SHALAT DUDUK PAHALANYA SEPAROH PAHALA SHALAT BERDIRI
OLEH: SAMSURIZAL, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Shalat adalah rukun islam kedua setelah syahadat dari lima rukun islam. Oleh karena itu mesti dijelaskan dengan rinci dan berdasarkan nash al Qur'an dan as Sunnah dengan baik dan benar. Bagi orang-orang yang sehat dan tanpa udzur, shalat berdiri adalah suatu keharusan, bagi orang yang sakit boleh duduk, berbaring atau dengan isyarat. Hal ini tentu menjadi permasalahan yang penting, karena menyangkut ibadah yang harus dengan nash. Sebagaimana diketahui bahwa ibadah mesti dilakukan berdasarkan tuntunan nash yang shahih. Karena asal hukum ibadah itu haram, kecuali ada nash yang menjelaskannya.
Bahasan kali ini penulis paparkan hadits-hadits dan penjelasan terkait maksud hadits "shalat duduk pahalanya setengah shalat berdiri". Apakah hal ini berlaku pada orang yang sehat atau orang yang sakit (udzur)?, apakah berlaku untuk shalat wajib?.
Mari kita simak penjelasannya dibawah ini. Hadits-hadits terkait penulia paparkan dengan bahasa dan rentetan mudah dipahami. Hal ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang lurus dan mudah dicerna.
Imam al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ وَكَانَ رَجُلًا مَبْسُورًا وَقَالَ أَبُو مَعْمَرٍ مَرَّةً عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ نَائِمًا عِنْدِي مُضْطَجِعًا هَا هُنَا. (رواه البخاري: ١٠٤٩)
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar berkata, telah menceritakan kepada kami "Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu'alim dari 'Abdullah bin Buraidah bahwa 'Imran bin Hushain radhiallahu'anhu adalah seorang yang pernah menderita sakit wasir. Dan suatu kali Abu Ma'mar berkata, dari Hushain yang berkata; Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk. Maka beliau ﷺ menjawab, "Siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk". Berkata, Abu 'Abdullah, "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring." (HR. Al Bukhari: 1049 - shahih dari 'Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 1048 (hadits 'aziz), an Nasa'i: 1642, Ibnu Majah: 1221, Ahmad: 19057, 19124 dan 19132 (hadits 'aziz) - shahih dari 'Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H.
Imam at Tirmidzi ditemukan beberapa penjelasan tentang shalat duduk pahalanya setengah shalat duduk. Beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ.
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَنَسٍ وَالسَّائِبِ وَابْنِ عُمَرَ.
قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ إِلَّا أَنَّهُ يَقُولُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الْمَرِيضِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا رَوَى عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ نَحْوَ رِوَايَةِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ وَقَدْ رَوَى أَبُو أُسَامَةَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ نَحْوَ رِوَايَةِ عِيسَى بْنِ يُونُسَ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ إِنْ شَاءَ الرَّجُلُ صَلَّى صَلَاةَ التَّطَوُّعِ قَائِمًا وَجَالِسًا وَمُضْطَجِعًا وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي صَلَاةِ الْمَرِيضِ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ جَالِسًا فَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُصَلِّي عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ و قَالَ بَعْضُهُمْ يُصَلِّي مُسْتَلْقِيًا عَلَى قَفَاهُ وَرِجْلَاهُ إِلَى الْقِبْلَةِ قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ فِي هَذَا الْحَدِيثِ مَنْ صَلَّى جَالِسًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ قَالَ هَذَا لِلصَّحِيحِ وَلِمَنْ لَيْسَ لَهُ عُذْرٌ يَعْنِي فِي النَّوَافِلِ فَأَمَّا مَنْ كَانَ لَهُ عُذْرٌ مِنْ مَرَضٍ أَوْ غَيْرِهِ فَصَلَّى جَالِسًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَقَدْ رُوِيَ فِي بَعْضِ هَذَا الْحَدِيثِ مِثْلُ قَوْلِ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ. (رواه الترمذي: ٣٣٩)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr berkata; telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus berkata; telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Muallim dari Abdullah bin Buraidah dari Imran bin Hushain ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang shalat seorang laki-laki yang dilakukan sambil duduk, maka beliau menjawab, "Barangsiapa shalat dengan berdiri maka lebih utama, barangsiapa shalat dengan duduk maka pahalanya adalah setengah dari shalatnya orang dengan berdiri, dan barangsiapa shalat dengan berbaring maka pahalanya adalah setengah dari shalatnya orang dengan duduk." Ia berkata, "
Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abdullah bin Amru, Anas bin As Sa`ib dan Ibnu Umar."
