MUSHIBAH DALAM PERSPEKTIF Al QUR'AN DAN AL HADITS
AYAT-AYAT TENTANG MUSHIBAH
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ. (سورة البقرة/٢: ١٥٥)
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah/2: 155)
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ. (سورة البقرة/٢: ١٥٦)
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (QS. Al Baqarah/2: 156)
اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ. (سورة البقرة/٢: ١٥٧)
Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah/2: 157)
Ayat-ayat terkait dapat ditemukan dalam al Qur'an: 3: 165; 4: 62 dan 72; 5: 49; 30: 36; 42: 30; dan 64: 11.
Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran kata mushibah dipakai untuk menunjukan sesuatu yang buruk, baik itu azab, bencana, maut, dan cobaan. Sementara penyebab terjadinya mushibah selain ketentuan dan izin Allah adalah perbuatan manusia itu sendiri baik kesalahan dalam teknis maupun kesalahan dalam bentuk dosa.
Terkait dengan makna mushibah, dapat dikatakan bahwa sifat mushibah itu adalah azab dan cobaan. Sementara bentuknya adalah bencana, maut, dan tertimpa sesuatu yang buruk.
HADITS-HADITS TENTANG MUSIBAH
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ. (رواه البخاري: ٥٢١٠)
Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin 'Amru telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Muhammad bin 'Amru bin Halhalah dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri dan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya." (HR. Al Bukhari: 5210 - shahih dari Abu Hurairah, nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhr negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dan Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74)
Catatan:
Lihat juga: Muslim: 4669 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, Muslim: 4670, at Tirmidzi: 889 - hasan dari Abi Sa'id al Khudriy,
Muslim: 4670 dan Ahmad: 7684, 8070 dan 10714 - shahih dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al Khudri.
Masing-masing hadits riwayat Bukhari dan Ahmad terdapat dalam sanadnya Zuhair bin Muhammad, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al Mundzir negeri hidup Syam dan wafat tahun 162 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah. Adz Dzahabi menilainya tsiqah yughrab, an Nasa'i menilainya dha'if. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat. Selebihnya, tidak ada penilaian jarh. Artinya semua periwayat maqbul.
Lafazh lain dari Ahmad: 15965 - dha'if dari Sa'ib bin Kallad,
قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنِ السَّائِبِ بْنِ خَلَّادٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً. (رواه أحمد: ١٥٩٦٥)
(Ahmad bin Hanbal radhiyallahu'anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Risydin berkata; telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abdullah yaitu Ibnu Al Hadi dari Abu Bakar bin Al Munkadir dari 'Atha` bin Yasar dari As Sa'ib bin Khallad dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda: "Segala sesuatu yang mengenai seorang mukmin hingga duri yang melukainya kecuali Allah mencatat kebaikan baginya dan menghapuskan kesalahannya." (HR. Ahmad: 15965 - dha'if dari as Shaa'ib bin Khallaad bin Suwaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahlah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 71 H)
Catatan:
Hadits riwayat Ahmad: 15965 dalam sanadnya terdapat periwayat bernama Risydin bin Sa'ad Muflih, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al Hajaj negeri hidup Maru dan wafat tahun 188 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in berkata, "haditsnya tidak ditulis", Abu Hatim, Abu Zur'ah, an Nasa'i, Abu Daud dan ad Daruquthni menilainya dha'iful hadits. Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya dha'if.
