MENGGAULI ISTRI
(Tafsir ayat dengan hadits: Penafsiran QS. Al-Baqarah ayat 223)
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P
Imam Ad-Darimi meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ عِكْرِمَةَ { فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ يَأْتِي أَهْلَهُ كَيْفَ شَاءَ قَائِمًا وَقَاعِدًا وَبَيْنَ يَدَيْهَا وَمِنْ خَلْفِهَا. (رواه الدارمي: ١١١٣)
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Aun dari Khalid bin Abdullah dari Khalid Al Hadzdza` dari 'Ikrimah firman Allah: '(Maka datangilah sawah ladang kalian sesuai dengan kehendak kalian)' (QS. Al-Baqarah/2: 223), ia berkata, "Suami boleh menggauli istrinya sesuai kehendaknya, berdiri, duduk, dari arah depan atau dari arah belakang." (HR. Ad-Darimi: 1113 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ikrimah (Maula Ibnu 'Abbas), ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 104 H)
Tafsiran lain dikemukakan oleh Ummu Salamah dari Rasulullah ﷺ, sebagaimana hadits diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ ابْنِ سَابِطٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } يَعْنِي صِمَامًا وَاحِدًا.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَابْنُ خُثَيْمٍ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ وَابْنُ سَابِطٍ هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَابِطٍ الْجُمَحِيُّ الْمَكِّيُّ وَحَفْصَةُ هِيَ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَيُرْوَى فِي سِمَامٍ وَاحِدٍ. (رواه الترمذي: ٢٩٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Khutsaim dari Ibnu Sabith dari Hafshah binti Abdurrahman dari Ummu Salamah dari Nabi ﷺ tentang firman Allah, "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (QS. Al-Baqarah/2: 223) yaitu shimam wahid (satu lubang)."
Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. Ibnu Khutsaim adalah Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, sedangkan Ibnu Sabith adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Sabith Al Jumahi Al Makki dan Hafshah adalah putri Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq." Diriwayatkan juga dengan redaksi: Simam wahid (satu lubang). (HR. At-Tirmidzi: 2905 - shahih dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 25425 - isnadnya hasan, namun iktilafihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H. Isnadnya 'aziz dipertengahan sanad. Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 25475, 25482 - isnadnya hasan, ad-Darimi: 1099 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani. Imam Ad-Darimi meriwayatkan satu hadits tergolong tsulatsiyat dalam masalah ini. Beliau berkata:
أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ رَبَاحٍ عَنْ عِكْرِمَةَ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ إِنَّمَا هُوَ الْفَرْجُ. (رواه الدارمي: ١١٠٤)
Telah mengabarkan kepada kami Utsman bin Umar, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Rabah dari 'Ikrimah (Ketika menafsirkan ayat): '(Istri-istri kalian (bagaikan) sawah ladang kalian, maka datangilah sawah ladang kalian sesuai kehendak kalian) ' (QS. Al-Baqarah: 223), ia berkata, "Itu adalah kemaluan". (HR. Ad-Darimi: 1104 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ikrimah (Maula Ibnu 'Abbas), ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 104 H)
Rasulullah ﷺ pernah juga menjelaskan ayat tersebut kepada Umar bin Al Khaththab, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي الْقُمِّيَّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا الَّذِي أَهْلَكَكَ قَالَ حَوَّلْتُ رَحْلِيَ الْبَارِحَةَ قَالَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا قَالَ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى رَسُولِهِ هَذِهِ الْآيَةَ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } أَقْبِلْ وَأَدْبِرْ وَاتَّقِ الدُّبُرَ وَالْحَيْضَةَ. (رواه أحمد: ٢٥٦٩)
Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub yakni Al Qummi dari Ja'far dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata, Umar bin Khaththab datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah binasa." Beliau bertanya, "Apa yang membinasakanmu?" Umar menjawab, "Aku membalik tungganganku (yakni istriku) tadi malam." Ibnu Abbas berkata, Beliau tidak mengatakan apa-apa mengenai itu. Ibnu Abbas melanjutkan; Lalu Allah mewahyukan kepada rasul-Nya ayat ini (QS. Al-Baqarah/2: 223): "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki". Lalu beliau mengatakan, "Bagaimana saja kamu kehendaki, dari depan atau belakang tapi hindarilah dubur dan haid." (HR. Ahmad: 2569 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Hanya saja terdapat hadits yang terkesan penafsirannya bertentangan dengan hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh imam ad-Darimi. Beliau meriwayatkan,
أَخْبَرَنَا خَلِيفَةُ بْنُ خَيَّاطٍ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ قَالَ سَمِعْتُ لَيْثًا حَدَّثَ عَنْ عِيسَى بْنِ قَيْسٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ إِنْ شِئْتَ فَاعْزِلْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَعْزِلْ. (رواه الدارمي: ١١١٠)
Telah mengabarkan kepada kami Khalifah bin Khayyath, telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir ia berkata, Aku pernah mendengar Laits menceritakan dari 'Isa bin Qais dari Sa'id bin Musayyib firman Allah: '(Istri-istri kalian bagaikan sawah ladang kalian, maka datangilah sawah ladang kalian sesuai kehendak kalian)', (QS. Al-Baqarah/2: 223), ia berkata, "Jika kamu berkehendak, maka jauhilah dia, dan jika kamu kehendaki, maka jangan kamu jauhi dia." (HR. Ad-Darimi: 1110 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sa'id bin al-Musayyab bin Hazan bin Abi Wahab bin 'Amru, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H)
Catatan: dalam hadits riwayat imam Ad-Darimi: 1110 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) yaitu majhul (tidak dikenal). Ia adalah Isa bin Qais dan riwayatnya hanya hadits ini. Sedangkan Laits bin Abi Sulaim bin Nu'aim, ia tabi'in (tidak jumpa shahabat) kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits. Sedangkan Al-Bukhari menilainya shaduuq yuham.
Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud terkait dengan sababun nuzul QS. Al-Baqarah ayat 223 tersebut, beliau berkata:
حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ إِنَّ الْيَهُودَ يَقُولُونَ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ فِي فَرْجِهَا مِنْ وَرَائِهَا كَانَ وَلَدُهُ أَحْوَلَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ }. (رواه أبوداود: ١٨٤٨)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad Al Munkadir, ia berkata, saya mendengar Jabir berkata, sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata, apabila seorang laki-laki menggauli istrinya pada kemaluannya dari arah belakang maka anaknya juling. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat, "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (HR. Abu Daud: 1848 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
Menurut Ibnu 'Abbas bukan orang-orang Yahudi, tetapi sekelompok Kaum Anshar yang melakukan hal dimaksud. Hadits ini merupakan kritikan terhadap riwayat Ibnu Umar. Sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud dari Ibnu 'Abbas. Beliau meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ يَحْيَى أَبُو الْأَصْبَغِ حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ أَبَانَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ ابْنَ عُمَرَ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ أَوْهَمَ إِنَّمَا كَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُمْ أَهْلُ وَثَنٍ مَعَ هَذَا الْحَيِّ مِنْ يَهُودَ وَهُمْ أَهْلُ كِتَابٍ وَكَانُوا يَرَوْنَ لَهُمْ فَضْلًا عَلَيْهِمْ فِي الْعِلْمِ فَكَانُوا يَقْتَدُونَ بِكَثِيرٍ مِنْ فِعْلِهِمْ وَكَانَ مِنْ أَمْرِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَأْتُوا النِّسَاءَ إِلَّا عَلَى حَرْفٍ وَذَلِكَ أَسْتَرُ مَا تَكُونُ الْمَرْأَةُ فَكَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ الْأَنْصَارِ قَدْ أَخَذُوا بِذَلِكَ مِنْ فِعْلِهِمْ وَكَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ قُرَيْشٍ يَشْرَحُونَ النِّسَاءَ شَرْحًا مُنْكَرًا وَيَتَلَذَّذُونَ مِنْهُنَّ مُقْبِلَاتٍ وَمُدْبِرَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ فَلَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْمَدِينَةَ تَزَوَّجَ رَجُلٌ مِنْهُمْ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ فَذَهَبَ يَصْنَعُ بِهَا ذَلِكَ فَأَنْكَرَتْهُ عَلَيْهِ وَقَالَتْ إِنَّمَا كُنَّا نُؤْتَى عَلَى حَرْفٍ فَاصْنَعْ ذَلِكَ وَإِلَّا فَاجْتَنِبْنِي حَتَّى شَرِيَ أَمْرُهُمَا فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } أَيْ مُقْبِلَاتٍ وَمُدْبِرَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ يَعْنِي بِذَلِكَ مَوْضِعَ الْوَلَدِ. (رواه أبوداود: ١٨٤٩)
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Yahya Abu Al Ashbagh, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Salamah, dari Muhammad bin Ishaq dari Aban bin Shalih dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, sesungguhnya Ibnu Umar semoga Allah mengampuninya, ia telah melakukan suatu kesalahan. Sesungguhnya terdapat sebuah kampung Anshar yang merupakan para penyembah berhala, hidup bersama kampung Yahudi yang merupakan ahli kitab. Dan mereka memandang bahwa orang-orang Yahudi memeliki keutamaan atas mereka dalam hal ilmu. Dan mereka mengikuti kebanyakan perbuatan orang-orang Yahudi. Diantara keadaan ahli kitab adalah bahwa mereka tidak menggauli istri mereka kecuali dengan satu cara, dan hal tersebut lebih menjaga rasa malu seorang wanita. Dan orang-orang Anshar ini mengikuti perbuatan mereka dalam hal tersebut. Sementara orang-orang Quraisy menggauli istri-istri mereka dengan cara yang mereka ingkari, orang-orang Quraisy menggauli mereka dalam keadaan menghadap dan membelakangi serta dalam keadaan terlentang. Kemudian tatkala orang-orang Muhajirin datang ke Madinah, salah seorang diantara mereka menikahi seorang wanita Anshar. Kemudian ia melakukan hal tersebut. Kemudian wanita Anshar tersebut mengingkarinya dan berkata, sesungguhnya kami didatangi dengan satu cara, maka lakukan hal tersebut, jika tidak maka jauhilah aku! Hingga tersebar permasalahan mereka, dan hal tersebut sampai kepada Rasulullah ﷺ. kemudian Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat (QS. Al-Baqarah/2: 223), "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." Yakni dalam keadaan menghadap (saling berhadapan), membelakangi dan terlentang, yaitu pada tempat diperolehnya anak (farj). (HR. Abu Daud: 1849 - hasan dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