PERINTAH ABU BAKAR KEPADA ZAID BIN TSABIT SEORANG YANG CERDAS
(menelusuri dua ayat akhir surat at Taubah)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
IMAM ahmad berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ
أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا زَيْدُ بْنَ ثَابِتٍ أَنْتَ غُلَامٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ قَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ. (رواه أحمد: ٥٤)
Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari 'Ubaid bin As Sabbaq dari Zaid bin Tsabit dia berkata; Abu Bakar mengutusku ketempat peperangan penduduk Yamamah, kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Zaid bin Tsabit, kamu adalah pemuda yang cerdas yang tidak kami sangsikan, karena kamu menulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ, maka telusurilah Al-Qur'an dan kumpulkan." (HR. Ahmad: 54 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Utsman bin 'Amir bin 'Amru bin Ka'ab bin Taymi bin Murrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 13 H)
Lebih lanjut, imam al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ ابْنَ السَّبَّاقِ قَالَ إِنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ قَالَ
أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكَ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاتَّبِعْ الْقُرْآنَ فَتَتَبَّعْتُ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التَّوْبَةِ آيَتَيْنِ مَعَ أَبِي خُزَيْمَةَ الْأَنْصَارِيِّ لَمْ أَجِدْهُمَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرِهِ
{ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ }
إِلَى آخِرِهِ. (رواه البخاري: ٤٦٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab bahwa Ibnu As Sabbaq berkata; Zaid bin Tsabit berkata; Abu Bakar pernah mengutus seseorang padaku seraya mengatakan, "Sesungguhnya, kamulah yang pernah menulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ. Karena itu, telusurilah Al-Qur'an." Maka aku pun segera menelusurinya, hingga aku mendapati akhir dari surah At-Taubah, yakni dua ayat pada Abu Khuzaimah Al Anshari, yang aku tidak mendapatkannya pada seorang pun selainnya. Yakni, "LAQAD JAA`AKUM RASUULUM MIN ANFUSIKUM 'AZIIZUN 'ALAIHI MAA 'ANITTUM.." Hingga akhir ayat. (HR. Al Bukhari: 4605 - shahih dari Zaid bin Tsabit bin adh Dhahak, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 45 H)
Firman Allah dimaksud adalah:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن شورة التوبة/٩: ١٢٨)
Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah/9: 128)
Ayat ini sekalipun khusus ditujukan kepada bangsa Arab di masa Nabi, tetapi juga ditujukan kepada seluruh umat manusia. Semula ditujukan kepada orang Arab di masa Nabi, karena kepada merekalah Al-Qur′an pertama kali disampaikan, karena Al-Qur′an itu dalam bahasa Arab, tentulah orang Arab yang paling dapat memahami dan merasakan ketinggian sastra Al-Qur′an. Dengan demikian mereka mudah pula menyampaikan kepada orang-orang selain bangsa Arab. Jika orang-orang Arab sendiri tidak mempercayai Muhammad dan Al-Qur′an, tentu orang-orang selain Arab lebih sukar mempercayainya.
Ayat ini seakan-akan mengingatkan orang-orang Arab, sebagaimana isinya yang berbunyi, Hai orang-orang Arab, telah diutus seorang Rasul dari bangsamu sendiri yang kamu ketahui sepenuhnya asal-usul dan kepribadian-nya, serta kamu lebih mengetahuinya dari orang-orang lain.
Sebagian mufassir menafsirkan perkataan رَسُوْلٌ ِمنْ اَنْفُسِكُمْ “Rasūlun min anfusikum” dengan hadis:
اِنَّ الله َاصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَ اصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَ اصْطَفَانِيْ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ (رواه مسلم والترمذي عن وصيلة بن أسقى)
Bersabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih suku Quraisy dari Bani Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan Allah telah memilihku dari Bani Hasyim.” (Riwayat Muslim dan at-Tirmiżī dari Wasīlah bin Asqā)
Dari ayat dan hadis di atas dapat dipahami tentang kesucian keturunan Nabi Muhammad saw, yang berasal dari suku-suku pilihan dari bangsa Arab. Dan orang-orang Arab mengetahui benar tentang hal ini.
