MULAI USAHA MENCARI NAFKAH
UNTUK WARISAN YANG WAJAR TIDAK LEBIH DARI SEPERTIGA UNTUK WASIAT DAN WAKTU USAHA
OLEH: SAMSURIZAL, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Allah mengingatkan hari-hari yang sangat diperhitungkan. Setiap hari yang diciptakan Allah semuanya baik. Penentuan hari-hari khusus dimaksudkan agar manusia senantiasa ingat dengan kewajiban mereka. Setiap penentuan peristiwa memiliki pelajaran yang bermanfaat bagi manusia agar cerdas dan bijak menggunakan waktu. Sebagaimana diingatkan oleh Allah,
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ. (سورة البقرة/٢: ٤٨)
Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong. (QS. Al Baqarah/2: 48)
Ingatlah firman Allah berikut:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ. (سورة البقرة/٢: ١٢٣)
Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong. (QS. Al Baqarah/2: 123)
Selanjutnya Rasulullah mengikuti apa yang diamanahkan oleh Allah agar umat dapat mengingatnya selalu. Walau pun memiliki banyak harta, maka yang dibolehkan untuk wasiat tidak lebih dari sepertiga. Ini untuk menjaga kebutuhan ahli waris. Begitu juga hari-hari khusus setiap aktivitas beliau dan para shahabat. Berikut hadits-hadits terkait dengan wasiat dan hari istimewa yaitu hari kamis.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
عَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَنِي مَا تَرَى مِنْ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ لَا الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُخَلَّفُ بَعْدَ أَصْحَابِي قَالَ إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً وَلَعَلَّكَ تُخَلَّفُ حَتَّى يُنْفَعَ بِكَ أَقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ وَلَا تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ لَكِنْ الْبَائِسُ سَعْدُ بْنُ خَوْلَةَ قَالَ رَثَى لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَنْ تُوُفِّيَ بِمَكَّةَ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ح و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ كُلُّهُمْ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ و حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدٍ قَالَ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ يَعُودُنِي فَذَكَرَ بِمَعْنَى حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَعْدِ بْنِ خَوْلَةَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَكَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَمُوتَ بِالْأَرْضِ الَّتِي هَاجَرَ مِنْهَا. (رواه مسلم: ٣٠٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Taimi telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Ibnu Syihab dari 'Amir bin Sa'd dari Ayahnya dia berkata, "Pada saat haji wada', Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menjengukku yang sedang terbaring sakit, lalu saya berkata, "Wahai Rasulullah, keadaan saya semakin parah seperti yang telah anda lihat saat ini, sedangkan saya adalah orang yang memiliki banyak harta, dan saya hanya memiliki seorang anak perempuan yang akan mewarisi harta peninggalan saya, maka bolehkah saya menyedekahkan dua pertiga dari harta saya?" beliau bersabda: "Jangan." Saya bertanya lagi, "Bagaimana jika setengahnya?" beliau menjawab: "Jangan, tapi sedekahkanlah sepertiganya saja, dan sepertiganya pun sudah banyak. Sebenarnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan yang serba kekurangan dan meminta-minta kepada orang lain. Tidakkah Kamu menafkahkan suatu nafkah dengan tujuan untuk mencari ridha Allah, melainkan kamu akan mendapatkan pahala karena pemberianmu itu, hingga sesuap makanan yang kamu suguhkan ke mulut istrimu juga merupakan sedekah darimu." Sa'ad berkata, "Saya bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apakah saya masih tetap hidup, sesudah teman-teman saya meninggal dunia?" beliau menjawab: "Sesungguhnya kamu tidak akan panjang umur kemudian kamu mengerjakan suatu amalan dengan tujuan untuk mencari ridha Allah, kecuali dengan amalan itu derajatmu akan semakin bertambah, semoga kamu dipanjangkan umurmu sehingga kaum Muslimin mendapatkan manfaat darimu dan orang-orang menderita kerugian karenamu. Ya Allah, sempurnakanlah hijrah para sahabatku dan janganlah kamu kembalikan mereka kepada kekufuran, akan tetapi alangkah kasihannya Sa'id bin Khaulah." Sa'ad berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakannya agar ia meninggal di kota Makkah." Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Abu Bakar bin Abu Syaibah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab telah mengabarkan kepadaku Yunus. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan 'Abd bin Humaid keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar semuanya dari Az Zuhri dengan isnad seperti ini." Dan telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abu Daud Al Hafari dari Sufyan dari Sa'd bin Ibrahim dari 'Amir bin Sa'd dari Sa'd dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menjengukku, kemudian dia menyebutkan hadits sebagaimana makna hadits Az Zuhri, namun ia tidak menyebutkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai Sa'ad bin Khaulah kecuali kalimat, "Dan dia tidak suka jika meninggal dunia di daerah hijrahnya." (HR. Muslim: 3076 - shahih dari Sa'id bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negwri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)
Lihat juga: al Bukhari: 1213, 2537, 2539, 3643 dan 4935, an Nasa'i: 3572 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H dan al Bukhari: 2538 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hadits terkait berjumlah 20 buah. Riwayat terbanyak dari imam al Bukhari, Muslim dan an Nasa'i.
