik tanganku seakan-akan ia menyuruhku naik ke mimbar dan memulainya dengan khutbah terlebih dahulu, dan akupun menyuruhnya untuk memulainya dengan shalat terlebih dahulu. Ketika aku melihat kejadian itu, aku berkata kepadanya, "Mulailah dengan shalat!" Namun ia menjawab, "Tidak wahai Abu Sa'id, sesuatu yang kau ketahui itu telah ditinggalkan." Aku menjawab, "Sekali-kali tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setahuku kalian tidak akan mendatangkan kebaikan sedikitpun (ia mengulangi hingga tiga kali)." Kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu. (HR. Muslim: 1472 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Begitu juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 1278, Ahmad: 10954 dan 11084 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Lebih lanjut, Imam al Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدٌ هُوَ ابْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَوَعَظَ النَّاسَ وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ تَصَدَّقُوا فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ. (رواه البخاري: ١٣٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah mengabarkan kepada saya Zaid dia adalah putra Aslam dari 'Iyadh bin 'Abdullah dari Abu Sa'id Al Khurdri radhiallahu'anhu; Rasulullah ﷺ keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat Iduladha atau Idulfitri. Setelah selesai beliau memberi nasihat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan zakat seraya bersabda, "Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakatlah) ". Kemudian beliau mendatangi jamaah wanita lalu bersabda, "Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka". Mereka bertanya, "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Kalian banyak melaknat dan mengingkari pemberian (suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita". Kemudian beliau mengakhiri khutbahnya lalu pergi. Sesampainya beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, istri Ibnu Mas'ud meminta izin kepada beliau, lalu dikatakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah ﷺ, ini adalah Zainab". Beliau bertanya, "Zainab siapa?". Dikatakan, "Zainab istri dari Ibnu Mas'ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh Anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq). Maka Nabi ﷺ bersabda, "Ibnu Mas'ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih berhak kamu berikan shadaqah daripada mereka". (HR. Al Bukhari: 1369 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah: 3993 dan Ahmad: 5091 - 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Al Bukhari: 293 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Hal di atas sejalan dengan firman Allah,

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. (قرآن شورة التوبة/٩: ٧١)

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. At Taubah/9: 71)

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ . (قرآن شورة التوبة/٩: ٧٢)

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung. (QS. At Taubah/9: 71)

Lebih lanjut Allah juga memperingatkan bahwa,

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً  ۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا. (قرآن سورة الفرقان/٢٥: ٢٠)

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat. (QS. Al Furqaan/25: 20)

۞ وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَوْ نَرٰى رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيْرًا. (قرآن سورة الفرقان/٢٥: ٢١)

Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan kezaliman). (QS. Al Furqaan/25: 21)

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلٰۤىِٕكَةَ لَا بُشْرٰى يَوْمَىِٕذٍ لِّلْمُجْرِمِيْنَ وَيَقُوْلُوْنَ حِجْرًا مَّحْجُوْرًا. (قرآن سورة الفرقان/٢٥: ٢٢)

(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka melihat para malaikat, pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, “Hijran mahjura.” (QS. Al Furqaan/25: 22)

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا. (قرآن سورة الفرقان/٢٥: ٢٣)

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al Furqaan/25: 23)

اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ يَوْمَىِٕذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَّاَحْسَنُ مَقِيْلًا. (قرآن سورة الفرقان/٢٥: ٢٤)

Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (QS. Al Furqaan/25: 24)

PENGHITUNGAN ZAKAT PROFESI

Zakat profesi diambil dari penghasilan muzakki. Seperti dari pegawai negeri/swasta yang mempunyai profesi dokter spesialis, pengacara, notaris, dosen, guru dan lain sebagainya lebih dekat diqiyaskan zakatnya dengan zakat perdagangan, karena sama-sama menjual, yang satu menjual barang (perdagangan) sedangkan yang lainya menjual jasa, dan sama-sama mengandung resiko (untung/rugi). Oleh karena itu, nisabnya sama dengan nisab emas, yaitu 84 gram emas. Jika harga satu gram emas adalah Rp. 596.000,- / gram, maka perkaliannya:

Rp. 596.000 x 84 = Rp. 50,064,000,-. Oleh karena itu apabila penghasilan seorang profesional besar atau sama dengan Rp. 50.064.000,- maka wajib mengeluarkan zakatnya setelah dipotong kewajiban (seperti pajak, hutang dll) atau kebutuhan pokok (primer) nya.

