TIDUR YANG TIDAK MENGHARUSKAN MEMPERBAHARUI WUDHUK APABILA MELAKSANAKAN SHALAT
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأَيْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ. (رواه أحمد: ١٤٨٧٥)
Telah menceritakan kepada kami Mu'tamir bin Sulaiman At Taimi berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Abdullah bin 'Ubaid dari salah seorang sahabat Nabi ﷺ berkata, saya pernah melihat Nabiyullah ﷺ tidur hingga mendengkur kemudian beliau bangun, lalu Salat tanpa berwuduk. (HR. Ahmad: 14875 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang shahabat Nabi ﷺ)
Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 468 (Hadits ahlul Kufah) - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 1980 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Sebuah penjelasan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ waktu itu adalah setelah azan dan menunggu Iqamah diperdengarkan. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam Ahmad, beliau meriwayatkan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَرَجُلٌ يُنَاجِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا زَالَ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى. (رواه أحمد: ١١٨٦٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abdul Aziz dari Anas ia berkata, "Iqamah telah dikumandangkan, sementara seorang laki-laki masih berbisik dengan Rasulullah ﷺ, dan orang itu masih saja berbicara dengan Rasulullah hingga sebagian dari para sahabatnya tidur. Setelah itu beliau bangun dan salat." (HR. Ahmad: 11865 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari riwayat-riwayat di atas, bahwa Rasulullah ﷺ tidur antara azan dan Iqamah. Sehingga tidak dapat dianggap tidur yang mengharuskan untuk memperbaharui wudhuk lagi ketika hendak melaksanakan shalat. Karena jarak waktu yang singkat dan tidak kekhawatiran menghilangkan kesadaran (tidur pulas). Hal ini tergambar dalam teks-teks hadits di atas. Wallaahu a'lam bish shawaab.
RASULULLAH MATANYA TIDUR TETAPI HATINYA TERBANGUN
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ اضْطَجَعَ حَتَّى نَفَخَ فَكُنَّا نَقُولُ لِعَمْرٍو إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَنَامُ عَيْنَايَ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي. (رواه أحمد: ١٨١٢)
Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru berkata, telah mengabarkan kepadaku Kuraib dari Ibnu Abbas berkata, "Tatkala Rasulullah ﷺ selesai melaksanakan salat fajar dua rakaat, beliau berbaring hingga terdengar suara nafas beliau." Kami berkata kepada 'Amru; sesungguhnya beliau bersabda, "Mataku tidur akan tetapi hatiku tidak." (HR. Ahmad: 1812 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7110 dan 9280 (diulang) - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Demikian juga Rasulullah ﷺ ketika bulan Ramadhan, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّهُ أَوْ إِنِّي تَنَامُ عَيْنَايَ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي. (رواه أحمد: ٢٢٩٤٤)
Telah bercerita kepada kami 'Abdur Rahman, telah bercerita kepada kami Malik dari Sa'id ibn Abu Sa'id dari Abu Salamah berkata, Aku bertanya kepada 'Aisyah tetang salat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan, ia berkata, Rasulullah ﷺ tidak melebihi sebelas rakaat baik di bulan ramadlon atau yang lain, beliau salat empat rakaat, jangan kau tanya baik dan lamanya, setelah itu beliau salat empat rakaat, jangan kau tanya baik dan lamanya, setelah itu beliau salat tiga rakaat. Berkata 'A`isyah: Aku berkata, Wahai Rasulullah, Tuan tidur sebelum salat Witir. Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai 'A`isyah, sesungguhnya mataku tidur tapi hatiku tidak." (HR. Ahmad: 22944 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 1079 dan 3304 (hadits ahlul Madinah), At-Tirmidzi: 403, Ahmad: 23307 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