Nabi Muhammad ﷺ yang berasal dari keturunan yang baik dan terhormat mempunyai sifat-sifat yang mulia dan agung, yaitu:
1. Nabi merasa tidak senang jika umatnya ditimpa sesuatu yang tidak diinginkan, seperti dihinakan karena dijajah dan diperhamba oleh musuh-musuh kaum Muslimin, sebagaimana ia tidak senang pula melihat umatnya ditimpa azab yang pedih di akhirat nanti.
2. Nabi sangat menginginkan agar umatnya mendapat taufik dari Allah, bertambah kuat imannya, dan bertambah baik keadaannya. Keinginan beliau ini dilukiskan oleh Allah dalam firman-Nya:
اِنْ تَحْرِصْ عَلٰى هُدٰىهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ يُّضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ. (قرآن سورة النحل/١٦: ٣٧)
Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan mereka tidak mempunyai penolong. (QS. An-Naḥl/16: 37)
Dan Allah berfirman:
وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ١٠٣)
Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. (QS. Yūsuf/12: 103)
3. Nabi selalu belas kasihan dan amat penyayang kepada kaum Muslimin. Keinginannya ini tampak pada tujuan risalah yang disampaikannya, yaitu agar manusia hidup berbahagia di dunia dan akhirat nanti.
Dalam ayat ini Allah memberikan dua macam sifat kepada Nabi Muhammad, kedua sifat itu juga merupakan sifat Allah sendiri, yang termasuk di antara “asmā’ul ḥusna”, yaitu sifat “ra’ūf” (amat belas kasihan) dan sifat “raḥīm” (penyayang) sebagai tersebut dalam firman-Nya:
اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٤٣)
...Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (QS. Al-Baqarah/2: 143)
Pemberian kedua sifat itu kepada Muhammad menunjukkan bahwa Allah menjadikan Muhammad sebagai Rasul yang dimuliakan-Nya.
Ayat selanjutnya (terakhir),
فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. (قرآن شورة التوبة/٩: ١٢٩)
Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (QS. At-Taubah/9: 129)
Disisi lain Rasulullah ﷺ menyatakan sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad berikut:
Beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ الْمُبَارَكِ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. (رواه أحمد: ١٦٥٠١)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Mubarak berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abu Maryam dari Dlamrah bin Habib dari Syaddad bin Aus berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." (HR. Ahmad: 16501 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Syaddad bin 'Aus bin Tsabit, ia shahabat kuniyahnya Abu Ya'la negeri hidup Syam dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah, lafazh huruf pengganti "waw" dengan "tsumma" beliau berkata:
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. (رواه آبن ماجه: ٤٢٥٠)
Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Abdul Malik Al Himshi telah mengabarkan kepada kami Baqiyah bin Al Walid telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Maryam dari Dlamrah bin Habib dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang berakal (bijak) adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan (kosong) atas Allah." (HR. Ibnu Majah: 4250 - dha'if dari Syaddad bin 'Aus bin Tsabit, ia shahabat kuniyahnya Abu Ya'la negeri hidup Syam dan wafat tahun 58 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 16501, Ibnu Majah: 4250 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu Bukair bin 'Abdullah bin Abi Maryam, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua negeri hidup Syam dan wafat tahun 156 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal dan Abu Zur'ah menilainya dha'if. Sementara Yahya bin Ma'in mendha'ifkannya dan Abu Hatim menilainya dha'iful Hadits. Begitu juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 2383 dengan lafazh sama dengan hadits riwayat Ahmad: 16501. Sanadnya 'aziz, karena imam at Tirmidzi meriwayatkan dari dua orang gurunya. Mereka adalah: 1. Sufyan bin waki' bin Jarrah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Kufah dan wafat tahun 247 H. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah dan adz Dzahabi menilainya dha'if. 2. 'Abdullah bin 'Abdyr Rahman bin al Fadhal bin Bihram, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad dan wafat tahun 255 H. Penilaian ulama: Abu Bakar al Khatib dan Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah. Abu Hatim menilainya tsiqah shaduq, sementara ad Daruquthni menilainya tsiqah masyhur. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah faadhil mutqin hafizh. Ibnu Hibban menilainya hafizh mutqin, dan adz Dzahabi menilainya hafizh.
