BERGAUL DAN KESABARAN BERGELIMANG ILMU DALAM BERIBADAH DAN BERSOSIAL
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanirrahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Islam mengajarkan bergaul dan bersosialisasi dengan sesama dengan baik. Karena dalam kondisi inilah keunggulan orang beriman akan diuji kualitasnya. Sehingga muncul aktivitas mengembangkan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan dan lestari sepanjang masa. Oleh karena itu terkadang Rasulullah membandingkannya dengan orang mukmin yang hanya mementingkan diri sendiri atau ahli ibadah yang sibuk dengan kebaikan dirinya sendiri. Hal ini memberi pelajaran bahwa keshalihan pribadi perlu, namun yang lebih utama adalah keshalihan sosial.
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ. (قرآن سورة القصص/٢٨: ٥٥)
Apabila mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), kami tidak ingin (bergaul dengan) orang-orang bodoh.” (QS. Al-Qaṣaṣ/28: 55)
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ. (قرآن سورة القصص/٢٨: ٥٦)
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (QA. Al-Qaṣaṣ/28: 56)
Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad tidak dapat menjadikan kaumnya untuk taat dan menganut agama yang dibawanya, sekalipun ia berusaha sekuat tenaga. Ia hanya berkewajiban menyampaikan dan hanya Allah yang akan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dia yang mempunyai kebijaksanaan yang mendalam dan alasan yang cukup. Hal tersebut ditegaskan pula pada ayat lain di dalam Al-Qur'an.
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ... ". (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٧٢)
"Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki... ". (QS. Al-Baqarah/2: 272)
Dan firman-Nya:
وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ. (قرآن سوة يوسف/١٢: ١٠٣)
"Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya." (QS. Yūsuf/12: 103)
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui siapa orang-orang yang bersedia dan pantas menerima hidayah itu. Di antara mereka ialah orang-orang Ahli Kitab yang pernah dikisahkan peristiwanya pada ayat-ayat yang lalu. Sebaliknya orang-orang yang tidak bersedia menerima hidayah seperti beberapa kerabat Nabi, maka hidayah tidak akan diberikan kepada mereka.
Imam at Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
قَالَ أَبُو عِيسَى قَالَ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ كَانَ شُعْبَةُ يَرَى أَنَّهُ ابْنُ عُمَرَ. (رواه الترمذي: ٢٤٣١)
Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna telah bercerita kepada kami Ibnu Abi 'Adi dari Syu'bah dari Sulaiman Al A'masy dari Yahya bin Watsab dari seorang syeikh salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Jika seorang muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka." Ibnu Abi Adi berkata, Syu'bah berpendapat syeikh itu adalah Ibnu Umar. (HR. At Tirmidzi: 2431 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Pernyataan hadits di atas mempunyai makna nyaris bertentangan, namun analoginya menggambarkan ketekunan. Hal ini disinggung dalam hadits riwayat imam Ad Darimi, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ مِهْرَانَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ أَدْرَكْتُ النَّاسَ وَالنَّاسِكُ إِذَا نَسَكَ لَمْ يُعْرَفْ مِنْ قِبَلِ مَنْطِقِهِ وَلَكِنْ يُعْرَفُ مِنْ قِبَلِ عَمَلِهِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ. (رواه الدارمي: ٥٤٠)
Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Harb dari 'Umarah bin Mihran dari Al hasan ia berkata, "Aku dapati manusia dan seorang ahli ibadah tidak dikenal karena retorikanya tetapi ia diketahui dari amalannya, dan itulah ilmu yang bermanfaat". (HR. Ad Darimi: 540 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari al Hasan bin Abi al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah, Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat" dan yudallis. Hadits ahlul Bashrah)
Simak hadits berikut, bahwa imam ad Darimi berkata:
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عِمْرَانَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْمُجْتَهِدِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ خَمْسُ مِائَةِ سَنَةٍ حُضْرُ الْفَرَسِ الْمُضَمَّرِ السَّرِيعِ. (رواه الدارمي: ٣٥٥)
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Imran telah menceritakan kepada kami Yahya bin yaman telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ajlan dari Az Zuhri ia berkata, "Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan seorang mujtahid (ahli ibadah) sebanyak seratus derajat, dan setiap dua derajat (jaraknya seperti antara) lima ratus tahun yang ditempuh dengan menggunakan kuda yang larinya sangat cepat". (HR. Ad Darimi: 355 - isnadnya sampai ke Zuhri dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab, tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 124 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya faqih hafizh mutqin, sedangkan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh)
