“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

BENTUK PERNIKAHAN YANG DILARANG
(nikah syighar, mut`ah dan muhalli)
Oleh: Samsurizal, MA

 

Pernikahan dalam Islam dinilai sesuatu yang sakral. Sehingga, dengan bergesernya peradaban dari masa ke masa manusia mengalami perobahan pemikiran yang semakin lama semakin maju dan berperadaban. Sejalan berjalannya waktu Islam semakin menunjukkan keunggulannya mulai dari mengangkat harkat dan martabat kaum wanita sampai kepada pengakuan persamaan hak mereka dengan kaum laki-laki, telah menjadi kebutuhan dalam hidup dan kehidupan di seluruh alam raya ini.

Salah satu bukti terkait dengan alur tema buku ini adalah tern pernikahan. `Aisyah menjelaskan bahwa ada empat bentuk pernikahan yang pernah terjadi di masanya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud dalam Sunan-nya,

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ النِّكَاحَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ فَكَانَ مِنْهَا نِكَاحُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ وَلِيَّتَهُ فَيُصْدِقُهَا ثُمَّ يَنْكِحُهَا وَنِكَاحٌ آخَرُ كَانَ الرَّجُلُ يَقُولُ لِامْرَأَتِهِ إِذَا طَهُرَتْ مِنْ طَمْثِهَا أَرْسِلِي إِلَى فُلَانٍ فَاسْتَبْضِعِي مِنْهُ وَيَعْتَزِلُهَا زَوْجُهَا وَلَا يَمَسُّهَا أَبَدًا حَتَّى يَتَبَيَّنَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسْتَبْضِعُ مِنْهُ فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمْلُهَا أَصَابَهَا زَوْجُهَا إِنْ أَحَبَّ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ رَغْبَةً فِي نَجَابَةِ الْوَلَدِ فَكَانَ هَذَا النِّكَاحُ يُسَمَّى نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ وَنِكَاحٌ آخَرُ يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ دُونَ الْعَشَرَةِ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا فَإِذَا حَمَلَتْ وَوَضَعَتْ وَمَرَّ لَيَالٍ بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ يَمْتَنِعَ حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا فَتَقُولُ لَهُمْ قَدْ عَرَفْتُمْ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ وَقَدْ وَلَدْتُ وَهُوَ ابْنُكَ يَا فُلَانُ فَتُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ مِنْهُمْ بِاسْمِهِ فَيَلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا وَنِكَاحٌ رَابِعٌ يَجْتَمِعُ النَّاسُ الْكَثِيرُ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ لَا تَمْتَنِعُ مِمَّنْ جَاءَهَا وَهُنَّ الْبَغَايَا كُنَّ يَنْصِبْنَ عَلَى أَبْوَابِهِنَّ رَايَاتٍ يَكُنَّ عَلَمًا لِمَنْ أَرَادَهُنَّ دَخَلَ عَلَيْهِنَّ فَإِذَا حَمَلَتْ فَوَضَعَتْ حَمْلَهَا جُمِعُوا لَهَا وَدَعَوْا لَهُمْ الْقَافَةَ ثُمَّ أَلْحَقُوا وَلَدَهَا بِالَّذِي يَرَوْنَ فَالْتَاطَهُ وَدُعِيَ ابْنَهُ لَا يَمْتَنِعُ مِنْ ذَلِكَ فَلَمَّا بَعَثَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدَمَ نِكَاحَ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ كُلَّهُ إِلَّا نِكَاحَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ الْيَوْمَ. (رواه أبوداود/2: 281)[1]

