“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


SEKEDAR SENYUM BUKAN KARENA MALU TETAPI KARENA LUCU
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Rasulullah ﷺ adalah sangat menjaga mur'ah, sehingga wibawa dan martabat beliau tetap terjaga. Walau pun hanya sekedar tertawa, beliau tertawa dengan senyum menawan. Sehingga tidak asing dilihat dan menawan dipandang. Begitu juga apabila membenarkan sesuatu pernyataan baik dari Allah maupun dari manusia terlihat bahwa penting tidaknya suatu sikap yang beliau perlihatkan. Hal ini menjadi respon positif bahwa sikap yang membuat beliau tersenyum itu patut dilakukan atau hanya sekedar menganggap suatu kebodohan.

Nah, pada kali ini penulis paparkan tentang bagaimana sikap beliau dalam kondisi senang atau pun penuh keinginan serta kasihan dengan tertawanya beliau terhadap apa yang beliau saksikan baik nyata maupun tidak. Sehingga dapat memberikan pesan yang mengandung makna dan manfaat. Uraian berikut penulis paparkan seperti biasa dengan tema dan informasi hadits dan kualiatasnya secara singkat. Diharapkan pembaca menilai dengan keyakinan dan daya nalar sendiri. Berikut penulis paparkan.

Imam at Tirmidzi, beliau berkata:

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ مِثْلُ هَذَا حَدَّثَنَا بِذَلِكَ أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَقَ السَّيْلَحَانِيُّ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ قَالَ
مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسُّمًا.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٣٥٧٥)

Dan diriwayatkan pula dari Yazid bin Abu Habib dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i seperti ini, telah menceritakan kepada kami seperti itu Ahmad bin Khalid Al Khallal telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq As Sailahani telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa'd dari Yazid bin Abu Habib dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata, "Tertawanya Rasulullah ﷺ hanya sekedar senyum."

Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadits Laits bin Sa'd melainkan dari jalur ini." (HR. At Tirmidzi: 3575 - shahih dari 'Abdullah bin al Harits bin Juz'i, ia shahabat kuniyahnya Abu al Harits negeri hidup Maru dan wafat tahun 86 H)

Sementara itu Imam Ahmad meriwayatkan hadits semakna tentang perawakan dan senyum Rasulullah , beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ يَعْنِي ابْنَ الْعَوَّامِ عَنْ حَجَّاجٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
كَانَ فِي سَاقَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُمُوشَةٌ وَكَانَ لَا يَضْحَكُ إِلَّا تَبَسُّمًا وَكَانَ إِذَا نَظَرْتُ إِلَيْهِ قُلْتُ أَكْحَلُ وَلَيْسَ بِأَكْحَلَ. (رواه أحمد: ٢٠٠٩٦)

Telah menceritakan kepada kami Suraij bin Nu'man telah menceritakan kepada kami 'Abbad -yaitu Ibnu 'Awwam- dari Hajjaj dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah ia berkata, "Betis Rasulullah ﷺ adalah padat seimbang (humusyah), beliau tidak tertawa kecuali dengan senyuman, dan bila aku memandangnya seakan beliau bercelak padahal beliau tidak mengenakannya." (HR. Ahmad: 20096 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H)

Catatan: dalam hadits riwayat Ahmad: 20096 terdapat dua orang periwayat dalam sanad yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits dari lima periwayat. Merea adalah 1). Simak bin Harbi bin 'Aus, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Mughirah dan wafat tahun 123 H. Penilaian ulama: Ibnu Hibban berkata, "banyak salah" dan adz Dzahabi berkomentar, "jelek hafalannya". Sementara itu Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi sendiri menilainya tsiqah. Abu Hatim menilainya shaduq tsiqah. An Nasa'i mengatakan, "dalam haditsnya ada sesuatu". 2). Hajjaj bin Arthah bin Tsaur, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua Abu Artha'ah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 145 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya shaduq, laisa bi qawi dan mudallis. Abu Zur'ah dan Abu Hatim menilainya shaduq, yudallis. Sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq banyak salah dan yusallis dan ahli fiqih.

