“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


IZIN SUAMI UNTUK BERTAMU DAN MENGELUARKAN HARTA SETELAH MENIKAH

IMAM at-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُوَيْدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ ذَكْوَانَ عَنْ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ أَرْسَلَهُ إِلَى عَلِيٍّ يَسْتَأْذِنُهُ عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ فَأُذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ حَاجَتِهِ سَأَلَ الْمَوْلَى عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَوْ نَهَى أَنْ نَدْخُلَ عَلَى النِّسَاءِ بِغَيْرِ إِذْنِ أَزْوَاجِهِنَّ وَفِي الْبَاب عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَجَابِرٍ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٢٧٠٣)

Telah menceritakan kepada kami Suwaid, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Syu`bah dari Al Hakam dari Dzakwan dari Bekas budak `Amru bin Al `Ash bahwa `Amru bin Al `Ash pernah mengutusnya menemui Ali untuk meminta izin menemui Asma` binti Umais, lalu ia memberi izin, setelah menunaikan keperluannya, budak itu bertanya kepada |Amru bin Al `Ash tentang masalah itu, `Amru menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang kami atau melarang kami memasuki kediaman wanita-wanita tanpa izin suami-suami mereka." Dalam hal ini ada hadits serupa dari 'Uqbah bin 'Amir, Abdullah bin `Amru dan Jabir.

Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. (HR. At-Tirmidzi: 2703 - shahih dari `Amru bin al-'Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 17137 dan 17156 - shahih dari `Amru bin al-'Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H.

Catatan: Maula `Amru bin al-`Ash adalah bernama 'Abdur Rahman bin Tsabit, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Qais negeri hidup Maru dan wafat tahun 54 H (lihat HR. Ahmad: 17099 - shahih dari `Amru bin al-'Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H.

Ibnu `Abbas menjelaskan tafsir firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 58. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam Abu Daud. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ قَالُوا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ تَرَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ الَّتِي أُمِرْنَا فِيهَا بِمَا أُمِرْنَا وَلَا يَعْمَلُ بِهَا أَحَدٌ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمْ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنْ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ } قَرَأَ الْقَعْنَبِيُّ إِلَى { عَلِيمٌ حَكِيمٌ } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ إِنَّ اللَّهَ حَلِيمٌ رَحِيمٌ بِالْمُؤْمِنِينَ يُحِبُّ السَّتْرَ وَكَانَ النَّاسُ لَيْسَ لِبُيُوتِهِمْ سُتُورٌ وَلَا حِجَالٌ فَرُبَّمَا دَخَلَ الْخَادِمُ أَوْ الْوَلَدُ أَوْ يَتِيمَةُ الرَّجُلِ وَالرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ فَأَمَرَهُمْ اللَّهُ بِالِاسْتِئْذَانِ فِي تِلْكَ الْعَوْرَاتِ فَجَاءَهُمْ اللَّهُ بِالسُّتُورِ وَالْخَيْرِ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا يَعْمَلُ بِذَلِكَ بَعْدُ.

قَالَ أَبُو دَاوُد حَدِيثُ عُبَيْدِ اللَّهِ وَعَطَاءٍ يُفْسِدُ هَذَا الْحَدِيثَ. (رواه أبوداود: ٤٥١٨)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yaitu Abdul Aziz bin Muhammad- dari Amru bin Abi Amr dari Ikrimah, Bahwasanya pernah ada beberapa orang dari penduduk Irak berkata, "Wahai Ibnu Abbas, apa pendapatmu tentang ayat ini yang mana Allah perintahkan kami untuk mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, namun tidak seorang pun yang mau mengamalkannya? Yaitu firman Allah: (Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, agar meminta izin kepada kalian pada tiga waktu, yaitu sebelum ditunaikan salat Subuh, saat qailulah (istirahat siang) dan seusai salat Isya.' (Itulah) tiga waktu bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan mereka selain dari tiga waktu tersebut untuk berlalu lalang tanpa izin" Al -Qa'nabi membacanya hingga firman-Nya-:(Dia Mahatahu lagi Mahabijaksana) ' -QS. An-Nur/24: 58- Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyanyangi orang-orang mukmin. Allah suka (sifat) menutupi aib hamba-Nya. Kala itu orang-orang tidak memiliki penutup atau tabir di rumah mereka, sehingga dimungkinkan seorang pembantu, atau anaknya, atau anak yatim perempuan berlalu lalang, sementara ada sang suami yang sedang menggauli istrinya. Maka Allah memerintahkan mereka untuk meminta izin pada waktu-waktu tersebut. Lantas Allah limpahkan kepada mereka kecukupan dan kebaikan, hanya saja aku tidak pernah mendapati seorang pun yang meminta izin setelah itu (setelah mereka jadikan tabir-tabir pada rumah mereka)."

Abu Daud berkata, "Hadis Ubaidullah dan `Atha' merusak hadits ini." (HR. Abu Daud: 4518 - hasanu isnad mauquf menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari `Abdullah bin `Abbas bin `Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-`Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Diceritakan dalam sebuah hadits riwayat imam Ibnu Majah bahwa seorang wanita (Khairah) istri Ka`ab bin Malik ingin menyedekahkan harta miliknya sendiri. Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَحْيَى رَجُلٌ مِنْ وَلَدِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ جَدَّتَهُ خَيْرَةَ امْرَأَةَ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحُلِيٍّ لَهَا فَقَالَتْ إِنِّي تَصَدَّقْتُ بِهَذَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ فِي مَالِهَا إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا فَهَلْ اسْتَأْذَنْتِ كَعْبًا قَالَتْ نَعَمْ فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ زَوْجِهَا فَقَالَ هَلْ أَذِنْتَ لِخَيْرَةَ أَنْ تَتَصَدَّقَ بِحُلِيِّهَا فَقَال نَعَمْ فَقَبِلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا. (رواه إبن ماجه: ٢٣٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Harmalah bi Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Al Laits bin Sa'ad dari Abdullah bin Yahya -seorang lelaki anak dari Ka'ab bin Malik- dari Bapaknya dari Kakeknya bahwa neneknya Khairah -istri Ka'ab bin Malik- datang menemui Rasulullah ﷺ dengan membawa perhiasannya, lalu ia berkata, "Aku ingin menyedekahkan perhiasan ini." Rasulullah ﷺ lalu bersabda kepadanya, "Seorang istri tidak boleh menyedekahkan hartanya kecuali atas izin suaminya. Apakah kamu sudah meminta izin kepada Ka'ab?" ia menjawab, "Ya." Rasulullah ﷺ kemudian mengutus seseorang menemui Ka'ab bin Malik suaminya untuk menanyakan, "Apakah kamu sudah mengizinkan Khairah untuk bersedekah dengan perhiasan miliknya?" Ka'b menjawab, "Ya." Akhirnya Rasulullah ﷺ pun menerima sedekahnya." (HR. Ibnu Majah: 2380 - shahih dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ)

Hal tersebut atas dasar hadits riwayat imam Abu Daud,

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ أَنَّ أَبَاهُ أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجُوزُ لِامْرَأَةٍ عَطِيَّةٌ إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا. (رواه أبوداود: ٣٠٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits, telah menceritakan kepada kami Husain dari 'Amru bin Syu'aib bahwa Ayahnya, telah mengabarkan kepadanya dari Abdullah bin 'Amru bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak boleh seorang wanita memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya." (HR. Abu Daud: 3080 - hasan shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat imam at-Tirmidzi: 606 - hasan dari Shady bin `Ajlan , an-Nasa'i: 2493, 3696 (masyhur diakhir sanad), dan 3697 (hadits `aziz diakhir sanad) - hasan shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hanya saja terdapat penjelasan bahwa hal tersebut sudah sah dinikahi. Sebagaimana diinformasikan oleh imam an-Nasa'i,

حَدَّثَنَا أَبُو يُوسُفَ الرَّقِّيُّ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الصَّيْدَلَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ الْمُثَنَّى بْنِ الصَّبَّاحِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي خُطْبَةٍ خَطَبَهَا لَا يَجُوزُ لِامْرَأَةٍ فِي مَالِهَا إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا إِذَا هُوَ مَلَكَ عِصْمَتَهَا. (رواه إبن ماجه: ٢٣٧٩)

Telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Ar Raqqi Muhammad bin Ahmad Ash Shaidalani berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Al Mutsanna bin Ash Shabbah dari Amru bin Syu'aib dari Bapaknya dari Kakeknya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam khuthbahnya, "Seorang wanita tidak boleh menggunakan uang miliknya tanpa izin suaminya, jika suaminya telah sah menikahinya." (HR. Ibnu Majah: 2379 - shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 3079 - shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]