 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami 'Anbasah bin Khalid, telah menceritakan kepadaku Yunus bin Yazid, ia berkata; Muhammad bin Muslim bin Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bin Az Zubair, bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia telah mengabarkan kepadanya bahwa pernikahan pada masa jahiliyah berdasarkan empat macam, diantara pernikahan tersebut adalah 1) pernikahan orang-orang pada zaman sekarang, yaitu seorang laki-laki melamar wali wanita seseorang kepadanya, kemudian memberinya mahar, kemudian laki-laki tersebut menikahinya. 2) Dan pernikahan yang lain adalah seorang laki-laki berkata kepada istrinya; apabila ia telah suci dari haidnya; pergilah kepada si Fulan dan bersetebuhlah dengannya! Dan suaminya meninggalkannya serta tidak menggaulinya selamanya hingga jelas kehamilannya dari laki-laki yang telah menyetubuhinya tersebut. Kemudian apabila telah jelas kehamilannya maka suaminya menggaulinya apabila ia berkeinginan, dan ia melakukan hal tersebut karena ingin mendapatkan kecerdasan anak tersebut. Dan pernikahan ini dinamakan pernikahan istibdha', nikah yang lain adalah 3) beberapa orang kurang dari sepuluh berkumpul dan menemui seorang wanita dan seluruh mereka menggaulinya, kemudian apabila wanita tersebut hamil dan telah melahirkan serta telah berlalu beberapa malam setelah melahirkan kandungannya, ia mengirimkan utusan kepada mereka dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang dapat menolak hingga mereka berkumpul di hadapannya. Lalu wanita itu berkata kepada mereka; kalian telah mengetahui permasalahan kalian dahulu, sementara aku telah melahirkan, dan ia adalah anakmu wahai Fulan. Wanita tersebut menyebutkan nama orang yang ia senangi diantara mereka, maka anak tersebut mengikutinya. 4) Dan pernikahan yang keempat adalah orang banyak berkumpul dan mendatangi wanita yang tidak menolak siapapun yang datang kepadanya, mereka adalah para pelacur dan dahulu mereka menancapkan bendera di atas pintu mereka yang menjadi tanda bagi orang yang menginginkan mereka serta menemui mereka. Kemudian apabila wanita tersebut hamil dan telah melahirkan kandungannya mereka dikumpulkan dan mereka datangkan orang yang pandai mengenai jejak, kemudian mereka menisbatkan anak tersebut kepada orang yang mereka lihat, kemudian orang tersebut mengambilnya sebagai anak dan anak tersebut dipanggil sebagai anaknya, orang tersebut tidak boleh menolaknya. Kemudian tatkala Allah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menghancurkan seluruh pernikahan jahiliyah kecuali pernikahan orang Islam pada saat ini. (HR. Abu Daud/2: 281 – shahih dari ` Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu ` Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Diantara pernikahan yang dilarang dan dilarang dalam Islam adalah Nikah Syighar, Nikah Mut`ah dan Nikah Mahalli. Selanjutnya penulis paparkan satu per satu tentang nikah yang dilarang dalam Islam di bawah ini.

 

1.       Nikah asy Syighar

 

Nikah asy Syighar tidak disebutkan dalam al Qur’an, tetapi informasi tentang nikah dimaksud terekam dalam hadits-hadits berikut:

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّغَارِ» وَالشِّغَارُ أَنْ يُزَوِّجَ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ عَلَى أَنْ يُزَوِّجَهُ الآخَرُ ابْنَتَهُ، لَيْسَ بَيْنَهُمَا صَدَاقٌ. (رواه البخاري/7: 12)[2]

 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma, bahwasanya: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang Asy Syiqhar. Asy Syighar adalah seseorang menikahkan anak perempuannya kepada orang lain agar orang lain tersebut juga mau menikahkan anak perempuannya dengannya, sedangkan diantara keduanya tidak ada mahar. (HR. Al Bukhariy/7: 12 – shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Àbdur Rahman negeri hidup Madinah, wafat di Marur Rawdz tahun 73 H)

 

Lebih jelas dijelaskan dalam riwayat al Bukhariy,

 

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي نَافِعٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «نَهَى عَنِ الشِّغَارِ» قُلْتُ لِنَافِعٍ: مَا الشِّغَارُ؟ قَالَ: «يَنْكِحُ ابْنَةَ الرَّجُلِ وَيُنْكِحُهُ ابْنَتَهُ بِغَيْرِ صَدَاقٍ، وَيَنْكِحُ أُخْتَ الرَّجُلِ وَيُنْكِحُهُ أُخْتَهُ بِغَيْرِ صَدَاقٍ» وَقَالَ بَعْضُ النَّاسِ «إِنِ احْتَالَ حَتَّى تَزَوَّجَ عَلَى الشِّغَارِ فَهُوَ جَائِزٌ وَالشَّرْطُ بَاطِلٌ» وَقَالَ فِي المُتْعَةِ: «النِّكَاحُ فَاسِدٌ وَالشَّرْطُ بَاطِلٌ». وَقَالَ بَعْضُهُمْ: «المُتْعَةُ وَالشِّغَارُ جَائِزٌ وَالشَّرْطُ بَاطِلٌ». (رواه البخاري/9: 24)[3]