Mekanisme penghitungan zakat profesi ada dua pendapat; 1). Dihitung secara netto (bersih), setelah dipotong untuk kebutuhan pokok hidupnya dan keluarganya. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi, mazhab Maliki, dan mazhab Hambali. 2). Dihitung secara bruto(kotor), yaitu tanpa dipotong untuk kebutuhan pokok hidupnya dan keluarganya terlebih dahulu. Pendapat ini di anut oleh mazhab Syafi'i. Adapun mekanisme penghitungannya sebagai berikut:

1. Penghitungan zakat profesi secara bersih (netto) menurut mazhab Hanafi, mazhab Maliki, dan mazhab Hambali.

Contoh:

Samsurizal adalah seorang dosen di PTN golongan III/b, dan keluarganya terdiri dari suami, istri dan 2 (dua) orang anak lelaki dan perempuan.

Penghasilan setiap bulannya: 1). Gaji resmi dari PTN : Rp. 3.200.000,-. 2). Tunjangan Jabatan : Rp. 2.500.000,-. 3). Honorarium dari beberapa PTS : Rp. 2.500.000,-. Dan 4). Honorarium lain-lain : Rp. 1.500.000,-. Total pendapatan perbulan Samsurizal adalah Rp. 9.700.000,-.

Pengeluaran setiap bulan: 1). Keperluan hidup pokok keluarga Rp. 2.750.000,-. 2). Pembayaran utang Rp. 500.000,-. Dan 3). Gaji Asisten Rumah Tangga Rp. 1.500.000,-. Jadi total kewajiban Samsurizal adalah Rp. 4.750.000,-.

Penerimaan  : Rp. 9.700.000,-
Pengeluaran : Rp. 4.750.000,-
Sisa             : Rp. 4.950.000,-

Jika penghasilan bersih (netto) per bulan sebesar Rp.4.950.000,- x 12 = Rp. 59.400.000,-, Adapun zakat yang wajib dikeluarkan setiap tahunnya oleh Samsurizal sebesar Rp. 59.400.000 x 2.5%= Rp. 1.485.000,-. Jika pembayaran zakatnya dibayarkan di setiap bulannya, maka zakat yang harus dikeluarkan Samsurizal perbulannya sebesar Rp. 123.750,-.

2. Penghitungan zakat profesi secara kotor (bruto), maksudnya adalah belum dikeluarkan untuk kebutuhan hidup dan kewajiban lain. Ini di anut oleh mazhab Syafi'i (secara bruto / kotor),

Contoh:‎

Fulanah adalah seorang dokter, dan keluarganya terdiri ‎dari suami, istri dan 3 (tiga) orang anak. Penghasilan setiap bulannya:‎

1). ‎Gaji resmi dari RS Pemerintah ‎: Rp. 3.500.000,-. 2). Praktek swasta sore / malam hari  rata-rata ‎: Rp. 1.000.000,-‎. Dan 3). Honorarium kontrak dari PT X diluar jam kerja RS pemerintah sebesar : Rp. 1.500.000,-‎. Jadi total pendapatan per bulan Fulanah sebesar Rp. 6.000.000,-‎

Jika penghasilan kotor (bruto) per bulan sebanyak Rp.6.000.000,- x 12 =‎‎ Rp. 72.000.000,-. Oleh karena itu, zakat yang wajib dikeluarkan setiap tahun adalah sebesar Rp.72.000.000 x 2.5%= Rp. 1.800.000,-. Apabila zakatnya ‎dibayarkan di setiap bulan, maka zakat yang harus dikeluarkan oleh Fulanah perbulannya sebesar Rp. 150.000,-.‎

Berdasarkan uraian di atas, ternyata zakat profesi setahun cukup kecil jumlahnya. Sedangkan manfaatnya sangat besar, baik bagi diri muzakki dan keluarganya serta masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara.

Menurut penulis cara yang paling tepat adalah cara yang pertama, sejalan dengan firman Allah, " ... Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” (QS. Al Baqarah/2: 219). Penggalan ayat ini menunjukkan terjaminnya hak hidup yang layak bagi setiap muzakki (orang yang berzakat). Sedangkan opsi kedua dikhawatirkan akan terbebani dan mengurangi rasa ridhaan. Sebagaimana sabda Rasul yang penulis paparkan di bawah ini.

