ADAB DALAM PERKUMPULAN
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum waramatullaahi wabarakaatuh.
Adab bergaul sangat penting dijaga dan dipelihara. Karena tidak pantas seorang mukmin menyakiti saudaranya baik dengan lisan maupun dengan sikap dan tindakan. Sehingga, kasih sayang dan keharmonisan dalam bergaul langgeng dan lestari.
Bergaul dengan sesama muslim, merupakan hal yang bernilai ibadah. Karena apa pun yang terkait dengan mereka adalah kebaikan. Hak-hak mereka wajib selalu terjaga. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah dalam al Qur'an surat al Hujurat/49: 10-13, sebagai berikut:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. (قرآن سورة الحجرات/٤٩: ١٠)
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al Hujurat/49: 10)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ. (قرآن سورة الحجرات/٤٩: ١١)
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Hujurat/49: 11)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة الحجرات/٤٩: ١٢)
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat/49: 12)
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. (قرآن سورة الحجرات/٤٩: ١٣)
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al Hujurat/49: 13)
Kemudian Allah berfirman,
وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٠٩)
Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapangdadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah/2: 109)
Dan,
وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة النور/٢٤: ٢٢)
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. An Nuur/24: 22)
Sedangkan adab dalam majlis Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. (قرآن سورة المجادلة/٥٨: ١١)
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujaadilah/58: 11)
Dan Rasulullah menyontohkan,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ. (رواه الترمذي: ٣٤٢٤)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub dari 'Ubaidullah bin Zahra dari Khalid bin Abu Imran bahwa Ibnu Umar berkata; jarang Rasulullah ﷺ berdiri dari majelis kecuali beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya, "ALLAAHUMMAQSIM LANAA MIN KHASYYATIKA MAA YAHUULU BAINANAA WA BAINA MA'AASHIIKA, WA MIN THAA'ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAKA, WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI 'ALAINAA MUSHIIBAATID DUNYAA WA MATTI'NAA BIASMAAINAA WA ABSHAARINAA WA QUWWATINAA MAA AHYAITANAA, WAJ'ALHUL WAARITSA MINNAA WAJ'Al TSA`RANAA 'ALAA MAN ZHALAMANAA WANSHURNAA 'ALAA MAN 'AADAANAA, WALAA TAJ'Al MUSHIIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJ'ALID DUNYAA AKBARA HAMMINAA WA LAA MABLAGHA 'ILMINAA, WA LAA TUSALLITH 'ALAINAA MAN LAA YARHAMUNAA" (Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami kepada surga-Mu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami). Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib. Dan sebagian ahli hadits meriwayatkan hadits ini dari Khalid bin Abu Imran dari Nafi' dari Ibnu Umar. (HR. At Tirmidzi: 3424 - hasan dari 'Abdullah bin 'Umar al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Pada kesemparan lain diinformasikan,
حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنْ رُفَيْعٍ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ لَمَّا كَانَ بِأَخَرَةٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الْمَجْلِسِ فَأَرَادَ أَنْ يَقُومَ قَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ الْآنَ كَلَامًا مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا خَلَا فَقَالَ هَذَا كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِي الْمَجَالِسِ. (رواه مالك: ٢٥٤٣)
Telah menceritakan kepada kami Ya'la bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Hajjaj, yakni Ibnu Dinar, dari Abu Hasyim dari Rufai' Abu Al 'Aliyah dari Abu Barzah Al Aslami ia berkata; Ketika di penghujung majelis, ketika Rasulullah ﷺ duduk di suatu majelis lalu hendak berdiri, beliau mengucapkan: SUBHANAKA ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK (Mahasuci Engkau, Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu)." Mereka bertanya; Wahai Rasulullah, engkau mengatakan perkataan yang tidak pernah engkau katakan sebelumnya. Beliau menjawab: "(Doa) ini merupakan kafarat bagi dosa-dosa yang pernah terjadi di majelis-majelis." (HR. Ad Darimi: 2543 - shahih [Isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani] dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H)
Begitu juga hadits riwayat Abu Daud: 4216 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan Wafat tahun 57 H. Abu Daud: 4217 - hasan dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H.
Dalam lafazh lain ditemukan dalam Musnad Ahmad: 18933 - shahih dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ أَنْبَأَنَا حَجَّاجٌ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْوَاسِطِيِّ عَنْ رُفَيْعٍ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِآخِرَةٍ إِذَا طَالَ الْمَجْلِسُ فَقَامَ قَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ فَقَالَ لَهُ بَعْضُنَا إِنَّ هَذَا قَوْلٌ مَا كُنَّا نَسْمَعُهُ مِنْكَ فِيمَا خَلَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا كَفَّارَةُ مَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ. (رواه أحمد: ١٨٩٣٣)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair; telah mengabarkan kepada kami Hajjaj dari Abu Hasyim al Wasithi dari Rufa 'I Abul 'Aliyah dari Abu Barzah Al Aslamy berkata; bahwasanya Nabi ﷺ diakhir majelis berdoa "Subhanaka Allahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka waatubu ilaika" (mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu)." Sebagian kami berkata, "Sungguh ini adalah perkataan yang belum pernah kami dengar dari Anda setiap kali selesai majelis." Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Ini adalah sebuah penghapus dosa terhadap dosa yang terjadi di dalam majelis." (HR. Ahmad: 18933 - shahih dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H)
Imam an Nasa'i meriwayatkan,
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ الصَّاغَانِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ مَنْصُورُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ وَكَانَ مِنْ الْخَائِفِينَ عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ مَجْلِسًا أَوْ صَلَّى تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ الْكَلِمَاتِ فَقَالَ إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. (رواه النسائي: ١٣٢٧)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq Ash Shaghani dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza'i Manshur bin Salamah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Khallad bin Sulaiman, -Abu Salamah berkomentar (tentang Khallad); Dia termasuk orang yang penakut- dari Khalid bin 'Imran dari 'Urwah dari 'Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ apabila duduk disuatu majelis atau ketika shalat maka beliau mengucapkan beberapa kalimat. Lalu aku bertanya kepada Aisyah tentang kalimat tersebut, dan dia menjawab, "Jika bicara baik maka itu sebagai tanda (stempel) sampai hari kiamat dan jika bicara yang tidak baik maka itu sebagai kafarat/penghapusnya: 'Subhaanakallahumma wa bihamdika astaghfiruka wa atuubu ilaika (Ya Allah, Mahasuci Engkau dan segala pujian bagi-Mu. Aku mohon ampunan dan bertobat kepada-Mu)." (HR. An Nasa'i: 1327 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat Muslim: 747 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Sejalan dengan pernyataan di atas Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَحْزُنُهُ. (رواه إبن ماجه: ٣٧٦٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari Al A'masy dari Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang dari kalian berbisik tanpa menyertakan orang ketiga, sebab hal itu akan membuatnya sedih." (HR. Ibnu Majah: 3765 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 5814, Muslim: 4052 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Lebih lanjutnya dijelaskan,
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ ح و حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا و قَالَ سُفْيَانُ فِي حَدِيثِهِ لَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ وَاحِدٍ فَإِنَّ ذَلِكَ يُؤْذِي الْمُؤْمِنَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَكْرَهُ أَذَى الْمُؤْمِنِ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ. (رواه الترمذي: ٢٧٥١)
Telah menceritakan kepada kami Hannad ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy ia berkata. (Dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Syaqiq dari Abdullah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Bila kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan orang ketiga." Sufyan berkata dalam haditsnya, "Janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan orang ketiga, karena hal itu akan membuatnya sedih."
Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan yang satunya, karena itu akan menyakitkan orang mukmin, dan Allah 'Azza wa Jalla membenci menyakiti orang mukmin." Dalam hal ini, ada hadits serupa dari Ibnu Umar, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. (HR. At Tirmidzi: 2751 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)
Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 1516 dan 5816, Muslim: 4053, Ahmad: 3834 [shahih menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H [semuanya hadits ahlul Kufah]. Muslim: 4054, Ahmad: 3379 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud.
Lebih lanjut, imam at Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٢٥٥١)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami al Laits dari Ibnu 'Ajlan dari al Qa'qa' bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana orang muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya, dan seorang mukmin (yang sejati) adalah orang yang mana manusia lainnya selamat dari (bahayanya) pada darah dan harta mereka." Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan shahih.' (HR. At Tirmidzi: 2551 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
وَيُرْوَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ وَأَبِي مُوسَى وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَنَا بِذَلِكَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ جَدِّهِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ حَسَنٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه الترمذي: ٢٥٥٢)
Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau ditanya, "Orang muslim yang manakah yang lebih afdhal?" Beliau menjawab, "Seseorang yang muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya." Dan di dalam bab tersebut (juga diriwayatkan) dari Jabir, Abu Musa dan Abdullah bin Amru, telah menceritakan kepada kami dengan hadits tersebut Ibrahim bin Sa'id al Jauhari telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah bin Abu Burdah dari kakeknya, Abu Burdah dari Abu Musa al Asy'ari bahwa Nabi ﷺ ditanya, "Orang muslim yang manakah yang lebih afdhal?" Beliau menjawab, "Seseorang yang mana muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya." Abu Isa berkata; 'Ini hadits shahih gharib hasan dari hadits Abu Musa dari Nabi ﷺ. (HR. At Tirmidzi: 2552 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)
Hadits terkait dengan hadits di atas terdeteksi sebanyak dua puluh buah dalam kitab hadits 9 Imam dengan berbagai variasi teks. Tetapi semuanya berbuaik dan menjaga harkat martabat dan keselamatan sesama muslim. Sehingga dapat dipahami bahwa berbuat baik dan menjaga harkat martabat serta keselamatan mereka hukumnya adalah wajib.
Hadits dha'if tentang hal ini:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا زَبَّانُ عَنْ سَهْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ السَّالِمَ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ. (رواه أحمد: ١٥٠٩٠)
Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi 'ah telah menceritakan kepada kami Zabban dari Sahl dari Bapaknya dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda, "Orang yang selamat adalah orang yang manusia selamat dari tangan dan lisannya". (HR. Ahmad: 15090 - dha'if dari Mu'adz bin Anas, ia shahabat dan negeri hidup Maru)
Catatan: kedha'ifan hadits riwayat Ahmad: 15090, bukan saja matannya bertentangan dengan riwayat yang banyak, tetapi diriwayatkan oleh para periwayat yang lemah atau dinilai jarah (buruk) oleh kritikus hadits. Berikut para periwayatnya:
1. Mu'adz bin Anas, ia shahabat dan negeri hidup Maru.
2. Sahal bin Mu'adz bin Anas, ia tabi'in kalangan biasa dan negeri hidup Maru. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat.
3. Zabban bin Fa'id, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Juwain negeri hidup Maru dan wafat tahun 155 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal mengatakan, "hadits-haditsnya mungkar. Yahya bin Ma'in menilainya syaikh dha'if, Abu Hatim menilainya shalih. Sementara adz Dzahabi menilainya dha'if fadhil baik.
4. 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi' tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: adz Dzahabi dan Muhammad bin Sa'ad menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq, Abu Hatim menilainya dzahibul hadits. Abu Zur'ah menilianya la yadhbuth.
5. Al Hasan bin Musa, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Ali negeri hidup Jazirah dan wafat tahun 209 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnul Madini, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Demikian paparan tentang pentingnya menjaga adab dalam pergaulan sesama muslim maupun dengan orang lain (orang non muslim). Sebagai seorang muslim tetap beradab dan menghargai sesama manusia apalagi sesama muslim. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