“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


SHALAT SUNAT SEBELUM ASAR
(shalat sunat nawafil dan rawatib)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Shalat sunat adalah penyempurna dari pelaksanaan shalat fardhu. Keutamaannya mencakup menyempurnaan pahala shalat fardhu dan balasan-balasan istimewa bagi yang senantiasa istiqamah melakukannya. Adapun sebagai penyempurna shalat fardhu dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits qudsinya yang diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ حَدَّثَنِي قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ حُرَيْثِ بْنِ قَبِيصَةَ قَالَ
قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ.

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رَوَى بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَسَنِ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ حُرَيْثٍ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَالْمَشْهُورُ هُوَ قَبِيصَةُ بْنُ حُرَيْثٍ وَرُوِي عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوُ هَذَا. (رواه الترمذي: ٣٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Nashr bin Ali Al Jahdhami berkata; telah menceritakan kepada kami Sahl bin Hammad berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam berkata; telah menceritakan kepadaku Qatadah dari Al Hasan dari Huraits bin Qabishah ia berkata, "Aku datang ke Madinah, lalu aku berdoa, "Ya Allah, mudahkanlah aku untuk mendapat teman shalih." Huraits bin Qabishah berkata, "Lalu aku berteman dengan Abu Hurairah, aku kemudian berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku telah memintah kepada Allah agar memberiku rezeki seorang teman yang shalih, maka bacakanlah kepadaku hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ, semoga dengannya Allah memberiku manfaat." Maka Abu Hurairah pun berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada hari kiamat pertama kali yang akan Allah hisab atas amalan seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka ia akan beruntung dan selamat, jika shalatnya rusak maka ia akan rugi dan tidak beruntung. Jika pada amalan fardhunya ada yang kurang maka Rabb 'Azza wa Jalla berfirman, "Periksalah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?" lalu setiap amal akan diperlakukan seperti itu."

Ia berkata, "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Tamim Ad Dari." Abu Isa berkata, "Hadits Abu Hurairah derajatnya hasan gharib dari sisi ini. Hadits ini telah diriwayatkan juga dari Abu Hurairah dengan jalur lain. Sebagian sahabat Al Hasan juga telah meriwayatkan hadits lain dari Al Hasan, dari Qabishah bin Huraits. Dan yang lebih terkenal adalah Qabishah bin Huraits. Hadits seperti ini juga pernah diriwayatkan dari Anas bin Hakim dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ." (HR. At Tirmidzi: 378 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 16019 (shahabat tidak diketahui), 16339 (dari shahabat tidak diketahui, Abu Hurairah dan Tamim bin 'Aus bin Kharijah bin Saud, ia shahabat kuniyahnya Abu Ruqayyah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 40 H), 16342 (dari Abu Hurairah dan Tamim bin 'Aus bin Kharijah bin Saud, ia shahabat kuniyahnya Abu Ruqayyah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 40 H). Selanjutnya hadits riwayat Ahmad: 22119 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari shahabat tidak diketahui. Namun, indikasi sumber hadits ini adalah dari Abu Hurairah.

Lebih lanjut, hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam an Nasa'i: 462, Abu Daud: 733, Ibnu Majah: 1415, Ahmad: 7561, 9130 dan 19771, ad Darimi: 1321 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Semua hadits dimaksud menjelaskan bahwa jika tidak sempurna pelaksanaan ibadah wajib, maka disempurnakan dengan amalan nawafil atau sunatnya. Demikian amalan-amalan fardhu yang lain disesuaikan.