Alasan lain yang dapat dirujuk diantaranya adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ حَدَّثَنِي قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ حُرَيْثِ بْنِ قَبِيصَةَ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رَوَى بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَسَنِ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ حُرَيْثٍ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَالْمَشْهُورُ هُوَ قَبِيصَةُ بْنُ حُرَيْثٍ وَرُوِي عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوُ هَذَا. (رواه الترمذي: ٣٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Nashr bin Ali Al Jahdlami berkata; telah menceritakan kepada kami Sahal bin Hammad berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam berkata; telah menceritakan kepadaku Qatadah dari Al Hasan dari Huraits bin Qabishah ia berkata, "Aku datang ke Madinah, lalu aku berdoa, "Ya Allah, mudahkanlah aku untuk mendapat teman shalih." Huraits bin Qabishah berkata, "Lalu aku berteman dengan Abu Hurairah, aku kemudian berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku telah memintah kepada Allah agar memberiku rezeki seorang teman yang shalih, maka bacakanlah kepadaku hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ, semoga dengannya Allah memberiku manfaat." Maka Abu Hurairah pun berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada hari kiamat pertama kali yang akan Allah hisab atas amalan seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka ia akan beruntung dan selamat, jika shalatnya rusak maka ia akan rugi dan tidak beruntung. Jika pada amalan fardlunya ada yang kurang maka Rabb 'Azza wa Jalla berfirman, "Periksalah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?" lalu setiap amal akan diperlakukan seperti itu." Ia berkata, "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Tamim Ad Dari." Abu Isa berkata, "Hadits Abu Hurairah derajatnya hasan gharib dari sisi ini. Hadits ini telah diriwayatkan juga dari Abu Hurairah dengan jalur lain. Sebagian sahabat Al Hasan juga telah meriwayatkan hadits lain dari Al Hasan, dari Qabishah bin Huraits. Dan yang lebih terkenal adalah Qabishah bin Huraits. Hadits seperti ini juga pernah diriwayatkan dari Anas bin Hakim dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ." (HR. At Tirmidzi: 378 -  shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Imam Ahmad:: 16019, 16339 dan 16342 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dan Tamim bin 'Aus bin Kharijah bin Saud, ia shahabat kuniyahnya Abu Ruqayyah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 40 H. Lihat juga tulisan penulis tentang: PENYEMPURNA AMALAN FARDHU (amal pertama dihisab), dalam "ibnusyamsir.blogspot.com" sebagai rujukan tambahan.

HAL-HAL YANG MESTI DIPERHATIKAN DALAM MENUNAIKAN ZAKAT

1. Menentukan kadar dengan hitungan terendah

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَسْعُودِ بْنِ نِيَارٍ يَقُولُ جَاءَ سَهْلُ بْنُ أَبِي حَثْمَةَ إِلَى مَجْلِسِنَا فَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا خَرَصْتُمْ فَخُذُوا وَدَعُوا الثُّلُثَ فَإِنْ لَمْ تَدَعُوا الثُّلُثَ فَدَعُوا الرُّبُعَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَعَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَالْعَمَلُ عَلَى حَدِيثِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْخَرْصِ وَبِحَدِيثِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ وَالْخَرْصُ إِذَا أَدْرَكَتْ الثِّمَارُ مِنْ الرُّطَبِ وَالْعِنَبِ مِمَّا فِيهِ الزَّكَاةُ بَعَثَ السُّلْطَانُ خَارِصًا يَخْرُصُ عَلَيْهِمْ وَالْخَرْصُ أَنْ يَنْظُرَ مَنْ يُبْصِرُ ذَلِكَ فَيَقُولُ يَخْرُجُ مِنْ هَذَا الزَّبِيبِ كَذَا وَكَذَا وَمِنْ التَّمْرِ كَذَا وَكَذَا فَيُحْصِي عَلَيْهِمْ وَيَنْظُرُ مَبْلَغَ الْعُشْرِ مِنْ ذَلِكَ فَيُثْبِتُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يُخَلِّي بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الثِّمَارِ فَيَصْنَعُونَ مَا أَحَبُّوا فَإِذَا أَدْرَكَتْ الثِّمَارُ أُخِذَ مِنْهُمْ الْعُشْرُ هَكَذَا فَسَّرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبِهَذَا يَقُولُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ. (رواه الترمذي: ٥٨٢)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailab telah menceritakan kepada kami Abu Daud At Thayalisi telah mengabarkan kepada kami Syu'bah telah mengabarkan kepadaku Khubaib bin Abdurrahman dia berkata, saya mendengar dari Abdurrahman bin Mas'ud bin Niyar dia berkata, Sahal bin Abu Hatsmah telah datang kepada majelis kami lalu beliau bercerita, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika kalian telah menentukan kadar zakat yang harus dikeluarkan, maka ambillah dua pertiganya dan tinggalkanlah sepertiganya untuk pemiliknya, jika tidak maka seperempatnya." (hal ini dinamakan Kharsh). Dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari 'Aisyah, 'Attab bin Usaid dan Ibnu Abbas. Abu 'Isa berkata, kebanyakan para ulama mengamalkan hadits Sahal bin Abu Hatsmah dan berdasarkan hadits ini juga Ahmad dan Ishaq berpendapat bolehnya Kharsh. Jika Buah-buahan terdiri dari kurma dan anggur serta telah mencapai wajib zakat, maka hendaknya penguasa mengutus seseorang untuk kharsh dan mengira-ngira hasil panen dari kurma dan anggur, lalu menetapkan sepersepuluhnya, setelah datang waktu panen dia mengambil sepersepuluhnya, demikian sebagian ulama menafsirkan makna kharsh dan ini merupakan pendapat Malik, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. (HR. At Tirmidzi: 582 - dha'if [menurut al Albani] dari Sahal bin Abi Hatsmah bin Sa'idah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman dan negeri hidup Madinah)