Pada hadits riwayat Ahmad: 20096 terlihat terdapat kesalahan hadits dengan tambahan kalimat, "Betis Rasulullah ﷺ adalah padat seimbang, ... dan dan bila aku memandangnya seakan beliau bercelak padahal beliau tidak mengenakannya." Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 20012 dengan periwayat yang sama. Kecuali guru imam Ahmad, pada riwayat ini beliau menerima dari Syuja' bin Makhlad, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu al Fadhal negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 235 H. Sementara pada hadits riwayat Ahmad: 20096 beliau menerima dari Suraij bin an Nu'man bin Marwan, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu al Husain negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 217 H. Keduanya periwayat yang dapat diterima atau maqbul. Kemudian hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3578 - dha'if dari Jabir bin Samurah. Dalam hadits ini juga terdapat dua orang periwayat yang sama. Abu Isa (at Tirmidzi) berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib shahih."

Sebagai penekanan dari hadits di atas, imam Ahmad meriwayatkan dari jalur 'Abdullah bin al Harits, beliau berkata:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ يَقُولُ
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ١٧٠٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Hasan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Ubaidullah bin Mughirah ia berkata, saya mendengar Abdullah bin Harits bin Juz` berkata, "Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyum daripada Rasulullah ﷺ." (HR. Ahmad: 17043 - hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin al Harits bin Juz'i, ia shahabat kuniyahnya Abu al Harits negeri hidup Maru dan wafat tahun 86 H)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang yang ramah dan apabila beliau tertawa hanya lebih sering dengan senyum. Terkait dengan perawakan dan kebiasaan beliau seperti betis yang halus atau seimbang dan kelihatan mata beliau bercalak merupakan keelokkan pandangan beliau.

Rasulullah tertawa dalam tidurnya, sebagaimana imam al Bukhari meriwayatkan. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَطْعَمَتْهُ وَجَعَلَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ قَالَتْ فَقُلْتُ وَمَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ أَوْ مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ شَكَّ إِسْحَاقُ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهمْ فَدَعَا لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقُلْتُ وَمَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَا قَالَ فِي الْأَوَّلِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ قَالَ أَنْتِ مِنْ الْأَوَّلِينَ فَرَكِبَتْ الْبَحْرَ فِي زَمَانِ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنْ الْبَحْرِ فَهَلَكَت. (رواه البخاري: ٢٥٨٠)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Yusuf dari Malik dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abi Thalhah dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu bahwa dia mendengarnya berkata, "Rasulullah ﷺ pernah datang kepada Ummu Haram binti Milhan lalu dia memberi makan beliau. Dimana saat itu Ummu Haram berada pada tangung jawab (istri) 'Ubadah bin ash-Shamit lalu Rasulullah ﷺ mendatanginya kemudian dia memberi makan Baliau dan Ummu Haram kemudian menyisir rambut kepala beliau hingga Rasulullah ﷺ tertidur. Kemudian beliau terbangun sambil tertawa. Ummu Haram berkata; Aku tanyakan, "Apa yang membuat Tuan tertawa wahai Rasulullah". Beliau menjawab, "Ada orang-orang dari umatku yang diperlihatkan kepadaku sebagai pasukan perang di jalan Allah dimana mereka mengarungi lautan sebagai raja-raja di atas singgasana atau bagaikan raja-raja di atas singgasana". Ishaq ragu dalam kalimat ini. Ummu Haram berkata; Aku katakan, "Wahai Rasulullah, doakanlah agar Allah menjadikan aku salah seorang dari mereka". Maka Rasulullah ﷺ berdoa untuknya. Kemudian beliau meletakkan kepalanya (tertidur) lalu terbangun sambil tertawa. Ummu Haram berkata; Aku tanyakan, "Apa yang membuat Tuan tertawa wahai Rasulullah". Beliau menjawab, "Ada orang-orang dari umatku yang diperlihatkan kepadaku sebagai pasukan perang di jalan Allah". Sebagaimana ucapan beliau yang pertama tadi. Ummu Haram berkata; Aku katakan, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang dari mereka". Beliau berkata, "Kamu akan menjadi diantara orang-orang yang pertama kali". Maka Ummu Haram mengarungi lautan pada zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Setelah keluar dari (mengarungi) lautan dia dilempar oleh hewan tunggangannya hingga menewaskannya. (HR. Al Bukhari: 2580 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 2665, 5810 dan 6486, Muslim: 3535, Ibnu Majah: 2766, Ahmad: 25790 dan 26110 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Dalam hadits-hadits tersebut menceritakan bahwa Ummi Haram keluar dari kediamannya bersama suaminya 'Ubadah bin Shamit untuk berperang, peristiwa pertama kali umat Islam menaiki kapal adalah dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Setelah mereka kembali dari peperangan secara berkelompok, mereka singgah di kota Syam. Namun ketika hewan tunggangannya (bighal betina putih) telah di hadapkan kepada Ummu Haram untuk ia naiki, ia terjatuh hingga kemudian ia meninggal. Karena terhempas dan lehernya patah. 

