MENYEWAKAN LAHAN
Secara umum dijelaskan oleh Allah,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٢٩)
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An Nisa'/4: 29)
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا. (سورة النساء/٤: ٣٠)
Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. An Nisa'/4: 30)
اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٣١)
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An Nisa'/4: 31)
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٣٢)
Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa'/4: 32)
RASUL MEMBATASI, SALAH SATU ADALAH TENTANG MASALAH SEWA MENYEWAKAN LAHAN
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ يَعْنِي ابْنَ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِي طَارِقُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيُّ قَالَ
جَاءَ رَافِعُ بْنُ رِفَاعَةَ إِلَى مَجْلِسِ الْأَنْصَارِ فَقَالَ لَقَدْ نَهَانَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيَوْمَ عَنْ شَيْءٍ كَانَ يَرْفُقُ بِنَا فِي مَعَايِشِنَا فَقَالَ نَهَانَا عَنْ كِرَاءِ الْأَرْضِ قَالَ مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيُزْرِعْهَا أَخَاهُ أَوْ لِيَدَعْهَا وَنَهَانَا عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ وَأَمَرَنَا أَنْ نُطْعِمَهُ نَوَاضِحَنَا وَنَهَانَا عَنْ كَسْبِ الْأَمَةِ إِلَّا مَا عَمِلَتْ بِيَدِهَا وَقَالَ هَكَذَا بِأَصَابِعِهِ نَحْوَ الْخَبْزِ وَالْغَزْلِ وَالنَّفْشِ. (رواه أحمد: ١٨٢٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Qasyim Telah menceritakan kepada kami Ikrimah yakni Ibnu Ammar, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Thariq bin Abdurrahman Al Qurasyi ia berkata, Rafi' bin Rifa'ah mendatangi majelis orang-orang Anshar dan berkata; Pada hari ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang kita, dari sesuatu yang telah akrab dengan kehidupan kita. Ia pun melanjutkan berkata; Beliau melarang untuk menyewakan lahan, beliau bersabda: "Barangsiapa yang memiliki lahan hendaklah ia menanaminya, atau ditanami oleh saudaranya." Kemudian beliau juga melarang untuk mencari penghidupan dari hasil bekam. Dan beliau memerintahkan untuk memberi makan Unta, dan melarang untuk mempekerjakan budak wanita kecuali apa yang dikerjakannya dengan tangannya sendiri. Dan beliau bersabda -seperti ini, yakni beliau memberikan isyarat dengan jari tangannya menunjuk-: " roti, tenun dan rumput." (HR. Ahmad: 18228 - shahih dari Rafi' bin Rifa'ah, ia shahabat)
Selanjutnya dijelaskan dalam riwayat berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ
قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كِرَاءِ الْمَزَارِعِ قَالَ قُلْتُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ قَالَ لَا إِنَّمَا نَهَى عَنْهُ بِبَعْضِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَأَمَّا بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَلَا بَأْسَ بِهِ. (رواه أحمد: ١٦٢٢١)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Malik bin Anas dia berkata, telah menceritakan kepadaku Rabi'ah dari Hanzhalah bin Qais dari Rafi' bin Khadij dia bterkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menyewakan lahan pertanian." Perawi berkata, "Saya berkata, "Apakah (yang beliau larang adalah) dengan emas dan perak?" Rafi' menjawab, "Tidak, sesungguhnya yang beliau larang hanyalah (penyewaan) dengan sesuatu yang keluar darinya. Adapun dengan emas dan perak tidaklah bermasalah." (HR. Ahmad: 16621 - shahih dari Rafi' bin Khadij)
