ZIARAH KUBUR
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
HADITS-HADITS TENTANG ZIARAH KUBUR
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ وَابْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِي سِنَانٍ وَهُوَ ضِرَارُ بْنُ مُرَّةَ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ النَّبِيذِ إِلَّا فِي سِقَاءٍ فَاشْرَبُوا فِي الْأَسْقِيَةِ كُلِّهَا وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا
قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ زُبَيْدٍ الْيَامِيِّ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ أُرَاهُ عَنْ أَبِيهِ الشَّكُّ مِنْ أَبِي خَيْثَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ جَمِيعًا عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ عَطَاءٍ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ بِمَعْنَى حَدِيثِ أَبِي سِنَانٍ. (رواه مسلم: ١٦٢٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdulalh bin Numair dan Muhammad bin Al Mutsanna -sedangkan lafazhnya milik Abu Bakar dan Ibnu Numair- mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abu Sinan -ia adalah Dhirar bin Murrah- dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Buraidah dari bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dahulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah. Dahulu aku melarang kalian untuk menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari, maka sekarang simpanlah selama jelas bagimu manfaatnya. Dahulu aku melarang kalian membuat anggur selain dalam qirbah, maka sekarang minumlah dari segala tempat air, asal jangan kamu minum yang memabukkan." Ibnu Numair berkata dalam hadits yang diriwayatkannya; Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya -dalam jalur lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu Khaitsamah dari Zubaid Al Yami dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Buraidah -menurutku- dari bapaknya -keraguan dari Abu Khaitsamah- dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam -dalam jalur lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Uqbah dari Sufyan dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar dan Muhammad bin Rafi' dan Abdu bin Humaid semuanya dari Abdurrazaq dari Ma'mar dari Atha` Al Khurasani ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Semuanya adalah semakna dengan hadits Abu Sinan. (HR. Muslim: 1623 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Lihat juga: Muslim: 3651, Abu Daud: 2816, an Nasa'i: 2005 - shahih dari Buraidah bin al Hashib.
Lafazh lain,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمِ النَّبِيلُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ بِزِيَارَةِ الْقُبُورِ بَأْسًا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ. (رواه الترمذي: ٩٧٤)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar dan Mahmud bin Ghailan dan Al Hasan bin Ali Al Khallal mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim An Nabil telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat." (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Sa'id, Ibnu Mas'ud, Anas, Abu Hurairah dan Umu Salamah." Abu Isa berkata; "Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq". (HR. At Tirmidzi: 974 - shahih dari Buraidah bin al Hashib)
Begitu juga dalam Musnad Ahmad,
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَا حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ فِي حَدِيثِهِ حَدَّثَنَا زُبَيْدُ بْنُ الْحَارِثِ الْيَامِيُّ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَهُ قَرِيبٌ مِنْ أَلْفِ رَاكِبٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ فَقَامَ إِلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَفَدَاهُ بِالْأَبِ وَالْأُمِّ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ قَالَ إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فِي الِاسْتِغْفَارِ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي فَدَمَعَتْ عَيْنَايَ رَحْمَةً لَهَا مِنْ النَّارِ وَإِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا لِتُذَكِّرَكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ فَكُلُوا وَأَمْسِكُوا مَا شِئْتُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ الْأَشْرِبَةِ فِي الْأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِي أَيِّ وِعَاءٍ شِئْتُمْ وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا. (رواه أحمد: ٢١٩٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa dan Ahmad bin 'Abdul Malik keduanya berkata: telah bercerita kepada kami Zuhair . Berkata Ahmad bin 'Abdul Malik dalam haditsnya: telah bercerita kepada kami Zubaid bin Al Harits Al Yami dari Muharib bin Ditsar dari 'Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata: Kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau singgah di tempat kami, saat itu beliau bersama sekitar seribu tentara berkuda, beliau shalat dua rakaat kemudian beliau menghadapkan wajah beliau ke arah kami dengan bercucuran air mata. Kemudian 'Umar bin Al Khaththab berdiri menghampiri beliau dan berkata: Wahai Rasulullah! Ada apa denganmu? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku memintakan ampunan untuk ibuku pada Rabbku Azza wa Jalla tapi Ia tidak mengizinkanku, aku pun bercucuran air mata karena iba kepadanya. Dahulu aku pernah melarang kalian tiga hal; ziarah kubur, (sekarang) berziarahlah agar ziarah kubur bisa mengingatkan kalian kepada kebaikan, dulu aku melarang kalian memakan daging-daging kurban setelah tiga hari, (sekarang) makanlah dan simpanlah semau kalian, dulu aku melarang kalian minum di bejana-bejana, (sekarang minumlah dengan bejana apa pun yang kalian mau dan jangan minum yang memabukkan." (HR. Ahmad: 21925 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Sedangkan,
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنْبَأَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ النَّابِغَةِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ وَعَنْ الْأَوْعِيَةِ وَأَنْ تُحْبَسَ لُحُومُ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ ثُمَّ قَالَ إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ الْأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِيهَا وَاجْتَنِبُوا كُلَّ مَا أَسْكَرَ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ أَنْ تَحْبِسُوهَا بَعْدَ ثَلَاثٍ فَاحْبِسُوا مَا بَدَا لَكُمْ
حَدَّثَنَاه عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ النَّابِغَةِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ وَإِيَّاكُمْ وَكُلَّ مُسْكِرٍ. (رواه أحمد: ١١٧٣)
Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Rabi'ah bin An Nabighah dari bapaknya dari Ali berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang ziarah kubur dan (melarang) beberapa bejana serta (melarang) menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari. Kemudian beliau bersabda: "Saya pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, sekarang ziarahlah karena hal itu bisa mengingatkan akhirat. Saya juga melarang beberapa bejana, sekarang minumlah darinya, namun hindarilah semua yang memabukkan. Saya juga pernah melarang menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, sekarang simpanlah semau kalian." Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Rabi'ah bin An Nabighah dari Bapaknya dari Ali berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang ziarah kubur, lantas dia menyebutkan secara makna kecuali perkataan; "Hindarilah semua yang memabukkan!" (HR. Ahmad: 1173 - dha'if dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyah Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)
Catatan: dalam sanad hadits Ahmad: 1173 terdapat periwayat bernama an Nabighah [disebut juga bin Mukhariq bin Sulaim], ia tabi'in kalangan pertengahan. Abu Hatim menilainya majhul. Begitu juga Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawiy. Sedangkan Yahya bin Ma'in, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya periwayat maqbul.
Selanjutnya riwayat dari Anas bin Malik,
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ الْحَارِثِ الْجَابِرُ عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ مَوْلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَعَمْرِو بْنِ عَامِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ وَعَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ وَعَنْ النَّبِيذِ فِي الدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ قَالَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ أَلَا إِنِّي قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ ثُمَّ بَدَا لِي فِيهِنَّ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ثُمَّ بَدَا لِي أَنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ فَزُورُوهَا وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ أَنْ تَأْكُلُوهَا فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ ثُمَّ بَدَا