Sedangkan dari Jalur Ibnu 'Abbas, hadits riwayat imam Ahmad bahwa beliau berkata:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ ثَابِتٍ الْعَبْدِيُّ عَنْ جَبَلَةَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِ بَعْضِ نِسَائِهِ إِذْ وَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ فَضَحِكَ فِي مَنَامِهِ فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ قَالَتْ لَهُ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَائِهِ لَقَدْ ضَحِكْتَ فِي مَنَامِكَ فَمَا أَضْحَكَكَ قَالَ أَعْجَبُ مِنْ نَاسٍ مِنْ أُمَّتِي يَرْكَبُونَ هَذَا الْبَحْرَ هَوْلَ الْعَدُوِّ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَذَكَرَ لَهُمْ خَيْرًا كَثِيرًا. (رواه أحمد: ٢٥٨٧)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Tsabit Al 'Abdi dari Jabalah bin 'Athiyyah dari Ishaq bin Abdullah bin Al Harits dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika Rasulullah ﷺ sedang di rumah salah seorang istrinya, beliau meletakkan kepalanya lalu tidur, kemudian beliau tertawa di dalam tidurnya. Ketika beliau bangun, salah seorang istrinya bertanya kepada beliau, "Engkau tertawa dalam tidurmu, apa yang membuatmu tertawa?" Beliau menjawab, "Aku kagum kepada orang-orang dari umatku, mereka mengarungi lautan ini untuk menyongsong musuh dalam rangka berjihad fi sabilillah." Lalu beliau menyebutkan banyak kebaikan pada mereka. (HR. Ahmad: 3535 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 3535 terdapat periwayat yang dinilai jarah oleh ulama kritikus hadits, beliau adalah Muhammad bin Tasbit, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai', Ibnu Hajar menilainya shaduq, layyinul hadits. Sedangkan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi.

Pada kesempatan lain Rasulullah juga pernah tertawa

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَمِعْتُ عَلْقَمَةَ يَقُولُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَقَالَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالشَّجَرَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَالْخَلَائِقَ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الْمَلِكُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ ثُمَّ قَرَأَ
{ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ }. (رواه البخاري: ٦٨٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafs bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy aku mendengar Ibrahim berkata, Aku mendengar Alqamah berkata, Abdullah berkata, "Seorang laki-laki ahli kitab menemui Nabi ﷺ dan berkata, 'Wahai Abul Qasim, Allah memegang langit hanya dengan satu jari, semua pohon hanya dengan satu jari, semua bintang hanya dengan satu jari, seluruh makhluk hanya dengan satu jari, lalu Allah berfirman: 'Akulah sang raja, Akulah sang raja'. Dan kulihat Nabi ﷺ tertawa hingga kelihatan gigi serinya, lantas beliau membaca ayat, "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya" (QS. Az Zumar/39: 67). (HR. Al Bukhari: 6865 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)

Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 6897 dan 6959 (hadits ahlul Kufah), Muslim: 4992 dan 4993 (hadits masyhur dan ahlul Kufah), at Tirmidzi: 3162 (hadits masyhur) - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H.

