AMAL ANAK BELUM BALIGH
(ANAK ORANG MUSYRIKIN DAN MUKMIN)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Manusia adalah tempat dibebankannya amanah dan amal setiap mereka dipertanggungjawabkan dihadapan Allah di akhirat. Amal seseorang baik atau pun buruk seseorang tidak dapat dibebankan kepada orang lain. Sehingga pertanggungjawabannya oleh mereka masing-masing.
Kemudian, muncul pertanyaan bahwa bagaimana jika amal anak belum baligh? Apakah amal mereka juga untuk mereka masing-masing?, apakah sama kedudukannya anak orang mukmin dengan orang musyrik?. Mari simak penjelasan dari riwayat-riwayat di bawah ini. Penulis paparkan secara bebas dan terarah.
Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه أحمد: ٨٧٤٠)
Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Az Zuhri dari Atho` bin Yazid Al Laitsi dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, Bahwasanya beliau ditanya tetang anak-anak kaum msuyrikin, maka beliau bersabda, "Allah lebih tahu dengan yang mereka kerjakan." (HR. Ahmad: 8740 - isnadnya shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H)
Begitu juga hadits riwayat imam Muslim: 4808 (hadits masyhur, dengan lima jalur sanad dan imam Muslim meriwayatkan dari empat orang gurunya) - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H.
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari, beliau berkata:
حَدَّثَنِي حِبَّانُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ إِذْ خَلَقَهُمْ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه البخاري: ١٢٩٤)
Telah menceritakan kepada kami Hibban bin Musa telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Abu Bisyir dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata,: Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrikin (yang meninggal dunia), Beliau bersabda, "Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika menciptakan mereka, lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan". (HR. Al Bukhari: 1294 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6108, Abu Daud: 4088 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.
Matan yang sama maknanya menggunakan kalimat "dzaraariy" diriwayatkan oleh imam al Bukhari, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَرَارِيِّ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه البخاري: ١٢٩٥)
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Atha' bin Yazid Al Laitsiy bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata,: Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang keturunan orang musyrikin (yang meninggal dunia), Beliau bersabda, "Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika menciptakan mereka lebih mengetahui apa yang telah mereka kerjakan". (HR. Al Bukhari: 1295 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 6109 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H.
Selanjutnya dengan menggunakan kalimat "athfaal", imam Muslim berkata:
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُشْرِكِينَ مَنْ يَمُوتُ مِنْهُمْ صَغِيرًا فَقَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه مسلم: ٤٨٠٩)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dia berkata; bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai anak-anak orang-orang musyrik yang meninggal ketika mereka masih kecil, lalu beliau menjawab, "Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan." (HR. Muslim: 4809 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H)
Dengan tambahan kalimat "idz khalaqahum" pada akhir matan. Imam Muslim berkata,
و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُشْرِكِينَ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ إِذْ خَلَقَهُمْ. (رواه مسلم: ٤٨١٠)
Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas dia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang nasib anak-anak kaum musyrik yang meninggal dunia sebelum usia baligh. Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab, 'Allah lah Yang Mahatahu tentang apa yang mereka kerjakan semenjak Allah menciptakannya.'" (HR. Muslim: 4810 - shahih shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Semetara itu imam Abu Daud dari Jalur sanad 'Aisyah yang masyhur, ia meriwayatkan hadits dengan matan hadits berkaitan dengan anak orang mukmin dan musyrik. Beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ ح و حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مَرْوَانَ الرَّقِّيُّ وَكَثِيرُ بْنُ عُبَيْدٍ الْمَذْحِجِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ الْمَعْنَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَرَارِيُّ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ هُمْ مِنْ آبَائِهِمْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِلَا عَمَلٍ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَرَارِيُّ الْمُشْرِكِينَ قَالَ مِنْ آبَائِهِمْ قُلْتُ بِلَا عَمَلٍ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه أبوداود: ٤٠٨٩)
Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Najdah berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Musa bin Marwan Ar Raqqi dan Katsir bin Ubaid Al Madzhiji keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harbi secara makna, dari Muhammad bin Ziyad dari Abdullah bin Abu Qais dari 'Aisyah ia berkata, "Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana nasib anak-anak kecil yang orang tua mereka mukmin?" beliau menjawab, "Mereka bagian dari bapak-bapak mereka." Aku bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak punya amal?" beliau menjawab, "Allah tahu dengan apa yang mereka lakukan." Aku bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan nasib anak-anak kaum musyrikin?" beliau menjawab, "Mereka bagian dari bapak-bapak mereka." Aku bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak punya amal?" beliau menjawab, "Allah tahu dengan apa yang mereka lakukan." (HR. Abu Daud: 4089 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Kemudian imam Abu Daud menjelaskan, dalam riwayat-riwayat berikut bahwa:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ
أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَبِيٍّ مِنْ الْأَنْصَارِ يُصَلِّي عَلَيْهِ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِهَذَا لَمْ يَعْمَلْ شَرًّا وَلَمْ يَدْرِ بِهِ فَقَالَ أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَخَلَقَهَا لَهُمْ وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ وَخَلَقَ النَّارَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَخَلَقَهَا لَهُمْ وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ. (رواه أبوداود: ٤٠٩٠)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Thalhah bin Yahya dari 'Aisyah binti Thalhah dari 'Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, "Anak anak kecil dari kaum Anshar (yang telah meninggal) dibawa ke hadapan Nabi ﷺ, lalu beliau menshalatinya. 'Aisyah berkata, "Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, beruntung sekali anak kecil ini, ia belum pernah melakukan keburukan dan belum mengenalnya." Beliau balik berkata, "Atau, bahkan tidak demikian wahai 'Aisyah. sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan pula orang-orang yang bakal menghuninya. Allah menciptakan surga bagi mereka di saat mereka masih berada di dalam sulbi orang tua mereka. Allah menciptakan neraka dan menciptakan pula orang-orang yang bakal menghuninya. Allah menciptakan neraka bagi mereka di saat mereka masih berada di dalam sulbi orang tua mereka." (HR. Abu Daud: 4090 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 4812 dan 4813 (hadits masyhur, imam Muslim meriwayatkan dari empat orang gurunya), Ahmad: 23002 dan 24560 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Imam Abu Daud berkata,
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه أبوداود: ٤٠٩١)
Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuannya-lah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani. Sebagaimana unta melahirkan anaknya yang sehat, apakah kamu melihatnya memiliki aib?" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang meninggal saat masih kecil?" Beliau menjawab, "Allah lebih tahu dengan yang mereka lakukan." (HR. Abu Daud: 4091 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H)
Kemudian beliau menjelaskan,
قَالَ أَبُو دَاوُد قُرِئَ عَلَى الْحَارِثِ بْنِ مِسْكِينٍ وَأَنَا أَسْمَعُ أَخْبَرَكَ يُوسُفُ بْنُ عَمْرٍو أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ مَالِكًا
قِيلَ لَهُ إِنَّ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ يَحْتَجُّونَ عَلَيْنَا بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ مَالِكٌ احْتَجَّ عَلَيْهِمْ بِآخِرِهِ قَالُوا أَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. (رواه أبوداود: ٤٠٩٢)
Abu Daud berkata, "Dibacakan di hadapan Al Harits bin Miskin -dan aku mendengar- berkata; Yusuf bin Amru mengabarkan kepadamu, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab ia berkata; Aku mendengar Malik ditanya, "Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti hawa nafsu menjadikan hadits ini sebagai hujah atas kami?" Malik berkata, "Bantahlah hujah mereka dengan kalimat terakhir dalam hadits tersebut." Mereka bertanya lagi, "Apa pendapatmu dengan orang yang meninggal saat masih kecil?" Malik menjawab, "Allah lebih tahu dengan apa yang ia lakukan." (HR. Abu Daud: 4092 - shahih dari Malik bin Anas bin Malik bin Abi 'Amir, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 179 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah dan Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun)
Dalam lafazh yang semakna juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 1271, 1296, 4402, 6110, Muslim: 4803, 4805, 4806, at Tirmidzi: 2064, Ahmad: 6884, 7133, 7387, 7463, 7832, 8206, 8739, 8949, 9851, dan Malik: 507 - shahih shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H. Semua matan terkait dengan anak yang lahir dalam keadaan fitrah/islam orang tuanyalah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani, Majusi maupun Musyrik. Hadits yang bernomor di-bold-kan adalah hadits Masyhur.
