WANITA KELUAR RUMAH UNTUK TAKZIYAH DAN ZIARAH KUBUR
(nasakh dan manshukh dalam hadits)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ بْنُ سَيْفٍ الْمَعَافِرِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
بَيْنَمَا نَحْنُ نَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ بَصُرَ بِامْرَأَةٍ لَا نَظُنُّ أَنَّهُ عَرَفَهَا فَلَمَّا تَوَجَّهْنَا الطَّرِيقَ وَقَفَ حَتَّى انْتَهَتْ إِلَيْهِ فَإِذَا فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ مَا أَخْرَجَكِ مِنْ بَيْتِكِ يَا فَاطِمَةُ قَالَتْ أَتَيْتُ أَهْلَ هَذَا الْبَيْتِ فَرَحَّمْتُ إِلَيْهِمْ مَيِّتَهُمْ وَعَزَّيْتُهُمْ فَقَالَ لَعَلَّكِ بَلَغْتِ مَعَهُمْ الْكُدَى قَالَتْ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ أَكُونَ بَلَغْتُهَا مَعَهُمْ وَقَدْ سَمِعْتُكَ تَذْكُرُ فِي ذَلِكَ مَا تَذْكُرُ قَالَ لَوْ بَلَغْتِهَا مَعَهُمْ مَا رَأَيْتِ الْجَنَّةَ حَتَّى يَرَاهَا جَدُّ أَبِيك. (رواه أحمد: ٦٢٨٦)
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Sa'id telah menceritakan kepada kami Rabi'ah bin Saif Al Ma'afiry dari Abu Abdirrahman Al Hubuliy dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau melihat seorang wanita yang kami kira beliau tidak mengenalnya, akan tetapi tatkala kami semua telah menghadap ke jalan, beliau berhenti hingga wanita itu pun sampai ke tempat beliau, dan ternyata wanita itu adalah Fatimah binti Rasulullah ﷺ (semoga Allah Ta'ala meridhainya). Maka beliaupun bertanya, "Wahai Fatimah, apa yang menyebabkanmu keluar dari rumah?" Fatimah menjawab, "Aku mendatangi rumah ini untuk mendoakan agar si mayit mendapat rahmat dari Allah Ta'ala dan mendoakan keluarganya agar diberi ketabahan." Beliau bertanya lagi, "Apa kamu mengantar jenazahnya bersama mereka sampai ke pemakamannya?" Fatimah menjawab, "Aku berlindung kepada Allah bila sampai mengantar ke kuburannya bersama mereka padahal aku telah mendengar sabdamu (yang melarang hal itu)." Beliau berkata, "Jika kamu sampai mengantarnya ke kuburan bersama mereka, maka kamu tidak akan melihat surga hingga kakek bapakmu ini melihatnya." (HR. Ahmad: 6286 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)
Demikian juga hadits riwayat imam an Nasa'i: 1857 (hadits 'aziz, karena imam an Nasa'i meriwayatkan dari dua orang gurunya) dan Ahmad: 6785 - dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Kedua hadits ini dinilai dha'if oleh ulama hadits yaitu Syu'aib al Arna'uth dan al Albani. Sementara diriwayatkan secara makna.
Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 6286 semua periwayat maqbul, jika dilihat urutan sanadnya. Dalam riwayat imam an Nasa'i terdapat penjelasan, bahwa Abu Abdurrahman berkata; "Rabi'ah orangnya lemah".
Beliau adalah Rabi'ah bin Saif bin Maani', ia tabi'in kalangan biasa negeri hidup Maru dan wafat tahun 120 H. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa, ad Daruquthni menilainya mishry shalih. Al 'Ajli menilainya tsiqah, sedangkan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat.