 

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Ubaidullah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Nafi' dari 'Abdullah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang nikah syighar. Saya bertanya kepada Nafi': 'Apa maksud syighar? ' Ia menjawab: 'mengawini anak perempuan seorang lelaki dengan syarat lelaki tersebut dinikahkan dengan anak perempuannya tanpa mahar, atau menikahi saudara perempuan seorang lelaki dengan syarat lelaki tersebut menikahkannya dengan saudara perempuannya tanpa mahar.' Sebagian orang berpendapat: jika seseorang bersiasat sehingga ia nikah syighar, maka perkawinannya boleh dan syaratnya bathil. Dan ia berkata tentang nikah mut'ah: pernikahannya rusak dan syaratnya bathil. Sedang sebagian lain berpendapat bahwa nikah syighar boleh dan syaratnya bathil. (HR. Al Bukhariy/9: 24 - shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdur Rahman negeri hidup Madinah, wafat di Marur Rawdz tahun 73 H)

 

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Muslim/2: 1034 dan 1035,[4] At Tirmidziy/2: 422[5] - shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdur Rahman negeri hidup Madinah, wafat di Marur Rawdz tahun 73 H.

Lebih lanjut juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud dalam sunannya,

 

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، ح وحَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، كِلَاهُمَا، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «نَهَى عَنِ الشِّغَارِ». زَادَ مُسَدَّد، فِي حَدِيثِهِ قُلْتُ لِنَافِعٍ: مَا الشِّغَارُ قَالَ: يَنْكِحُ ابْنَةَ الرَّجُلِ، وَيُنْكِحُهُ ابْنَتَهُ بِغَيْرِ صَدَاقٍ، وَيَنْكِحُ أُخْتَ الرَّجُلِ، وَيُنْكِحُهُ أُخْتَهُ بِغَيْرِ صَدَاقٍ. (رواه أبوداود/2: 227)[6]

 

Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad, telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah, keduanya dari Nafi' dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang dari nikah syighar. Musaddad menambahkan dalam haditsnya: aku katakan kepada Nafi': apakah syighar itu? Ia berkata: seseorang menikahi anak wanita seseorang dengan imbalan ia menikahkan anak wanitanya dengan wali dari wanita yang dinikahi tersebut tanpa mahar, serta seseorang menikahi saudari seseorang dan orang tersebut menikahkannya dengan saudarinya tanpa mahar.

 

Beberapa pendapat ahli fiqih tentang Nikah Syighar, sebagaimana dijelaskan oleh imam at Tirmidziy dalam Sunannya,

 

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُوسَى الأَنْصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مَعْنٌ قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّغَارِ».

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ عَامَّةِ أَهْلِ العِلْمِ: لَا يَرَوْنَ نِكَاحَ الشِّغَارِ، وَالشِّغَارُ: أَنْ يُزَوِّجَ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ عَلَى أَنْ يُزَوِّجَهُ الآخَرُ ابْنَتَهُ، أَوْ أُخْتَهُ، وَلَا صَدَاقَ بَيْنَهُمَا، وقَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: نِكَاحُ الشِّغَارِ مَفْسُوخٌ، وَلَا يَحِلُّ وَإِنْ جُعِلَ لَهُمَا صَدَاقًا، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ، وَرُوِيَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّهُ قَالَ:: «يُقَرَّانِ عَلَى نِكَاحِهِمَا وَيُجْعَلُ لَهُمَا صَدَاقُ المِثْلِ، وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الكُوفَةِ». (رواه الترمذي/3: 423)[7]

 

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Musa Al Anshari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ma'an, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang nikah syighar.