لِي أَنَّ النَّاسَ يُتْحِفُونَ ضَيْفَهُمْ وَيُخَبِّئُونَ لِغَائِبِهِمْ فَأَمْسِكُوا مَا شِئْتُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ النَّبِيذِ فِي هَذِهِ الْأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا بِمَا شِئْتُمْ وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا فَمَنْ شَاءَ أَوْكَأَ سِقَاءَهُ عَلَى إِثْمٍ. (رواه أحمد: ١٣٠٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; Muhammad telah menceritakan kepadaku Yahya bin Al Harits Al Jabir dari Abdul Warits budak Anas bin Malik dan Amr bin 'Amir dari Anas bin Malik berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang ziarah kubur, daging kurban setelah tiga hari, Nabidz (perasan kurma yang disimpan dan hampir menjadi arak) dalam bejana kulit buah, bejana pelepah, dan Al hantam (bejana yang terbuat dari tanah liat, rambut dan darah), atau disimpan dalam bejana yang diter. (Anas bin Malik radhiyallahu'anhu) berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda setelah itu, "Ketahuilah! Dahulu aku pernah melarang kalian dari tiga hal yang fakta telah membuktikan untukku; aku pernah melarang kalian ziarah kubur, dan fakta membuktikan bahwa hal itu dapat melunakkan hati dan meneteskan air mata serta mengingatkan akhirat maka sekarang berziarah kalian, dan janganlah kalian berkata keji atau kotor, dan aku pernah melarang kalian dari memakan daging kurban setelah tiga malam, kemudian fakta membuktikan untukku bahwa orang orang memang menghadiahkan untuk tamunya namun sekaligus menyimpannya untuk yang tidak hadir, maka (simpanlah) sekehendak kalian, dan aku juga pernah melarang kalian dari meminum nabidz dalam bejana bejana tadi, maka minumlah sekehendak kalian dan jangan kalian meminum minuman yang memabukkan, dan siapa berkehendak, ia menutup mulut bejananya dengan berdosa." (HR. Ahmad: 13000 - dha'if dari Anas bin Malik)
Senada dan semakna dengan hadits: Ahmad: 13124 dari Anas bin Malik.
Catatan: dalam sanad kedua hadits di atas terdapat periwayat bernama Yahya bin 'Abdullah bin al Harits, ia tabi'in tidak jumpa shahabat, kuniyahnya Abu al Harits dan negeri hidup Kufah). Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bihi ba's, Yahya bin Ma'in menilainya dha'iful hadits, Ibnul Madini menilainya ma'ruf, Abu Hatim dan an Nasa'i menilainya dha'if. Al 'Ajli menilainya laisa bi qawi, sedangkan Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits. Adz Dzahabi mengatakan, "shaduq, padanya terdapat kelemahan". Selebihnya periwayat maqbul.
Berbeda dengan kuburan orang munafiq, mereka justru akan mendatangkan kemudharatan untuk lupa terhadap syari'at Allah dan Rasul-Nya. Simaklah firman Allah berikut:
وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ. (شورة التوبة/٩: ٨٤)
Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. At Taubah/9: 84)
وَلَا تُعْجِبْكَ اَمْوَالُهُمْ وَاَوْلَادُهُمْۗ اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّعَذِّبَهُمْ بِهَا فِى الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ اَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كٰفِرُوْنَ. (شورة التوبة/٩: ٨٥)
Dan janganlah engkau (Muhammad) kagum terhadap harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia dan agar nyawa mereka melayang, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. At Taubah/9: 85)
Pelarangan menyalatkan dan berdiri di kuburan orang munafiq adalah bentuk pembenaran perbuatan mereka ketika masih hidup. Dengan demikian sugesti bagi orang yang beriman menyalatkan dan menziarahi (berdiri di kuburannya) orang munafiq akan menimbulkan sikap ketercelaan. Karena telah menghormati orang yang tidak pantas untuk dihormati. Bahkan, suatu bentuk kekufuran disebabkan melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya.
Maksud dari izin Rasul untuk menziarahi kubur adalah kubur orang-orang beriman. Karena disamping salah satu bentuk penghormatan juga mendatangkan ketenangan hati, mengingatkan kepada amal-amal yang mereka lakukan di masa hidup. Lebih khusus lagi adalah sikap dan perbuatan tersebut adalah salah satu bentuk kepatuhan kepada syari'at. Selanjutnya menciptakan kesadaran dan mengobati kerinduan pada orang-orang yang kita sayangi. Inilah sugesti positif dari pembolehan untuk menziarahi kubur. Wallaahu a'lam bish Shawaab.
Billaahit taufiq wal hidayah,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