Selanjutnya imam Ahmad meriwayatkan hadits tentang pembatalan larangan tiga hal diantaranya ziarah kubur bagi perempuan. Beliau berkata:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنْبَأَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ النَّابِغَةِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ وَعَنْ الْأَوْعِيَةِ وَأَنْ تُحْبَسَ لُحُومُ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ ثُمَّ قَالَ إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ الْأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِيهَا وَاجْتَنِبُوا كُلَّ مَا أَسْكَرَ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ أَنْ تَحْبِسُوهَا بَعْدَ ثَلَاثٍ فَاحْبِسُوا مَا بَدَا لَكُمْ حَدَّثَنَاه عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ النَّابِغَةِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ وَإِيَّاكُمْ وَكُلَّ مُسْكِر. (رواه أحمد: ١١٧٣)
Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Rabi'ah bin An Nabighah dari bapaknya dari Ali berkata, "Rasulullah ﷺ melarang ziarah kubur dan (melarang) beberapa bejana serta (melarang) menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari. Kemudian beliau bersabda, "Saya pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, sekarang ziarahlah karena hal itu bisa mengingatkan akhirat. Saya juga melarang beberapa bejana, sekarang minumlah darinya, namun hindarilah semua yang memabukkan. Saya juga pernah melarang menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, sekarang simpanlah semau kalian." Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Rabi'ah bin An Nabighah dari Bapaknya dari Ali berkata; Rasulullah ﷺ melarang ziarah kubur, lantas dia menyebutkan secara makna kecuali perkataan, "Hindarilah semua yang memabukkan!" (HR. Ahmad: 1173 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim dengan makna sama, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ وَابْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِي سِنَانٍ وَهُوَ ضِرَارُ بْنُ مُرَّةَ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ النَّبِيذِ إِلَّا فِي سِقَاءٍ فَاشْرَبُوا فِي الْأَسْقِيَةِ كُلِّهَا وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ زُبَيْدٍ الْيَامِيِّ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ أُرَاهُ عَنْ أَبِيهِ الشَّكُّ مِنْ أَبِي خَيْثَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ جَمِيعًا عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ عَطَاءٍ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ بِمَعْنَى حَدِيثِ أَبِي سِنَانٍ. (رواه مسلم: ١٦٢٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdulalh bin Numair dan Muhammad bin Al Mutsanna -sedangkan lafazhnya milik Abu Bakar dan Ibnu Numair- mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Abu Sinan -ia adalah Dlirar bin Murrah- dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Buraidah dari bapaknya ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Dahulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah. Dahulu aku melarang kalian untuk menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari, maka sekarang simpanlah selama jelas bagimu manfaatnya. Dahulu aku melarang kalian membuat anggur selain dalam qirbah, maka sekarang minumlah dari segala tempat air, asal jangan kamu minum yang memabukkan." Ibnu Numair berkata dalam hadits yang diriwayatkannya; Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Uqbah dari Sufyan dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya dari Nabi ﷺ -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar dan Muhammad bin Rafi' dan Abdu bin Humaid semuanya dari Abdurrazaq dari Ma'mar dari Atha` Al Khurasani ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah dari bapaknya dari Nabi ﷺ. Semuanya adalah semakna dengan hadits Abu Sinan. (HR. Muslim: 1623 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H. Hadits masyhur dengan tiga jalur periwayatan)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 3651 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H. Hadits masyhur dengan empat jalur periwayatan. Sementara imam an Nasa'i: 2005 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H.
Imam Abu Daud berkata,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا مُعَرِّفُ بْنُ وَاصِلٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً. (رواه أبوداود: ٢٨١٦)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Mu'arrif bin Washil dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian)." (HR. Abu Daud: 2816 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Selanjutnya hal semakna juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمِ النَّبِيلُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ.
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ بِزِيَارَةِ الْقُبُورِ بَأْسًا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَق. (رواه الترمذي: ٩٧٤)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar dan Mahmud bin Ghailan dan Al Hasan bin Ali Al Khallal mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim An Nabil telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat."