Seorang muslim semestinya mengucapkan kalimat istirja dan berdoa jika tertimpa musibah dan beberapa hal yang mesti dilakukan:
Pertama:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ حَدَّثَهَا
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَفْزَعُ إِلَى مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ قَوْلِهِ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي فَأْجُرْنِي فِيهَا وَعَوِّضْنِي مِنْهَا إِلَّا آجَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا وَعَاضَهُ خَيْرًا مِنْهَا
قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ ذَكَرْتُ الَّذِي حَدَّثَنِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي هَذِهِ فَأْجُرْنِي عَلَيْهَا فَإِذَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ وَعِضْنِي خَيْرًا مِنْهَا قُلْتُ فِي نَفْسِي أُعَاضُ خَيْرًا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ ثُمَّ قُلْتُهَا فَعَاضَنِي اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآجَرَنِي فِي مُصِيبَتِي. (رواه إبن ماجه: ١٥٨٧)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi dari Bapaknya dari Umar bin Abu Salamah dari Ummu Salamah bahwa Abu Salamah menceritakan kepadanya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah, kemudian bersegera kepada apa yang diperintahkan Allah berupa ucapan, "INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAHUMMA 'INDAKA IHTASABTU MUSHIIBATII FA`JURNII FIIHAA WA 'AWWIDLNII MINHAA AAJARAHU ALLAHU 'ALAIHAA WA 'AADLAHU KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, di sisi-Mu aku rela dengan musibah yang menimpaku, maka berilah aku pahala dan gantilah dengan yang lebih baik darinya), melainkan Allah pasti akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik. " Ummu Salamah berkata, "Ketika Abu Salamah wafat aku teringat dengan yang ia ceritakan kepadaku, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka aku pun mengucapkan, "INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAHUMMA 'INDAKA IHTASABTU MUSHIIBATII HADZIHI FA`JURNII 'ALAIHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, di sisi-Mu aku rela dengan musibah yang menimpaku, maka berilah aku pahala). Dan ketika aku akan mengatakan; WA 'AWWIDLNII KHAIRAN MINHAA (Dan gantilah dengan yang lebih baik darinya). Aku berkata dalam diriku, "Akankah aku minta ganti dengan orang yang lebih baik dari Abu Salamah? Namun aku pun mengucapkannya juga. Setelah itu Allah memberi ganti dengan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, serta memberi pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku. " (HR. Ibnu Majah: 1587 - shahih [menurut al Albani] dari 'Abdullah bin 'Abdul Asad bin Hilal, ia shahabat kuniyahnya Abu Salamah negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 4 H)
Catatan:
Dalam sanad terdapat periwayat bernama 'Abdul Malik bin Qudamah bin Ibrahim, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya shalih, al Bukhari berpendapat, "ketahui dan ingkari", Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, an Nasa'i menilainya laisa bi qawi. Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya dha'if.
Kedua:
حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السُّكَيْنِ حَدَّثَنَا أَبُو هَمَّامٍ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُبَيْدَةَ حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
فَتَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَابًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ أَوْ كَشَفَ سِتْرًا فَإِذَا النَّاسُ يُصَلُّونَ وَرَاءَ أَبِي بَكْرٍ فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا رَأَى مِنْ حُسْنِ حَالِهِمْ رَجَاءَ أَنْ يَخْلُفَهُ اللَّهُ فِيهِمْ بِالَّذِي رَآهُمْ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّمَا أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ أَوْ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ فَلْيَتَعَزَّ بِمُصِيبَتِهِ بِي عَنْ الْمُصِيبَةِ الَّتِي تُصِيبُهُ بِغَيْرِي فَإِنَّ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِي لَنْ يُصَابَ بِمُصِيبَةٍ بَعْدِي أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ مُصِيبَتِي. (رواه إبن ماجه: ١٥٨٨)
Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Amru bin As Sukkain berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Hammam berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ubaidah berkata, telah menceritakan kepada kami Mush'ab bin Muhammad dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari 'Aisyah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membuka pintu antara beliau dengan orang-orang, atau menyingkap tirai. Ketika itu orang-orang sedang melaksanakan shalat di belakang Abu Bakar. Beliau lalu memuji Allah atas kondisi mereka yang baik, dengan harapan agar Allah memberikan ganti atas dirinya untuk mereka seorang yang dilihatnya bersama mereka (maksudnya Abu Bakar). Beliau bersabda: "Wahai manusia, siapa saja orangnya dari kaum mukmin yang ditimpa musibah, hendaklah ia hibur dengan musibah yang menimpaku. Seorang dari umatku tidak akan pernah ditimpa musibah seperti musibah yang menimpaku." (HR. Ibnu Majah: 1588 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Ketiga:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَزِيعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ مَوْلَى آلِ الزُّبَيْرِ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلَاءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا إِلَّا عُوفِيَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَهْرَمَانِ آلِ الزُّبَيْرِ هُوَ شَيْخٌ بَصْرِيٌّ وَلَيْسَ هُوَ بِالْقَوِيِّ فِي الْحَدِيثِ وَقَدْ تَفَرَّدَ بِأَحَادِيثَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى صَاحِبَ بَلَاءٍ فَتَعَوَّذَ مِنْهُ يَقُولُ ذَلِكَ فِي نَفْسِهِ وَلَا يُسْمِعُ صَاحِبَ الْبَلَاءِ. (رواه الترمذ: ٣٣٥٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Bazi', telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Sa'id dari 'Amr bin Dinar mantan budak keluarga Az Zubair dari Salim bin Abdullah bin Umar dari Ibnu Umar dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang melihat orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan; Al HAMDULILLAAHILLAADZII 'AAFAANII MIMMABTALAAKA BIHI WA FADHDHALANII 'ALAA KATSIIRIN MIMMAN KHALAQA TAFDHIILAN (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu, dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang Dia ciptakan) kecuali ia diselamatkan dari ujian tersebut, apapun hal tersebut selama ia masih hidup." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib. Dan dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Abu Hurairah, dan 'Amr bin Dinar bendahara keluarga Az Zubair, ia adalah Syekh dari Bashrah, dan ia bukanlah orang yang kuat dalam hadits, dan memonopoli hadits-hadits dari Salim bin Abdullah bin Umar. Dan telah diriwayatkan dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali bahwa ia berkata; apabila melihat orang yang tertimpa musibah kemudian berlindung darinya, hendaknya ia mengucapkannya di dalam hati dan tidak memperdengarkan kepada orang yang tertimpa musibah. (HR. At Tirmidzi: 3353 - hasan dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafsah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)
Catatan:
Dalam sanadnya terdapat periwayat bernama Amru bin Dinar, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Yahya dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Yahya bin Ma'in menilainya laa syai', Abu Zur'ah menilainya wahil hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits. Al Bukhari menilainya fihi nazhar, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendh'ifkannya."
