“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


JANGAN MEREMEHKAN PENAMPILAN ORANG
(Hadits al Barra' bin Malik dan Anjasyah)
Tema ke-700
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam at Tirmidzi berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ حَدَّثَنَا سَيَّارٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ وَعَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ مِنْ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ مِنْهُمْ الْبَرَاءُ بْنُ مَالِكٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٣٧٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Ziyad telah menceritakan kepada kami Sayyar telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Tsabit dan 'Ali bin Zaid dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Berapa banyak orang yang rambutnya kusut masai, berdebu dan hanya memiliki dua pakaian usang serta tidak ada yang peduli dengannya, namun apabila dia bersumpah atas nama Allah, niscaya akan terkabul, di antara mereka adalah Al Barra` bin Malik." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib dari jalur ini." (HR. At Tirmidzi: 3789 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz, karena diriwayatkan oleh dua orang tabi'in dari shahabat Anas bin Malik)

Siapakah al Barra' bin Malik?. Ia adalah pemandu jalan para musafir, sebagaimana hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau menceritakan:

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ وَعَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ الْبَرَاءَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَحْدُو بِالرِّجَالِ وَأَنْجَشَةَ يَحْدُو بِالنِّسَاءِ وَكَانَ حَسَنَ الصَّوْتِ فَحَدَا فَأَعْنَقَتْ الْإِبِلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدًا سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيرِ. (رواه أحمد: ١٣١٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil dan 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas bin Malik, pernah Al Barra' bin Malik memandu rombongan safar para laki-laki sedangkan Anjasyah menuntun rombongan para wanita. Kebetulan karena suara Anjasyah bagus, ia memandu sambil mendendangkan lagu dan mempercepat jalan untanya. Maka Rasulullah ﷺ menegur, "Wahai Anjasyah pelanlah jika memandu qawarir (bejana kaca) ini. (HR. Ahmad: 13176 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Guru imam Ahmad dimaksud adalah:

1. Muzhaffar bin Mudrik, ia tabi'in (tidak jumpa shahabat) kuniyahnya Abu Kamil negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 207 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Sa'ad dan Abu Daud menilainya tsiqah. An Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hajar mejelaskan, "tsiqah mutqin, tidak meriwayatkan hadits melainkan dari yang tsiqah". Begitu juga Ibnu Hibban berkomentar, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Affan bin Muslim bin 'Abdullah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 219 H. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah dan adz Dzahabi menilainya hafizh. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa seseorang yang penampilannya miskin, namun ia dekat dengan Allah. Apabila ia bersumpah (berdoa) atas nama Allah akan terwujud. Di antara mereka adalah Al Barra` bin Malik. Walau pun Rasul menyebutkan nama al Barra' bin Malik, sesungguhnya hal ini menunjukkan karakter yang sama atau sepadan dengannya juga termasuk dalam kelompok ini. Mungkin saja ketaatan dan keistiqamahannya serta ke-tawadhuk-annya, sehingga membuat ia melenyapkan keinginan terhadap keduniawian. Sehingga apa pun yang ia mohonkan kepada Allah dikabulkan. Sebagai pemandu jalan pada saat musafir, beliaulah yang menjadi pemandu dalam perjalanan Rasulullah dan para shahabat lainnya.

Terkait dengan perjalanan jauh, dimasa Rasulullah ada pemandu bagi kaum laki-laki. Begitu juga bagi kaum perempuan, seperti Anjasyah. Menyesuaikan pemandu ini tentu agar terpeliharanya aib atau kemudahan komunikasi antara pemandu dengan yang dipandu. Sehingga perjalanan safar menjadi nyaman.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]