SHALAT TIDAK DAPAT DIPUTUS OLEH SUATU APA PUN (contoh hadits syadz dan mahfuzh)
HADITS SYADZ
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ وَهِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ
قُلْتُ لِجَابِرِ بْنِ زَيْدٍ مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ قَالَ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ الْمَرْأَةُ الْحَائِضُ وَالْكَلْبُ
قَالَ يَحْيَى رَفَعَهُ شُعْبَةُ. (رواه النسائي: ٧٤٣)
Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syu'bah dan Hisyam dari Qatadah dia berkata; aku bertanya kepada Jabir bin Zaid apa yang bisa memutus shalat? Dia menjawab, Ibnu Abbas pernah berkata; yang bisa memutus shalat adalah perempuan yang haid dan anjing. Yahya berkata; Hadis ini telah dimarfu'-kan oleh Syu'bah. (HR. An Nasa'i: 743 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
HADITS MAHFUZH
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ ح قَالَ الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي مُسْلِمٌ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ
ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ. (رواه البخاري: ٤٨٤)
Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh bin 'Iyats berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah. (dalam jalur lain disebutkan) Al A'masy berkata, telah menceritakan kepadaku Muslim dari Masruq dari 'Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat; anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, "Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sedangkan aku berbaring di atas ranjang antara beliau dan arah kiblatnya. Sehingga ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau." (HR. Al Bukhari: 484 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lihat juga: al Bukhari: 5804, Muslim: 791 dan 794, Ahmad: 23024 dan An Nasa'i: 751 - shahih dari 'Aisyah.
Begitu juga hadits dari 'Urwah bin Az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bi Qu, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Hadits dimaksud sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ عُرْوَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَعَائِشَةُ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى الْفِرَاشِ الَّذِي يَنَامَانِ عَلَيْهِ. (رواه البخاري: ٣٧١)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari 'Irak dari 'Urwah, bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang shalat, 'Aisyah berbaring antara beliau dengan arah kiblatnya, di atas tempat tidur yang digunakan untuk tidur keduanya." (HR. Al Bukhari: 371 - shahih dari 'Urwah bin az Zubair)
Catatan: hadits terkait dengan ini dalam ensiklopedi hadits 9 imam sebanyak 17 buah.
SIMAKLAH RIWAYAT BERIKUT:
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ عَقِيلِ بْنِ جَابِرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ
فِيمَا يَذْكُرُ مِنْ اجْتِهَادِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِبَادَةِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي مَوْضِعٍ آخَرَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ مِنْ نَجْدٍ فَأَصَابَ امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِلَى نَجْدٍ فَغَشِينَا دَارًا مِنْ دُورِ الْمُشْرِكِينَ قَالَ فَأَصَبْنَا امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْهُمْ قَالَ ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاجِعًا وَجَاءَ صَاحِبُهَا وَكَانَ غَائِبًا فَذُكِرَ لَهُ مُصَابُهَا فَحَلَفَ لَا يَرْجِعُ حَتَّى يُهْرِيقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمًا قَالَ فَلَمَّا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ الطَّرِيقِ نَزَلَ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ وَقَالَ مَنْ رَجُلَانِ يَكْلَآَنَا فِي لَيْلَتِنَا هَذِهِ مِنْ عَدُوِّنَا قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ نَحْنُ نَكْلَؤُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَخَرَجَا إِلَى فَمِ الشِّعْبِ دُونَ الْعَسْكَرِ ثُمَّ قَالَ الْأَنْصَارِيُّ لِلْمُهَاجِرِيِّ أَتَكْفِينِي أَوَّلَ اللَّيْلِ وَأَكْفِيكَ آخِرَهُ أَمْ تَكْفِينِي آخِرَهُ وَأَكْفِيكَ أَوَّلَهُ قَالَ فَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ بَلْ اكْفِنِي أَوَّلَهُ وَأَكْفِيكَ آخِرَهُ فَنَامَ الْمُهَاجِرِيُّ وَقَامَ الْأَنْصَارِيُّ يُصَلِّي قَالَ فَافْتَتَحَ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ فَبَيْنَا هُوَ فِيهَا يَقْرَأُ إِذْ جَاءَ زَوْجُ الْمَرْأَةِ قَالَ فَلَمَّا رَأَى الرَّجُلَ قَائِمًا عَرَفَ أَنَّهُ رَبِيئَةُ الْقَوْمِ فَيَنْتَزِعُ لَهُ بِسَهْمٍ فَيَضَعُهُ فِيهِ قَالَ فَيَنْزِعُهُ فَيَضَعُهُ وَهُوَ قَائِمٌ يَقْرَأُ فِي السُّورَةِ الَّتِي هُوَ فِيهَا وَلَمْ يَتَحَرَّكْ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَقْطَعَهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ لَهُ زَوْجُ الْمَرْأَةِ بِسَهْمٍ آخَرَ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَانْتَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي وَلَمْ يَتَحَرَّكْ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَقْطَعَهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ لَهُ زَوْجُ الْمَرْأَةِ الثَّالِثَةَ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَانْتَزَعَهُ فَوَضَعَهُ ثُمَّ رَكَعَ فَسَجَدَ ثُمَّ قَالَ لِصَاحِبِهِ اقْعُدْ فَقَدْ أُوتِيتُ قَالَ فَجَلَسَ الْمُهَاجِرِيُّ فَلَمَّا رَآهُمَا صَاحِبُ الْمَرْأَةِ هَرَبَ وَعَرَفَ أَنَّهُ قَدْ نُذِرَ بِهِ قَالَ وَإِذَا الْأَنْصَارِيُّ يَمُوجُ دَمًا مِنْ رَمْيَاتِ صَاحِبِ الْمَرْأَةِ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَخُوهُ الْمُهَاجِرِيُّ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَلَا كُنْتَ آذَنْتَنِي أَوَّلَ مَا رَمَاكَ قَالَ فَقَالَ كُنْتُ فِي سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَدْ افْتَتَحْتُهَا أُصَلِّي بِهَا فَكَرِهْتُ أَنْ أَقْطَعَهَا وَايْمُ اللَّهِ لَوْلَا أَنْ أُضَيِّعَ ثَغْرًا أَمَرَنِي بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِهِ لَقَطَعَ نَفْسِي قَبْلَ أَنْ أَقْطَعَهَا. (رواه أحمد: ١٤٣٣٦)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq Telah menceritakan kepada ku Shadaqah bin Yasar dari 'Aqil bin Jabir dari Jabir bin Abdullah Al Anshari tentang kesungguhan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ibadah. (Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma) berkata; kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, --Pada tempat yang lain dengan redaksi-- kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu peperangan melawan Najid, dan kami dapatkan salah seorang wanita dari kaum musyrik sampai di Najid, lalu kami mendatangi salah satu rumah kaum musyrikin. Kami mendapatkan salah seorang istri dari mereka. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dan datanglah suami wanita tersebut yang tadinya tidak ada. Kemudian disebutkan musibah yang menimpa istrinya lalu dia bersumpah untuk tidak pulang sehingga dapat menumpahkan darah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah melewati beberapa perjalanannya, beliau beristirahat pada sebuah bukit dan bertanya: siapakah dua orang yang akan menjaga kami pada malam ini dari serangan musuh? Maka ada seorang laki-laki dari Muhajirin dan seorang laki-laki dari Anshar berkata; kami wahai Rasulullah! mereka turun ke mulut bukit di bawah para tentara, kemudian orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin, apakah kamu akan menjagaku pada awal malam dan saya pada akhirnya atau kamu menjaga saya pada akhir malam dan saya menjagamu pada awalnya? lalu orang Muhajirin berkata; jagalah pada awalnya dan saya akan menjagamu pada malamnya. Lalu orang Muhajirin tidur sedangkan orang Anshar berdiri dan shalat. Dia membuka bacaan salah satu surat dalam Al Qur'an, maka tatkala dia sedang di tengah-tengah bacaannya maka datanglah suami wanita tadi. Tatkala dia melihat ada laki-laki yang sedang berdiri dia mengetahui itu adalah penjaga pasukan. Maka dia memanahnya dan (orang Anshar tersebut) mencabutnya, dia memanahnya lagi dan dicabutnya lagi dan orang tersebut tetap berdiri dan melanjutkan bacaannya dan tidak menghentikan karena takut dapat memutusnya. Suami wanita tersebut kembali lagi memanahnya dan dicabut lagi dan dia tetap dalam keadaan berdiri shalat dan melanjutkan bacaannya dan tidak menghentikan karena takut