Catatan: periwayat dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 582 semua periwayat maqbul.

Begitu juga hadits riwayat Abu Daud: 1367, an Nasa'i: 2445 dan Ahmad: 15155 - dha'if [menurut al Albani] dari Sahal bin Abi Hatsmah bin Sa'idah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman dan negeri hidup Madinah. Setelah ditelusuri, semua periwayatnya maqbul sehingga hadits-hadits tersebut dapat dikelompokkan dalam hadits hasan lighairihi.

2. Mengutamakan keridhaan

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ مُجَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ جَرِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاكُمْ الْمُصَدِّقُ فَلَا يُفَارِقَنَّكُمْ إِلَّا عَنْ رِضًا.

حَدَّثَنَا أَبُو عَمَّارٍ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ دَاوُدَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ جَرِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ دَاوُدَ عَنْ الشَّعْبِيِّ أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ مُجَالِدٍ وَقَدْ ضَعَّفَ مُجَالِدًا بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ كَثِيرُ الْغَلَطِ. (رواه الترمذي: ٥٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yazid dari Mujalid dari As Sya'bi dari Jarir dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika datang kepada kalian seorang amil zakat, maka hendaknya dia tidak meninggalkan tempat kalian kecuali dia dalam keadaan ridha."

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ammar yaitu Al Husain bin Huraits telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Daud dari Asy Sya'bi dari Jarir dari Nabi ﷺ seperti hadits di atas. Abu 'Isa berkata, hadits Daud dari Sya'bi lebih shahih dari haditsnya Mujalid, sedangkan Mujalid dilemahkan oleh sebagian ulama, karena dia banyak melakukan kesalahan. (HR. At Tirmidzi: 586 - shahih dari Jarir bin 'Abdullah bin Jabir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H)

Begitu juga hadits riwayat Ibnu Majah: 1792 dan Ahmad: 18434 dan 18449 - shahih dari Jarir bin 'Abdullah bin Jabir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H. Hanya saja lafazh HR. Ahmad: 18449 dengan lafazh "إِلَّا وَهُوَ رَاض" kecuali ia dalam keadaan ridha.

PENERIMA ZAKAT MAL (Zakat Harta)

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. (قرآن سورة التوبة/٩: ٦٠)

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. At Taubah/9: 60)

Demikianlah yang dapat penulis paparkan semoga dapat menjadi bahan rujukan dan motivasi dalam melaksanakan syari'at berzakat, khususnya zakat profesi. Selanjuntnya juga menjadi sugesti untuk menyempurnakan amalan fardhu zakat dengan infak dan sadakah, demi terciptanya kehidupan yang sejahtera dan bahagia di dunia sampai akhirat. Amien ya rabbal 'alamien.

Wallahu a'lam bish Shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]