DUA HAL LAIN SELAIN SHALAT LIMA PULUH WAKTU
(Fenomena Isra' dan Mi'raj)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
IMAM At Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى النَّيْسَابُورِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ فُرِضَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ ثُمَّ نُقِصَتْ حَتَّى جُعِلَتْ خَمْسًا ثُمَّ نُودِيَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَإِنَّ لَكَ بِهَذِهِ الْخَمْسِ خَمْسِينَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَطَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ وَأَبِي ذَرٍّ وَأَبِي قَتَادَةَ وَمَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ١٩٧)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya An Naisaburi berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Anas bin Malik ia berkata, "Di malam isra` Nabi ﷺ diberi kewajiban untuk melaksanakan shalat sebanyak lima puluh kali. Kemudian bilangan tersebut dikurangi hingga menjadi lima kali, beliau lalu diseru, "Wahai Muhammad, sesungguhnya ketentuan yang ada di sisi-Ku tidak bisa diubah, maka engkau akan mendapatkan pahala lima puluh (waktu shalat) dengan lima (waktu shalat) ini." Ia berkata, "Dalam bab ini ada juga hadits dari Ubadah bin Ash Shamit, Thalhah bin Ubaidullah, Abu Dzar, Abu Qatadah, Malik bin Sha'sha'ah dan Abu Sa'id Al Khudri." Abu Isa berkata, "Hadits Anas adalah hadits hasan shahih gharib." (HR. At Tirmidzi: 197 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 12180 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
PERISTIWA PERISTIWA YANG DILIHAT NABI MUHAMMAD WAKTU ISRA'
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى مُوسَى فَرَأَيْتُهُ قَائِمًا يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ. (رواه أحمد: ١١٧٦٥)
Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sulaiman At Taimi dari Anas ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada malam aku di isra` kan aku melewati Musa, dan aku melihatnya sedang berdiri melaksanakan shalat di kuburnya." (HR. Ahmad: 11765 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 1617 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H, hadits ahlul Bashrah. Selanjutnya hadits riwayat Muslim: 4390, an Nasa'i: 1615 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Sedangkan hadits riwayat an Nasa'i: 1618 dan 1619, Ahmad: 21984 dan 22015 - shahih Anas bin Malik meriwayatkan dari orang yang tidak diketahui. Haditsnya 1618 'aziz, karena imam an Nasa'i meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu Yahya bin Habib bin 'Arabiy (w. 243) dan Isma'il bin Mas'ud (w. 248 H) hadits ahlul Bashrah. Dijelaskan lagi oleh imam Muslim,
حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ وَسُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَيْتُ وَفِي رِوَايَةِ هَدَّابٍ مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ. (رواه مسلم: ٤٣٧٩)
Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid dan Syaiban bin Farrukh keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dan Sulaiman At Taimi dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku mendatangi -dan pada riwayat Haddab- Aku melewati Musa pada malam aku di isra'kan, yaitu di samping bukit merah sedang shalat di dalam kuburannya." (HR. Muslim: 1479 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 1613 dan 1614 (hadits 'aziz) Ahmad: 13103 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
Berdasarkan hadits-hadits di atas bahwa Nabi Muhammad ﷺ memang melihat Nabi Musa sedang berdiri shalat di kuburannya bertempat di samping bukit merah.
TIGA HAL YANG DITERIMA RASULULLAH DI SIDRATUL MUNTAHA
imam an Nasa'i berkata,
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْتُهِيَ بِهِ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَهِيَ فِي السَّمَاءِ السَّادِسَةِ وَإِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا عُرِجَ بِهِ مِنْ تَحْتِهَا وَإِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا أُهْبِطَ بِهِ مِنْ فَوْقِهَا حَتَّى يُقْبَضَ مِنْهَا قَالَ { إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى } قَالَ فَرَاشٌ مِنْ ذَهَبٍ فَأُعْطِيَ ثَلَاثًا الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيُغْفَرُ لِمَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِهِ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا الْمُقْحِمَاتُ. (رواه النسائي: ٤٤٧)
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal dari Zubair bin 'Adi dari Thalhah bin Musharrif dari Murrah dari Abdulah dia berkata, " Ketika Rasulullah ﷺ diisra'kan beliau sampai ke Sidratul Muntaha, yaitu satu tempat di langit yang ke enam dan sampai di situlah berakhirnya semua yang naik dari bawah dan sampai di situ pula semua yang turun dari atas hingga dapat terpegang. Nabi ﷺ kemudian membacakan ayat, "Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya" (QS. An-Najm (53): 16) Rasulullah ﷺ bersabda, " (Yang meliputi Sidratul Muntaha) adalah kupu-kupu dari emas, lalu aku diberi tiga hal, yaitu shalat lima waktu, akhir-akhir surah Al-Baqarah, dan orang yang mati dari umatku diampuni, asalkan tidak menyekutukan Allah 'Azza wa Jalla dengan sesuatupun." (HR. An Nasa'i: 447 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Demikian juga hadits riwayat Imam Muslim: 252 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits 'aziz dua thabaqat awal (guru imam Muslim dan guru dari guru beliau. Hanya saja hadits ini tidak menyebutkan "kupu-kupu emas" tetapi hamparan dari emas. Secara makna diriwayatkan sebagaimana hadits riwayat Ahmad: 3483 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Sementara dalam riwayat Ahmad: 3808 diriwayat secara makna sebagai berikut:
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ عَنْ طَلْحَةَ عَنْ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْتُهِيَ بِهِ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَهِيَ فِي السَّمَاءِ السَّادِسَةِ وَإِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا يُصْعَدُ بِهِ مِنْ الْأَرْضِ وَقَالَ مَرَّةً وَمَا يُعْرَجُ بِهِ مِنْ الْأَرْضِ فَيُقْبَضُ مِنْهَا وَإِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا يُهْبَطُ بِهِ مِنْ فَوْقِهَا فَيُقْبَضُ مِنْهَا { إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى } قَالَ فَرَاشٌ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ فَأُعْطِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ خِلَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَخَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَغُفِرَ لِمَنْ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أُمَّتِهِ الْمُقْحِمَاتُ. (رواه أحمد: ٣٨٠٨)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal dari Az Zubair bin Adi dari Thalhah dari Murrah dari Abdullah ia berkata; Ketika Rasulullah ﷺ diisra`kan hingga sampai Sidratul Muntaha, yaitu pada langit keenam, di situlah berakhirnya semua yang naik dari bumi. Ia berkata sekali lagi; Dan apa yang naik dari bumi lalu di cabut darinya dan dari situ pula berakhirnya apa yang diturunkan dari atasnya lalu di ambil darinya. ((Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh Sesuatu yang meliputinya), ia berkata; Kasur yang terbuat dari emas, ia melanjutkan; Lalu Rasulullah ﷺ diberi tiga perkara; Kewajiban shalat lima waktu, penutup surah Al-Baqarah dan diampuni siapa saja yang tidak menyekutukan Allah 'Azza wa Jalla dengan sesuatu pun dari umatnya yang melakukan dosa-dosa besar. (HR. Ahmad: 3808 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)
Pohon di Sidratul Muntaha,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْتَهَيْتُ إِلَى السِّدْرَةِ فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ الْجِرَارِ وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَهَا تَحَوَّلَتْ يَاقُوتًا أَوْ زُمُرُّدًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ. (رواه أحمد: ١١٨٥٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Adi dari Humaid dari Anas ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku sampai di Sidrah (muntaha), dan ternyata buahnya seperti --- dan daunnya seperti telinga gajah." (HR. Ahnad: 11853 - isnadnya shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Sebelum Sidratul Muntaha yaitu langit ketujuh terdapat, imam Ahmad mencerirakan:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ. (رواه أحمد: ١٢١٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Baitul Makmur di langit ketujuh, setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan mereka tidak keluar lagi'. (HR. Ahmad: 12100 - isnadnya shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Sementara itu dalam riwayat lain imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الصَّلْتِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ انْتَهَيْتُ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا أَنَا فَوْقِي بِرَعْدٍ وَصَوَاعِقَ ثُمَّ أَتَيْتُ عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُطُونِهِمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ قَالَ هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا فَلَمَّا نَزَلْتُ وَانْتَهَيْتُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا أَنَا بِرَهْجٍ وَدُخَانٍ وَأَصْوَاتٍ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ قَالَ الشَّيَاطِينُ يَحْرِفُونَ عَلَى أَعْيُنِ بَنِي آدَمَ أَنْ لَا يَتَفَكَّرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَوْلَا ذَلِكَ لَرَأَتْ الْعَجَائِبَ. (رواه أحمد: ٨٤٠٢)
Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad bin Abdul Warits berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari 'Ali bin Yazid dari Abi Ash Shalt dari Abu Hurairah berkata; Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku sampai pada langit ketujuh, dan ternyata aku melihat di atasku ada guruh dan halilintar, kemudian aku mendatangi suatu kaum yang perut-perut mereka seperti sarang ular sehingga bisa dilihat dari luar perutnya, aku bertanya; 'Siapa mereka? ' Jibril menjawab; 'Mereka adalah orang-orang yang memakan riba.' Dan ketika aku turun ke langit dunia, aku melihat dan ternyata aku berada di antara debu, asap dan suara, maka aku berkata, "Siapa mereka?" Jibril berkata, "Mereka adalah setan-setan yang menghalangi pandangan mata anak cucu Adam sehingga mereka tidak bisa memikirkan tentang kerajaan langit dan bumi, sekiranya bukan karena itu sungguh mereka akan menyaksikan keajaiban-keajaiban." (HR. Ahmad: 8402 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 8402 terdapat periwayat bernama Abu ash Shalat (dari Abu Hurairah) ia tabi'in kalangan pertengahan dinilai oleh imam Ibnu Hajar dan adz Dzahabi majhul (tidak diketahui). Kemudian 'Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan Ahmad bin Hanbal, Abu Zur'ah, dan al 'Ajli menilainya laisa bi qawi.
Demikian perbedaan periwayatan tentang peristiwa Isra'-nya Nabi Muhammad. Setiap riwayat yang detail menyebutkan peristiwa tersebut cendrung berkualitas dha'if. Dasar tersebut membuktikan bahwa peristiwa tersebut ghaib tidak semua orang mengetahui kecuali Rasulullah sendiri menceritakannya kepada para shahabat dan periwayat yang diakui kedhabithannya.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