Ditegaskan lagi,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ بَلَغَهُ أَنَّ رَافِعًا يُحَدِّثُ فِي ذَلِكَ بِنَهْيٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ وَأَنَا مَعَهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كِرَاءِ الْمَزَارِعِ فَتَرَكَهَا ابْنُ عُمَرَ فَكَانَ لَا يُكْرِيهَا فَكَانَ إِذَا سُئِلَ يَقُولُ زَعَمَ ابْنُ خَدِيجٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ كِرَاءِ الْمَزَارِعِ. (رواه أحمد: ١٦٦١٩)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi' bahwa Ibnu Umar telah sampai kepadanya bahwa Rafi' menceritakan berkenaan dengan hal itu, dengan larangan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu Umar kemudian mendatangi Rafi' dan bertanya kepadanya, Rafi' lantas menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk menyewakan lahan pertanian." Setelah itu Ibnu Umar tidak lagi menyewakan tanah. Dan jika ia ditanya, maka ia menjawab, "Ibnu Khadij yakin bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk menyewakan lahan pertanian." (HR. Ahmad: 16619 - shahih dari Rafi' bin Khadij bin Rafi', ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga riwayat berikut,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ يَعْلَى بْنِ حَكِيمٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ
كُنَّا نُحَاقِلُ بِالْأَرْضِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُكْرِيهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالطَّعَامِ الْمُسَمَّى فَجَاءَنَا ذَاتَ يَوْمٍ رَجُلٌ مِنْ عُمُومَتِي فَقَالَ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَاعَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا نَهَانَا أَنْ نُحَاقِلَ بِالْأَرْضِ فَنُكْرِيَهَا عَلَى الثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالطَّعَامِ الْمُسَمَّى وَأَمَرَ رَبَّ الْأَرْضِ أَنْ يَزْرَعَهَا أَوْ يُزْرِعَهَا وَكَرِهَ كِرَاءَهَا وَمَا سِوَى ذَلِكَ. (رواه أحمد: ١٥٢٦٣)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ya'la bin Hakim dari Sulaiman bin Yasar dari Rafi' bin Khadij berkata; kami menjual makanan yang masih terdapat di pohon pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menukarnya dengan makanan dengan kadar sepertiga ataupun seperempat, hingga pada suatu hari seorang laki-laki dari garis pamanku yang berkata 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita suatu hal yang menurut kita mendatangkan suatu kemaslahatan, namun ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih mendatangkan kemaslahatan. Beliau melarang kita jual beli hasil pertanian yang masih terdapat di pohon, lantas kita menyewakan ladang dengan syarat memperoleh bagian sepertiga, seperempat, dan makanan dalam jumlah tertentu. Beliau menyuruh kepada para pemilik lahan untuk bercocok tanam sendiri atau menyuruh orang lain untuk bekerja untuknya, beliau membenci sewa-menyewa ladang dengan cara seperti itu, dan yang lainnya". (HR. Ahmad: 15263 - shahih dari Rafi' bin Khadij)
Bantahan Zaid bin Tsabit terhadap Rafi' bin Kahdij,
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ أَبِي الْوَلِيدِ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ
يَغْفِرُ اللَّهُ لِرَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَا وَاللَّهِ أَعْلَمُ بِالْحَدِيثِ مِنْهُ إِنَّمَا أَتَى رَجُلَانِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ اقْتَتَلَا فَقَالَ إِنْ كَانَ هَذَا شَأْنُكُمْ فَلَا تُكْرُوا الْمَزَارِعَ فَسَمِعَ رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ قَوْلَهُ فَلَا تُكْرُوا الْمَزَارِعَ. (رواه النسائي: ٢٤٥٢)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim Ad Dauraqi berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ulayyah berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Al Walid bin Abu Al Walid dari Urwah bin Az Zubair ia berkata; Zaid bin Tsabit berkata, "Semoga Allah mengampuni Rafi' bin Khadij. Demi Allah, aku lebih tahu tentang hadits dari pada dia! Bahwasanya pernah datang dua orang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan mereka hampir-hampir saling bunuh. Beliau lalu bersabda: "Jika kalian seperti ini, maka janganlah kalian menyewakan tanah." Lalu Rafi' bin Khadij hanya mendengar ucapan beliau: 'maka janganlah kalian menyewakan tanah'." (HR. An Nasa'i: 2452 - shahih dari Zaid bin Tsabit bin adh Dhahak, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 45 H)
Para periwayat:
1. Zaid bin Tsabit bin adh Dhahak.
2. 'Urwah bin az Zubair bin al Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qu, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat".
