“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KESALAHAN YANG TIDAK DISENGAJA WAKTU AKAN TIDUR DAN LARANGAN MENYALAHKAN SIAPA PUN
Oleh: Samsurizal, MA


Bismillaahir rahmaanir rahiem, 

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.


Kebiasaan seseorang waktu akan tidur menyebabkan dapat memberi mudharat dan bisa juga memberi manfaat untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu membiasakan diri kepada hal yang baik waktu akan tidur merupakan suatu kemestian agar mendatangkan ketenangan dan kenyamanan. Diantara kebaikan tersebut adalah bersih-bersih waktu akan tidur. Hal ini untuk menghindari kebiasaan menyalahkan orang lain atau benda apa pun itu. Hendaknya salahkanlah diri sendiri agar melakukan hal yang baik waktu akan tidur. 

Nah, pada tulusan kali ini penulis paparkan riwayat-riwayat terkait dengan kebiasaan tidur dan larangan menyalahkan yang lain apabila terjadi sesuatu hal yang tidak disukai waktu tidur. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٩١) 

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Āli ‘Imrān/3: 191)

Ayat ini mengajarkan senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Begitu juga mereka senantiasa memikirkan keagungan ciptaan Allah, sehingga menanmbah kenyamanannya dalam iman dan ketenangannya. 

Imam Ibnu Majah berkata, 

حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ وَسِيمٍ الْجَمَّالُ حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ الْحَسَنِ عَنْ أُمِّهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْحُسَيْنِ عَنْ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أُمِّهِ فَاطِمَةَ ابْنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا لَا يَلُومَنَّ امْرُؤٌ إِلَّا نَفْسَهُ يَبِيتُ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ. (رواه إبن ماجه: ٣٢٨٧) 

Telah menceritakan kepada kami Jubarah bin Al Mughallas telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Wasim Al Jammal telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Al Hasan dari ibunya Fatimah binti Husain dari Al Husain bin Ali dari ibunya Fatimah putri Rasulullah ﷺ, dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, jangan sekali-kali seseorang menyalahkan kecuali pada dirinya sendiri; dia bermalam sementara di tangannya masih ada minyak sisa makanan (yang belum dibersihkan)." (HR. Ibnu Majah: 3287 - hasan bima ba'dahu menurut al Albani dari Fathimah binti Rasulullah ﷺ kuniyahnya Ummu al Hasan negeri hidup Madinah dan wafat tahun 11 H) 

Hadits yang shahih daripada hadits Fathimah di atas adalah hadits berikutnya dari Abu Hurairah. Sebagaimana imam Ibnu Majah berkata, 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي الشَّوَارِبِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَامَ أَحَدُكُمْ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَلَمْ يَغْسِلْ يَدَهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه إبن ماجه: ٣٢٨٨) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik bin Abu Asy Syawarib telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Al Muhtar telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abu Shalih dari Ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian tidur sedang di tangannya masih menyisakan aroma masakan dan dia tidak mencuci tangannya kemudian mengenainya, maka jangan sekali-kali ia menyalahkan kecuali pada dirinya sendiri." (HR. Ibnu Majah: 3288 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga lafazh hadits riwayat imam Abu Daud: 3354 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Sementara imam Ahmad meriwayatkan hadits semakna dengan lafazh yang berbeda, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ أَخْبَرَنَا وُهَيْبٌ قَالَ مَعْمَرٌ حَدَّثَنَا عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا بَاتَ أَحَدُكُمْ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه أحمد: ٨١٧٥) 

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah mengabarkan kepada kami Wuhaib, Ma'mar berkata; dia telah menceritakan kepada kami dari Az Zuhri dari Sa'id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian tidur dan di tangannya terdapat minyak samin kemudian mengenainya, maka janganlah mencela kecuali kepada dirinya sendiri." (HR. Ahmad: 8175 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lafazh selanjutnya (keempat) diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ الْبَغْدَادِيُّ الصَّاغَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَاتَ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ١٧٨٣) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ishaq Al Baghdadi Ash Shaghani, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far Al Mada`ini, telah menceritakan kepada kami Manshur bin Abul Aswad dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bermalam sementara di tangannya masih terdapat bau lemak daging, sehingga ia tertimpa sesuatu, maka janganlah ia mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya dari hadits Al A'masy kecuali dari jalur ini. (HR. At Tirmidzi: 1783 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga maksud hadits riwayat imam Ahmad berikut. Beliau berkata, 

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه أحمد: ٧٢٥٣) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa tidur sedang ditangannya masih terdapat ghomar (minyak sisa daging) dan ia belum mencucinya kemudian mengenai sesuatu, maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri." (HR. Ahmad: 7253 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga lafazh hadits riwayat Ahmad: 10518 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Semakna juga dengan hadits di atas imam ad Darimi meriwayatkan, 

 أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ عَنْ خَالِدٍ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَعَرَضَ لَهُ عَارِضٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه الدارمي: ١٩٧٤) 

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Aun dari Khalid dari Suhail dari Ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa ketika tidur di tangannya masih terdapat bau lemak daging, kemudian terjadi sesuatu padanya, maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri." (HR. Ad Darimi: 1974 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Perbedaan lafazh hadits tersebut di atas adalah pengginaan lafazh: naama (tidur), riihu (bau), dan baata (ketiduran) dan ghamar (minyak sisa daging). Sehingga hadits di atas dapat dipahami bahwa seseorang apa bila hendak tidur mesti membersihkan tangannya. Sehingga tidak mengganggu tidurnya. Jika ia merasa kesal maka kesalahan pada dirinya sendiri hendaknya ditebus dengan membersihkan tangannya. Hal ini sejalan dengan hadits terkait dengan berwudhuk apabila hendak tidur, membersihkan tempat tidur, menutup pintu atau jendela, wadah dan memadamkan lampu. Hal ini mengajarkan bahwa perlunya kenyamanan dan kebersihan waktu tidur. Sehingga terhindar dari sesuatu hal mengganggu tidurnya. Apakah disebabkan bau atau minyak yang melekat pada tangannya akan mengundang binatang seperti semut, tikus dan lain-lain. Begitu juga dikarenakan tidak menjaga kebersihan yang bersangkutan mengalami mimpi buruk. 

Oleh sebab itu Rasulullah mengajarkan kebiasaan positif diantaranya berwudhuk dan berdoa waktu mau tidur. Sebab kondisi bersih dan berserahdiri kepada Allah akan mendatangkan ketenangan dan menghilangkan mudharat. 

Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]