EMPAT PEREMPUAN PENGHULU ALAM DAN PALING MULIA DI SURGA
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Perempuan yang mana yang dapat menandingi cintanya Khadijah kepada Rasulullah ﷺ yang rela mempertaruhkan semua hartanya untuk perjuangan suaminya agar Islam tegak dan agung. Perempuan yang mana, yang lebih suci dari Maryam binti 'Imran yang menjaga dirinya dari segala keburukan perangai dan rela menyendiri dari pergaulan yang keliru serta kuat dari berbagai macam hinaan dan fitnahan. Perempuan yang mana di dunia ini yang pernah merasakan sakit dan menderita seperti 'Asiyah istri Fir'aun yang hidup dalam bayang-bayang kekerasan dan kezhaliman. Namun ia tetap memegang teguh iman dan tanggungjawab sebagai istri. Selanjutnya perempuan mana yang pernah hidup di bumi seperti Fathimah yang setia dna selalu hadir serta mengayomi bapaknya, begitu juga mendukung gerakan suaminya.
Allah memberikan contoh-contoh perempuan yang buruk dan jahat. Sebaliknya Allah memberikan pencerahan dengan perumpamaan para perempuan tangguh dan mulia. Sebabagimana terekam dalam Al Qur'an surat at Tahrim ayat 10 sampai 12. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS. At-taḥrīm/66: 10)
Para perempuan tangguh dan memelihara kesucian iman dan kehormatannya, seperti istri Fir'aun dan Maryam, Allah abadikan dalam firman-Nya:
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ. (القرآن سورة التحريم/٦٦: ١١)
Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-taḥrīm/66: 11)
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ. (القرآن سورة التحريم/٦٦: ١٢)
Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat. (QS. At-taḥrīm/66: 12)
Oleh sebab itulah, mereka mendapat keistimewaan disisi Allah dan kaum wanita tangguh dan menjaga kodratnya sebagai shahabat bagi suami mereka. Bukan sebagai pesaing. Sehingga apa yang baik-baik hadir bersama mereka baik waktu sempit maupun lapang.
Nah, kali ini penulis akan memaparkan dasar pemikiran terhadap empat perempuan penghulu dunia dan paling mulia di surga.
Imam at Tirmidzi meriwatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ زَنْجُوَيْهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٣٨١٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Zanjuwaih telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Qatadah dari Anas radhiallahu'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Cukuplah bagimu dari wanita (penghulu) dunia adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad serta Asiyah istri Fir'aun." Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits shahih." (HR. At Tirmidzi: 3813 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 11942 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Sementara dalam teks semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا دَاوُدُ حَدَّثَنَا عِلْبَاءُ بْنُ أَحْمَرَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَّ أَرْبَعَةَ خُطُوطٍ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ لِمَ خَطَطْتُ هَذِهِ الْخُطُوطَ قَالُوا لَا قَالَ أَفْضَلُ نِسَاءِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ ابْنَةُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ ابْنَةُ مُزَاحِمٍ. (رواه أحمد: ٢٨٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Daud telah menceritakan kepada kami 'Ilba` bin Ahmar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ membuat empat garis kemudian beliau bersabda, "Apakah kalian tahu mengapa aku membuat garis-garis ini?" mereka menjawab; tidak, beliau bersabda, "Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah empat orang; Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Asiyah binti Muzahim." (HR. Ahmad: 2805 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Selanjutnya perlu diuraikan tentang keempat perempuan yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam riwayat-riwayat di atas:
1. Maryam binti Imran
Maryam binti 'Imran adalah Ibu Nabi 'Isa 'alaihi salam. Seorang perempuan Bani Isra'il yang mempertahankan kesuciannya dan terhindar dari cela keburukan akhlak. Beliau mampu bertahan atas cacian dan hinaan dalam pergaulan maupun memakan makanan yang haram di masa itu. Sehingga keistiqamahannya dalam menjaga hal tersebut, Allah anugerahkan seorang anak yang dititipkan oleh Allah kepadanya. Dan, dari rahimnya yang suci itu lahirlah Nabi 'Isa 'alaihi salam.