Abu Isa berkata, "Hadits Imran bin Hushain derajatnya hasan shahih. Hadits ini juga telah diriwayatkan dari Ibrahim bin Thahman dengan sanad ini, hanya saja ia mengatakan; dari Imran bin Hushain. Ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang shalat orang yang sakit, beliau lalu menjawab, "Shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka shalatlah dengan duduk, dan jika tidak mampu maka shalatlah dengan berbaring." Seperti itulah Hannad meriwayatkan kepada kami, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Waki' dari Ibrahim bin Thahman dari Husain Al Mu'allim. Abu Isa berkata, "Kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkan dari Husain Al Amu'allim seperti riwayat Ibrahim bin Thahman. Abu Usamah dan banyak orang meriwayatkan dari Husain Al Mu'allim seperti riwayat Isa bin Yunus. Dan menurut ahli ilmu makna hadits ini berlaku dalam shalat sunnah." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Asy'ats bin Abdul Malik dari Al Hasan ia berkata, "Jika seseorang berkehendak, ia bisa shalat sunah dengan berdiri, duduk dan berbaring." Para ulama berbeda pendapat dengan shalatnya orang sakit dan tidak bisa shalat dengan duduk. Sebagian ahli ilmu berkata, "Hendaknya ia shalat dengan berbaring di atas lambung kanan." Sedangkan sebagian ulama yang lain berkata, "Hendaknya ia shalat terlentang dengan menghadapkan kakinya ke arah kiblat." Sufyan Ats Tsauri berkata tentang hadits ini, "Barangsiapa shalat dengan duduk maka ia mendapatkan setengah pahala orang yang shalat dengan berdiri." Ia berkata, "Ini berlaku bagi orang yang sehat dan orang yang tidak mempunyai udzur (yakni dalam shalat sunnah). Adapun orang yang berhalangan karena sakit atau yang lainnya lalu ia shalat dengan duduk maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berdiri. Dan sebagian hadits ini telah diriwayatkan pula seperti perkataan Sufyan Ats Tsauri." (HR. At Tirmidzi: 339 - shahih dari 'Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H)
Shalat yang paling banyak dilakukan oleh Rasulullah dengan duduk diwaktu beliau sudah tua adalah shalat sunat. Beliau paling suka dengan amal shalih yang dilakukan secara terus menerus walapun sedikit. Hal ini diinformasikan oleh imam an Nasa'i, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ
مَا مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ أَكْثَرُ صَلَاتِهِ قَاعِدًا إِلَّا الْفَرِيضَةَ وَكَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَيْهِ أَدْوَمَهُ وَإِنْ قَلَّ. (رواه النسائي: ١٦٣٦)
Telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Mas'ud telah menceritakan kepada kami Khalid dari Syu'bah dari Abu Ishaq dia berkata; Aku mendengar Abu Salamah dari Ummu Salamah dia berkata, "Tidaklah Rasulullah ﷺ wafat hingga kebanyakan shalatnya adalah sambil duduk, kecuali shalat fardhu. Perbuatan yang paling dicintai adalah yang dilakukan secara kontinu, walaupun sedikit." (HR. An Nasa'i: 1636 - shahih dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 1637, Ibnu Majah: 1215 dan 4227, Ahmad: 25385, 25390, 25501 dan 25505 - shahih dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H.
Hanya saja hadits riwayat Ahmad: 25333 menyebutkan hanya sampai "shalaatihi jaalisan" beliau berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو قَطَنٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ يَعْنِي ابْنَ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْأَسْوَدِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ
مَا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ أَكْثَرَ صَلَاتِهِ جَالِسًا. (رواه أحمد: ٢٥٣٣٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Qathn telah menceritakan kepada kami Yunus, yaitu Ibnu Abi Ishaq dari Ayahnya dari Al Aswad dari Ummu Salamah berkata, "Tidaklah Rasulullah ﷺ dicabut nyawanya hingga kebanyakan shalatnya dilakukan dengan duduk." (HR. Ahmad: 25333 - shahih, isnadnya mukhtaliffih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikianlah penjelasan tentang shalat duduk pahalanya setengah daripada shalat dilakukan berdiri. Jika diruntut, shalat yang dimaksud sebagaimana dijelaskan oleh Sufyan Ats Tsauri tentang hadits ini bahwa, "Barangsiapa shalat dengan duduk maka ia mendapatkan setengah pahala orang yang shalat dengan berdiri." Ia berkata, "Ini berlaku bagi orang yang sehat dan orang yang tidak mempunyai udzur (yakni dalam shalat sunnah). Adapun orang yang berhalangan karena sakit atau yang lainnya lalu ia shalat dengan duduk maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berdiri. Dan sebagian hadits ini telah diriwayatkan pula seperti perkataan Sufyan Ats Tsauri."
Wallahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