 

Abu Isa berkata: "Ini merupakan hadits hasan sahih. Kebanyakan ulama mengamalkannya. Mereka berpendapat: nikah shighar tidak boleh. Nikah syighar adalah seorang laki-laki menikahkan anak gadisnya (kepada seseorang) dengan syarat orang tersebut menikahkan anak gadisnya atau saudara wanitanya dengannya tanpa adanya mahar. sebagian ulama berpendapat: nikah syighar hukumnya adalah batal dan tidak halal, walau keduanya memakai mahar. Ini pendapat Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Diriwayatkan dari 'Atha` bin Abu Rabah bahwa dia berkata: 'Ditetapkan nikah keduanya dengan membayarkan masing-masing mahar mitsal (sepadan). Ini juga merupakan pendapat penduduk Kufah'." (HR. At Tirmidziy/3: 423 - shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdur Rahman negeri hidup Madinah, wafat di Marur Rawdz tahun 73 H)

 

Hadits pelarangan nikah syighar juga diriwayatkan oleh imam an Nasa’iy/5: 212 dan 213[8], Ibnu Hibban/9: 459[9] – dari Ibnu `Umar, ath Tabraniy/19: 346 – dari Mu`awwiyah bin Abiy Sufyan.[10]

Selanjutnya, dalam redaksi berbeda diriwayatkan oleh imam Muslim/2: 1035,

 

وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا شِغَارَ فِي الْإِسْلَامِ». (رواه مسلم/2: 1035)[11]

 

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi` telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ayyub dari Nafi`  dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada nikah syighar dalam Islam." (HR. Muslim/2: 1035 - shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdur Rahman negeri hidup Madinah, wafat di Marur Rawdz tahun 73 H)

 

Lafazh yang sama juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah/1: 606[12] - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

 

Sejalan dengan permasalahan nikah sighar juga pernah terjadi di masa shahabat, sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat Abu Daud berikut:

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ هُرْمُزَ الْأَعْرَجُ، أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْعَبَّاسِ، أَنْكَحَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْحَكَمِ ابْنَتَهُ، وَأَنْكَحَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ ابْنَتَهُ وَكَانَا جَعَلَا صَدَاقًا فَكَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى مَرْوَانَ يَأْمُرُهُ بِالتَّفْرِيقِ بَيْنَهُمَا، وَقَالَ فِي كِتَابِهِ: «هَذَا الشِّغَارُ الَّذِي نَهَى عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ». (رواه أبودود/2: 227)[13]

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Hurmuz Al A'raj, bahwa Al Abbas bin Abdullah bin Al Abbas telah menikahkan Abdurrahman bin Al Hakam dengan anak wanitanya, dan Abdurrahman menikahkannya (Al `Abbas) dengan anak wanitanya dan pertukaran itu dijadikan sebagai maharnya. Kemudian Mu'awiyah menulis surat kepada Marwan dan memerintahkannya agar menceraikan antara keduanya. Dan dalam suratnya ia mengatakan: "Ini adalah syighar yang dilarang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Abu Daud/2: 227 - hasan [menurut al Albani] dari Mu`awwiyah bin Abiy Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H)

 

Kasus selanjutnya direkam dalam hadits riwayat imam Muslim,

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشِّغَارِ» زَادَ ابْنُ نُمَيْرٍ: "وَالشِّغَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: زَوِّجْنِي ابْنَتَكَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِي، أَوْ زَوِّجْنِي أُخْتَكَ وَأُزَوِّجُكَ أُخْتِي". (رواه مسلم/2: 1035)[14]

 

و حدثناه أبو كريب حدثنا عبدة عن عبيد الله وهو ابن عمر بهذا الإسناد ولم يذكر زيادة ابن نمير.

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Abu Usamah dari Ubaidillah dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang melakukan nikah syighar, Ibnu Numair menambahkan, nikah syighar adalah seseorang mengatakan kepada laki-laki lain: Nikahkanlah putrimu denganku, niscaya aku akan menikahkan putriku untukmu, atau nikahkanlah saudara perempuanmu denganku, maka saya akan nikahkan saudara perempuanku denganmu.

 

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami 'Abdah dari Ubaidillah dia adalah Ibnu Umar dengan isnad ini, dan dia tidak menyebutkan tambahan Ibnu Numair.

