NIAT PUASA RAMADHAN
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Puasa adalah menahan untuk tidak makan dan minum dan dari segala yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (magrib). Al Qur'an menjelaskan bahwa,
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ. (قرآن سورة البقرة: ١٨٧)
Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa. (QS. Al Baqarah/2: 187)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salllam merinci dari apa yang telah difirmankan oleh Allah dalam al Qur'an agar umat paham dan menghayati serta mengamalkan suatu syari'at lebih bersemangat. Dalam hal ini adalah ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan. Berikut penulis coba menguraikan beberapa hadits yang berhubungan dengan niat untuk melaksanakan hal tersebut.
Lafazh hadits dari Hafshah binti 'Umar bin al Khaththab, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 41 H:
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ.
قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ حَفْصَةَ حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَوْلُهُ وَهُوَ أَصَحُّ وَهَكَذَا أَيْضًا رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ الزُّهْرِيِّ مَوْقُوفًا وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا رَفَعَهُ إِلَّا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَإِنَّمَا مَعْنَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ أَوْ فِي صِيَامِ نَذْرٍ إِذَا لَمْ يَنْوِهِ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يُجْزِهِ وَأَمَّا صِيَامُ التَّطَوُّعِ فَمُبَاحٌ لَهُ أَنْ يَنْوِيَهُ بَعْدَ مَا أَصْبَحَ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ. (رواه الترمذي: ٦٦٢)
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub dari Abdullah bin Abu Bakar dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari ayahnya dari Hafshah dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah".
Abu 'Isa berkata, kami tidak mengetahui hadits Hafshah diriwayatkan secara marfu' kecuali melalui jalur ini. Telah diriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar bahwa ini adalah perkataannya Ibnu Umar dan pernyataan ini lebih shahih. Demikian juga hadits ini diriwayatkan dari Az Zuhri secara mauquf dan tidak kami ketahui ada yang memarfu'kan hadits ini kecuali Yahya bin Ayyub. Maksud dari hadits ini menurut para ulama ialah "Barangsiapa yang tidak niat sebelum terbitnya fajar di bulan Ramadhan atau ketika meng-qadha puasa Ramadan atau ketika puasa nadzar, maka puasanya tidak sah. Adapun puasa sunnah, maka boleh berniat sesudah terbitnya fajar. Ini adalah pendapat Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. (HR. At Tirmidzi: 662 - shahih dari Hafshah binti 'Umar bin al Khaththab, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 41 H)
Begitu juga hadits riwayat an Nasa'i: 2291, 2192, 2293 dan 2295, Abu Daud: 2098 - shahih dari Hafshah binti 'Umar bin al Khaththab, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 41 H. Abu Daud berkata; hadits tersebut diriwayatkan oleh Al Laits serta Ishaq bin Hazim juga, seluruhnya berasal dari Abdullah bin Abu Bakar, seperti itu dan meriwayatkannya secara mauquf kepada Hafshah, dan diriwayatkan oleh Ma'mar, Az Zubaidi dan Ibnu 'Uyainah serta Yunus Al Aili seluruhnya berasal dari Az Zuhri.