Ayat dimaksud selengkapnya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. (قرأن سورة الزمر/٣٩: ٦٧)

Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Padahal, bumi seluruhnya (ada dalam) genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.*) Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar/39: 67)

*) ayat inibmenggambarkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan hanya Dia berkuasa pada hari Kiamat.

Lalu bagaimana Rasulullah tidak tertawa menyaksikan kelakuan orang-orang yang tidak menghormati Allah dengan semestinya yaitu hanya Allah yang wajib disembah.

Selanjutnya, Allah mencela perbuatan kaum musyrikin Mekah karena menyembah berhala dan patung, mengingkari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Allah juga mengingatkan betapa besar nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka. Seakan-akan yang berkuasa dan memberi karunia itu adalah patung-patung yang tidak berdaya yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri. Alangkah rendahnya jalan pikiran mereka dengan mengagungkan suatu yang hina dan tak berdaya. Allah selanjutnya menegaskan bahwa bumi ini seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, demikian pula langit tergulung di tangan kanan-Nya. Jika langit dan bumi semuanya berada dalam genggaman-Nya, maka siapakah lagi yang lebih besar, lebih agung, lebih berkuasa dari Allah? Apakah mereka mengagungkan patung-patung itu sedang patung-patung itu adalah sebagian kecil saja dari langit dan bumi? Mengenai ayat ini, Imam al-Bukhārī meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd sebuah hadis:

جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَجْعَلُ السَّمٰوَاتِِ عَلَى أُصْبُعٍ وَاْلأَرَضِيْنَ عَلَى أُصْبُعٍ وَالشَّجَرَ عَلَى أُصْبُعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى أُصْبُعٍ وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى أُصْبُعٍ يَقُوْلُ أَنَا الْمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيْقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الْاٰيَةَ: وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ.

Telah datang salah seorang pendeta kepada Rasulullah saw dan berkata kepadanya, “Hai Muhammad, sesungguhnya aku menemui (dalam kitab kami) bahwa Allah Yang Mahaperkasa meletakkan langit di salah satu jarinya, bumi di jari yang lain, pohon-pohon di jari yang lain, air dan tanah di jari yang lain, dan makhluk-makhluk lainnya di jari yang lain pula, lalu Dia berkata, ‘Akulah raja’.” Rasulullah ﷺ tertawa mendengar kata-kata pendeta itu sehingga kelihatan gerahamnya tanda setuju. Kemudian Nabi ﷺ membaca QS. Az Zumar ayat 67 , "Tentang penggambaran langit dan bumi dalam genggaman-Nya, mungkin dapat dipahami dengan makna bahwa alam ini dalam kekuasaan-Nya."

Bagaimana hakikat yang sebenarnya dari keadaan bumi yang berada dalam genggaman Allah, kita tidak tahu. Hal itu termasuk masalah-masalah yang ghaib, yang harus diterima sebagaimana yang diterangkan Allah. Yang mesti diyakini sepenuhnya adalah Allah tidak dapat diserupakan dengan suatu apa pun.

Firman Allah:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. (قرآن سورة الشورى/٤٢: ١١)

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Asy-Syūrā/42: 11)

Kemudian Allah menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa mempersekutukan Allah dengan makhluk lainnya apalagi dengan sesuatu yang remeh tak berdaya seperti patung-patung itu adalah perbuatan sesat dan menyesatkan. Maha Suci Allah dari segala paham itu dan tidak layak bagi kekuasaan dan keagungan-Nya untuk dipersekutukan dengan yang lain.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]