3. Al Walid bin Abi al Walid 'Utsman, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Utsman dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Abu Zur'ah dan adz Dzahabi menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits. Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat".
4. Abu 'Ubaidah bin Muhammad bin 'Ammar bin Yasir, ia tabi'in kalangan biasa dan kuniyahnya Abu 'Ubaidah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya shalihul hadits dan Adz Dzahabi mentsiqahkannya.
5. 'Abdu Rahman bin Ishaq bin 'Abdullah, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah. Ya'qub bin Sufyan, an Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah menilainya laisa bihi ba's. Sedang Ya'qub bin Syaibah menilainya shalih. Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat". Ad Daruquthni menilainya dha'if tertuduh beraliran qadariah. Demikian juga as Saji dan Ibnu Hajar menilainya shaduq tertuduh qadariyah.
6. Isma'il bin Ibrahim bin Muqsim, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bisyir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 193 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Su'bah menilainya sayyidul muhadditsin, Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah ma'mun, Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah tsabat hujjah, 'Abdur Rahman bin Mahdi menilainya dia lebih kuat dari Husyaim. Abu Daud memberi komentar, "tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan, kecuali Ibnu 'Ulaiyah dan Bisyir al mufadhdhal". Yahya bin Sa'id mengatakan dia lebih kuat daripada Wuhaib. Sedangkan As Saji mengatakan, "perlu dikoreksi" dan An Nasa'i menilainya tsiqah tsabat.
7. Ya'qub bin Ibrahim bin Katsir, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Yusuf negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 252 H. Penilaian ulama: An Nasa'i dan Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah, Abu Bakar al Khathib menilainya tsiqah hafizh. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat".
Lihat juga: an Nasa'i: 3866, Abu Daud: 2942 - dha'if [menurut al Albani] dari Zaid bin Tsabit. Catatan: karena ada rawi terputus yang menerima dari Zaid bin Tsabit sebelum 'Urwah bin Zubair.
Secara umum dijelaskan oleh Allah,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٢٩)
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An Nisa'/4: 29)
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا. (سورة النساء/٤: ٣٠)
Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. An Nisa'/4: 30)
اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٣١)
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An Nisa'/4: 31)
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٣٢)
Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa'/4: 32)
RASUL MEMBATASI, SALAH SATU ADALAH TENTANG MASALAH SEWA MENYEWAKAN LAHAN
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ يَعْنِي ابْنَ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِي طَارِقُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيُّ قَالَ
جَاءَ رَافِعُ بْنُ رِفَاعَةَ إِلَى مَجْلِسِ الْأَنْصَارِ فَقَالَ لَقَدْ نَهَانَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيَوْمَ عَنْ شَيْءٍ كَانَ يَرْفُقُ بِنَا فِي مَعَايِشِنَا فَقَالَ نَهَانَا عَنْ كِرَاءِ الْأَرْضِ قَالَ مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيُزْرِعْهَا أَخَاهُ أَوْ لِيَدَعْهَا وَنَهَانَا عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ وَأَمَرَنَا أَنْ نُطْعِمَهُ نَوَاضِحَنَا وَنَهَانَا عَنْ كَسْبِ الْأَمَةِ إِلَّا مَا عَمِلَتْ بِيَدِهَا وَقَالَ هَكَذَا بِأَصَابِعِهِ نَحْوَ الْخَبْزِ وَالْغَزْلِ وَالنَّفْشِ. (رواه أحمد: ١٨٢٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Qasyim Telah menceritakan kepada kami Ikrimah yakni Ibnu Ammar, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Thariq bin Abdurrahman Al Qurasyi ia berkata, Rafi' bin Rifa'ah mendatangi majelis orang-orang Anshar dan berkata; Pada hari ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang kita, dari sesuatu yang telah akrab dengan kehidupan kita. Ia pun melanjutkan berkata; Beliau melarang untuk menyewakan lahan, beliau bersabda: "Barangsiapa yang memiliki lahan hendaklah ia menanaminya, atau ditanami oleh saudaranya." Kemudian beliau juga melarang untuk mencari penghidupan dari hasil bekam. Dan beliau memerintahkan untuk memberi makan Unta, dan melarang untuk mempekerjakan budak wanita kecuali apa yang dikerjakannya dengan tangannya sendiri. Dan beliau bersabda -seperti ini, yakni beliau memberikan isyarat dengan jari tangannya menunjuk-: " roti, tenun dan rumput." (HR. Ahmad: 18228 - shahih dari Rafi' bin Rifa'ah, ia shahabat)