 

2.      Nikah Mut` ah

 

Nikah Mut`ah (nikah kontak) adalah akad nikah dilakukan dengan mempersyaratkan waktu tertentu, dengan memberi mahar atau pun tidak. Secara syar`iy jelas pernikahan seperti ini “haram”. Hadits-hadits yang berbicara tentang hal ini menunjukkan bahwa nikah mut`ah pernah diizinkan oleh Rasul pada waktu-waktu tertentu. Seperti pada waktu perang Khaibar, haji dan tahun `Authas (penaklukan Makkah). Selanjutnya, diharamkan pada saat haji wada`.

Nampaknya, ada alasan ketat jika nikah mut`ah dibolehkan dan sebaliknya. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita simak riwayat-riwayat berikut:

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَيْسٍ عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ أَوْطَاسٍ فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ نَهَى عَنْهَا. (رواه مسلم/2: 1023)

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Abu Umais dari Iyas bin Salamah dari bapaknya ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan nikah mut'ah pada tahun Authas (tahun penaklukan kota Makkah) selama tiga kali. Kemudian beliau melarangnya." (HR. Muslim/2: 1023 – shahih dari Salamah bin `Amru bin al `Akwa`, ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

 

Selanjutnya, Imam Ibnu Majah meriwayatkan bahwa;

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا الْفِرْيَابِيُّ عَنْ أَبَانَ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَفْصٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَمَّا وَلِيَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لَنَا فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ حَرَّمَهَا وَاللَّهِ لَا أَعْلَمُ أَحَدًا يَتَمَتَّعُ وَهُوَ مُحْصَنٌ إِلَّا رَجَمْتُهُ بِالْحِجَارَةِ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَنِي بِأَرْبَعَةٍ يَشْهَدُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ أَحَلَّهَا بَعْدَ إِذْ حَرَّمَهَا. (رواه إبن ماجه/1: 631)[15]

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf Al 'Asqalani berkata: telah menceritakan kepada kami Al Firyabi dari Aban bin Abu Hazim dari Abu Bakar bin Hafsh dari Ibnu Umar ia berkata: "Tatkala Umar bin al Khaththab menjadi Khalifah, dia berkhuthbah di hadapan orang banyak, ia menyampaikan, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengizinkan kita untuk melakukan nikah mut'ah sebanyak tiga kali, kemudian mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui seseorang yang melakukan nikah mut'ah sementara dia sudah menikah melainkan aku akan merajamnya dengan batu. Kecuali jika dia mendatangkan kepadaku empat orang yang bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghalalkannya setelah Beliau mengharamkannya"." (HR. Ibnu Majah/1: 631 – hasan dari ` Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)

 

Karena banyaknya riwayat tentang nikah mut`ah ini penulis memaparkan hadits yang mendekati kesimpulan bahwa sejauh perkembangan pemahaman tentang nikah mut`ah ini menunjukkan keharamannya, selama `illat hukumnya tidak mendekati kondisi seperti pada masa pembolehannya. Namun, terlepas dari persoalan ikhtilaf, maka perlu dirujuk hadits berikut:

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: تَذَاكَرْنَا عِنْدَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمُتْعَةَ - مُتْعَةَ النِّسَاءِ - فَقَالَ رَبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ: سَمِعْتُ أَبِي، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: " يَنْهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ". (رواه أحمد/24: 54)[16]

 

Telah menceritakan kepada kami Abdushamad telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Umayyah dari Az-Zuhri berkata: kami saling menyebutkan di hadapan 'Umar bin Abdul Aziz tentang nikah mut'ah maka Rabi' bin Sabrah berkata: saya telah mendengar bapakku berkata: saya telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada Haji Wada' melarang Nikah Mut'ah. (HR. Ahmad/24: 54 – shahih dari Sabrah bin Ma`bad bin Awsaja, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsariyah dan negeri hidup Madinah)

 

Haji wada` adalah haji terakhir bagi Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, oleh karena itu pelarangan tersebut adalah yang terakhir dan berlaku bagi umatnya sampai hari kiamat. Ditegaskan lagi dengan hadits riwayat imam Muslim,

 

وحَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ، حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ، عَنِ ابْنِ أَبِي عَبْلَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ، وَقَالَ: «أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَانَ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ». (رواه مسلم/2: 1027)[17]

