“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

BERKAH UMUR DALAM ISLAM
DAN TAQARRUB ILALLAH
(umur setelah 40 tahun keatas)
Oleh: Samsurizal, MA

Umur manusia dibatasi ajal yang telah ditentukan oleh Allah. Seiring berjalannya waktu, perobahan bentuk pisik, emosi dan amal selalu terkait dengan takdir-Nya. Kemusahan dan kesulitan silih berganti. Oleh karena itu, senantiasalah memperbaiki diri dan amalan yang bermanfaat. Sejalan dengan itu, Allah memberikan batasan khusus agar manusia selalu berbenah.

Sepanjang usia dan perjalanan hidup Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengingatkan agar senantiasa semakin mendekatkan diri kepada Allah. Berikut penulis paparkan hadits-hadits yang terkait dengan umur yang istimewa menurut Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ  قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (سورة الأحقاف/٤٦: ١٥)

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS. Al Ahqaaf/46: 15)

Selanjutnya juga dijelaskan oleh Rasulullaahi shallallaahu 'alaihi wa sallam berikut:

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنِي يُوسُفُ بْنُ أَبِي ذَرَّةَ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُعَمَّرٍ يُعَمَّرُ فِي الْإِسْلَامِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِلَّا صَرَفَ اللَّهُ عَنْهُ ثَلَاثَةَ أَنْوَاعٍ مِنْ الْبَلَاءِ الْجُنُونَ وَالْجُذَامَ وَالْبَرَصَ فَإِذَا بَلَغَ خَمْسِينَ سَنَةً لَيَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْحِسَابَ فَإِذَا بَلَغَ سِتِّينَ رَزَقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ بِمَا يُحِبُّ فَإِذَا بَلَغَ سَبْعِينَ سَنَةً أَحَبَّهُ اللَّهُ وَأَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ فَإِذَا بَلَغَ الثَّمَانِينَ قَبِلَ اللَّهُ حَسَنَاتِهِ وَتَجَاوَزَ عَنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا بَلَغَ تِسْعِينَ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَسُمِّيَ أَسِيرَ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ وَشَفَعَ لِأَهْلِ بَيْتِهِ. (رواه أحمد: ١حمد: ١٢٨٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Anas Bin 'Iyadh telah menceritakan kepadaku Yusuf Abu Dzarrah Al- anshar i dari Ja'far Bin 'Amr Bin 'Umayyah Adh-Dhamiri dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seseorang dipanjangkan umurnya dalam Islam hingga empat puluh tahun melainkan Allah menghindarkannya dari tiga hal: penyakit gila, kusta dan belang. Jika ia mencapai lima puluh tahun, Allah memudahkan hisabnya. Jika mencapai enam puluh tahun, Allah mengaruniainya suka mendekatkan diri kepada-Nya dengan yang disukainya. Jika mencapai tujuh puluh tahun, Allah mencintainya dan penduduk langit juga mencintainya. Jika mencapai delapan puluh tahun, Allah menghapus kejelekannya. Jika mencapai sembilan puluh tahun, Allah menghapus dosa yang telah lalu dan yang akan datang, dan ia dinamakan dengan tawanan Allah di bumi serta dia akan memberi syafaat keluarganya". (HR. Ahmad: 12802-shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Semua periwayat maqbul. Negeri hidup para periwayat Bashrah, Madinah, Kufah dan Madinah. Tetapi riwayat ini gharib, hanya Abu Hurairah yang meriwayatkannya dari Nabi.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي غِفَارٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى عَبْدٍ أَحْيَاهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّينَ أَوْ سَبْعِينَ سَنَةً لَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ لَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ.(رواه أحمد: ٧٣٨٨)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari seorang laki-laki dari bani Ghifar, dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, beliau bersabda: "Sungguh Allah telah memberi udzur terhadap hamba-Nya yang Dia hidupkan hingga umur enam puluh atau tujuh puluh tahun, sungguh Allah telah memberi udzur, sungguh Allah telah memberi udzur kepadanya." (HR. Ahmad: 7388 - dha'if [munqathi'] dari Abu Hurairah, nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhr, ia shahabat negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Periwayat setelah Sa'id al Maqburi tidak diketahui. Sa'id al Maqburi, ia tabi'in kalangan pertengahan nama aslinya Sa'id bin Abi Sa'id Kaisan kuniyahnya  Abu Sa'ad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 123 H.

Namun perlu juga diingat,

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا الْأَشْعَثُ بْنُ جَابِرٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ حَدَّثَهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ وَالْمَرْأَةُ بِطَاعَةِ اللَّهِ سِتِّينَ سَنَةً ثُمَّ يَحْضُرُهُمَا الْمَوْتُ فَيُضَارَّانِ فِي الْوَصِيَّةِ فَتَجِبُ لَهُمَا النَّارُ ثُمَّ قَرَأَ عَلَيَّ أَبُو هُرَيْرَةَ
{ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنْ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ }
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَنَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الَّذِي رَوَى عَنْ الْأَشْعَثِ بْنِ جَابِرٍ هُوَ جَدُّ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيِّ. (رواه الترمذي: ٢٠٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin 'Ali Al Jahdhami; telah menceritakan kepada kami 'Abdush Shamad bin 'Abdul Warits; telah menceritakan kepada kami Nashr bin 'Ali; telah menceritakan kepada kami Al Asy'ats bin Jabir dari Syahar bin Hausyab dari Abu Hurairah bahwasanya dia menceritakan kepadanya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya seorang lelaki dan perempuan bisa jadi beramal ketaatan kepada Allah selama enam puluh tahun, kemudian ketika tiba ajal keduanya [mereka] melakukan sesuatu yang membahayakan bagi ahli warisnya, sehingga mengharuskan keduanya masuk ke dalam neraka." Kemudian Abu Hurairah membacakan ayat kepadaku: "MIM BA'DI WASIYYATIY YUUSHAA BIHAA AU DAININ GHAIRA MUDHAARRIW WASHIYYATAM MINALLAAH (sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat kepada ahli waris. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari`at yang benar-benar dari Allah)." (QS An Nisa'/4: 12) sampai firman Allah, "DZAALIKAL FAUZUL 'AZHIIM (dan itulah kemenangan yang besar)." (QS An Nisa'/4: 13) Abu Isa berkata; Hadits ini adalah hasan shahih gharib, adapun Nashr bin Ali yang meriwayatkan dari Ats'ats bin Jabir dia adalah kakeknya Nahsr bin Ali Al Jahdlami. (HR. At Tirmidzi: 2043 - dha'if dari Abu Hurairah)

Sanadnya dha'if, karena terdapat periwayat yang lemah. Ia adalah Syahar bin Hausyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H.  Penilaian ulama: Musa bin Harun dan Baihaqiy menilainya dha'if, Ibnu 'Adi menilainya dh'if jiddan. An Nasa'i dan Hakim menilainya laisa bi qawi, Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bihi ba's, Ibnu Hazam menilainya saqith dan Ibnu Hajar menilainya shaduq tetapi punya keragu-raguan. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Lihat juga: Abu Daud: 2483 - dha'if dari Abu Hurairah. Hadits ini dha'if, dalam sanad juga terdapat Syahar bin Hausyab meriwayatkan dari Abu Hurairah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]