Hal ini karena keterlibatan ahli ibadah dalam hal ijtihad, sebagaimana hadits riwayat imam ad Darimi, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ الْأَمْرِ يَحْدُثُ لَيْسَ فِي كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ فَقَالَ يَنْظُرُ فِيهِ الْعَابِدُونَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ. (رواه الدارمي: ١١٧)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mubarak telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah: "Nabi ﷺ jika ditanya sesuatu yang akan terjadi namun tidak terdapat dalam kitab (Al-Qur'an) dan sunnah, beliau menjawab, ' (hendaklah) para ahli ibadah dari kaum mu`minin membahas masalah tersebut'". (HR. Ad Darimi: 117 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sulaiman bin Sulaim, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Salamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 147 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, ad Daruquthni, Ya'qub bin Sufyan dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Sementara Ibnu Hajar menilainya tsiqah 'abid. Sedangkan adz Dzahabi berkata, "mereka mentsiqahkannya". Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Hadits ahlus Syam)
Selanjutnya ingatlah saran Rasulullah sebagaimana pesan beliau dalam hadits riwayat imam ad Darimi, bahwa beliau berkata:
أَخْبَرَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا حَرِيزٌ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ سُمَيْرٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ قَالَ لَا تُحَدِّثْ الْبَاطِلَ الْحُكَمَاءَ فَيَمْقُتُوكَ وَلَا تُحَدِّثْ الْحِكْمَةَ لِلسُّفَهَاءِ فَيُكَذِّبُوكَ وَلَا تَمْنَعْ الْعِلْمَ أَهْلَهُ فَتَأْثَمَ وَلَا تَضَعْهُ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ فَتُجَهَّلَ إِنَّ عَلَيْكَ فِي عِلْمِكَ حَقًّا كَمَا أَنَّ عَلَيْكَ فِي مَالِكَ حَقًّا. (رواه الدارمي: ٣٨٠)
Telah mengabarkan kepada kami Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Haris dari Salman bin Sumair dari Katsir bin Murrah ia berkata, "Janganlah kamu membicarakan kebatilan dengan orang-orang yang bijak niscaya mereka akan membencimu, dan jangan berbicara tentang hikmah dengan orang-orang yang bodoh karena mereka akan mendustakan kamu, dan janganlah kamu melarang ahli ilmu untuk memberikan ilmunya, sebab kamu bisa berdosa, serta janganlah kamu meletakkan ilmu bukan pada ahlinya karena kamu akan dibodohi, sesungguhnya kamu memiliki kewajiban atas ilmumu, sebagaimana kamu memiliki kewajiban atas hartamu". (HR. Ad Darimi: 380 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Katsir bin Murrah, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Syajarah dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Al 'Ajli menilainya Syami tabi'iy tsiqah. Sementara an Nasa'i menilainya la ba'sa bih. Kemudian, Ibnu Hajar beekomentar, "ada yang menyebutkan dia seorang shahabat. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat")
Seteruanya simaklah hadits mursal berikut yang diriwayatkan oleh imam ad Darimi, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جَمِيلٍ الْكِنَانِيُّ حَدَّثَنَا مَكْحُولٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ وَالنُّونَ فِي الْبَحْرِ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ الْخَيْرَ. (رواه الدارمي: ٢٩١)
Telah mengabarkan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Jamil Al Kinani telah menceritakan kepada kami Makhul ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Keutamaan seorang yang berilmu dari seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas orang-orang yang paling rendah diantara kalian, kemudian beliau membaca ayat ini, "INNAMA YAKHSYALLAHA MIN 'IBADIHIL 'ULAMA`" (Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ulama) -QS. Fathir: 8-, sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, serta ikan di lautan (selalu) bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia' ". (HR. Ad Darimi: 291 - mursal menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Makhul, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 113 H)
Namun hadits semakna diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جَمِيلٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ
ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ قَالَ سَمِعْت أَبَا عَمَّارٍ الْحُسَيْنَ بْنَ حُرَيْثٍ الْخُزَاعِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ يَقُولُ عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ. (رواه الترمذي: ٢٦٠٩)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A'la Ash Shan'ani telah menceritakan kepada kami Salamah bin Raja` telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Jamil telah menceritakan kepada kami Al Qashim Abu Abdurrahman dari Abu Umamah Al Bahili ia berkata, "Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah ﷺ, salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, " kemudian beliau melanjutkan sabdanya, "Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib shahih. Perawi berkata, "Aku mendengar Abu 'Ammar Al Husain bin Huraits Al Khuza'I berkata; Aku mendengar Al Fudhail bin Iyadh berkata, "Seorang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkan ilmunya akan dipanggil besar oleh para malaikat yang ada di langit." (HR. At Tirmidzi: 2609 - shahih dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)
Demikian besarnya pengaruh pergaulan dalam kehidupan di dunia ini. Sehingga Rasulullah memuji kesabaran orang-orang yang berilmu lagi 'abid. Beliau juga membandingkan mereka dalam ulasan yang bermakna tegas dan penghargaan kepada mereka. Namun, terjadi penyesuaian ketika menyebut, ""Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian," kemudian beliau melanjutkan sabdanya, "Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." Begitu pentingnya ilmu teraplikasi dalam ibadah seseorang. Oleh karena itu dikatakan, "orang yang gampang tersinggung adalah dia yang kurang wawasan keilmuan".
Wallaahu a'lam bish ahawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