Hadits al Bukhari: 2538 terbuka peluang wasiat dibawah sepertiga, akan tetapi tidak lebih dari sepertiga. Sebagaimana pendapat Ibnu 'Abbas terhadap sabda Rasul,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَوْ غَضَّ النَّاسُ إِلَى الرُّبْعِ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ أَوْ كَبِيرٌ. (رواه البخاري: ٢٥٣٨)
Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa'ad telah bercerita kepada kami Sufyan dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Kalau seandainya orang-orang itu mau mengurangi hingga seperempatnya, karena Rasulullah ﷺ bersabda, "Sepertiganya dan sepertiga itu banyak atau besar". (HR. Al Bukhari: 2538 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Begitu juga hadits riwayat Muslim: 3080, an Nasa'i: 3574, Ahmad: 1930 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.
INGAT FIRMAN ALLAH,
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا. (سورة النساء/٤: ٩)
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An Nisa'/4: 9)
WAKTU MENCARI NAFKAH
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ حَدِيدٍ عَنْ صَخْرٍ الْغَامِدِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشًا بَعَثَهُمْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ وَكَانَ صَخْرٌ رَجُلًا تَاجِرًا وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ صَخْرُ بْنُ وَدَاعَةَ. (رواه أبوداود: ٢٢٣٩)
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur?, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya'la bin 'Atha`, telah menceritakan kepada kami 'Umarah bin Hadid, dari Shakhar Al Ghamidi, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau mengucapkan: "ALLAAHUMMA BAARIK LI UMMATII FII BUKUURIHAA (Ya Allah, berkahilah umatku di pagi hari mereka). Dan beliau apabila mengirim expedisi atau pasukan beliau mengirim mereka di awal siang. Dan Shakhar adalah seorang pedagang dan ia mengirim perdagangannya di awal siang, maka hartanya bertambah banyak. Abu Daud berkata; ia adalah Shakhar bin Wada'ah. (HR. Abu Daud: 2239 - shahih dari Shakhr bin Wida'ah negeri hidup Thaif)
Lihat juga: at Tirmidzi: 1133, Ibnu Majah: 2227 - shahih dari Shakhar al Ghamidiy atau Shakhar bin Wada'ah. Abu Daud: 2239 - shahih dari Shakhr bin Wada'ah, Ibnu Majah: 2229 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar, Ahmad: 1251 - dha'if dari Ali bin Abi Thalib. Matannya sama.
Lafazh lain dengan penambahan "hari Kamis",
حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَيْمُونٍ الْمَدَنِيُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا يَوْمَ الْخَمِيسِ. (رواه إبن ماجه: ٢٢٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Muhammad bin Utsman Al Utsmani berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Maimun Al Madani dari 'Abdurrahman bin Abu Zinad dari Bapaknya dari Al A'raj dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya, di hari kamis." (HR. Ibnu Majah: 2228 - dha'if dari Abu Hirairah, nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan:
Dha'if menurut Al Albani. Disamping matannya pada tema yang sama berbeda dengan matan hadits yang banyak. Begitu juga dalam sanad terdapat periwayat bernama:
1. 'Abdur Rahman bin Abi az Zanad 'Abdullah bin Dzakwan, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya mudhtharibul hadits. Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i mengatakan, "tidak boleh berhujjah dengan haditsnya". Ya'qubi Syaibah menilainya tsiqah shaduq, at Tirmidzi dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya shaduq.
2. Muhammad bin Maimun, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu an Nadhar negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Abu Daud dan Yahya bin Ma'in menilainyanya tsiqah. Al Bukhari dan an Nasa'i menilainya munkarul hadits, sedangkan Ibnu Hibban menilainya munkarul hadits jiddan. Abu Hatim menilainya la ba'sa bih, ad Daruquthni menilainya laisa bihi ba'sa. Ibnu 'Adi mengatakan, "ia tidak memiliki banyak hadits, Ibnu Hajar mengingatkan, "shaduq tapi punya keragu-raguan". Selebihnya periwayat maqbul.
Selanjutnya, riwayat Ahmad: 1254 - dha'if dari 'Ali bin Abi Thalib. Dalam sanadnya juga terdapat 'Abdur Rahman bin Ishaq bin al Harits, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Syaibah dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya munkarul hadits. Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad, Ya'qub bin Sufyan, Abu Daud, an Nasa'i, Ibnu Hibban, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Abu Hatim dan 'Uqaili menilainya dha'iful hadits. Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Sedangkan al Bukhari menilainya fihi nazhar dan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya". Selebihnya periwayat maqbul. Adapun hadits dimaksud adalah:
حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ و حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا. (رواه أحمد: ١٢٥٤)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Rauh bin Abdul Mukmin telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad, dan telah menceritakan kepadaku 'Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abdurrahman bin Ishaq dari An Nu'man bin Sa'd dari Ali radhiyallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa: "ALLAAHUMMA BARIK LI`UMMATII FI BUKURIHA (Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada ummatku di waktu pagi mereka)." (HR. Ahmad: 1254 - dha'if dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat keniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.
Demikian yang dijelaskan oleh Rasul kepada para shahabat. Sebagai umat generasi belakangan, mesti mengikuti perbuatan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul dan para shahabat tersebut, agar memperoleh keberkahan umur dan harta yang didapatkan untuk hidup dan kehidupan di dunia sekaligus menjadi bekal untuk akhirat.
Selanjutnya, apa pun yang dilakukan seorang muslim menjadi terarah dan penuh manfaat. Baik bagi dirinya maupun sesama manusia dan makhluk Allah yang lainnya.
Wallahu a'lam bish Shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