Lafazh lain,
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الْجَلِيلِ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ قَالَ لِأَبِيهِ
يَا أَبَتِ إِنِّي أَسْمَعُكَ تَدْعُو كُلَّ غَدَاةٍ اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ تُعِيدُهَا ثَلَاثًا حِينَ تُصْبِحُ وَثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ قَالَ عَبَّاسٌ فِيهِ وَتَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ تُعِيدُهَا ثَلَاثًا حِينَ تُصْبِحُ وَثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي فَتَدْعُو بِهِنَّ فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
وَبَعْضُهُمْ يَزِيدُ عَلَى صَاحِبِهِ. (رواه أبوداود: ٤٤٢٦)
Telah menceritakan kepada kami Al Abbas bin Abdul Azhim dan Muhammad Ibnul Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amru dari Abdul Jalil bin Athiyah dari Ja'far bin Maimun ia berkata; telah menceritakan kepadaku 'Abdurrahman bin Abu Bakrah ia berkata kepada bapaknya, "Wahai bapakku, di waktu pagi aku selalu mendengarmu berdoa: "ALLAHUMMA 'AAFINII FII BADANII ALLAHUMMA 'AAFINII FII SAM'II ALLAHUMMA 'AAFINII FII BASHARII LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, perbaikilah tubuhku, perbaikilah pendengaranku, perbaikilah penglihatanku, tidak ada Tuhan selain Engkau). Engkau ulang-ulang hingga tiga kali baik di pagi dan sore hari" Ia menjawab, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa dengannya, maka aku berkeinginan untuk mengikuti sunnahnya." Abbas berkata (dengan riwayatnya) di dalam hadits tersebut; "dan kamu juga mengucapkan, "ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL KUFRI WAL FAQRI ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ADZBIL QABRI LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau). Kamu ulang-ulang hingga tiga kali baik di pagi dan sore hari, lalu kamu berdoa dengannya, (ayah Athiyyah menjawab;) maka aku ingin mengikuti sunnah beliau." Ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Beberapa doa bagi orang yang tertimpa musibah; "ALLAHUMMA RAHMATAKA ARJUU FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THARFATA 'AININ WA ASHLIH LII SYA`NII KULLAHU LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri (janganlah Engkau berpaling dariku) sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Tuhan selain Engkau).", dan sebagian perawi ada yang menambahkan do`a yang telah disebutkan. (HR. Abu Daud: 4426 - hasan dari Nafi' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H)
Catatan: semua periwayat dari Bashrah, atau hadits ini dikenal dengan hadits ahlul Bashrah.
Lihat juga: at Tirmidzi: 3354 - shahih dari Abu Hurairah dan Ibnu Majah: 3882 - hasan dari 'Umar bin al Khaththab. Ahmad: 19534 - hasan dari Abu Bakrah [hadits ahlul bashrah].
