BEKERJA SESUAI MINAT DALAM PENGUASAAN DIRI (AN-NAFS-JIWA)
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P
Hidup ini adalah anugerah Allah yang sangat tinggi dan sebagai penghargaan bagi manusia dari Allah sang Mahapencipta. Sehingga disediakan semua yang kita butuhkan dalam kehidupan di dunia ini. Apa pun yang Allah ciptakan untuk manusia sebagai makhluk yang unik dan sempurna yang mampu menerima amanah untuk memakmurkan bumi khususnya dan alam semesta. Oleh sebab itu kenalilah diri agar mampu menyadari potensi dan kecendrungan jasmaniyah dan ruhaniyah. Manusia dalam mengelola alam semesta dipersiapkan jiwa yang kecenderungannya kepada kedua komponen yang diberikan Allah secara gratis, yaitu jasmani dan ruh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذَآ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـُٔوْسًا. (قرآن سورة الإسراء/١٧: ٨٣)
Apabila Kami menganugerahkan kenikmatan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri (dari Allah dengan sombong). Namun, apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa. (QS. Al-Isrā'/17: 83)
قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا. (قرآن سورة الإسراء/١٧: ٨٤)
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka, Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isrā'/17: 84)
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan kepada umatnya agar mereka bekerja menurut potensi dan kecenderungan masing-masing. Semuanya dipersilakan bekerja menurut tabiat, watak, kehendak, dan kecenderungan masing-masing. Allah swt sebagai Penguasa semesta alam mengetahui siapa di antara manusia yang mengikuti kebenaran dan siapa di antara mereka yang mengikuti kebatilan. Semuanya nanti akan diberi keputusan yang adil.
Allah berfirman tentang perintah bekerja:
قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ اِنِّيْ عَامِلٌۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ مَنْ تَكُوْنُ لَهٗ عَاقِبَةُ الدَّارِۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ١٣٥)
Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung. (QS. Al-An‘ām/6: 135)
Oleh karena itu setiap individu mesti mengenali dirinya, yaitu potensi dan kecendruangan masing-masing. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah:
1. Tidak terlalu jelas ambisi dan keinginan.
2. Kehilangan banyak peluang.
3. Menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki.
4. Menjadi sangat defensif (labil), menolak memercayai siapa pun atau terlalu semangat untuk menyenangkan siapa pun.
5. Terjebak rutinitas dan menjadi seperti katak dalam tempurung.
Demikian juga dalam kehidupan sosial agar tidak terjebak pada ketidak sadaran diri. Mungkin kelihatan sombong, dingin, mencari perhatian, malu-malu, cendrung pemarah. Bahkan merasa kesepian, hidup hanya untuk orang lain dan sulit berempati.
Sebaiknya kita menguasai diri, rasional, dan tahu batas. Hal dapat dicapai dengan kemandirian, pengontrolan dorongan badani melalui mengontrolan nalar. Sehingga kebahagiaan tercapai dengan baik dan benar.
RASULULLAH BERTANYA KEPADA MU'ADZ TENTANG HAK ALLAH ATAS HAMBA-NYA
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي حَصِينٍ وَالْأَشْعَثِ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّهُمَا سَمِعَا الْأَسْوَدَ بْنَ هِلَالٍ يُحَدِّثُ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ فَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَعْبُدُونَهُ وَلَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا قَالَ أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ. (رواه أحمد: ٢٠٩٩٧)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Hushain dan Al Asy'ats bin Sulaim, keduanya mendengar Al Aswad bin Hilal menceritakan dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Hai Mu'adz! Apa kau tahu hak Allah atas manusia?" Mu'adz menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa kau tahu apa hak mereka atas Allah bila mereka melaksanakan hal itu?" Mu'adz menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah tidak menyiksa mereka." (HR. Ahmad: 20997 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H. Hadits 'aziz di pertengahan sanad)
Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 5510, 5796, 6019, 6825, Muslim: 43, 44, 45, At-Tirmidzi: 2567, Ahmad: 20987, 20989, dan 20999. Semuanya shahih dari Mu'adz bin Jabal.
Lebih lanjut imam al-Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا. (رواه البخاري: ٢٦٤٤)
Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Ibrahim dia mendengar Yahya bin Adam, telah bercerita kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq dari 'Amru bin Maimun dari Mu'adz radhiallahu'anhu berkata, "Aku pernah membonceng di belakang Nabi ﷺ di atas seekor keledai yang diberi nama 'Ufair lalu beliau bertanya, "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?" Aku jawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya adalah hendaknya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan disiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun." Lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah boleh aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau menjawab, "Jangan kamu beritahukan mereka sebab nanti mereka akan berpasrah saja". (HR. Al-Bukhari: 2644 - shahih dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 20990 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H.
Sedangkan hadits semakna dan memiliki perbedaan pada kalimat terakhirnya "Allah memasukkannya ke dalam surga" dengan hadits-hadits di atas adalah sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا أَتَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ. (رواه أحمد: ٢١٠٢٩)
Telah bercerita kepada kami 'Ali bin 'Ashim dari Kholid Al Hadzdza` dari Abu 'Utsman An Nahdi dari Mu'adz bin Jabal berkata, Saya pernah membonceng Nabi ﷺ beliau bersabda kepadaku, "Hai Mu'adz! Tahukah kamu apa hak Allah atas manusia?" saya menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa kau tahu hak manusia atas Allah bila mereka melakukan hal itu?" saya menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah memasukkan mereka ke surga." (HR. Ahmad: 21029 - shahih, namun sanadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)
Catatan: Dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 21029 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits. Ia adalah 'Ali bin 'Ashim bin Shuhaib, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Hait dan wafat tahun 201 H. Penilaian ulama: Al-Bukhari menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Adz-Dzhabi berkomentar, "mereka men-dha'if-kannya. Sedangkan al-'Ajli menilainya tsiqah. Imam Ahmad meriwayatkan hadits darinya.
Sedangkan dalam riwayat ke-21030 terdapat empat jalur sanad dari Mu'adz bin Jabal. Namun pada sanad pertama dan kedua terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits. Periwayat tersebut bernama 'Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, An-Nasa'i, dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan al-'Ajli, Abu Zur'ah, dan Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bi qawi. Dengan kalimat, " ... أَنْ يَغْفِرَ لَهُمْ وَأَنْ يُدْخِلَهُمْ الْجَنَّةَ ..." (Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke surga).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