“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KARAMAH ITU ANUGERAH YANG MESTI DISYUKURI

Karamah, secara bahasa bearti kemuliaan.

Bahkan Ifrid terkalahkan oleh seorang ahli hikmah, sedangkan secara istilah bermakna: a) dalam muamalah bermakna orang yang mulia dan dermawan, b) dalam tasawuf bermakna kelebihan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada orang yang shalih.

Menurut Thahir bin Shalih al-Jazairi, "perkara luar bisa yang tampak pada seorang wali" (dalam Jawahirul kalamiyah). Sedangkan Ibrahim al-Bajuri berpendapat bahwa, "karamah dipahami sesuatu luar biasa yang tampak dari seorang hamba yang telah jelas kebaikannya yang ditetap karena adanya ketekunan dalam mengikuti syari'at Nabi dan mempunyai i'tiqat yang benar" (dalam tuhfatul murid).

Hakekat Karamah menurut Hakim at-Tirmidzi adalah memuliakan, ketetapan Allah bagi seorang yang dikehendaki-Nya, penegasan ke-wali-an, dan tanda ke-wali-an pada tingkat realitas.

Menyikapi Karamah ini, bagi sebagian orang ada yang menganggap negatif yaitu berlebihan (ifrath) seperti ada kejadian luar biasa pada seseorang selalu dikaitkan bahwa ia mendapat karamah, ada juga yang menolak atau tidak mengakui (tafrid),  dan yang positif adalah menganggap positif yaitu bahwa Karamah adalah hikmah, memahami Karamah dengan memercayai adanya qadha dan qadar Allah berlaku kepada hamba-Nya dan itu termasuk sunnatullah.

Karamah terbagi dua: pertama, Karamah hissiyyah yaitu yang dapat disaksikan oleh orang awam. Seperti kemampuan berjalan di atas air, dikabulkan dia dalam waktu dekat, dan lain-lain. Kedua, Karamah maknawiyah yaitu Karamah yang tidak dimengerti oleh orang-orang awam. Ia hanya dipahami dan dirasakan oleh orang-orang khusus saja. Seperti keistiqamahan menjalankan adab-adab syari'at, akhlak terpuji, bersegera dalam kebaikan, dan lain-lain.

Ibnu Atha'illah al-Sakandari berkata, "terkadang Karamah (keistimewaan) itu dianugerahkan kepada orang yang belum sempurna ke-istiqamah-annya".

KARAMAH YANG DIANUGERAHKAN KEPADA ORANG SHALIH

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ. (قرآن سورة النمل/٢٧: ٣٩)

Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu (Nabi Sulaiman) sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml/27: 39)

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ. (قرآن سورة النمل/٢٧: ٤٠)

Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci (Taurat dan Zabur) berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml/27: 40)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]