TINGGALKAN YANG MERAGUKAN
Oleh: Samsurizal, MA
Allah dan Rasul-Nya mengajarkan keyakinan yang hakiki dan absolut. Seperti al Qur'an dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢)
"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"
(QS.Al-Baqarah/2: 2)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ. (قرآن سورة النساء/٤: ٨٠)
"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (QS.An-Nisā'/4: 80)
Allâh Azza wa Jalla pun telah mengungkap hakekat ini dalam firman-Nya:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ. (قرآن سورة النجم/٥٣: ٢-٤)
“dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`ân) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) “ (QS. an-Najm/53: 3-4)
Kebenaran dari keduanya menjadi pedoman yang wajib. Hanya saja terdapat sumber zhanni (al hadits), kemungkinan benar dan juga hal yang berkemungkinan salah yaitu sumber periwayatan berupa ijtihad. Oleh sebab itu memerlukan pengetahuan dan ilmu yang mumpuni untuk mendapat keyakinan atas kebenarannya.
Memahami ajaran atau pun hasil ijtihad, bahkan pendapat seorang ahli pada bidang tertentu juga dibutuhkan ilmu. Oleh karena hal tersebut maka Rasul mengajarkan agar meninggalkan sesuatu yang meragukan dan mengikuti sesuatu yang meyakinkan. Hal tersebut disinyalir oleh Rasul ﷺ sebagaimana dipaparkan dalam beberap riwayat berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ قَالَ وَأَبُو الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيُّ اسْمُهُ رَبِيعَةُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ. (رواه الترمذي: ٢٤٤٢)
Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di berkata, Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah ﷺ? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ, "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan." Dalam hadits ini ada kisahnya. Abu Al Haura` As Sa'di namanya Rabi'ah bin Syaiban. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Bundar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid ia menyebut sepertinya. (HR. At Tirmidzi: 2442 - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 5615, Ahmad: 1630 dan 1636 [keduanya isnad shahih menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H. Imam Ad Darimi meriwayatkan:
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا تَحْفَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ مَسْأَلَةٍ لَا أَدْرِي مَا هِيَ فَقَالَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ. (رواه الدارمي: ٢٤٢٠)
Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di, ia berkata; aku berkata kepada Al Hasan bin Ali; "Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?, " Ia menjawab, "Seorang laki-laki bertanya kepada beliau mengenai suatu permasalahan, namun aku tidak tahu permasalahan apa itu, kemudian beliau bersabda, "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu." (HR. Ad Darimi: 2420 - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H)
Sementara imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ قَالَ سَمِعْتُ الْمُخْتَارَ بْنَ فُلْفُلٍ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ الشُّرْبِ فِي الْأَوْعِيَةِ فَقَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُزَفَّتَةِ وَقَالَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ قَالَ قُلْتُ وَمَا الْمُزَفَّتَةُ قَالَ الْمُقَيَّرَةُ قَالَ قُلْتُ فَالرَّصَاصُ وَالْقَارُورَةُ قَالَ مَا بَأْسٌ بِهِمَا قَالَ قُلْتُ فَإِنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَهُمَا قَالَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ كُلَّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ قَالَ قُلْتُ لَهُ صَدَقْتَ السُّكْرُ حَرَامٌ فَالشَّرْبَةُ وَالشَّرْبَتَانِ عَلَى طَعَامِنَا قَالَ مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ وَقَالَ الْخَمْرُ مِنْ الْعِنَبِ وَالتَّمْرِ وَالْعَسَلِ وَالْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ فَمَا خَمَّرْتَ مِنْ ذَلِكَ فَهِيَ الْخَمْرُ. (رواه أحمد: ١١٦٥٦)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris berkata; aku mendengar Al Mukhtar bin Fulful berkata; aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang hukum minum dengan beberapa bejana. Maka ia pun berkata, "Rasulullah ﷺ melarang dari Muzaffatah, dan beliau bersabda, "Setiap yang memabukkan adalah haram." Al Mukhtar berkata, "Apa itu Muzaffatah?" Anas menjawab, "Al Muqayyarah (benaja yang dicat dengan ter), " Al Mukhtar berkata; Aku bertanya lagi, "Bagaimana dengan cangkir dan botol?" Anas menjawab, "Keduanya tidak ada masalah, " Al Mukhtar berkata; Aku berkata, "Sesungguhnya banyak orang yang membenci keduanya." Anas menjawab, "Tinggalkanlah yang meragukan dan lakukanlah yang tidak meragukan, karena setiap yang memabukkan adalah haram." Al Mukhtar berkata; Aku lalu berkata kepadanya, "Engkau benar, sesuatu yang memabukkan adalah haram, lalu bagaimana dengan satu atau dua tegukan dalam makanan kita." Ia berkata, "Sesuatu yang jika dalam jumlah banyak dapat memabukkan maka sedikitnya juga haram." Lalu ia berkata lagi, "Khamer itu dari anggur, kurma, madu, tepung, gandum, dan jagung. Maka semua itu jika engkau campur akan menjadi khamer." (HR. Ahmad: 11656 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