“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


UCAPAN SELAMAT PADA KEDUA MEMPELAI YANG DILARANG DAN ALASANNYA

Oleh: SAMSURIZAL, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Setiap kalimat-kalimat thaibah (kebaikan dan bermakna) mesti senantiasa menjaga sikap dan perbuatan yang diridhai oleh Allah. Sehingga apa pun yang dilakukan senantiasa terjaga dan mulia. Oleh karena itu, gunakanlah kalimat dimaksud sesuai dengan porsinya.

Berdasarkan alasan-alasan di atas maka perlu disampaikan beberapa contoh kalimat yang diperkenan dan yang dilarang disampaikan kepada orang lain atau kepada seorang yang sedang merasa bahagia dengan ucapan tersebut.

Berikut penulis paparkan riwayat yang sejalan dengan asumsi di atas.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا. (قرآن صورة النساء/٤: ٤٩)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. (QS. An-Nisā'/4: 49)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا. (قرآن صورة الإسرآء/١٧: ٥٣)

Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.(QS. Al-Isrā'/17: 53)

Atau, seperti kehati-hatian ashhabul Kahfi yang diabadikan kisahnya dalam Al Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا. (قرآن صورة الكهف/١٨: ١٤)

Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri446) lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi/18: 14)

Selanjutnya, selaras dengan firman Allah di atas terdapat contoh-contoh ucapan yang dibolehkan dan tidak diperkenan. Mari cermati riwayat-riwayat berikut:

Imam Abu Daud berkata,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَّأَ الْإِنْسَانَ إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ. رواه أبوداود: ١٨١٩)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ apabila mengucapkan selamat kepada seseorang apabila ia menikah beliau mengucapkan, "BAARAKALLAAHU LAKA WA BAARAKA 'ALAIKA WA JAMA'A BAINAKUMAA FII KHAIRIN" (Semoga Allah memberkahimu dan senantiasa memberkahimu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan). (HR. Abu Daud: 1819 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 1011, Ibnu Majah: 1895 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Imam an Nasa'i menceritakan,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَا حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَشْعَثَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ
تَزَوَّجَ عَقِيلُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ امْرَأَةً مِنْ بَنِي جَثْمٍ فَقِيلَ لَهُ بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ قَالَ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ وَبَارَكَ لَكُمْ. (رواه النسائي: ٣٣١٨)

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin Ali dan Muhammad bin Abdul A'la mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Khalid dari Asy'ats dari Al Hasan, ia berkata; 'Uqail bin Abi Thalib menikahi seorang wanita dari Bani Jatsm. Kemudian ia diberi ucapan selamat; semoga senantiasa berkumpul dan banyak anak. Maka ia mengatakan; katakanlah sebagaimana yang dikatakan Rasulullah ﷺ: BAARAKALLAAHU FIIKUM WA BAARAKA LAKUM (semoga Allah memberi berkah pada kalian dan melipatgandakan keberkahan bagi kalian). (HR. An Nasa'i: 3318 - shahih dari 'Aqil bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthalib, ia shahabat  kuniyahnya Abu Yazid dan wafat tahun 60 H. Hadits 'aziz, karena imam an Nasa'i meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Catatan: guru imam an Nasa'i dimaksud dalam riwayatnya ke-3318 tersebut adalah:

1. 'Amru bin 'Ali bin Bahar bin Kunaiz, ia tani'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 249 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq, an Nasa'i menilainya tsiqah. Sedangkan Maslamah bin Qasim dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh. Ad Daruquthni menilainya minal huffazh, adz Dzahabi menilainya ahadul a'lam. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam Ats tsiqat".

2. Muhammad bin 'Abdul A'laa, ia tabi'ul atba' kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 245 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah, Abu Hatim dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah.

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ أَنْبَأَنَا يُونُسُ عَنِ الْحَسَنِ
أَنَّ عَقِيلَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ بَنِي جُشَمَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ الْقَوْمُ فَقَالُوا بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ فَقَالَ لَا تَفْعَلُوا ذَلِكَ قَالُوا فَمَا نَقُولُ يَا أَبَا يَزِيدَ قَالَ قُولُوا بَارَكَ اللَّهُ لَكُمْ وَبَارَكَ عَلَيْكُمْ إِنَّا كَذَلِكَ كُنَّا نُؤْمَرُ. (رواه أحمد: ١٦٤٨)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu 'Ulayyah, telah memberitakan kepada kami Yunus dari Al Hasan bahwa 'Aqil bin Abu Thalib radhiallahu'anhu menikahi seorang wanita dari Bani Jusyaim, kemudian anggota kaum menemuinya dan berkata, "Semoga kamu mendapatkan kecocokan dan keturunan" maka 'Aqil berkata, "Janganlah kalian mengucapkan hal seperti itu!" mereka bertanya, "Apa yang harus kami baca Wahai Abu Yazid?" dia berkata, "Bacalah: BARAKA ALLAH LAKUM WA BARAKA 'ALAIKUM (semoga Allah memberi berkah kepada kalian dan juga memberi berkah atas kalian), demikianlah kami diperintahkan." (HR. Ahmad: 1648 - shahih lighairi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aqil bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthalib, ia shahabat  kuniyahnya Abu Yazid dan wafat tahun 60 H)

Demikian halnya hadits riwayat imam Ahmad: 15181, ad Darimi: 2078, Ahmad: 1647,  - shahih lighairi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aqil bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthalib, ia shahabat  kuniyahnya Abu Yazid dan wafat tahun 60 H. Hanya saja hadits riwayat imam ad Darimi dengan kalimat, "'alaika'.

Sementara itu dari jalur Abu Hurairah dengan lafazh "'alaa khairin", imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا عَلَى خَيْرٍ. (رواه أحمد: ٨٥٩٩)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abu Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Adalah Rasulullah ﷺ jika mengucapkan selamat atas orang yang menikah beliau ﷺ bersabda, "BAARAKALLAHU LAKA WABAARAKA ALAIKA WA JAMA'A BAINAKUMA ALA KHAIRIN (semoga Allah memberkahimu dan juga memberkahi istrimu serta mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan)." (HR. Ahmad: 8599 - isnadnya qawiy menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: hadits riwayat imam Ahmad: 8599, dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) yaitu: 'Abdul 'Aziz bin Muhammad bin 'Ubaid bin Abi 'Ubaid, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 187 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya laisa biji ba'sa. Abu Zur'ah menilainya buruk hafalannya. Sedangkan Al 'Ajli menilainya tsiqah, demikian juga Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Demikian juga hadits riwayat imam  Ahmad: 8600 - isnadnya qawiy menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Lain lagi lafazh dalam hadits riwayat imam Ahmad: 15180. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ قَالَ
تَزَوَّجَ عَقِيلُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقُلْنَا بِالرَّفَاءِ وَالْبَنِينَ فَقَالَ مَهْ لَا تَقُولُوا ذَلِكَ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَهَانَا عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ قُولُوا بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَبَارَكَ لَكَ فِيهَا. (رواه أحمد: ١٥١٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi' berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil berkata; 'Aqil bin Abu Thalib menikah, lalu dia keluar menemui kami. Kami berkata; BIR RAFA'I WA AL BANIN (semoga kamu mendapat barakah, menyatu dan banyak anak). Lalu dia berkata; jangan! Jangan kalian mengatakan hal itu. Nabi ﷺ telah melarang kami dengan hal itu, namun beliau bersabda, "Katakanlah 'Semoga Allah memberi barakah kepada kalian berdua baik saat suka maupun duka, dan memberi barakah kepadamu di alam pernikahan'." (HR. Ahmad: 15180 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aqil bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthalib, ia shahabat  kuniyahnya Abu Yazid dan wafat tahun 60 H)

Catatan: hadits riwayat imam Ahmad: 15180 terdapat dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu: 'Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil bin Abi Thalib, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 142 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad menilainya munkarul hadits, Abu Hatim menilainya layyinul hadits. Yahya bin Ma'in mengomentari, "tidak boleh berhujjah dengan haditsnya". Sedangkan Ibnu Hajar menilainya "shaduq, terdapat kesalahan".

Selanjutnya imam Al Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَثَرَ صُفْرَةٍ قَالَ مَا هَذَا قَالَ إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ. (رواه البخاري: ٤٧٥٨)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb Telah menceritakan kepada kami Hammad ia adalah Ibnu Zaid, dari Tsabit dari Anas radhiallahu'anhu, bahwa Nabi ﷺ melihat bekas Shufr pada Abdurrahman bin Auf, maka beliau pun bertanya, "Apa ini?" ia menjawab, "Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mahar Wazn Nawat dari emas." Beliau bersabda, "Semoga Allah memberkahimu. Adakanlah walimah meskipun dengan seekor kambing." (HR. Al Bukhari: 4758 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 5618 dan 5907, Muslim: 2556 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah. Sedangkan hadits riwayat imam Al Bukhari: 5618 dan Muslim: 257, hanya menyebutkan, "Nabi ﷺ bersabda, "Adakanlah walimah walau dengan seekor domba." Kedua hadits ini hadits ahlul Bashrah.

Demikian penjelasan tentang bagaimana harusnya mengucapkan kata-kata selamat kepada pengantin baru. Sehingga ucapan yang dikeluarkan secara benar dan terhindar dari sikap pemaksaan terhadap takdir Allah, seperti ucapan yang dilarang. Ucapan tersebut adalah "birrafaa'i wal banien" (semoga kamu jodoh dan banyak anak). Hal tersebut terkesan memaksakan kehendak diluar kodrat dan iradat manusia, yaitu ketentuan Allah. Oleh karena itu maka ucapkanlah, "Semoga Allah memberkahimu dan senantiasa memberkahimu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan".

" ... بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ. (رواه أبوداود، الترمذي و إبن ماجه)

Ucapan-ucapan seperti di atas tetap memperhatikan akidah keyakinan bahwa berkah hidup bersama yang berkah dan senantiasa dalam kebaikan. Kalimat ini merupakan doa atau harapan yang mungkin dikabulkan oleh Allah. Sebaliknya masalah jodoh dan banyak anak atau keturunan, ini bermakna kalimat mendikte Allah.

Uraian di atas, disamping mendidik para shahabat agar mereka tetap dalam garis liner tauhid yang benar kepada kekuasaan Allah. Oleh karena itu, bagi seorang muslim mesti mengikuti ajaran ini agar terhindar dari syirik. Artinya walau dalam kondisi berbangga hati, namun tetap bertauhid. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]