 

Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A'yan telah menceritakan kepada kami Ma'qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin Abdul Aziz dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang melakukan nikah mut'ah seraya bersabda: "Ketahuilah, bahwa (nikah mut'ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut'ah, janganlah mengambilnya kembali." (HR. Muslim/2: 1027 - shahih dari shahih dari Sabrah bin Ma`bad bin Awsaja, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsariyah dan negeri hidup Madinah)

 

3.      Nikah Muhallil

 

Nikah Muhalli adalah nikah yang dilakukan seorang suami yang telah mentalak istrinya sampai tiga kali dan sang istri menikah lagi dengan laki-laki lain, dan menceraikannya tanpa pernah melakukan hubungan suami-istri secara layak. Hal ini disinggung dalam riwayat berikut:

 

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيِّ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الزَّبِيرِ أَنَّ رِفَاعَةَ بْنَ سِمْوَالٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ تَمِيمَةَ بِنْتَ وَهْبٍ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا فَنَكَحَتْ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ فَاعْتَرَضَ عَنْهَا فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَمَسَّهَا فَفَارَقَهَا فَأَرَادَ رِفَاعَةُ أَنْ يَنْكِحَهَا وَهُوَ زَوْجُهَا الْأَوَّلُ الَّذِي كَانَ طَلَّقَهَا فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَاهُ عَنْ تَزْوِيجِهَا وَقَالَ لَا تَحِلُّ لَكَ حَتَّى تَذُوقَ الْعُسَيْلَةَ. (رواه مالك/2: 531)[18]

 

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Al Miswar bin Rifa'ah Al Qurazhi dari Zubair bin Abdurrahman bin Zubair berkata, "Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Rifa'ah bin Simwal mentalak istrinya yang bernama Tamimah binti Wahab sebanyak tiga kali. Kemudian bekas istrinya menikah dengan Abdur Rahman bin Zubair. Namun Abdurrahman mempunyai masalah karena tidak mampu menyetubuhinya, sehingga ia kembali menceraikan Tamimah. Maka Rifa'ah ingin menikahinya kembali, karena dia adalah suami pertama yang pernah menceraikannya. Lalu hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun beliau melarangnya seraya bersabda: "Tidak halal bagimu untuk menikahinya lagi, hingga ia merasakan nikmatnya madu laki-laki yang lain (bersetubuh)." (HR. Malik/2: 531 – shahih [mauquf] dari Az Zubair bin `Abdur Rahman bin az Zubair, ia tabi`in tidak jumpa shahabat dan negeri hidup Madinah)

 

Alasan terlarangnya nikah muhalli pertama; tidak adanya ‘Iddah, karena tidak dilakukannya hubungan suami istri secara layak. Kedua; dilakukan dengan niat penghalalan menikahi mantan istri setelah ditalak tiga, tanpa ada sebab syar`iy suami yang kedua menceraikan istrinya tersebut. Ketiga; dilakukan dengan tujuan kesepakatan tertentu sesuai dengan permintaan suami pertama dengan tanpa melalui masa `Iddah. Kemudian, perlakuan seperti ini akan merugikan baik pihak laki kedua maupun perempuan karena hanya menjadi kelinci percobaan. Sehingga menyebabkan terkesampingkannya mashalahah sebagai tujuan syari`at.


[1] Abu Daud Sulaiman bin al Asy`ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin `Amru al Azdiy, Sunan Abiy Daud, tahqiq: Muhammad Muhyid Din `Abdul Hamid, (Bairut: al Maktabah al `Ashriyah, tth), Juz II, h. 281

[2] Muhammad bin Isma`il Abu `Abdullah al Bukhariy al Ja`fiy, Al Ja`mi` al Musnad ash Shahih al Mukhtashar min Umuri Rasulullahi shallallahu `alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi: Shahih al Bukhariy, tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashirun Nashir, (ttp. : Dar Thuqun Najah, 1422 H), Juz VII, h. 12