Kemudian hadits berikut yang disampaikan langsung dari Hafshah binti 'Umar bin al Khaththab:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ عُبَيْدَ اللَّهِ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ حَفْصَةَ أَنَّهَا كَانَتْ تَقُولُ مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَا يَصُومُ. (رواه النسائي: ٢٢٩٥)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abdul A'la dia berkata; telah menceritakan kepada kami Mu'tamir dia berkata; aku mendengar 'Ubaidullah dari Ibnu Syihab dari Salim dari 'Abdullah dari Hafshah bahwa ia berkata, "Barangsiapa yang tidak berniat puasa di waktu malam, ia -dianggap- tidak berpuasa." (HR. An Nasa'i: 2295 - shahih dari Hafshah binti 'Umar bin al Khaththab, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 41 H)
Sementara ada lafazh lain dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ قَالَ سَمِعْتُ عُبَيْدَ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِذَا لَمْ يُجْمِعْ الرَّجُلُ الصَّوْمَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَا يَصُمْ. (رواه النسائي: ٢٣٠٢)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abdul A'la dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir dia berkata; aku mendengar 'Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu 'Umar dia berkata, "Jika seseorang belum berniat puasa dari waktu malam, ia tidak boleh berpuasa." (HR. An Nasa'i: 2302 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Dari sekian banyak hadits tersebut terdapat empat lafazh berbeda, tetapi dengan makna yang sama yaitu:
١. "... مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. (رواه الترمذي: ٦٦٢ و أبوداود: ٢٠٩٨)
٢. "... مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَا يَصُومُ. (رواه ألنسائي: ٢٢٩٥)
٣. " ... إِذَا لَمْ يُجْمِعْ الرَّجُلُ الصَّوْمَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَا يَصُمْ. (رواه النسائي: ٢٣٠٢)
٤. " ... مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. (رواه النسائي: ٢٢٩١، ٢٢٩٢)
٥. " ... مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا يَصُومُ. (رواه النسائي: ٢٢٩٣)
Semuanya bermakna, niat puasa mesti dipasang sebelum imsak (dimulainya menahan). Artinya waktu setelah fajar menyinsing. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa harus mempunyai niat yang bersih karena Allah agar puasanya baik dan sempurna serta diterima oleh Allah. Karena semua amal ditentukan oleh niat pengamalnya. Sebagaimana sabda Rasul mengatakan:
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. (رواه البخاري: ١)
Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab di atas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" (HR. Al Bukhari: 1 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)
Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 52, 2344, 3609, 4682, 6195, 6436 dan 6439, Muslim: 3530, Abu Daud: 1882, Ahmad: 163 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H.
Imam at Tirmidzi menjelaskan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَغَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ هَذَا عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ وَلَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ يَنْبَغِي أَنْ نَضَعَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كُلِّ بَابٍ. (رواه الترمذي: ١٥٧١)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi dari Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin Ibrahim dari Alqamah bin Waqash Al Laitsi dari Umar Ibnul Khaththab ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan niatnya. Barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan rasul-Nya, maka amalan hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai pada sesuatu yang ia hijrah kepadanya."
Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih. Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Malik bin Anas, Sufyan Ats Tsauri dan banyak imam lain dari Yahya bin Sa'id. Dan kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Yahya bin Said Al Anshari. Ia berkata, "'Abdurrahman bin Mahdi berkata, "Selayaknya kita meletakkan hadits ini pada setiap bab." (HR. At Tirmidzi: 1571 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)
Semua hadits ini diriwayatkan dari 'Umar bin al Khaththab dan telah diriwayatkan oleh banyak periwayat setelahnya. Termasuk para mukharrij atau penulis dan periwayat hadits yang memasukkan hadits ini pada setiap kitab mereka. Oleh karena itu hadits ini masyhur dikalangan ulama hadits dan ahli fiqih bahkan dikalangan ahli sufiy. Sehingga semua umat muslim mesti serius mengamalkan hadits ini agar amal yang dilakukan tidak sia-sia. Termasuk juga terkait dengan amalan puasa wajib atau pun sunat. Khusus amalan puasa fardhu ramadhan adalah untuk Allah dan Dia-lah yang paling tahu seseorang puasa atau tidak secara pasti.
Jangan ragukan niat untuk alasan yang tidak perlu dikhawatirkan, sebagaimana diajarkan Rasul,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ يَعْنِي الْقَعْنَبِيَّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِي يُونُسَ مَوْلَى عَائِشَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى الْبَابِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُصْبِحُ جُنُبًا وَأَنَا أُرِيدُ الصِّيَامَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُصْبِحُ جُنُبًا وَأَنَا أُرِيدُ الصِّيَامَ فَأَغْتَسِلُ وَأَصُومُ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَسْتَ مِثْلَنَا قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّبِعُ. (رواه أبودود: ٢٠٤١)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah Al Qa'nabi dari Malik dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar Al Anshari dari Abu Yunus mantan budak Aisyah, dari Aisyah istri Nabi ﷺ bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ sementara beliau berdiri di depan pintu; wahai Rasulullah sesungguhnya saya pada suatu pagi dalam keadaan junub dan saya ingin berpuasa. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Dan aku pernah pada suatu pagi dalam keadaan junub dan ingin berpuasa, lalu aku mandi dan berpuasa." Kemudian orang tersebut berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau tidak seperti kami, Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Kemudian Rasulullah ﷺ marah dan berkata, "Demi Allah aku berharap menjadi orang yang paling takut diantara kalian kepada Allah, dan orang yang paling mengerti apa yang aku ikuti." (HR. Abu Daud: 2041 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits ahlul Madinah)
Begitu juga hadits riwayat Malik: 564 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits ahlul Madinah.
