Nabi Mengusab wajah setelah berdoa
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ. (رواه الترمذي: ٣٣٠٨ - ضعيف)
Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna dan Ibrahim bin Ya'qub serta lebih dari satu orang mereka berkata;? telah menceritakan kepada kami Hammad bin Isa Al Juhani dari Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi dari Salim bin Abdullah dari ayahnya dari Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu ia berkata; rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut; tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At Tirmidziy: 3308 - da'if dari Umar bin al Khathtab bin Nufail)
Para periwayat:
1. Umar bin al Khathtab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafs negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H.
2. 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab bin Nufail kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
3. Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Umar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsabad 'abid fadhil salah satu ahli fiqih yang tujuh. Dan Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats tsiqat.
4. Hamzhalah bin Abi Sufyan bin 'Abdur Rahman bin Shafwan bin Umayyah, ia tabi'in tidak jumpa shahabat negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 151 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, Abu Zur'ah dan an Nasa'i dan Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Ibnu Madini menilainya la ba'sa bih, Yahya bin Ma'in dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hujjah serta Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat.
5. Hammad bin 'Isa bin 'Ubaidah, ia tabi'ut tabi'in golongan biasa negeri hidup Hait dan wafat tahun 208 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ibnu Hajar menilainya dha'if dan Yahya bin Ma'in menilainya shalih.
6. Muhammad bin al Mutsanna bin 'Ubaid, ia tabi'ut atba'kalangan tua kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 252 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya shalihul hadits dan shaduuq, Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat, Maslamah bin Qasyim menilainya tsiqah masyhur dan minal huffazh. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ كَيْفَ يَنْفِثُ قَالَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ. (رواه البخاري: ٥٢٩٤)
Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan Mu'awwidzat (surat An Nas dan Al Falaq) ketika beliau sakit menjelang wafatnya, dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup dengan kedua surat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berharap untuk mendapat berkahnya." Aku bertanya kepada Az Zuhri; "Bagaimana cara meniupnya?" dia menjawab; "Beliau meniup kedua tangannya, kemudian beliau mengusapkan ke wajah dengan kedua tangannya." (HR. Bukhari: 5294 - shahih dari 'Aisyah)
Lihat juga: Bukhari: 5310 - shahih dari 'Aisyah.
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ. (رواه الترمذي: ٣٣٠٨ - ضعيف)
Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna dan Ibrahim bin Ya'qub serta lebih dari satu orang mereka berkata;? telah menceritakan kepada kami Hammad bin Isa Al Juhani dari Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi dari Salim bin Abdullah dari ayahnya dari Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu ia berkata; rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut; tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At Tirmidziy: 3308 - da'if dari Umar bin al Khathtab bin Nufail)
Para periwayat:
1. Umar bin al Khathtab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafs negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H.
2. 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab bin Nufail kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
3. Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Umar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsabad 'abid fadhil salah satu ahli fiqih yang tujuh. Dan Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats tsiqat.
4. Hamzhalah bin Abi Sufyan bin 'Abdur Rahman bin Shafwan bin Umayyah, ia tabi'in tidak jumpa shahabat negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 151 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, Abu Zur'ah dan an Nasa'i dan Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Ibnu Madini menilainya la ba'sa bih, Yahya bin Ma'in dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hujjah serta Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat.
5. Hammad bin 'Isa bin 'Ubaidah, ia tabi'ut tabi'in golongan biasa negeri hidup Hait dan wafat tahun 208 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ibnu Hajar menilainya dha'if dan Yahya bin Ma'in menilainya shalih.
6. Muhammad bin al Mutsanna bin 'Ubaid, ia tabi'ut atba'kalangan tua kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 252 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya shalihul hadits dan shaduuq, Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat, Maslamah bin Qasyim menilainya tsiqah masyhur dan minal huffazh. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ كَيْفَ يَنْفِثُ قَالَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ. (رواه البخاري: ٥٢٩٤)
Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan Mu'awwidzat (surat An Nas dan Al Falaq) ketika beliau sakit menjelang wafatnya, dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup dengan kedua surat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berharap untuk mendapat berkahnya." Aku bertanya kepada Az Zuhri; "Bagaimana cara meniupnya?" dia menjawab; "Beliau meniup kedua tangannya, kemudian beliau mengusapkan ke wajah dengan kedua tangannya." (HR. Bukhari: 5294 - shahih dari 'Aisyah)
Lihat juga: Bukhari: 5310 - shahih dari 'Aisyah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