[3] Al Bukhariy, Shahih al Bukhari, Ibid. Sahih al Bukhari, Juz IX, h. 24

[4] Muslim bin al Hajjaj Abu al Hasan al Qusyairi al Naisaburiy, Al Musnad ash Shahih al Mukhtashar binaqli al `Adli `an al `Adli ila Rasulillahi shallallahu `alaihi wa sallam, tahqiq: Muammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar Ihya’ at Turats al `Arabiy, tth), Juz II, h. 1034-1035

[5] Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin adh Dhahak at Tirmidziy, Abu `Isa, al Jami` al Kabir, Sunan at Tirmidziy, tahqiq: Busyar `Iwad Ma`ruf, (Bairut: Dar al Ghurbil Islamiy, 1998), Juz II, h. 422

[6] Abu Daud, Sunan Abiy Daud, op. cit., Juz II, h. 227

[7]  At Tirmidziy, Sunan at Tirmidziy, op. cit., Juz III, h. 423

[8] Abu `Abdur Rahman Ahmad bin Syu`aib bin `Aliy al Khrasaniy, an Nasa’iy, Sunan al Kubra, pensyarah: Syu`aib al Arnawuth, (Bairut: Mu’assasah ar Risalah, 2001), Juz V, h. 212 dan 213; lihat juga an Nasa’iy, Sunan ash Shughra, tahqiq: `Abdul Fatah Abu Ghudah, (Halb: Maktab al Mathbu`ah al Islamiyah, 1986), Juz VI, h. 110

[9] Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu`adz bin Ma`bad, at Tamimiy, Abu Hatim ad Darimiy al Bustiy, al Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban, disusun oleh: al Amir `Ala’uddin `Aliy bin Balban al Farisiy, (Bairut: Mu’assasah ar Risalah, 1988), Cet. I, Juz IX, h. 459

[10] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Mathir a Lakhmiy asy Syamiy Abu al Qasim ath Thabraniy, al Mu`jam al Kabir, tahqiq: Hamdiy bin `Abdul Majid as Salafiy, (al Qahirah: Maktabah Ibnu Taimiyah, 1994). Cet. II, Juz IXX, h. 346

[11] Muslim bin al Hajjaj, Shahih Muslim, op. cet., Juz II, h. 1035

[12] Ibnu Majah Abu `Abdullah Muhammad bin Yazid al Qazwiniy, Sunan Ibnu Majah, tahqiq: Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (ttp: Dar Ihya’ al Kitab al `Arabiyah, tth), Juz I, 606

[13] Abu Daud, Sunan Abu Daud, op. cit., Juz II, h. 227; lihat juga: Abu `Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy Syaibani, Musnad al Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq: Syu`aib al Arnauth , (ttp: Mu’assasah ar Risalah, 2001), Juz XXVIII, h. 70 (dengan tambahan penjelasan bahwa Mu`awwiyah bin Abiy Sufyan – dia adalah Khalifah- …), dijelaskan juga:

إسناده حسن من أجل محمد بن إسحاق، وقد صرح بالتحديث، فانتفت شبهة تدليسه، وبقية رجاله ثقات رجال الشيخين غير سعد أخي

[14] Muslim bin al Hajjaj, Shahih Muslim, op.cit., Juz II, h. 1035; lihat juga: Ahmad bin al Husain bin `Aliy bin Musa al Khusraujirdiy al Khurasaniy, Abu Bakar al Baihaqiy, As Sunan al Kubra, tahqiq: Muhammad `Abdul Qadit `Atha’, (Bairut: Darul Kutub al `Ilmiyah, 2003), Cet. Ke-3,  Juz VII, h. 324

[15] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, op.cit., Juz I, h. 631

[16] Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad, op.cit., Juz XXIV, h. 54

[17] Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Juz II, h. 1027

[18] Malik bin Anas bin Malik bin `Amir al Ashbahaniy al Madiniy, Muwatha’ al Imam Malik, pentashhih: Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar Ihya’ at Turats al `Arabiy, 1985), Juz II, h. 531; lihat juga: Asy Syafi`iy Abu `Abdullah Muhammad bin Idris bin al `Abbas bin `Utsman bin Syafi` bin `Abdul Muthallib bin `Abdu Manaf al Muthallibiy al Qursyiy al Makkiy, al Musnad, (Bairut: Darul Kutub al `Ilmiyah, 1400 H), Juz I, h. 293

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]