Selanjutnya, ibadah shalat sunat yang dibalasi dengan keistimewaan di akhirat seperti Allah akan menganugerahkan rahmat dan rumah di surga. Sebagaimana pembahasan yang akan penulis paparkan. Apakah shalat sunat empat rakaat sebelum shalat Asar termasuk shalat sunat rawatib? Apa saja shalat sunat rawatib tersebut? Bagaimana dengan shalat sunat dua rakaat sebelum shalat Asar?. Nah, untuk lebih jelasnya simak riwayat-riwayat berikut:

Imam Abu Daud meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنِي جَدِّي أَبُو الْمُثَنَّى عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا. (رواه أبوداود: ١٠٧٩)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abu Daud telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihran Al Qurasyi telah menceritakan kepadaku Kakekku yaitu Abu Al Mutsanna dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat rakaat sebelum Asar." (HR. Abu Daud: 1079 - hasan dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 5708 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Sementara imam at Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang masyhur, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ مِهْرَانَ سَمِعَ جَدَّهُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ حَسَنٌ. (رواه الترمذي: ٣٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa dan Mahmud Al Gahilan dan Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi dan selainnya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim bin Mihran mendengar Kakeknya dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Asar."

Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib." (HR. At Tirmidzi: 395 - hasan dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Catatan: Hadits riwayat at Tirmidzi: 395, Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari tiga orang gurunya, yaitu:

1. Yahya bin Musa bin 'Abdu Rabbihi bin Salim, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Zakariya negeri hidup Kufah dan wafat tahun 240 H. Penilaian ulama: an Nasa'i, ad Daruquthni, Maslamah bin Qasim dan Ibnu Ishaq ats Tsaqafi menilainya tsiqah. Sementara Ibnu Ishaq ats Tsaqafi juga menilainya tsiqah ma'mun. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Mahmud bin Ghailan, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Ahmad negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 239 H. Penilaian ulama: an Nasa'i, Maslamah bin Qasim dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

3. Ahmad bin Ibrahim bin Katsir, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 246 H. Penilaian ulama: al 'Uqaili menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh, sementara adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Selain itu secara umum juga disinggung dalam riwayat imam Ahmad, bahwa shalat sunat empat raka'at sebelum Asar dengan memisahkan tiap dua raka'at dengan salam. Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ ضَمْرَةَ يَقُولُ
سَأَلْنَا عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ النَّهَارِ فَقَالَ إِنَّكُمْ لَا تُطِيقُونَ ذَلِكَ قُلْنَا مَنْ أَطَاقَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ إِذَا كَانَتْ الشَّمْسُ مِنْ هَاهُنَا كَهَيْئَتِهَا مِنْ هَاهُنَا عِنْدَ الْعَصْرِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَإِذَا كَانَتْ الشَّمْسُ مِنْ هَاهُنَا كَهَيْئَتِهَا مِنْ هَاهُنَا عِنْدَ الظُّهْرِ صَلَّى أَرْبَعًا وَيُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ وَقَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا وَيَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَالنَّبِيِّينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ. (رواه أحمد: ١٣٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq berkata; saya mendengar 'Ashim bin Dhamrah berkata; saya bertanya kepada Ali radhiallahu'anhu tentang shalat Rasulullah ﷺ pada siang hari, dia berkata, "Kalian tidak akan mampu mengerjakannya" kami berkata, "Siapa di antara kita yang kami untuk mengerjakan semua itu." Dia berkata, "Jika matahari berada di sana (arah timur dengan ketinggian) sama seperti saat berada di sini waktu shalat Asar, beliau shalat dua rakaat. Jika matahari berada di sana, ketinggiannya sama seperti saat berada di sini waktu Zuhur, beliau shalat empat rakaat, kemudian beliau shalat sebelum Zuhur empat rakaat dan setelah Zuhur dua rakaat, sebelum Asar empat rakaat dengan memisah setiap dua rakaat dengan salam atas para malaikat Al Muqarrabin, para nabi, dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan orang mukmin dan orang muslim." (HR. Ahmad: 1304 - isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Mutjallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 544 (hadits 'aziz, imam at Tirmidzi meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu 1). Mahmud bin Ghailan w. 239 H dari Wahab bin Jarir bin Hasin w. 206 H. 2). Muhammad bin Mutsanna bin 'Ubaid w. 252 H dari Muhammad bin Ja'far w. 193 H) dan An Nasa'i: 864 - hasan dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Mutjallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.

