DUA PAKAIAN YANG DISUKAI RASULULLAH
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup. Ia juga merupakan simbol kemuliaan dan kehormatan. Sehingga muncul berbagai model dan fungsi yang diciptakan. Hal ini menyebabkan kreatifitas perancang dan industri pakaian, selanjutnya menjadi fashion atau karakter (akhlak) seseorang. Bahkan pada giliran sebagai kultur pada suku, kelompok, wilayah, atau bangsa tertentu.
Secara khusus tidak dijelaskan bahwa ada pakaian tertentu menjadi pakaian islamiy. Hanya saja, dalam Islam diajarkan bagaimana berpakaian yang baik dan terhindar dari hal yang haram baik cara atau pun bahan yang digunakan. Islam mengajarkan berpakaian untuk melindungi diri (pisik maupun non pisik), menutup aurat dan kenyamanan bagi pemkai dan yang melihat.
Selanjutnya, Rasulullah sebagai pribadi yang sangat memerhatikan mur'ah, martabat dan akhlak beliau lebih senang memakai pakaian yang sederhana, longgar dan tidak ribet. Nah, kesenangan pada pakaian beliau tunjukkan waktu beliau bergaul dengan para shahabat beliau. Diinformasikan oleh Ummu Salamah, Anas bin Malik, Ibnu Umar dan Buraidah bahwa beliau senang dan lebih suka pakaian gamis dan al Hibarah (kain yang direnda dari wol atau bergaris yang terbuat dari katun atau kapas). Ini ditemukan dalam riwayat imam al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, an Nasa'i, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad.
Lebih jelasnya, simak hadits-hadits dimaksud sebagaimana penulis paparkan di bawah ini.
Imam at Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تُمَيْلَةَ وَالْفَضْلُ بْنُ مُوسَى وَزَيْدُ بْنُ حُبَابٍ عَنْ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ
كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَمِيصُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ مَرْوَزِيٌّ وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي تُمَيْلَةَ عَنْ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ. (رواه الترمذي: ١٦٨٤)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar Razi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tumailah dan Al Fadhl bin Musa dan Zaid bin Hubab dari Abdul Mukmin bin Khalid dari Abdullah bin Buraidah dari Ummu Salamah ia berkata, "Pakaian yang paling disukai oleh Nabi ﷺ adalah gamis." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib, kami mengetahuinya dari hadits Abdul Mukmin bin Khalid dengan periwayatan tunggal, dan dia adalah seorang Marwazi. Sebagian mereka juga meriwayatkan hadits ini dari Abu Tumailah, dari Abdul Mukmin bin Khalid, dari Abdullah bin Buraidah, dari ibunya, dari Ummu Salamah." (HR. At Tirmidzi: 1684 - shahih dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H. Hadits masyhur)
Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 1685 dan 1686, Abu Daud: 3507 - shahih dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H.
Sementara itu imam al Bukhari meriwayatkan bahwa pakaian yang disukai Rasulullah adalah al Hibarah (kain yang direnda dari wol atau bergaris yang terbuat dari katun atau kapas). Beliau berkata,
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَلْبَسَهَا الْحِبَرَةَ. (رواه البخاري: ٥٣٦٦)
Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Al Aswad telah menceritakan kepada kami Mu'adz dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu dia berkata, "Pakaian yang paling disukai oleh Nabi ﷺ adalah memakai hibarah (kain yang direnda atau bergaris)." (HR. Al Bukhari: 5366 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 5365 (hadits ahlul Bashrah), Muslim: 3878, at Tirmidzi: 1709, (hadits ahlul Bashrah), an Nasa'i: 5220, Ahmad: 12438, 13134 dan 13594 (hadits ahlul Bashrah) - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
Dalam redaksi semakna imam Abu Daud meriwayat,
حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْنَا لِأَنَسٍ يَعْنِي ابْنَ مَالِكٍ أَيُّ اللِّبَاسِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَعْجَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحِبَرَةُ. (رواه أبوداود: ٣٥٣٨)
Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid Al Azdi berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah ia berkata, "Kami berkata kepada Anas -maksudnya Anas Ibnu Malik-, "Baju apa yang paling disukai atau dikagumi oleh Rasulullah ﷺ?" ia menjawab, "Kain hibarah (yaitu kain halus yang berasal dari yaman menurut orang-orang yaman ini adalah kain terbaik)." (HR. Abu Daud: 3538 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa baju atau pakaian yang sangat disukai dan disenangi oleh Rasulullah memakainya adalah gamis dan al Hibarah (kain yang direnda dari wol atau bergaris yang terbuat dari katun atau kapas). Kedua baju ini terbuat dari kapas atau berendakan wol.