Ingat riwayat berikut:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ فَإِنْ جَهِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَاهِلٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ. (رواه أحمد: ٨٩٩٥)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Warits berkata; telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Sa'id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sesungguhnya Rabb kalian 'Azza wa Jalla berfirman; 'Wahai anak Adam, setiap satu kebaikan balasannya adalah sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, hingga berlipat-lipat lagi. Puasa itu untuk-Ku maka Aku-lah yang akan membalasnya, dan puasa adalah tameng dari api neraka. Dan di sisi Allah 'Azza wa Jalla bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari bau minyak kesturi, maka jika ada seseorang yang ingin menyakiti salah seorang dari kalian hendaklah ia berkata; 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa. '" (HR. Ahmad: 8995 - dha'if dari 'Abdur Rahman bin Shakhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits Qudsiy)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 8995 terdapat periwayat bernama 'Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Sedangkan Yahya bin Ma'in, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya periwayat maqbul.
Riwayat yang shahih dari Abu Hurairah:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ الْقُرْدُوسِيُّ وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَذَرُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ بِجَرَّايَ قَالَ يَزِيدُ مِنْ أَجْلِي الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللَّهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. (رواه أحمد: ٦٨٩٧)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja 'far telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Hasan Al Qurdusiy dan Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Satu kebaikkan akan dibalas dengan sepuluh kebaikkan, puasa itu untuk Aku (Allah), maka Aku yang akan memberinya balasan, mereka meninggalkan makan dan minum untuk mendapatkan pahala dari-Ku." Menurut Yazid, beliau berkata, "Karena Aku puasa itu dilakukan, maka Aku yang akan membalasnya, dan bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum ketimbang minyak kesturi." (HR. Ahmad: 6897 - shahih dari 'Abdur Rahman bin Shakhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits Qudsiy)
Lafazh lain,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. (رواه إبن ماجه: ٣٨١٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap perbuatan (pahala) anak Adam akan digandakan baginya, satu kebaikan di balas dengan sepuluh kebaikan serupa sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Subhanahu berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Akulah yang akan membalasnya." (HR. Ibnu Majah: 3813 - shahih dari 'Abdur Rahman bin Shakhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits Qudsiy)
Lebih lanjut Rasul sampaikan bahwa,
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ أَبِي صَالِحٍ الزَّيَّاتِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. (رواه البخاري: ١٧٧١)
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam bun Yusuf dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Atha' dari Abu Shalih Az Zayyat bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah Ta'ala telah berfirman, "Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan puasa itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang puasa. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang puasa akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya, yaitu apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabnya dia bergembira disebabkan ibadah puasanya itu". (HR. Al Bukhari: 1771 - shahih dari 'Abdur Rahman bin Shakhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits Qudsiy)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 5472 dan 6938, Muslim: 1942 dan 1944, an Nasa'i: 2185, Ahmad: 8954 dan 10273 - shahih dari 'Abdur Rahman bin Shakhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits Qudsiy)
Demikianlah yang dapat penulis paparkan semoga bermanfaat bagi kita semua. Para sha'imin hendaknya menjaga niatnya hanya karena Allah yang pahalanya hanya Allah yang tahu berapa besar pahalanya. Apakah sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Karena pahala sunat saja sudah seperti itu, apalagi ibadah atau amalan wajib. Selanjutnya, perkara lafazh niat tidak menjadi hal yang prinsip apakah dengan lafazh tertentu. Hanya saja seorang sha'im sudah paham dan mengerti bahwa dia akan melaksanakan suatu amal, dalam hal ini berpuasa hanya karena Allah. Wallaahu a'lam bish Shawaab.
Billaahit taufiq wal hidaayah,
Wassalamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