Hadits-hadits di atas menjadi dasar bahwa fitrah dan tidak berdosa anak yang lahir hingga ia baligh baik anak mukmin maupun musyrik.
Imam al Bukhari berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ يُصَلَّى عَلَى كُلِّ مَوْلُودٍ مُتَوَفًّى وَإِنْ كَانَ لِغَيَّةٍ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ يَدَّعِي أَبَوَاهُ الْإِسْلَامَ أَوْ أَبُوهُ خَاصَّةً وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ عَلَى غَيْرِ الْإِسْلَامِ إِذَا اسْتَهَلَّ صَارِخًا صُلِّيَ عَلَيْهِ وَلَا يُصَلَّى عَلَى مَنْ لَا يَسْتَهِلُّ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ سِقْطٌ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
كَانَ يُحَدِّثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
{ فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا }
الْآيَةَ. (رواه تلبخاري: ١٢٧٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, Ibnu Syihab: "Setiap anak yang wafat wajib dishalatkan sekalipun anak hasil zina karena dia dilahirkan dalam keadaan fithrah Islam, jika kedua orang tuanya mengaku beragama Islam atau hanya bapaknya yang mengaku beragama Islam meskipun ibunya tidak beragama Islam selama anak itu ketika dilahirkan mengeluarkan suara (menangis) dan tidak dishalatkan bila ketika dilahirkan anak itu tidak sempat mengeluarkan suara (menangis) karena dianggap keguguran sebelum sempurna, berdasarkan perkataan Abu Hurairah radhiallahu'anhu yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?". Kemudian Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, (mengutip firman Allah QS. Ar-Rum: 30 yang artinya: ('Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu"). (HR. Al Bukhari: 1270 - shahih shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wahat tahun 57 H)
Riwayat yang berbeda diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ فَإِذَا أَعْرَبَ عَنْهُ لِسَانُهُ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا. (رواه أحمد: ١٤٢٧٧)
Telah bercerita kepada kami Hasyim telah bercerita kepada kami Abu Ja'far dari Ar-Robi' bin Anas dari Al Hasan dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap anak dilahirkan di atas fithrah (Islam), hingga lisannya menyatakannya (mengungkapkannya), jika lisannya telah mengungkapkannya, dia nyata menjadi orang yang bersyukur (muslim) atau bisa juga menjadi orang yang kufur". (HR. Ahmad: 14277 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
Demikianlah riwayat-riwayat terhadap amal dan kedudukan anak-anak orang mukmin atau pun musyrik jika mereka meninggal dunia. Sementara itu, mereka dalam umur anak-anak atau belum baligh maka amal mereka untuk orang tua mereka masing-masing. Jika terdapat pertanyaan tentang orang tuanya musyrik? Maka jawabannya adalah Allah lebih tahu a terhadap amal atau apa yang akan mereka lakukan sejak ia diciptakan. Artinya urusannya diserahkan kepada Allah yang Mahamengetahui. Karena setiap anak yang lahir adalah fitrah dalam keislamannya. Sehingga walaupun ia meninggal, sedangkan orang tuanya musyrik.
Kemudian anak yang lahir lalu meninggal, jika ia menangis harus dishalatkan walau anak hasil zina sekalipun. Jika tidak bersuara atau menangis maka tidak perlu dishalatkan. Sehingga perlakuan seperti ini dapat dilaksanakan sebagaimana harusnya.
Terkait dengan hadits riwayat Ahmad: 14277, kualitas sanadnya dha'if dan tidak dapat dijadikan hujjah, karena bertentangan dengan hadits riwayat orang banyak atau menyendiri dari riwayat yang lebih kuat darinya. Dijelaskan bahwa Ar Rabi' bin Anas, ia tabi'in kalangan biasa negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 139 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya shaduq, Ibnu Hajar menilainya shaduq ada keraguan dan tertuduh Syi'ah. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