Selanjutnya dijelaskan dalam riwayat berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ
قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كِرَاءِ الْمَزَارِعِ قَالَ قُلْتُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ قَالَ لَا إِنَّمَا نَهَى عَنْهُ بِبَعْضِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَأَمَّا بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَلَا بَأْسَ بِهِ. (رواه أحمد: ١٦٢٢١)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Malik bin Anas dia berkata, telah menceritakan kepadaku Rabi'ah dari Hanzhalah bin Qais dari Rafi' bin Khadij dia bterkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menyewakan lahan pertanian." Perawi berkata, "Saya berkata, "Apakah (yang beliau larang adalah) dengan emas dan perak?" Rafi' menjawab, "Tidak, sesungguhnya yang beliau larang hanyalah (penyewaan) dengan sesuatu yang keluar darinya. Adapun dengan emas dan perak tidaklah bermasalah." (HR. Ahmad: 16621 - shahih dari Rafi' bin Khadij)
Ditegaskan lagi,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ بَلَغَهُ أَنَّ رَافِعًا يُحَدِّثُ فِي ذَلِكَ بِنَهْيٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ وَأَنَا مَعَهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كِرَاءِ الْمَزَارِعِ فَتَرَكَهَا ابْنُ عُمَرَ فَكَانَ لَا يُكْرِيهَا فَكَانَ إِذَا سُئِلَ يَقُولُ زَعَمَ ابْنُ خَدِيجٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ كِرَاءِ الْمَزَارِعِ. (رواه أحمد: ١٦٦١٩)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi' bahwa Ibnu Umar telah sampai kepadanya bahwa Rafi' menceritakan berkenaan dengan hal itu, dengan larangan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu Umar kemudian mendatangi Rafi' dan bertanya kepadanya, Rafi' lantas menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk menyewakan lahan pertanian." Setelah itu Ibnu Umar tidak lagi menyewakan tanah. Dan jika ia ditanya, maka ia menjawab, "Ibnu Khadij yakin bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk menyewakan lahan pertanian." (HR. Ahmad: 16619 - shahih dari Rafi' bin Khadij bin Rafi', ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga riwayat berikut,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ يَعْلَى بْنِ حَكِيمٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ
كُنَّا نُحَاقِلُ بِالْأَرْضِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُكْرِيهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالطَّعَامِ الْمُسَمَّى فَجَاءَنَا ذَاتَ يَوْمٍ رَجُلٌ مِنْ عُمُومَتِي فَقَالَ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَاعَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا نَهَانَا أَنْ نُحَاقِلَ بِالْأَرْضِ فَنُكْرِيَهَا عَلَى الثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالطَّعَامِ الْمُسَمَّى وَأَمَرَ رَبَّ الْأَرْضِ أَنْ يَزْرَعَهَا أَوْ يُزْرِعَهَا وَكَرِهَ كِرَاءَهَا وَمَا سِوَى ذَلِكَ. (رواه أحمد: ١٥٢٦٣)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ya'la bin Hakim dari Sulaiman bin Yasar dari Rafi' bin Khadij berkata; kami menjual makanan yang masih terdapat di pohon pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menukarnya dengan makanan dengan kadar sepertiga ataupun seperempat, hingga pada suatu hari seorang laki-laki dari garis pamanku yang berkata 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita suatu hal yang menurut kita mendatangkan suatu kemaslahatan, namun ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih mendatangkan kemaslahatan. Beliau melarang kita jual beli hasil pertanian yang masih terdapat di pohon, lantas kita menyewakan ladang dengan syarat memperoleh bagian sepertiga, seperempat, dan makanan dalam jumlah tertentu. Beliau menyuruh kepada para pemilik lahan untuk bercocok tanam sendiri atau menyuruh orang lain untuk bekerja untuknya, beliau membenci sewa-menyewa ladang dengan cara seperti itu, dan yang lainnya". (HR. Ahmad: 15263 - shahih dari Rafi' bin Khadij)
