MENYIKAPI HARI JUMAT, SABTU DAN MINGGU BAGI ISLAM
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allah berfiman terhadap pembangkangan kaum Yahudi di hari Sabtu dan hari Juma'at dimuliakan bagi umat Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اٰمِنُوْا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّطْمِسَ وُجُوْهًا فَنَرُدَّهَا عَلٰٓى اَدْبَارِهَآ اَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّآ اَصْحٰبَ السَّبْتِ ۗ وَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٤٧)
Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab, berimanlah pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada padamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah(-mu), lalu Kami putar ke belakang (sebagai penghinaan) atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabat (Sabtu). Ketetapan Allah (pasti) berlaku. (QS. An-Nisā'/4: 47)
Dan,
اِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ وَاِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. (قرآن سورة النحل/١٦: ١٢٤)
Sesungguhnya (mengagungkan) hari Sabtu hanya diwajibkan bagi orang-orang (Yahudi) yang memperselisihkannya.*) Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan. (QS. An-Naḥal/16: 124)
*) Orang-orang Yahudi diperintahkan untuk mengkhususkan hari Jumat untuk beribadah, tetapi mereka menolak dan menjadikan hari Sabtu sebagai penggantinya.
Demikianlah penjelasan al Qur'an tentang pembangkangan orang-orang Yahudi tentang hari Sabtu dan tidak mau beribadah di hari Jumat. Allah memutuskan hari Jumat sebagai hari istimewa bagi umat Muslim.
Selanjutnya, dalam riwayat-riwayat atau hadits hal ini juga diungkapkan dalam berbagai redaksi. Kandungannya terkait dengan hari Jum'at, Sabtu dan hari Minggu. Hanya saja hari Minggu tidak tercantum dalam al Qur'an. Namun, hal ini dimaklumi. Karena telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam beberapa riwayat.
Mengetahui hal ini bertujuan untuk berfikir kritis dan spekulatif dengan pertimbangan penuh, sehingga butuh seni aktual untuk memberi kesempatan bagi akal dan jiwa agar arif dan bijak. Arif dalam mengutarakan hasil fikiran, dan bijaksana dalam meng aktualisasikan fikiran tersebut.
Mari simak riwayat-riwayat dimaksud. Riwayat-riwayat tersebut berasal dari jalur Ummu Salamah, 'Aisyah, Abu Hurairah dan Hudzifah. Diriwayatkan oleh imam Muslim, at Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad.
Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا عَتَّابُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مُبَارَكٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ سَلَمَةَ تَقُولُ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ يَوْمَ السَّبْتِ وَيَوْمَ الْأَحَدِ أَكْثَرَ مِمَّا يَصُومُ مِنْ الْأَيَّامِ وَيَقُولُ إِنَّهُمَا عِيدَا الْمُشْرِكِينَ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أُخَالِفَهُمْ. (رواه أحمد: ٢٥٥٢٥)
Telah menceritakan kepada kami 'Attab bin Ziyad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah -yakni Ibnu Mubarak- berkata, telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin 'Umar bin 'Ali berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Kuraib bahwa ia mendengar Ummu Salamah berkata, "Rasulullah ﷺ dulu lebih sering berpuasa pada hari Sabtu dan ahad daripada hari-hari yang lain, dan beliau bersabda, "Sesungguhnya kedua hari itu adalah hari besar orang musyrik, dan aku hanya ingin menyelisihi mereka." (HR. Ahmad: 25525 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Penjelasan lain, Imam at Tirmidzi meriwayatkan tentang puasa tiga hari dalam setiap bulan hijrah. Beliau berkata:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ وَمُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ خَيْثَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ الشَّهْرِ السَّبْتَ وَالْأَحَدَ وَالِاثْنَيْنِ وَمِنْ الشَّهْرِ الْآخَرِ الثُّلَاثَاءَ وَالْأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَرَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ سُفْيَانَ وَلَمْ يَرْفَعْهُ. (رواه الترمذي: ٦٧٧)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad dan Mu'awiyah bin Hisyam keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Khaitsamah dari 'Aisyah dia berkata, adalah Rasulullah ﷺ pernah berpuasa dari satu bulan pada hari Sabtu, Ahad, dan Senin, di bulan yang lain (beliau berpuasa) pada hari Selasa, Rabu dan Kamis. Abu 'Isa berkata, ini merupakan hadits hasan gharib. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan hadits ini dari Sufyan namun tidak memarfu'kannya. (HR. At Tirmidzi: 677 - dha'if menurut al Albani dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Catatan: hadits riwayat imam at Tirmidzi: 677 adalah hadits 'aziz pada pertengahan tabaqat. Guru imam at Tirmidzi yaitu Muhammad bin Ghailan, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Ahmad negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 239 H. Penilaian ulama: an Nasa'i, Maslamah bin Qasim dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Beliau menerima dari dua orang gurunya yaitu: 1. Muhammad bin 'Abdullah bin az Zubair bin 'Umar bin Dirham, tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Ahmad negeri hidup Kufah dan wafat tahun 203 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat. Sementara Ibnu Kharasy menilainya shaduq. Sementara an Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa. 2. Mu'awwiyah bin Hisyam, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 204 H. Penilaian ulama: adz Dzhabi dan Abu Daud menilainya tsiqah. Abu Hatim dan as Saji menilainya shaduq. Ibnu Sa'ad berkata, "shaduq, banyak haditsnya". Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq, tetapi punya keragu-raguan. Yahya bin Ma'in menilainya shalih. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Kedua periwayat ini menerima dari Sufyan bin Sa'id bin Masruq, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 161 H. Penilaian ulama: Malik bin Anas dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya abid, imam, hujjah, tsiqah hafizh faqih. Ibnu Hibban mengatakan, "termasuk dari para huffazh mutqin. Adz Dzahabi menilainya imam.
Rasulullah menyatakan bahwa hari Sabtu untuk Yahudi dan Minggu untuk Nasrani, sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan. Beliau berkata,
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ وَلَا غَرَبَتْ عَلَى يَوْمٍ خَيْرٍ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ هَدَانَا اللَّهُ لَهُ وَأَضَلَّ النَّاسَ عَنْهُ فَالنَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ هُوَ لَنَا وَلِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ وَلِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ إِنَّ فِيهِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُؤْمِنٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ. (رواه أحمد: ١٠٣٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`bi dari Sa'id Ibnul Musayyab dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada hari yang matahari terbit dan tenggelam yang lebih baik dari hari Jumat, pada hari itu Allah memberi hidayah kepada kita dan menyesatkan manusia, maka manusia akan mengikuti kita pada hari itu, hari Jumat adalah untuk kita, Yahudi hari Sabtu dan Nasrani hari ahad. Sesungguhnya pada hari itu ada satu waktu, tidaklah seorang mukmin mendapati waktu tersebut, ia shalat dan meminta sesuatu kepada Allah 'Azza wa Jalla kecuali pasti akan diberikan." (HR. Ahmad: 10305 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Kemudian dijelaskan bahwa Allah telah menjadikan hari Jum'at, Sabtu dan Minggu sebagai hari suci. Sebagaimana hadits riwayat imam an Nasa'i, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَعَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَا
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَضَلَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ فَجَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِنَا فَهَدَانَا لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَالْأَحَدَ وَكَذَلِكَ هُمْ لَنَا تَبَعٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ. (رواه النسائي: ١٣٥١)
Telah mengabarkan kepada kami Washil bin 'Abdul A'la dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Abu Malik Al Asyja'i dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dan dari Rib'i bin Hirasy dari Hudzaifah mereka berdua berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla tidak menghadiahkan hari Jumat kepada orang-orang sebelum kita, sehingga orang-orang Yahudi memperoleh hari Sabtu, dan orang-orang Nasrani memperoleh hari Ahad. Kemudian Allah 'Azza wa Jalla membawa kita dan memberi petunjuk kepada kita untuk memperoleh hari Jumat, Sehingga jadilah yang Ia tetapkan hari suci yaitu hari Jumat, Sabtu dan Ahad. Mereka (Yahudi dan Nasrani) mengikuti kita pada hari kiamat, sementara kita adalah orang terakhir dari penduduk dunia dan orang-orang pertama pada hari kiamat. Hal itu diputuskan bagi mereka sebelum makhluk-makhluk." (HR. An Nasa'i: 1351 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dan Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H. Hadits 'azis, pada tingkat shahabat)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 1415 (hadits masyhur dengan lima jalur periwayatan), Ibnu Majah: 1073 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dan Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H.
Hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ مَوْلَى أُمِّ بُرْثُنٍ حَدَّثَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ اللَّهُ الْجُمُعَةَ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَاخْتَلَفُوا وَهَدَانَا اللَّهُ لَهَا فَالنَّاسُ لَنَا فِيهَا تَبَعٌ فَلِلْيَهُودِ غَدٌ وَلِلنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. (رواه أحمد: ٨٦٨٠)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah bahwa Abdurrahman pelayan Ummu Burtsum menceritakan dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah menetapan hari Jumat kepada orang-orang sebelum kita, lalu mereka menyelisihinya, dan Allah memberikan hidayah kepada kita pada hari itu, maka manusia pada hari itu mengikuti kita, dan hari bagi orang Yahudi adalah besok, dan bagi orang Nasrani hari setelahnya." (HR. Ahmad: 8680 - shahih isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 9967 dn 10207 - shahih isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Selanjutnya terdapat tambahan pernyata dengan kalimat "fal yaumu lana", sebagaimana terdapat dalam riwayat imam Ahmad beliau berkata:
حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ وَعَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ آدَمَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ الْجُمُعَةَ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِيهَا وَهَدَانَا اللَّهُ لَهَا فَالنَّاسُ لَنَا فِيهَا تَبَعٌ فَالْيَوْمُ لَنَا وَلِلْيَهُودِ غَدًا وَلِلنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ وَلِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى أُمِّ بُرْثُنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ الْيَوْمُ لَنَا. (رواه أحمد: ١٠٢٣٢)
Telah menceritakan kepada kami Rauh, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sa'id dan Abdul Wahhab dari Qotadah dari Abdurrahman bin Adam dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan hari Jumat atas orang-orang sebelum kita lalu mereka berselisih di dalamnya, kemudian Allah memberikan hidayah kepada kita pada hari itu, pada hari itu manusia akan mengikuti kita, hari ini adalah milik kita, Yahudi besok dan Nasrani setelahnya, Yahudi hari Sabtu dan Nasrani hari ahad." Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abdurrahman mantan budak Ummu Burtsun, dari Abu Hurairah, dia berkata; Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, lalu beliau menyebutkan sebagaimana redaksi hadits di atas tadi, hanya saja beliau tidak menyebutkan, "Hari ini adalah milik kita." (HR. Ahmad: 10232 - shahih isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits masyhur)
Hadits riwayat Ahmad: 10232 adalah hadits masyhur, imam Ahmad meriwayatkan dari tiga orang gurunya, yaitu:
1. Rauh bin 'Ubadah bin al 'Alaa', ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 205 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Ya'qub ibnu Syaibah menilainya shaduq. Muhammad bin Sa'ad dan al Khathib menilainya tsiqah. Al Bazzar menilainya tsiqah ma'mun. Sedangkan Abu Hatim menilainya shalih.
2. 'Abdul Wahhab bin 'Atha', ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Nashar negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 204 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan ad Daruquthni menilainya tsiqah. Sementara Ibnu Hajar dan Ibnu Sa'ad menilainya shaduq. Sedangkan an Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa dan laisa bi qawi, Ahmad bin Hanbal menilainya dha'iful hadits. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".
3. 'Abdush Shamad bin 'Abdul Warits bin Sa'id bin Dzakwan, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 207 H. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah, Hakim menilainya tsiqah ma'mun. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq shalih, sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq. Adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits di atas dipahami bahwa hari Jumat, Sabtu dan Minggu merupakan hari yang Allah muliakan bagi makhluk-Nya. Namun, karena pembangkangan manusia Allah menetapkan yang lain. Karena pembangkangan perintah Allah. Bagi orang Yahudi mereka menjadikan hari Sabtu sebagai hari istimewa untuk beribadah, sedangkan umat Nashrani menjadikan hari Minggu menjadi hari istimewa beribadah bagi mereka. Bagi umat Muslim yang taat pada perintah Allah, mereka mengikuti perintah Allah dengan menjadikan hari Jumat sebagai hari istimewa. Sebagaimana juga Rasulullah ﷺ memerintahkan bagi kaum laki-laki beribadah di Masjid untuk ibadah jum'at. Rasulullah ﷺ menekankan bahwa hari Jum'at "hari ini adalah milik kita".
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