Umar bin Khaththab pernah didoakan oleh Rasulullah karena memakai baju putih, sebagai imam Ibnu Majah meriwayatkan:
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى عُمَرَ قَمِيصًا أَبْيَضَ فَقَالَ ثَوْبُكَ هَذَا غَسِيلٌ أَمْ جَدِيدٌ قَالَ لَا بَلْ غَسِيلٌ قَالَ الْبَسْ جَدِيدًا وَعِشْ حَمِيدًا وَمُتْ شَهِيدًا. (رواه إبن ماجه: ٣٥٤٨)
Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah memberitakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ melihat Umar mengenakan pakaian putih, maka beliau pun bertanya, "Apakah pakaianmu ini habis di cuci atau benar-benar baru?" dia menjawab, "Tidak, akan tetapi bajuku habis di cuci." Beliau bersabda, "ILBAS JADIDAN WA 'ISY HAMIDAN WA MUT SYAHIDAN (Pakailah baju baru dan hiduplah dengan terhormat serta matilah sebagai syahid) '." (HR. Ibnu Majah: 3548 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad terdapat tanbahan dalam riwayatnya, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ ثَوْبًا أَبْيَضَ فَقَالَ أَجَدِيدٌ ثَوْبُكَ أَمْ غَسِيلٌ فَقَالَ فَلَا أَدْرِي مَا رَدَّ عَلَيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَسْ جَدِيدًا وَعِشْ حَمِيدًا وَمُتْ شَهِيدًا أَظُنُّهُ قَالَ وَيَرْزُقُكَ اللَّهُ قُرَّةَ عَيْنٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه أحمد: ٥٣٦٣)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Zuhri dari Salim, dari Ibnu Umar, dia berkata, Nabi ﷺ pernah melihat Umar memakai baju warna putih lalu beliau bertanya kepadanya, "Apakah baju ini baru atau habis dicuci?" dia (Ibnu Umar) berkata, saya tidak tahu apa jawaban Umar saat itu, tapi Nabi ﷺ lalu mendoakannya, "ILBAS JADIIDAN WA 'ISY HAMIIDAN WA MUT SYAHIIDAN, (Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan mulia dan matilah dengan mati syahid)." Dan seingatku beliau menambahkan doa, "WAYARZUQUKALLAAHU QURRATA AININ FID DUNYA WAL AAKHIRAH (Dan semoga Allah memberimu suatu hal yang menyejukkan pandangan di dunia maupun di akhirat). (HR. Ahmad: 5363 - rijalnya tsiqah menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Kasih dan sayang beliau kepada dua orang cucu beliau memakai baju warna merah. Pada saat beliau berkhuthbah tetap tercurah kasih dan sayang kepada mereka. Hal ini diinformasikan oleh imam Ibnu Majah dalam riwayatnya, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ بَرَّادِ بْنِ يُوسُفَ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ قَاضِي مَرْوَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ قَالَ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَأَقْبَلَ حَسَنٌ وَحُسَيْنٌ عَلَيْهِمَا السَّلَام عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ فَنَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَهُمَا فَوَضَعَهُمَا فِي حِجْرِهِ فَقَالَ صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
{ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ }
رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ ثُمَّ أَخَذَ فِي خُطْبَتِهِ. (رواه إبن ماجه: ٣٥٩٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Abdullah bin 'Amir bin Barrad bin Yusuf bin Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari dia berkata; telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid Qadli Marwa telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah bahwa Ayahnya telah menceritakan kepadanya, dia berkata, "Saya melihat Rasulullah ﷺ berkhutbah, kemudian Hasan dan Husain 'alaihima salam menghampiri beliau dengan mengenakan baju warna merah dan keduanya berdiri. Nabi ﷺ lalu mengambil keduanya serta meletakkannya di pangkuan, beliau lalu bersabda, "Mahabenar Allah dan rasul-Nya; 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)…' (QS. At Taghabun/64: 15), aku melihat kedua anak ini dan aku tidak sanggup menahan diri (untuk memeluknya)." Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya." (HR. Ibnu Majah: 3590 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Lebih lanjut dijelaskan Rasulullah memeluknya disebabkan kedua cucu beliau terjatuh karena baju mereka sendiri. Oleh sebab itu beliau memendekkan khutbah. Sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّ زَيْدَ بْنَ حُبَابٍ حَدَّثَهُمْ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ
{ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ }
رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ. (رواه أبوداود: ٩٣٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` bahwa Zaid bin Al Hubab telah menceritakan kepada mereka, katanya; telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dia berkata; Rasulullah ﷺ tengah berkhutbah di tengah-tengah kami, tiba-tiba Hasan dan Husain radhiallahu'anhuma membawakan dua baju yang berwarna merah. Keduanya lalu terjatuh, Rasulullah ﷺ turun dari mimbar dan menggendong keduanya lalu kembali ke mimbar dengan bersabda, "Mahabenar Allah atas firman-Nya: 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan'. (QS. At Taghaabun/64: 15). Aku melihat kedua anak ini terjatuh dalam kedua bajunya, maka aku tidak sabar hingga aku mempersingkat khutbahku." (HR. Abu Daud: 935 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3707, an Nasa'i: 1396 dan 1567, Ahmad: 21917 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H.
Ayat al Qur'an dibaca Rasulullah saat itu adalah penggalan firman Allah QS. At Taghaabun/64 ayat 15. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة التغاين/٦٤: ١٥)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar. (QS. At-Tagābun/64: 15)
Sedangkan pada QS. Al Anfaal/8 ayat 28 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة الأنفال/٨: ٢٨)
Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (QS. Al-Anfāl/8: 28)
Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah. Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.
Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama serta menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.
Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.
Firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ. (قرآن سورة المنافقون/٦٣: ٩)
Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqūn/63: 9)
Demikianlah pada tulisan kali ini yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat. Billaahi fii sabiilil haqq.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