UNGKAPAN SEORANG FAQIH
(hadits ahlul Kufah)
OLEH: SAMSURIZAL, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allah dan Rasul-Nya menjelaskan segala sesuatu tentang agama Islam dengan formula yang sesuai dengan kebutuhan makhluknya. Segala sesuatu yang berada diluar nalar dan kemampuan makhluk-Nya khususnya manusia menjadi urusan Allah sang pemberi anugerah akal pikiran. Sehingga manusia hanya mampu mencerna sesuai anugerah itu. Diluar hal tersebut adalah menjadi kekuatan atau kodrat ilahiyah. Inilah yang sebagian menjadi bentuk ilham dan hidayah. Di level selanjutnya diperuntukkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Sedangkan yang mengetahui segala sesuatu baik nyata maupun ghaib, menjadi pengetahuan yang absolut yaitu Allah.
Ingatlah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٥)
"Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit." (QS.Āli ‘Imrān/3: 5)
Oleh karena itu, dalam tradisi keilmuan sangat dianjurkan bahkan wajib seorang faqih (orang yang paham) mengucapkan "Allahu a'lam" terhadap hal diluar pengetahuan lebih rinci tentang pengetahuan atau ilmu yang dimilikinya. Karena boleh jadi apa yang mereka jelaskan tersebut keliru, dan boleh jadi benar. Tidak diperkenankan seseorang memaksakan diri harus benar terhadap sesuatu yang ia ketahui. Apalagi sampai mengklaim dirinya paling benar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٧)
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal." (QS.Āli ‘Imrān/3: 7)
Ayat ini bermaksud bahwa ayat-ayat al Qur'an ada yang muhkamaat dan mutasyabihaat. Muhkamaat adalah ayat-ayat yang sudah jelas artinya, seperti ayat-ayat hukum. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihaat adalah ayat yang tidak jelas artinya sehingga dapat ditafsirkan dalam bermacam-macam tafsiran. Seperti ayat-ayat terkait dengan hal-hal yang ghaib.
Tujuan diturunkan ayat di atas menurut sebagian mufassir adalah untuk menguji keimanan dan keteguhan seseorang Muslim kepada Allah. Iman yang yang benar hendaknya disertai dengan penyerahan diri dalam arti yang seluas-luasnya kepada kepada Allah. Selanjutnya, agar manusia menyadari keterbatasannya. Untuk yang mudah dipahami dapat dipikirkan secara mendalam, sedangkan yang sukar bahkan diluar batasannya hendaknya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Demikian juga halnya karena perbedaan kemampuan manusia maka pantaslah pernyataan Allah dalam Qur'an surat Ali 'Imran ayat 7 tersebut dijadikan rujukan dan pesan pengingat bagi seorang Muslim sejati. Akhirnya, jika ini dipahami maka penyerahan diri dan cara berpikir yang benar akan diperoleh.
Imam Malik meriwayat tentang sikap yang harus ditempuh oleh seorang faqih. Ini dijelaskan dalan riwayat berikut:
أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ لِمَا لَا يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّ الْعَالِمَ إِذَا سُئِلَ عَمَّا لَا يَعْلَمُ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ لِرَسُولِهِ { قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنْ الْمُتَكَلِّفِينَ }. (رواه مالك: ١٧٥)
Telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin 'Aun dari Al A'masy dari Muslim dari Masruq dari Abdullah ia berkata, " Barangsiapa diantara kalian yang memiliki suatu ilmu, hendaklah ia mengatakannya, dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu, katakanlah dalam permasalahan yang ia tidak tahu: 'ALLAHU A'LAM' (Allah lebih mengetahuinya), karena seorang ulama itu adalah seorang yang jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya ia akan mengatakan: ' Allahu a'lam 'dan sungguh Allah telah berfirman kepada rasul-Nya, "QUL MAA AS`ALUKUM 'ALAIHI MIN 'AJRIN WA MAA ANA MINAL MUTAKALLIFIN" (Katakanlah wahai Muhammad: 'Aku tidak meminta upah sedikitpun dari kalian atas dakwahku, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang memaksakan diri') -QS. Shad/38: 86-". (HR. Malik: 175 - shahih [isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani] dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)
Selanjunta, riwayat lengkapnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab shahihnya sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ ح و حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ صُبَيْحٍ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ جَاءَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ رَجُلٌ فَقَالَ تَرَكْتُ فِي الْمَسْجِدِ رَجُلًا يُفَسِّرُ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ يُفَسِّرُ هَذِهِ الْآيَةَ { يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ } قَالَ يَأْتِي النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ دُخَانٌ فَيَأْخُذُ بِأَنْفَاسِهِمْ حَتَّى يَأْخُذَهُمْ مِنْهُ كَهَيْئَةِ الزُّكَامِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لَا عِلْمَ لَهُ بِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ إِنَّمَا كَانَ هَذَا أَنَّ قُرَيْشًا لَمَّا اسْتَعْصَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا عَلَيْهِمْ بِسِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ فَأَصَابَهُمْ قَحْطٌ وَجَهْدٌ حَتَّى جَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ مِنْ الْجَهْدِ وَحَتَّى أَكَلُوا الْعِظَامَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ اللَّهَ لِمُضَرَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا فَقَالَ لِمُضَرَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلًا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ } قَالَ فَمُطِرُوا فَلَمَّا أَصَابَتْهُمْ الرَّفَاهِيَةُ قَالَ عَادُوا إِلَى مَا كَانُوا عَلَيْهِ قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ } { يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ } قَالَ يَعْنِي يَوْمَ بَدْرٍ. (رواه مسلم: ٥٠٠٧)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki'. Telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Asyujj dan Waki'. Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir, semuanya dari Al A'masy. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Yahya dan Abu Kuraib, teks milik Yahya, keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Muslim bin Shubaih dari Masruq berkata, Seseorang mendatangi Abdullah lalu berkata, Aku meninggalkan seseorang di masjid yang menafsirkan ayat Al-Qur'an berdasarkan pendapatnya, "Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia." (Ad Dukhaan: 10) ia berkata, Pada hari kiamat, kabut mendatangi manusia lalu mencabut nyawa mereka seperti wujud selesma. Setelah itu Abdullah berkata, Barangsiapa mengetahui sesuatu hendaklah disampaikan dan barangsiapa tidak tahu, hendaklah mengucapkan: Allahu a'lam. Salah satu pemahaman seseorang adalah dengan mengatakan Allahu a'lam untuk sesuatu yang tidak ia ketahui. Itu (kabut) terjadi saat kaum Quraisy mendurhakai Nabi ﷺ. Beliau mendoakan mereka agar tertimpa kelaparan seperti kaum Yusuf. Mereka tertimpa kemarau dan keletihan hingga seseorang melihat ke langit, ia melihat seperti wujud kabut antara dirinya dan langit karena keletihan dan hingga mereka memakan tulang. Seseorang kemudian mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, Wahai Rasulullah, mintakan ampunan pada Allah untuk Mudhar karena mereka telah binasa. Beliau bersabda kepada Mudhar, "Sesungguhnya kau gegabah." Abdullah berkata, Nabi ﷺ berdoa untuk mereka lalu Allah 'Azza wa Jalla menurunkan, "Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit. Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)." (Ad Dukhaan: 10-15) Abdullah berkata, Lalu mereka diberi hujan dan saat mereka mendapatkan kemakmuran, mereka kembali lagi seperti semula. Abdullah berkata, Lalu Allah 'Azza wa Jalla menurunkan, "Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. inilah azab yang pedih." (Ad Dukhaan: 10) Abdullah berkata, Yaitu perang Badar. (HR. Muslim: 5007 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 3431 - shahih [isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'ut] dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Juga hadits ahlul Kufah.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