Bantahan Zaid bin Tsabit terhadap Rafi' bin Kahdij,
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ أَبِي الْوَلِيدِ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ
يَغْفِرُ اللَّهُ لِرَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَا وَاللَّهِ أَعْلَمُ بِالْحَدِيثِ مِنْهُ إِنَّمَا أَتَى رَجُلَانِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ اقْتَتَلَا فَقَالَ إِنْ كَانَ هَذَا شَأْنُكُمْ فَلَا تُكْرُوا الْمَزَارِعَ فَسَمِعَ رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ قَوْلَهُ فَلَا تُكْرُوا الْمَزَارِعَ. (رواه النسائي: ٢٤٥٢)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim Ad Dauraqi berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ulayyah berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Al Walid bin Abu Al Walid dari Urwah bin Az Zubair ia berkata; Zaid bin Tsabit berkata, "Semoga Allah mengampuni Rafi' bin Khadij. Demi Allah, aku lebih tahu tentang hadits dari pada dia! Bahwasanya pernah datang dua orang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan mereka hampir-hampir saling bunuh. Beliau lalu bersabda: "Jika kalian seperti ini, maka janganlah kalian menyewakan tanah." Lalu Rafi' bin Khadij hanya mendengar ucapan beliau: 'maka janganlah kalian menyewakan tanah'." (HR. An Nasa'i: 2452 - shahih dari Zaid bin Tsabit bin adh Dhahak, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 45 H)
Para periwayat:
1. Zaid bin Tsabit bin adh Dhahak.
2. 'Urwah bin az Zubair bin al Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qu, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat".
3. Al Walid bin Abi al Walid 'Utsman, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Utsman dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Abu Zur'ah dan adz Dzahabi menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits. Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat".
4. Abu 'Ubaidah bin Muhammad bin 'Ammar bin Yasir, ia tabi'in kalangan biasa dan kuniyahnya Abu 'Ubaidah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya shalihul hadits dan Adz Dzahabi mentsiqahkannya.
5. 'Abdu Rahman bin Ishaq bin 'Abdullah, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah. Ya'qub bin Sufyan, an Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah menilainya laisa bihi ba's. Sedang Ya'qub bin Syaibah menilainya shalih. Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat". Ad Daruquthni menilainya dha'if tertuduh beraliran qadariah. Demikian juga as Saji dan Ibnu Hajar menilainya shaduq tertuduh qadariyah.
6. Isma'il bin Ibrahim bin Muqsim, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bisyir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 193 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Su'bah menilainya sayyidul muhadditsin, Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah ma'mun, Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah tsabat hujjah, 'Abdur Rahman bin Mahdi menilainya dia lebih kuat dari Husyaim. Abu Daud memberi komentar, "tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan, kecuali Ibnu 'Ulaiyah dan Bisyir al mufadhdhal". Yahya bin Sa'id mengatakan dia lebih kuat daripada Wuhaib. Sedangkan As Saji mengatakan, "perlu dikoreksi" dan An Nasa'i menilainya tsiqah tsabat.
7. Ya'qub bin Ibrahim bin Katsir, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Yusuf negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 252 H. Penilaian ulama: An Nasa'i dan Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah, Abu Bakar al Khathib menilainya tsiqah hafizh. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Hibban mengatakan, telah "disebutkan dalam ats Tsiqat".
Lihat juga: an Nasa'i: 3866, Abu Daud: 2942 - dha'if [menurut al Albani] dari Zaid bin Tsabit. Catatan: karena ada rawi terputus yang menerima dari Zaid bin Tsabit sebelum 'Urwah bin Zubair.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