Keempat:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ وَعَبَّادُ بْنُ عَبَّادٍ قَالَا أَنْبَأَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي هِشَامٍ قَالَ عَبَّادٌ ابْنُ زِيَادٍ عَنْ أُمِّهِ عَنْ فَاطِمَةَ ابْنَةِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَبِيهَا الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ وَلَا مُسْلِمَةٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَذْكُرُهَا وَإِنْ طَالَ عَهْدُهَا قَالَ عَبَّادٌ قَدُمَ عَهْدُهَا فَيُحْدِثُ لِذَلِكَ اسْتِرْجَاعًا إِلَّا جَدَّدَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ ذَلِكَ فَأَعْطَاهُ مِثْلَ أَجْرِهَا يَوْمَ أُصِيبَ بِهَا
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنْبَأَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ عَلَّمَنِي جَدِّي أَوْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوَتْرِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. (رواه أحمد: ١٦٤٤)
Telah menceritakan kepada kami Yazid dan 'Abbad bin 'Abbad berkata; telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Abu Hisyam, 'Abbad berkata; Ibnu Ziyad dari ibunya dari Fathimah binti Al Husain dari Bapaknya, Al Husain bin Ali dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak seorang muslimpun baik laki-laki maupun perempuan yang tertimpa musibah dan ia mengingat (kembali musibah tersebut) walaupun sudah lama berlalu" -'Abbad berkata; "Walau sudah berlangsung lama." - kemudian dia menceritakannya dalam rangka beristirja', kecuali Allah menggantinya pada saat itu dan memberinya pahala sebagaimana yang diberikan saat ia tertimpa musibah." Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` dari Al Husain bin Ali berkata; Kakekku pernah mengajariku - atau ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajariku- beberapa kalimat yang selalu aku ucapkan pada shalat witir…" kemudian ia memaparkan hadits tersebut. (HR. Ahmad: 1644 - dha'if [munqathi'] dari al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 61 H)
Catatan:
Dalam sanad terdapat periwayat majhul, yaitu 'Ummu Hisyam bin Ziyadah. Begitu juga Hisyam bin Ziyad bin Abi Zaid, ia tabi'in atba' kalangan tua kuniyahnya Abu al Miqdan dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan Abu Zur'ah menilainya dha'iful hadits. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi tsiqah. Abu Daud menilainya tidak tsiqah. At Tirmidzi, an Nasa'i, al 'Ajli, ad Daruquthni dan Ya'qub bin Sufyan menilainya dha'if. Ibnu Hajar menilainya matruk, sedang adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya". Selebihnya periwayat maqbul.
Lihat juga: Ahmad: 14613 shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Sebagaimana lafazhnya berikut:
حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ وَلَا مُسْلِمَةٍ وَلَا مُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ يَمْرَضُ مَرَضًا إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ. (رواه أحمد: ١٤٦١٣)
Telah bercerita kepada kami Mu'awiyah yaitu Ibnu 'Amr telah bercerita kepada kami Abu Ishaq yaitu Al Fazari dari Al 'A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim laki-laki ataupun perempuan atau mukmin laki-laki ataupun mukmin perempuan yang terkena penyakit kecuali Allah menghapus kesalahannya." (HR. Ahmad: 14613 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah)
Dan Ahmad: 14758 - shahih juga dari Jabir.
Beberapa hal yang dilarang apabila tertimpa musibah,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَن عَوْفٍ قَالَ سَمِعْتُ خَالِدًا الْأَحْدَبَ عَن صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ قَالَ
أُغْمِيَ عَلَى أَبِي مُوسَى فَبَكَوْا عَلَيْهِ فَأَفَاقَ فَقَالَ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكُمْ مِمَّا بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ حَلَقَ وَسَلَقَ وَخَرَقَ
وَحَدَّثَنَا بِهِمَا عَفَّانُ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ فِيهِمَا جَمِيعًا مِمَّنْ حَلَقَ أَوْ سَلَقَ أَوْ خَرَقَ. (رواه أحمد: ١٨٧٩١)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Auf ia berkata, saya mendengar Khalid Al Ahdab dari Shafwan bin Muhriz ia berkata; Abu Musa pernah pingsan, sehingga orang-orang pun menangisinya. Setelah siuman, ia berkata, "Sesungguhnya saya berlepas diri dari kalian, sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Yaitu siapa saja yang meratap, mencukur rambutnya/jenggot karena suatu musibah, dan orang yang merobek-robek bajunya ketika menghadapi musibah." Affan telah menceritakan keduanya kepada kami. Dan ia berkata di dalamnya; Yaitu (dari) siapa saja yang meratap, mencukur rambutnya/jenggot karena suatu musibah, dan orang yang merobek-robek bajunya ketika menghadapi musibah." (HR. Ahmad: 18791 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)
Wallahu a'lam bish shawab.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