AJARAN PERTAMA BAGI MUALLAF
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Muallaf adalah orang yang punya keinginan yang kuat memeluk agama Islam dan ingin memperbaiki diri dan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya secara ikhlas dan sungguh-sungguh. Sehingga dapat menjadikannya teguh atas sumpah dan pengakuannya. Bersamaan dengan itu, ia telah mengemban kewajiban dan hak yang sama sebagaimana muslim lainnya.
Nah, menyimak daripada pernyataan di atas maka perlu dipaparkan bagaimana Rasulullah ﷺ mempraktekkan dalam hal ini membimbing para muallaf. Apa yang pertama kali diajarkan? dan, bagaimana beliau mengajarkannya?. Berikut penulis paparkan secara runtut disertai dengan firman Allah.
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَزْهَرَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسْلَمَ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ ثُمَّ أَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي. (رواه مسلم: ٤٨٦٤)
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Azhar Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Malik Al Asyja'i dari bapaknya, dia berkata; Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi ﷺ mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca doa: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rezeki). (HR. Muslim: 4864 - shahih dari Thariq bin Asyyam bin Mas'ud, ia shahabat)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 4863, namun tanpa kalimat "wa'aafini", shahih dari Thariq bin Asyyam bin Mas'ud, ia shahabat. Imam Ahmad juga meriwayatkan secara makna, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي طَارِقُ بْنُ أَشْيَمَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ مَنْ أَسْلَمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَهُوَ يَقُولُ هَؤُلَاءِ يَجْمَعْنَ لَكَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه أحمد: ١٥٣١٩)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yaitu Ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Abu Malik Al Asyja'i dari Abu Thariq bin Asyyam berkata saya mendengar Rasulullah ﷺ mengajar orang-orang yang masuk Islam untuk mengatakan, "Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku dan berilah aku rezeki" dan beliau berkata; semua hal itu telah menghimpun kebaikan dunia dan akhiratmu. (HR. Ahmad: 15319 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Thariq bin Asyyam bin Mas'ud, ia shahabat)
Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud, namun dalam konteks lain, beliu berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي. (رواه أيوداود: ٧٢٤)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas'ud telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Khubbab telah menceritakan kepada kami Kamil Abu Al 'Ala` telah menceritakan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ mengucapkan diantara dua sujudnya "ALLAHUMMA GHFIR LI WARHAMNI WA'AFINI WAHDINI WARZUQNI" (ya Allah anugerahkanlah untukku ampunan, rahmat, kesejahteraan, petunjuk dan rezeki)." (HR. Abu Daud: 724 - hasan dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Ajaran ini senantiasa dikembangkan agar kebaikan dunia dan akhirat menyertai para muallaf. Sehingga mereka tetap bertahan dan istiqamah dengan keimanan yang telah mereka ikrarkan dihadapan sebagai bukti kesungguhan dihadapan para saksi. Doa di atas harusnya diucapkan secara jelas dan dengan sikap ikhlas dan ridha.
Terkait dengan hadits riwayat imam Abu Daud berhubungan dengan bacaan shalat, ketika duduk diantara dua sujud. Hal ini telah mutawatir dan tidak perlu dijelaskan lebih rinci, karena sudah dimaklumi. Oleh sebab itulah setelah menjadi seorang muslim dalam shalatnya sangat dianjurkan membaca doa tersebut tanpa mengangkat atau menadahkan tangan.
Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارٍ كَشَاكِشٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدِ الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ. (رواه أحمد: ٨٠٦٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqodi dari Muhammad bin 'Ammar Kasyakisy berkata; Aku mendengar Sa'id Al Maqburi menceritakan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya jika dia ikhlash." (HR. Ahmad: 8060 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 8310, dengan memulai matannya dengan "Inna". Beliau berkata,
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمَّارٍ مُؤَذِّنُ مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خَيْرَ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدَيْ عَامِلٍ إِذَا نَصَحَ. (رواه أحمد: ٨٣١٠)
Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ammar juru azan masjid Rasulullah ﷺ, ia berkata; aku mendengar Sa'id Al Maqburi berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya hasil usaha yang paling baik adalah hasil usaha tangan seorang pekerja, jika ia hatinya tulus." (HR. Ahmad: 8310 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Selanjutnya, sikap seperti di ataslah yang menjadi dasar syafaat Rasulullah ﷺ akan diperoleh di akhirat, sebagaimana diinformasikan oleh imam Ahmad dalam riwayatnya. Beliau berkata,
حَدَّثَنَا هَاشِمٌ والْخُزَاعِيُّ يَعْنِي أَبَا سَلَمَةَ قَالَا حَدَّثَنَا لَيْثٌ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي سَالِمٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ مُعْتِبٍ الْهُذَلِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا رَدَّ إِلَيْكَ رَبُّكَ فِي الشَّفَاعَةِ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَوَّلُ مَنْ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ مِنْ أُمَّتِي لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْعِلْمِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا يَهُمُّنِي مِنْ انْقِصَافِهِمْ عَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ أَهَمُّ عِنْدِي مِنْ تَمَامِ شَفَاعَتِي وَشَفَاعَتِي لِمَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ وَلِسَانُهُ قَلْبَهُ. (رواه أحمد: ٧٧٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Hasyim dan Al Khuza'i -yaitu Abu Salamah- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib dari Salim bin Abi Salim dari Muawiyah bin Mu'tib Al Hudzali bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata; Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apa yang diserahkan oleh Allah kepada Tuan dalam hal syafaat?" lalu beliau bersabda, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, sungguh aku telah mengira bahwa kamu adalah yang pertama kali dari umatku yang bertanya kepadaku tentang hal itu, karena aku tahu akan kesungguhanmu dalam mendapatkan ilmu, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, tidak ada sesuatu yang penting bagiku dengan berkerumunnya manusia di pintu surga daripada sempurnanya syafaatku, dan syafaatku akan diberikan kepada orang yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dengan ikhlash, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya juga membenarkan hatinya." (HR. Ahmad: 7725 - shahih, namun isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya. Keduanya hidup di Baghdad)
Ingatlah firman Allah berikut:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ١٤٦)
Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri,*) berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin. (QS. An-Nisā'/4: 146)
*) Maksudnya adalah melakukan amal-amal shalih untuk menghilangkan keburukan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahannya dan menjelaskan kebenaran yang disembunyikan.
Hal ini juga maksud QS. Al Baqarah/2: 160, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَبَيَّنُوْا فَاُولٰۤىِٕكَ اَتُوْبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَاَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٦٠)
Kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan(-nya). Mereka itulah yang Aku terima tobatnya. Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah/2: 160)
Dan,
حُنَفَاۤءَ لِلّٰهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَكَاَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاۤءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَانٍ سَحِيْقٍ. (قرآن سورة الحج/٢٢: ٣١)
(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Ḥajj/22: 31)
Demikianlah penjelasan terkait dengan kewajiban seorang muallaf yang ingin memeluk agama Islam dengan sungguh-sungguh. Sehingga terpatrilah iman baru yang kokoh kepada ajaran Islam yang baru dianutnya. Oleh karena itu mengajarkan Al Qur'an dan Al Hadits kepada mereka menjadi penting ketika kebulatan tekatnya menjadi seorang muslim. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