(Abu Isa At Tirmidzi) berkata, "Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Sa'id, Ibnu Mas'ud, Anas, Abu Hurairah dan Umu Salamah." Abu Isa berkata, "Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq". (HR. At Tirmidzi: 974 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H. Hadits masyhur dengan tiga jalur periwayatan)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 5558 dan 5559, Ahmad: 21927, 21937 dan 21938 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H. Selanjutnya, imam Ahmad juga meriwayatkan dari jalur Anas bin Malik, beliau berkata:
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ الْحَارِثِ الْجَابِرُ عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ مَوْلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَعَمْرِو بْنِ عَامِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ وَعَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ وَعَنْ النَّبِيذِ فِي الدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ قَالَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ أَلَا إِنِّي قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ ثُمَّ بَدَا لِي فِيهِنَّ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ثُمَّ بَدَا لِي أَنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ فَزُورُوهَا وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ أَنْ تَأْكُلُوهَا فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ ثُمَّ بَدَا لِي أَنَّ النَّاسَ يُتْحِفُونَ ضَيْفَهُمْ وَيُخَبِّئُونَ لِغَائِبِهِمْ فَأَمْسِكُوا مَا شِئْتُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ النَّبِيذِ فِي هَذِهِ الْأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا بِمَا شِئْتُمْ وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا فَمَنْ شَاءَ أَوْكَأَ سِقَاءَهُ عَلَى إِثْمٍ. (رواه أحمد: ١٣٠٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; Muhammad telah menceritakan kepadaku Yahya bin Al Harits Al Jabir dari Abdul Warits budak Anas bin Malik dan Amr bin 'Amir dari Anas bin Malik berkata; Rasulullah ﷺ melarang ziarah kubur, daging kurban setelah tiga hari, Nabidz (perasan kurma yang disimpan dan hampir menjadi arak) dalam bejana kulit buah, bejana pelepah, dan Al hantam (bejana yang terbuat dari tanah liat, rambut dan darah), atau disimpan dalam bejana yang diter. (Anas bin Malik radhiallahu'anhu) berkata; Rasulullah ﷺ bersabda setelah itu, "Ketahuilah! Dahulu aku pernah melarang kalian dari tiga hal yang fakta telah membuktikan untukku; aku pernah melarang kalian ziarah kubur, dan fakta membuktikan bahwa hal itu dapat melunakkan hati dan meneteskan air mata serta mengingatkan akhirat maka sekarang berziarah kalian, dan janganlah kalian berkata keji atau kotor, dan aku pernah melarang kalian dari memakan daging kurban setelah tiga malam, kemudian fakta membuktikan untukku bahwa orang-orang memang menghadiahkan untuk tamunya namun sekaligus menyimpannya untuk yang tidak hadir, maka (simpanlah) sekehendak kalian, dan aku juga pernah melarang kalian dari meminum nabidz dalam bejana bejana tadi, maka minumlah sekehendak kalian dan jangan kalian menenggak minuman yang memabukkan, dan siapa berkehendak, ia menutup mulut bejananya dengan berdosa." (HR. Ahmad: 13000 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz pada pertengahan sanad)
Demikianlah penjelasan pe-nashakh-an hadits yang datang terdahulu dan hukumnya menjadi mansukh. Dengan pengertian lain, hadits yang datang terdahulu dihapus hukumnya dengan adanya hadits yang datang kemudian. Terkadang pe-nasakh-an tersebut dapat dipahami langsung dalam hadits tersebut, seperti hadits-hadits di atas. Sebaliknya terdapat penjelasan pada riwayat yang lain atau jalur periwayatan lain.
Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami terdapat tiga hal pembatalan dengan pertimbangan tertentu Rasulullah menghalalkan atau membolehkan apa yang sebelumnya dilarang. Tiga hal tersebut adalah pertama ziarah kubur bagi perempuan, kedua bejana membuat anggur dan ketiga menyimpan daging kurban. Ketiga hal ini telah dibolehkan. Hanya saja mesti menghindari hal-hal terkait dengan tiga hal ini yang dilarang seperti meratap, meminum khamar atau minuman yang memabukkan. Menyimpan daging kurban untuk kepentingan pribadi dan keuntungan tertentu.
Wallaahu a'lam bish Shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