Lihat juga hadits riwayat imam Ibnu Majah: 4250 - dha'if dari Syaddad bin 'Aus bin Tsabit, ia shahabat kuniyahnya Abu Ya'la negeri hidup Syam dan wafat tahun 58 H. Hadits ahlul Syam.
Penelusuran ayat demi ayat dan surat daripada al Qur'anul karim membutuhkan kecerdasan dan kesabaran. Sehingga semuanya dapat dikumpulkan dari para shahabat yang pernah mendengar, menghafal dan menulisnya. Inilah tugas berat Zaid bin Tsabit bersama timnya.
Sang Penulis Mushaf Zaid bin Tsabit
Sahabat Zaid bin Tsabit terkenal dengan kepiawaiannya dalam hal menulis sehingga di masa Abu Bakar dan Usman kelak, ia tetap ditugaskan untuk menulis mushaf. Di antara kecakapannya dalam hal ini adalah ia merupakan seorang yang hafal al-Qur’an, ia juga masih muda yang prigel, hafalannya sangat kuat, logikanya dan kekreatifitasnya berjalan, tenang dan tidak suka tergesa-gesa sekaligus banyak kerjanya. Semua sifat-sifat tersebut dimiliki oleh pribadi seorang Zaid bin Tsabit.
Karena kecakapannya tersebut, ia membuat metode dalam pengumpulan mushaf dengan memberikan syarat sebuah ayat al-Qur’an harus disaksikan minimal dua orang sahabat, sekaligus tidak hanya mengandalkan hafalan para sahabat saja, melainkan terdapat bukti tertulis yang ditulis di masa Nabi Muhammad ﷺ. Ketika dua syarat tersebut tidak terpenuhi maka ia tidak akan menulis dan memasukkan ayat tersebut ke dalam bagian dari al-Qur’an.
Sehingga pada ujungnya, ia menemukan ayat terakhir surat at-taubah. Kedua ayat tersebut hanya disaksikan oleh Abu Khuzaimah al-Anshari seorang, tidak ada sahabat lain yang memberikan kesaksian. Dua ayat tersebut tak kunjung dimasukkan oleh Zaid ke dalam mushaf. Sampai pada akhirnya, terdapat dua sahabat lagi yang datang memberikan kesaksian, yakni Abdullah bin Zubair dan Umar bin Khattab.
Pengumpulan mushaf ini tidak memakan waktu lama, yakni sekitar satu tahun saja di era khalifah Abu Bakar, kira-kira di akhir tahun 11 Hijriyah atau awal tahun 12 Hijriyah, pengumpulan mushaf ini selesai dilaksanakan. Pada bulan Jumadil akhir tahun 13 Hijriyah, sahabat Abu Bakar wafat, kumpulan mushaf tersebut kemudian pindah tangan ke pangkuan Sahabat Umar bin Khattab, lalu sayyidatina Hafshah, istri Rasulullah ﷺ. Dari mushaf yang dibawa oleh Hafshah itulah yang kelak dijadikan sumber primer oleh Usman dalam menggandakan mushaf al-Qur’an. (Sumber:
https://iiq-annur.ac.id/blog/blog/kodifikasi-al-quran-pada-masa-khalifah-abu-bakar-as-shiddiq/)
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