Sedangkan dalam riwayat imam Muslim tidak disebutkan rincian 12 raka'at tersebut, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَنْبَسَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِحَدِيثٍ يَتَسَارُّ إِلَيْهِ قَالَ سَمِعْتُ أُمَّ حَبِيبَةَ تَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ وَقَالَ عَمْرُو بْنُ أَوْسٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ سَالِمٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَالِمٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ سَجْدَةً تَطَوُّعًا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ. (رواه مسلم: ١١٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Abu Khalid yaitu Sulaiman bin Hayyan dari Daud bin Abu Hind dari Nu'man bin Salim dari 'Amru bin Aus, katanya; telah menceritakan kepadaku Anbasah bin Abu Sufyan ketika sakitnya yang menyebabkan dia meninggal, dengan hadits yang membuatnya gembira. Katanya; aku mendengar Ummu Habibah mengatakan; aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa shalat dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga." Ummu Habibah berkata; Maka aku tidak akan meninggalkan dua belas rakaat itu semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Dan Anbasah juga berkata, "Maka aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Ummu Habibah. Dan 'Amru bin Aus juga berkata, "Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Anbasah. Nu'man bin Salim juga berkata, "Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari 'Amru bin Aus. Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Al Misma'i telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Mufadhdhal telah menceritakan kepada kami Daud dari Nu'man bin Salim dengan sanad seperti ini, "Siapa yang shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka akan dibangunkan baginya rumah di dalam surga." (HR. Muslim: 1198 - shahih dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H. Hadits 'aziz)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 1059, an Nasa'i: 1775, 1783, 1784, 1786 dan 1787, Ibnu Majah: 1131, - shahih dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H.

Sementara itu dari jalur 'Abdullah bin Qais yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ ثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَن هَارُونَ أَبِي إِسْحَاقَ الْكُوفِيِّ مَنْ هَمْدَانَ عَن أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى عَن أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشَرَ رَكْعَةً سِوَى الْفَرِيضَةِ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ١٨٨٧٧)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammam bin Zaid dari Harun Abu Ishaq Al Kufi dari Hamdan, dari Abu Burdah bin Abu Musa dari bapaknya ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang shalat dua belas rakaat pada siang dan malam selain shalat wajib, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga." (HR. Ahmad: 18877 - isnadnya shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Sementara itu, beberapa hadits dengan sanad dha'if semakna dengan hadits di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad: 25543 dan 25544 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H. Sementara hadits riwayat Ahmad: 26127 - shahih, isnadnya wahm menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H. Dengan lafazh,

" ... أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ٢٦١٢٧)

" ... bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa dalam sehari melaksanakan shalat sunnah dua belas rakaat selain shalat wajib, maka akan dibangunkan rumah untuknya di surga." (HR. Ahmad: 26127 - shahih, isnadnya wahm menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H)

Begitu juga hadits dha'if menyebutkan shalat sunat dua rakaat sebelum Asar. Hadits dimaksud diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah dan an Nasa'i. Lafazh tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

1. Hadits riwayat Imam Ibnu Majah: 1132, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الْأَصْبَهَانِيِّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ أَظُنُّهُ قَالَ قَبْلَ الْعَصْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ أَظُنُّهُ قَالَ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ. (رواه إبن ماجه: ١١٣٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman bin Al Ashbahani dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ "Barangsiapa shalat dalam sehari sebanyak dua belas rakaat, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga; dua rakaat sebelum fajar, dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat, aku menduga bahwa beliau mengatakan, "Sebelum Asar, dua rakaat setelah Magrib, dan aku menduga beliau mengatakan, "Dan dua rakaat setelah Isya yang akhir." (HR. Ibnu Majah: 1132 - dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Dalam sanad hadits riwayat Ibnu Majah: 1132 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah Muhammad bin Sulaiman bin 'Abdullah bin al Ashbahaaniy, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Ali negeri hidup Kufah dan wafat tahun 181 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Ibnu Abi Hatim menilainya la ba'sa bih. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Hadits riwayat Imam an Nasa'i: 1779, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْأَزْهَرِ أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ النَّيْسَابُورِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَاثْنَتَيْنِ بَعْدَهَا وَاثْنَتَيْنِ قَبْلَ الْعَصْرِ وَاثْنَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَاثْنَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ
قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ. (رواه النسائي: ١٧٧٩)

Telah mengabarkan kepada kami Abul Azhar Ahmad bin Al Azhar An Naisaburi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad dia berkata; telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Suhail bin Abu Shalih dari Abu Ishaq dari Al Musayyab dari 'Anbasah bin Abu Sufyan dari Ummu Habibah dia berkata, "Ada dua belas rakaat yang barangsiapa mengerjakannya, Allah membangunkan baginya rumah di surga." Yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sebelum Asar, dua rakaat sesudah Magrib dan dua rakaat sebelum shalat Subuh." Abu Abdurrahman berkata; ' Fulaih bin Sulaiman orangnya lemah.' (HR. An Nasa'i: 1779 - dha'iful isnad menurut al Albani dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H)

Catatan: Dalam sanad hadits riwayat an Nasa'i: 1779 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits, ia bernama Fulaih bin Sulaiman bin Abi al Mughira, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Yahya negeri hidup Madinah dan wafat tahun 168 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi. Ad Daruquthni menilainya diperseliaihkan, Abu Daud menilainya laisa syai'. Sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq banyak salah. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Rincian yang shahih diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ هُوَ ابْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَحَدِيثُ عَنْبَسَةَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَنْبَسَةَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ. (رواه الترمذي: ٣٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Mu`ammal -yaitu Ibnu Isma'il- berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Abu Ishaq dari Al Musayyib bin Rafi' dari Anbasah bin Abu Sufyan dari Ummu Habibah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa dalam sehari semalam shalat sunnah dua belas rakaat maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga; empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Magrib, dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum Subuh."

Abu Isa berkata, "Hadits Anbasah dari Ummu Habibah dalam bab ini derajatnya hasan shahih, dan hadits ini juga telah diriwayatkan dari Anbasah dengan jalur lain." (HR. At Tirmidzi: 380 - shahih dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H)

Berdasarkan hadits-hadits di atas bahwa shalat sunat yang termasuk shalat sunat rawatib adalah:

1. Shalat sunat empat rakaat sebelum Zuhur
2. Dua rakaat setelah Zuhur
3. Dua rakaat setelah Maghrib
4. Dua rakaat setelah shalat 'Isya, dan
5. Dua rakaat sebelum Subuh.

Adapun shalat empat rakaat sebelum shalat Asar yang dikerjakan dua kali salam, tidak termasuk shalat sunat rawatib. Karena maksud hadits dari Ummu Habibah tersebut adalah shalat sunat dua belas rakaat yaitu shalat sunat rawatib.

Selanjutnya terkait dengan hadits yang menjelaskan shalat sunat dua rakaat sebelum Asar adalah bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan orang banyak. Sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Hadits yang dimaksud adalah hadits riwayat Ibnu Majah: 1132 dan Ibnu Majah: 1779. Masing-masing tidak menyebutkan shalat sunat sebelum Subuh dan sesudah shalat 'Isya. Jadi, matan dan sanadnya bermasalah, matannya kacau dan dalam sanadnya terdapat periwayat lemah yaitu; pertama, Muhammad bin Sulaiman bin 'Abdullah bin al Ashbahaaniy, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Ali negeri hidup Kufah dan wafat tahun 181 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Ibnu Abi Hatim menilainya la ba'sa bih. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Kedua, Fulaih bin Sulaiman. Sebagaimana Abu Abdurrahman berkata; ' Fulaih bin Sulaiman orangnya lemah.'

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]