2. Khadijah binti Khuwailid
Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan bangsawan yang dinikahi oleh Rasulullah ﷺ. Waktu itu ia adalah seorang janda, merupakan istri pertama beliau yang rela mengorbankan hartanya bahkan nyawanya untuk menopang perjuangan, membina dan mengembangkan ajaran Islam. Bahkan sebelum beliau wafat ia pernah berwasiat kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh
Khadijah sendiri tidak pernah menyembah berhala. Bahkan ia turut berdakwah untuk tidak menyembah berhala. Keteguhannya itu ditegaskan juga kepada suaminya. Hal ini tertulis dalam hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ يَعْنِي ابْنَ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ حَدَّثَنِي جَارٌ لِخَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ لِخَدِيجَةَ أَيْ خَدِيجَةُ وَاللَّهِ لَا أَعْبُدُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَاللَّهِ لَا أَعْبُدُ أَبَدًا قَالَ فَتَقُولُ خَدِيجَةُ خَلِّ اللَّاتَ خَلِّ الْعُزَّى قَالَ كَانَتْ صَنَمَهُمْ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَ ثُمَّ يَضْطَجِعُونَ. (رواه أحمد: ١٧٢٦٨)
Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Hammad bin Usamah telah menceritakan kepada kami Hisyam -yakni Ibnu Urwah- dari Bapaknya ia berkata, telah menceritakan kepadaku Tetangga Khadijah binti Khuwailid, bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ berkata kepada Khadijah, "Wahai Khadijah, demi Allah aku tidak akan pernah menyembah Lata dan 'Uzza. Demi Allah, selamanya aku tidak akan menyembahnya." Kemudian Khadijah berkata, "Tinggalkanlah Lata dan 'Uzza." Ia (perawi) berkata, "Itu adalah berhala yang mereka (orang-orang kafir Quraisy) biasa sembah dan sujud kepadanya." (HR. Ahmad: 17268 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang tetangga Khadijah binti Khuwailid)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 21989 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang tetangga Khadijah binti Khuwailid.
Selama pernikahan Rasulullah dengan Khadijah beliau tidak menikah lagi dengan perempuan lain hingga ia wafat. Beliau menikah lagi setelah tiga tahun kewafatan istri pertama beliau. Hal ini diinformasikan dalam hadits riwayat imam Muslim dan imam Ahmad.
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
لَمْ يَتَزَوَّجْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ. (رواه مسلم: ٤٤٦٦)
Telah menceritakan kepada kami 'Abad bin Humaid; Telah mengabarkan kepada kami 'Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah dia berkata, "Nabi ﷺ tidak pernah menikah lagi dengan wanita lain untuk memadu khadijah, kecuali setelah Khadijah meninggal dunia." (HR. Muslim: 4466 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَفَّى خَدِيجَةَ قَبْلَ مَخْرَجِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ بِسَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ وَأَنَا بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ جَاءَتْنِي نِسْوَةٌ وَأَنَا أَلْعَبُ فِي أُرْجُوحَةٍ وَأَنَا مُجَمَّمَةٌ فَذَهَبْنَ بِي فَهَيَّأْنَنِي وَصَنَعْنَنِي ثُمَّ أَتَيْنَ بِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ. (رواه أحمد: ٢٥١٩٣)
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya dari Aisyah berkata, "Rasulullah ﷺ menikahiku setelah Khadijah wafat dua tahun atau tiga tahun sebelum kepergian beliau ke Madinah. Sementara aku sedang berumur tujuh tahun. Ketika kami datang ke Madinah, para wanita mendatangiku sementara aku sedang bermain-main di Urjuhah dan rambutku masih turun di antara telingaku. Lalu mereka membawaku pergi dan mempersiapkanku serta menghiasiku. Mereka membawaku kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau mulai membangun keluarga denganku ketika aku berumur sembilan tahun." (HR. Ahmad: 25193 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Begitu juga 'Aisyah mengagumi istri pertama suaminya itu (Khadijah). Karena kesetiaan dan keikhlasannya menopang tumbuh dan berkembangnya Islam. Hal ini terekam dalam hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِي بِثَلَاثِ سِنِينَ لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِي فِي خَلَائِلِهَا مِنْهَا. (رواه أحمد: ٢٤٤٧٨)
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Aisyah berkata, "Saya tidak cemburu kepada seorang wanitapun, saya tidak cemburu kepada Khadijah, sungguh dia telah wafat tiga tahun sebelum beliau menikahiku menurut apa yang aku dengar ketika beliau menceritakannya. Sungguh, Robbnya 'Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada beliau agar memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah dari bambu di surga. Beliau menyembelih seekor domba, kemudian menghadiahkannya kepada para sahabat-sahabatnya Khadijah." (HR. Ahmad: 24478 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Redaksi semakna juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah tentang keistimewaan Khadijah di mata 'Aisyah. Beliau berkata,
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ قَطُّ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ مِمَّا رَأَيْتُ مِنْ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ
يَعْنِي مِنْ ذَهَبٍ قَالَهُ ابْن مَاجَةَ. (رواه إبن ماجه: ١٩٨٧)
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaim dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah ia berkata, "Aku tidak pernah merasa cemburu melebihi rasa cemburuku kepada Khadijah, hal itu karena Rasulullah ﷺ selalu menyebut namanya. Dan Rabb-nya telah memerintahkan kepadanya agar beliau memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara, yakni emas." Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Majah. (HR. Ibnu Majah: 1987 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 1666, 3533, 4828, Muslim: 4461 dan 4462, at Tirmidzi: 3811, Ahmad: 1666, 3532, 18340, 18354, 18356, 18593, 25175 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Semua hadits ini meriwayatkan tentang kabar gembira kepada Khadijah dari Allah melalui malaikat Jibril, bahwa Allah telah mempersiapkan untuknya di surga terbuat dari mutiara tanpa dengan kenyamanan luar biasa.
Pada jalur riwayat lain imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ صَاحِبُ الْهَرَوِيِّ وَاسْمُهُ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ
بَشَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَدِيجَةَ بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ. (رواه أحمد: ١٨٣٥٤)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Abu Abdurrahman sahabat Al Harawi dan namanya adalah Ubaidullah bin Ziyad, telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Abu Khalid dari Abdullah bin Abu Aufa ia berkata, "Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada Khadijah dengan rumah di surga yang terbuat dari mutiara, yang tiada kebisingan di dalamnya dan tiada pula kepenatan." (HR. Ahmad: 13854 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abi 'Awfaa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H)
Sedangkan imam Al Bukhari meriwayatkan dalam redaksi lain. Beliau meriwayatkan,
حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَسَنٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ. (رواه أالبخاري: ٣٥٣٤)
Telah bercerita kepadaku 'Umar bin Muhammad bin Hasan telah bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Hafsh dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radhiallahu'anhu berkata, "Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi ﷺ sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi ini karena beliau sering sekali menyebut-nyebutnya (memuji dan menyanjungnya) dan acapkali beliau menyembelih kambing, memotong-motong bagian-bagian daging kambing tersebut, lantas beliau kirimkan daging kambing itu kepada teman-teman Khadijah. Suatu kali aku pernah berkata kepada beliau yang intinya seolah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Maka spontan beliau menjawab, "Khadijah itu begini dan begini dan dari dialah aku mempunyai anak." (HR. Al Bukhari: 3534 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 6930, Muslim: 4465, at Tirmidzi: 3810, Ahmad: 25183 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Imam Muslim meriwayatkan alasan lain, bahwa perlakuan beliau kepada Khadijah adalah karena beliau merasakan anugerah terbesar darinya yaitu cinta.
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا عَلَى خَدِيجَةَ وَإِنِّي لَمْ أُدْرِكْهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ فَيَقُولُ أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ قَالَتْ فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ خَدِيجَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ جَمِيعًا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ إِلَى قِصَّةِ الشَّاةِ وَلَمْ يَذْكُرْ الزِّيَادَةَ بَعْدَهَا. (رواه مسلم: ٤٤٦٤)
Telah menceritakan kepada kami Sahl bin 'Utsman; Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah dia berkata; Saya tidak pernah merasa cemburu kepada para istri Rasulullah ﷺ yang lain kecuali kepada Khadijah, meskipun ia tidak hidup semasa dengan saya. Pernah, pada suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ menyembelih seekor kambing, beliau berkata, 'Berikanlah sebagian daging kambing kepada teman-teman Khadijah! ' maka saya marah kepada Rasulullah sambil berkata; Khadijah?" Lalu beliau menjawab, "Sesungguhnya aku benar-benar telah dianugerahi cinta Khadijah." Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Abu Kuraib seluruhnya dari Abu Mu'awiyah; Telah menceritakan kepada kami Hisyam melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa dengan Abu Usamah. Namun hanya sampai kisah seekor kambing, tidak ada tambahan setelah itu. (HR. Muslim: 4464 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari tiga orang gurunya)
'Aisyah ternyata pernah juga cemburu, tetapi beliau dengan kecerdasannya mampu mengembalikan keutamaan taat kepada suaminya daripada prasangka yang belum tentu menyelamatkannya. Hal dapat diketahui melalui riwayat berikut.
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
اسْتَأْذَنَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخْتُ خَدِيجَةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَدِيجَةَ فَارْتَاحَ لِذَلِكَ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ فَغِرْتُ فَقُلْتُ وَمَا تَذْكُرُ مِنْ عَجُوزٍ مِنْ عَجَائِزِ قُرَيْشٍ حَمْرَاءِ الشِّدْقَيْنِ هَلَكَتْ فِي الدَّهْرِ فَأَبْدَلَكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا. (رواه مسلم: ٤٤٦٧)
Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa'id; Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Mushir dari Hisyam dari Bapaknya dari 'Aisyah dia berkata, "Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, pernah meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Rasulullah ﷺ. Sepertinya beliau mengenali suaranya yang mirip dengan suara Khadijah, hingga beliau merasa senang. Tak lama kemudian beliau berkata, ya Allah, ternyata ia adalah binti Khuwailid, adik perempuan Khadijah! ' Aisyah berkata; Tentu saja saya merasa cemburu dan berkata; 'Mengapa Anda masih mengingat-ingat perempuan Quraisy yang tua renta itu, yang kedua ujung bibirnya telah memerah dan ia sudah tidak ada lagi, Sedangkan Allah telah memberikan gantinya yang lebih dari padanya untuk engkau." (HR. Muslim: 4467 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Selain riwayat-riwayat di atas, masih banyak lagi riwayat menyebutkan keunggulan Khadijah bin Khuwailid. Oleh karena itu wajar Allah menghadiahinya dengan anugerah keistimewaan sebagai perempuan paling mulia di surga. Disamping istri Rasul-Nya yang mulia, juga berkat perjuangan dan kesabarannya mendukung perjuangan suaminya untuk keagungan agama Islam.
3. Fathimah binti Muhammad
Fathimah binti Muhammad adalah anak Rasulullah ﷺ yang senantiasa ada disisi beliau tak luput dari perhatian beliau, bahkan sampai wafat beliau. Ia juga istri shahabat beliau yaitu Ali bin Abi Thalib. Keikhlasan dan kesabarannya mendapingi suaminya baik sebagai shahabat sampai menjadi khalifah.
Ketangguhan Fathimah tertulis dalam sejarah, karena ia satu-satunya anak perempuan kandung Rasulullah ﷺ.
Keutamaan Fathimah, lihat tulisan penulis di blog yang sama;
https://ibnusyamsir.blogspot.com/2021/07/keutamaan-fathimah-istri-ali-bin-abi.html?m=1
4. Asiyah istri Fir'aun
'Asiyah istri Fir'aun yang sangat memelihara keimanannya dibawah tekanan suaminya sendiri. Logika berfikir, yang ditawarkan dalam kisah mereka adalah sikap Istiqamahnya terhadap keyakinan kepada Allah. Beliau dikenal dengan kemampuannya mempertahankan imannya dibawah tekanan Fir'aun. Beliau tetap menghormati dan menghargai Fir'aun sebagai suaminya. Inilah keistimewaannya. Hal menjadi nilai terbaiknya adalah ia mampu bertahan dengan segala kemampuannya dan tidak lari dari kenyataan. Kekuatan bertahan itu dibarengi dengan keimanannya kepada Allah. Kenapa demikian besar penghargaan kepadanya? Karena ia mampu mempertahankan iman dan tetap melaksanakan kewajibannya sebagai istri Fir'aun.
Kisah 'Asiyah, memang tidak banyak dimuat dalam Al Qur'an dan Al Hadits tentang keistimewaannya dibanding Kahadijah, Maryam, dan Fathimah. Namun memberi bekas yang luar biasa terhadap ketangguhannya mempertahankan imannya kepada Allah, di tengah kekejaman dan keangkuhan Fir'aun.
Allah berfirman,
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ. . (اقرآن سورة التحريم/٦٦: ١١)
Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At Tahrim/66: 11)
Pada ayat ini, Allah membuat perumpamaan yaitu keadaan orang-orang yang beriman. Perumpamaan itu ialah Āsiyah binti Muzāhim, istri Fir‘aun. Dalam perumpamaan itu, Allah menjelaskan bahwa hubungan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir tidak akan membahayakan kalau diri itu murni dan suci dari kotoran. Sekalipun Āsiyah binti Muzāhim berada di bawah pengawasan suaminya, musuh Allah yang sangat berbahaya, tetapi ia tetap beriman. Ia selalu memohon dan berdoa, “Ya Tuhanku! Bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
Wallaahu 'alam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