dapat memutusnya, kembali lagi suami wanita itu untuk ketiga kalinya memanahnya namun dicabutnya lagi kemudian ruku' dan sujud kemudian berkata kepada sahabatnya, duduklah, saya telah didatangi musuh, lalu orang Muhajirin itu duduk. Ketika laki-laki itu melihat keduanya, dia kabur dan tahu bahwa mereka telah diberi peringatan. orang Anshar tersebut mengeluarkan darah dari lemparan suami wanita tadi. Jabir berkata; lalu saudaranya, orang Muhajirin berkata; semoga Allah mengampunimu, kenapa kamu tidak memanggilku saat pertama kali kamu terkena panah, maka (orang Anshar) berkata; saya sedang membaca sebuah surat al Qur'an, dan saya telah membukanya dalam shalat tersebut dan saya tidak suka jika harus memutusnya, Demi Allah kalau bukan karena saya takut kacaunya perbatasan yang saya diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjaganya, niscaya dia akan memutus nyawaku sebelum saya memutus bacaanku". (HR. Ahmad: 14336 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
HADITS DHA'IF TENTANG INI
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُعَلَّى الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ الْعُرَنِيُّ قَالَ
ذُكِرَ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ قَالَ بِئْسَمَا عَدَلْتُمْ بِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ كَلْبًا وَحِمَارًا لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَقْبَلْتُ عَلَى حِمَارٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ حَتَّى إِذَا كُنْتُ قَرِيبًا مِنْهُ مُسْتَقْبِلَهُ نَزَلْتُ عَنْهُ وَخَلَّيْتُ عَنْهُ وَدَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاتِهِ فَمَا أَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ وَلَا نَهَانِي عَمَّا صَنَعْتُ وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَجَاءَتْ وَلِيدَةٌ تَخَلَّلُ الصُّفُوفَ حَتَّى عَاذَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ وَلَا نَهَاهَا عَمَّا صَنَعَتْ وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي مَسْجِدٍ فَخَرَجَ جَدْيٌ مِنْ بَعْضِ حُجُرَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَهَبَ يَجْتَازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَنَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَفَلَا تَقُولُونَ الْجَدْيُ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ. (رواه أحمد: ٢١١٢)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ashim telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mu'ali Al 'Athar telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Urani berkata; disebutkan dari Ibnu Abbas; bahwa shalat akan terputus dengan lewatnya anjing, keledai dan wanita. Ia berkata; "Alangkah buruknya kalian menyamakan perempuan muslimah dengan anjing dan keledai. Aku telah mengambil kesimpulan; bahwa aku datang dengan naik keledai sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama orang-orang, sehingga ketika aku berada dekat tempat kiblatnya aku turun dan berjalan mamasuki shaf shalat lalu aku shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang apa yang aku perbuat. Pernah pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama orang-orang, ketika itu datang seorang budak wanita masuk melewati shaf shalat sampai di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang tindakannya itu. Serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah shalat di masjid lalu keluarlah anak kambing dari salah satu kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan pergi melewati depan beliau maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mencegahnya." Ibnu Abbas berkata; "Mengapa kalian tidak mengatakan anak kambing itu memutus shalat?." (HR. Ahmad: 2112 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim)
Catatan:
Periwayat terputus setelah Ibnu 'Abbas dan 'Ali bin 'Ashim bin Suhaib, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Haity dan wafat tahun 201 H. Penilaian ulama: adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya", al 'Ajli menilainya tsiqah, al Bukhari menilainya laisa bi qawi dan Ibnu Hajar menilainya shaduq "terdapat kesalahan".
Apalagi hadits dha'if berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ التَّنُوخِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا مَوْلًى لِيَزِيدَ بْنِ نِمْرَانَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ نِمْرَانَ قَالَ
لَقِيتُ رَجُلًا مُقْعَدًا شَوَّالًا فَسَأَلْتُهُ قَالَ مَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَتَانٍ أَوْ حِمَارٍ فَقَالَ قَطَعَ عَلَيْنَا صَلَاتَنَا قَطَعَ اللَّهُ أَثَرَهُ فَأُقْعِدَ. (رواه أحمد: ١٦٠١٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Sa'id bin Abdul Aziz At-Tanukhi berkata; telah menceritakan kepada kami budak milik Yazid bin Nimran berkata; telah menceritakan kepadaku Yazid bin Nimran berkata; saya pernah bertemu seseorang yang hanya bisa duduk di tempatnya, lalu saya bertanya kepadanya. Dia lantas menceritakan suatu peristiwa, 'Saya pernah lewat di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (ketika beliau shalat) dan saya saat itu menunggang keledai betina atau keledai-si perawi tidak ingat, lalu beliau bersabda: "Dia telah memutus shalat kami semoga Allah memutus nama baiknya setelah meninggal, dan jadikanlah ia hanya bisa duduk." (HR. Ahmad: 16013 - dha'if dari periwayat tidak diketahui)
Para periwayat:
1. Nama tidak diketahui
2. Yazid bin Nimran bin Yazid, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat", Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah.
3. Sa'id [maula Yazid bin Nimran], ia tabi'in [tidak jumpa shahabat]. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat", adz Dzahabi menilainya dimajhulkan, Ibnu Hajar dan Abu Hatim menilainya majhul.
4. Sa'id bin 'Abdul 'Aziz bin Abi Yahya, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Syam dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id, al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah imam.
5. Adhdhahak bin Makhlad bin Adhdhahak bin Muslim, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kunitahnya Abu 'Ashim negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 212 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, sedangkan adz Dzahabi menilainya al Hadizh.
HADITS SYADZ
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ وَهِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ
قُلْتُ لِجَابِرِ بْنِ زَيْدٍ مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ قَالَ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ الْمَرْأَةُ الْحَائِضُ وَالْكَلْبُ
قَالَ يَحْيَى رَفَعَهُ شُعْبَةُ. (رواه النسائي: ٧٤٣)
Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syu'bah dan Hisyam dari Qatadah dia berkata; aku bertanya kepada Jabir bin Zaid apa yang bisa memutus shalat? Dia menjawab, Ibnu Abbas pernah berkata; yang bisa memutus shalat adalah perempuan yang haid dan anjing. Yahya berkata; Hadis ini telah dimarfu'-kan oleh Syu'bah. (HR. An Nasa'i: 743 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
HADITS MAHFUZH
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ ح قَالَ الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي مُسْلِمٌ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ
ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ. (رواه البخاري: ٤٨٤)
Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh bin 'Iyats berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah. (dalam jalur lain disebutkan) Al A'masy berkata, telah menceritakan kepadaku Muslim dari Masruq dari 'Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat; anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, "Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sedangkan aku berbaring di atas ranjang antara beliau dan arah kiblatnya. Sehingga ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau." (HR. Al Bukhari: 484 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lihat juga: al Bukhari: 5804, Muslim: 791 dan 794, Ahmad: 23024 dan An Nasa'i: 751 - shahih dari 'Aisyah.
Begitu juga hadits dari 'Urwah bin Az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bi Qu, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Hadits dimaksud sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ عُرْوَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَعَائِشَةُ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى الْفِرَاشِ الَّذِي يَنَامَانِ عَلَيْهِ. (رواه البخاري: ٣٧١)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari 'Irak dari 'Urwah, bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang shalat, 'Aisyah berbaring antara beliau dengan arah kiblatnya, di atas tempat tidur yang digunakan untuk tidur keduanya." (HR. Al Bukhari: 371 - shahih dari 'Urwah bin az Zubair)
Catatan: hadits terkait dengan ini dalam ensiklopedi hadits 9 imam sebanyak 17 buah.
SIMAKLAH RIWAYAT BERIKUT:
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ عَقِيلِ بْنِ جَابِرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ
فِيمَا يَذْكُرُ مِنْ اجْتِهَادِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِبَادَةِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي مَوْضِعٍ آخَرَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ مِنْ نَجْدٍ فَأَصَابَ امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِلَى نَجْدٍ فَغَشِينَا دَارًا مِنْ دُورِ الْمُشْرِكِينَ قَالَ فَأَصَبْنَا امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْهُمْ قَالَ ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاجِعًا وَجَاءَ صَاحِبُهَا وَكَانَ غَائِبًا فَذُكِرَ لَهُ مُصَابُهَا فَحَلَفَ لَا يَرْجِعُ حَتَّى يُهْرِيقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمًا قَالَ فَلَمَّا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ الطَّرِيقِ نَزَلَ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ وَقَالَ مَنْ رَجُلَانِ يَكْلَآَنَا فِي لَيْلَتِنَا هَذِهِ مِنْ عَدُوِّنَا قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ نَحْنُ نَكْلَؤُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَخَرَجَا إِلَى فَمِ الشِّعْبِ دُونَ الْعَسْكَرِ ثُمَّ قَالَ الْأَنْصَارِيُّ لِلْمُهَاجِرِيِّ أَتَكْفِينِي أَوَّلَ اللَّيْلِ وَأَكْفِيكَ آخِرَهُ أَمْ تَكْفِينِي آخِرَهُ وَأَكْفِيكَ أَوَّلَهُ قَالَ فَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ بَلْ اكْفِنِي أَوَّلَهُ وَأَكْفِيكَ آخِرَهُ فَنَامَ الْمُهَاجِرِيُّ وَقَامَ الْأَنْصَارِيُّ يُصَلِّي قَالَ فَافْتَتَحَ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ فَبَيْنَا هُوَ فِيهَا يَقْرَأُ إِذْ جَاءَ زَوْجُ الْمَرْأَةِ قَالَ فَلَمَّا رَأَى الرَّجُلَ قَائِمًا عَرَفَ أَنَّهُ رَبِيئَةُ الْقَوْمِ فَيَنْتَزِعُ لَهُ بِسَهْمٍ فَيَضَعُهُ فِيهِ قَالَ فَيَنْزِعُهُ فَيَضَعُهُ وَهُوَ قَائِمٌ يَقْرَأُ فِي السُّورَةِ الَّتِي هُوَ فِيهَا وَلَمْ يَتَحَرَّكْ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَقْطَعَهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ لَهُ زَوْجُ الْمَرْأَةِ بِسَهْمٍ آخَرَ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَانْتَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي وَلَمْ يَتَحَرَّكْ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَقْطَعَهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ لَهُ زَوْجُ الْمَرْأَةِ الثَّالِثَةَ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَانْتَزَعَهُ فَوَضَعَهُ ثُمَّ رَكَعَ فَسَجَدَ ثُمَّ قَالَ لِصَاحِبِهِ اقْعُدْ فَقَدْ أُوتِيتُ قَالَ فَجَلَسَ الْمُهَاجِرِيُّ فَلَمَّا رَآهُمَا صَاحِبُ الْمَرْأَةِ هَرَبَ وَعَرَفَ أَنَّهُ قَدْ نُذِرَ بِهِ قَالَ وَإِذَا الْأَنْصَارِيُّ يَمُوجُ دَمًا مِنْ رَمْيَاتِ صَاحِبِ الْمَرْأَةِ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَخُوهُ الْمُهَاجِرِيُّ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَلَا كُنْتَ آذَنْتَنِي أَوَّلَ مَا رَمَاكَ قَالَ فَقَالَ كُنْتُ فِي سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَدْ افْتَتَحْتُهَا أُصَلِّي بِهَا فَكَرِهْتُ أَنْ أَقْطَعَهَا وَايْمُ اللَّهِ لَوْلَا أَنْ أُضَيِّعَ ثَغْرًا أَمَرَنِي بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِهِ لَقَطَعَ نَفْسِي قَبْلَ أَنْ أَقْطَعَهَا. (رواه أحمد: ١٤٣٣٦)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq Telah menceritakan kepada ku Shadaqah bin Yasar dari 'Aqil bin Jabir dari Jabir bin Abdullah Al Anshari tentang kesungguhan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ibadah. (Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma) berkata; kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, --Pada tempat yang lain dengan redaksi-- kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu peperangan melawan Najid, dan kami dapatkan salah seorang wanita dari kaum musyrik sampai di Najid, lalu kami mendatangi salah satu rumah kaum musyrikin. Kami mendapatkan salah seorang istri dari mereka. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dan datanglah suami wanita tersebut yang tadinya tidak ada. Kemudian disebutkan musibah yang menimpa istrinya lalu dia bersumpah untuk tidak pulang sehingga dapat menumpahkan darah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah melewati beberapa perjalanannya, beliau beristirahat pada sebuah bukit dan bertanya: siapakah dua orang yang akan menjaga kami pada malam ini dari serangan musuh? Maka ada seorang laki-laki dari Muhajirin dan seorang laki-laki dari Anshar berkata; kami wahai Rasulullah! mereka turun ke mulut bukit di bawah para tentara, kemudian orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin, apakah kamu akan menjagaku pada awal malam dan saya pada akhirnya atau kamu menjaga saya pada akhir malam dan saya menjagamu pada awalnya? lalu orang Muhajirin berkata; jagalah pada awalnya dan saya akan menjagamu pada malamnya. Lalu orang Muhajirin tidur sedangkan orang Anshar berdiri dan shalat. Dia membuka bacaan salah satu surat dalam Al Qur'an, maka tatkala dia sedang di tengah-tengah bacaannya maka datanglah suami wanita tadi. Tatkala dia melihat ada laki-laki yang sedang berdiri dia mengetahui itu adalah penjaga pasukan. Maka dia memanahnya dan (orang Anshar tersebut) mencabutnya, dia memanahnya lagi dan dicabutnya lagi dan orang tersebut tetap berdiri dan melanjutkan bacaannya dan tidak menghentikan karena takut dapat memutusnya. Suami wanita tersebut kembali lagi memanahnya dan dicabut lagi dan dia tetap dalam keadaan berdiri shalat dan melanjutkan bacaannya dan tidak menghentikan karena takut dapat memutusnya, kembali lagi suami wanita itu untuk ketiga kalinya memanahnya namun dicabutnya lagi kemudian ruku' dan sujud kemudian berkata kepada sahabatnya, duduklah, saya telah didatangi musuh, lalu orang Muhajirin itu duduk. Ketika laki-laki itu melihat keduanya, dia kabur dan tahu bahwa mereka telah diberi peringatan. orang Anshar tersebut mengeluarkan darah dari lemparan suami wanita tadi. Jabir berkata; lalu saudaranya, orang Muhajirin berkata; semoga Allah mengampunimu, kenapa kamu tidak memanggilku saat pertama kali kamu terkena panah, maka (orang Anshar) berkata; saya sedang membaca sebuah surat al Qur'an, dan saya telah membukanya dalam shalat tersebut dan saya tidak suka jika harus memutusnya, Demi Allah kalau bukan karena saya takut kacaunya perbatasan yang saya diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjaganya, niscaya dia akan memutus nyawaku sebelum saya memutus bacaanku". (HR. Ahmad: 14336 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
HADITS DHA'IF TENTANG INI
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُعَلَّى الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ الْعُرَنِيُّ قَالَ
ذُكِرَ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ قَالَ بِئْسَمَا عَدَلْتُمْ بِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ كَلْبًا وَحِمَارًا لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَقْبَلْتُ عَلَى حِمَارٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ حَتَّى إِذَا كُنْتُ قَرِيبًا مِنْهُ مُسْتَقْبِلَهُ نَزَلْتُ عَنْهُ وَخَلَّيْتُ عَنْهُ وَدَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاتِهِ فَمَا أَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ وَلَا نَهَانِي عَمَّا صَنَعْتُ وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَجَاءَتْ وَلِيدَةٌ تَخَلَّلُ الصُّفُوفَ حَتَّى عَاذَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ وَلَا نَهَاهَا عَمَّا صَنَعَتْ وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي مَسْجِدٍ فَخَرَجَ جَدْيٌ مِنْ بَعْضِ حُجُرَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَهَبَ يَجْتَازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَنَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَفَلَا تَقُولُونَ الْجَدْيُ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ. (رواه أحمد: ٢١١٢)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ashim telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mu'ali Al 'Athar telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Urani berkata; disebutkan dari Ibnu Abbas; bahwa shalat akan terputus dengan lewatnya anjing, keledai dan wanita. Ia berkata; "Alangkah buruknya kalian menyamakan perempuan muslimah dengan anjing dan keledai. Aku telah mengambil kesimpulan; bahwa aku datang dengan naik keledai sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama orang-orang, sehingga ketika aku berada dekat tempat kiblatnya aku turun dan berjalan mamasuki shaf shalat lalu aku shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang apa yang aku perbuat. Pernah pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama orang-orang, ketika itu datang seorang budak wanita masuk melewati shaf shalat sampai di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang tindakannya itu. Serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah shalat di masjid lalu keluarlah anak kambing dari salah satu kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan pergi melewati depan beliau maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mencegahnya." Ibnu Abbas berkata; "Mengapa kalian tidak mengatakan anak kambing itu memutus shalat?." (HR. Ahmad: 2112 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim)
Catatan:
Periwayat terputus setelah Ibnu 'Abbas dan 'Ali bin 'Ashim bin Suhaib, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Haity dan wafat tahun 201 H. Penilaian ulama: adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya", al 'Ajli menilainya tsiqah, al Bukhari menilainya laisa bi qawi dan Ibnu Hajar menilainya shaduq "terdapat kesalahan".
Apalagi hadits dha'if berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ التَّنُوخِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا مَوْلًى لِيَزِيدَ بْنِ نِمْرَانَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ نِمْرَانَ قَالَ
لَقِيتُ رَجُلًا مُقْعَدًا شَوَّالًا فَسَأَلْتُهُ قَالَ مَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَتَانٍ أَوْ حِمَارٍ فَقَالَ قَطَعَ عَلَيْنَا صَلَاتَنَا قَطَعَ اللَّهُ أَثَرَهُ فَأُقْعِدَ. (رواه أحمد: ١٦٠١٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Sa'id bin Abdul Aziz At-Tanukhi berkata; telah menceritakan kepada kami budak milik Yazid bin Nimran berkata; telah menceritakan kepadaku Yazid bin Nimran berkata; saya pernah bertemu seseorang yang hanya bisa duduk di tempatnya, lalu saya bertanya kepadanya. Dia lantas menceritakan suatu peristiwa, 'Saya pernah lewat di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (ketika beliau shalat) dan saya saat itu menunggang keledai betina atau keledai-si perawi tidak ingat, lalu beliau bersabda: "Dia telah memutus shalat kami semoga Allah memutus nama baiknya setelah meninggal, dan jadikanlah ia hanya bisa duduk." (HR. Ahmad: 16013 - dha'if dari periwayat tidak diketahui)
Para periwayat:
1. Nama tidak diketahui
2. Yazid bin Nimran bin Yazid, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat", Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah.
3. Sa'id [maula Yazid bin Nimran], ia tabi'in [tidak jumpa shahabat]. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat", adz Dzahabi menilainya dimajhulkan, Ibnu Hajar dan Abu Hatim menilainya majhul.
4. Sa'id bin 'Abdul 'Aziz bin Abi Yahya, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Syam dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id, al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah imam.
5. Adhdhahak bin Makhlad bin Adhdhahak bin Muslim, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kunitahnya Abu 'Ashim negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 212 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, sedangkan adz Dzahabi menilainya al Hadizh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