PERBANYAK KETURUNAN MEMBANGGAKAN RASULULLAH ﷺ DI DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh,
FITRAH manusia adalah hidup tumbuh dan berkembang dengan kebabasan berfikir dan berkolaborasi dengan makhluk lain sesuai dengan sunnatullah. Oleh karena itu, hal tersebut sejatinya menjadi kebanggaan mereka. Sehingga memudahkan dan memperkuat eksistensi hidup dan kehidupan mereka sebagai khalifah di muka bumi.
Sunnatullah-lah menjadikan manusia berkehendak untuk memperbaiki dan mengelola bumi dengan baik dan berperadaban maju. Pada gilirannya inilah yang menjadi kebanggan Rasulullah ﷺ kelak dihadapan para nabi di akhirat.
Rasulullah ﷺ telah disiapkan telaga di akhirat yang siap menunggu umat beliau berbondong-bondong mendatangi beliau. Namun, sepanjang hidup beliau dan setelah beliau wafat terjadi perobahan pola hidup. Oleh karena itu beliau berpesan, "janganlah ada diantara kalian murtad meninggalkan agama Islam setelah aku wafat". Kenyataannya malah di penantian beliau di telaga itu, diceritakan dalam banyak riwayat bahwa ada yang telah beliau panggil ternyata terhijab karena kelakuan waktu hidup di dunia. Pengahalang tersebut antara beliau dengan umat beliau tersebut terjadi karena murtad (pindah agama), bahkan ada yang kembali kepada agama nenek moyang mereka dahulu. Padahal beliau telah menunggu hari-hari pertemuan yang begitu lama sejak kewafatan beliau hingga akhir zaman (kiamat datang).
Luas telaga beliau diceritakan dalam banyak riwayat seluas Makkah hingga Baitul Maqdis atau Jarba' hingga Adzrah. Beliau bersabda, "Sesungguhnya saya memiliki telaga (yang luasnya) antara Ka'bah hingga Baitul Maqdis, putihnya seperti putih susu, dan tempat minumnya sejumlah bintang-bintang, dan sesungguhnya aku adalah Nabi yang paling banyak pengikut di antara para nabi kelak di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah: 4291 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.
Bahkan imam Muslim meriwayatkan,
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَمَامَكُمْ حَوْضًا كَمَا بَيْنَ جَرْبَاءَ وَأَذْرُحَ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ الْمُثَنَّى حَوْضِي و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَزَادَ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ قَرْيَتَيْنِ بِالشَّأْمِ بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ ثَلَاثِ لَيَالٍ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ بِشْرٍ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ و حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّه. (رواه مسلم: ٤٢٥٣)
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna serta Ubaidullah bin Sa'id mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Al Qaththan dari Ubaidullah Telah mengabarkan kepadaku Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Sesunggunya di hadapan kalian ada telaga, yang luasnya sebagaimana jarak antara Jarba dan Adzrah." Sedangkan menurut riwayat Ibnu Mutsanna disebutkan 'Haudhi' (telagaku). Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Bapakku Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun ada tambahan, Ubaidullah berkata; 'Aku bertanya kepada Nafi', lalu dia menjawab; bahwa Jarba dan Adzrah itu adalah dua desa di negeri Syam yang jarak tempuh antara keduanya memakan waktu tiga malam. Sedangkan di dalam Hadits Bisyr; 'Memakan waktu tiga hari.' Dan telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah dari Musa bin Uqbah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ yang serupa dengan Hadits Ubaidullah. (HR. Muslim: 4253 - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits Masyhur)
Oleh karena itu raihlah secara berbondong-bondong telaga Rasulullah ﷺ tersebut. Karena Allah berfirman,
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا. (قرآن سورة النساء/٤: ١٢٤)
Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, akan masuk ke dalam surga dan tidak dizalimi sedikit pun. (QS. An-Nisā'/4: 124)
Ayat senada juga diulang dalam QS. Maryam/19: 60. Allah memperlakukan mereka dengan adil dan bijaksana, sesuai dengan apa yang Ia kehendaki.
Kemudian ditegaskan oleh Allah,
وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٠٠)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. At-Taubah /9: 100)
Berdasarkan uraian di atas selayaknyalah seorang Muslim sejati mewujudkan cita-cita Rasulullah tersebut sebagai wujud kecintaan kepada beliau. Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه أحمد: ١٢١٥٢)
Telah menceritakan kepada kami Husain dan Affan berkata, Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khalifah telah bercerita kepadaku Hafs bin Umar dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk menikah dan melarang dari membujang dengan larangan yang keras, dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Menikahlah dengan seorang wanita yang memiliki kasih sayang serta manghasilkan banyak keturunan, karena sesungguhnya saya berlomba-lomba untuk saling memperbanyak umat dengan para nabi pada hari kiamat." (HR. Ahmad: 12152 - shahih lighairihi, isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang guru yang tsiqah)
Demikian juga dari jalur 'Affan bin Muslim bin 'Abdullah yaitu hadits riwayat Ahmad: 13080 - shahih lighairihi, isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
Selanjutnya imam Ibnu Majah meriwayatkan matan semakna, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ قَيْسٍ عَنْ الصُّنَابِحِ الْأَحْمَسِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ فَلَا تَقَتِّلُنَّ بَعْدِي. (رواه إبن ماجه: ٣٩٣٤)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku dan Muhammad bin Bisyr keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il dair Qais dari As Shunabih Al Ahmas dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya aku menunggu kalian di telaga surga, dan di jadikan untukku pengikut yang sangat banyak dari kalian, maka janganlah kalian saling memerangi sepeninggalku." (HR. Ibnu Majah: 3934 - shahih dari Sunnabih bin al A'mar, ia shahabat dan negeri hidup Kufah. Hadits ahlul Kufah)
Rasulullah ﷺ nanti di akhirat menunggu umatnya di telaga surga lebih dahulu, imam al Bukhari berkata,
حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ. (رواه البخاري: ٦٠٨٩)
Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Sulaiman dari Syaqiq dari Abdullah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Akulah yang mendahului kalian yang mendatangi telaga." (HR. Al Bukhari: 6089 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6101 - shahih dari 'Jundub bin 'Abdullah bin Sufyan, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H. Matan yang sama diriwayat oleh imam Muslim: 4263 - shahih dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H.
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 6090 dan 6527, Muslim: 4250 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H.
Hanya saja tidak semua umat beliau yang mendekati telaga yang ditempati itu, hal ini diceritakan oleh Imam al Bukhari,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا لَيَرِدُ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ قَالَ أَبُو حَازِمٍ فَسَمِعَنِي النُّعْمَانُ بْنُ أَبِي عَيَّاشٍ وَأَنَا أُحَدِّثُهُمْ هَذَا فَقَالَ هَكَذَا سَمِعْتَ سَهْلًا فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ وَأَنَا أَشْهَدُ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ لَسَمِعْتُهُ يَزِيدُ فِيهِ قَالَ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي. (رواه البخاري: ٦٥٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman dari Abu Hazim mengatakan aku mendengar Sahal bin Sa'd mengatakan, aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Aku manusia pertama-tama diantara kalian yang menuju telaga, barangsiapa mendatanginya, maka tak akan haus selama-lamanya, sungguh beberapa orang menemuiku yang aku mengenal mereka dan juga mereka mengenalku, lantas tiba-tiba aku dan mereka terhalang." Abu Hazim mengatakan; dan Nu'man bin Abi 'Ayyasy mendengar aku ketika aku sedang menceritakan kepada mereka hadits ini, lantas ia bertanya kepadaku; 'kamu mendengar dari Sahal? Kujawab; 'Iya.' Ia katakan; 'Dan saya bersaksi kepada Abu Sa'id Al Khudriy, sungguh aku mendengarnya dengan tambahan redaksi, "Mereka adalah dari umatku' lantas ada suara yang menjawab; kamu tidak tahu perubahan yang mereka lakukan sepeninggalmu! Sehingga aku berkata; 'Celaka, celaka bagi siapa saja yang mengganti agama sepeninggalku!" (HR. Al Bukhari: 6528 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)
Demikian juga hadits riwayat Muslim: 4243 dan 6097 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H. Hadits ini masyhur, yaitu diriwayatkan oleh tiga jalur sanad namun tidak sampai pada jumlah mutawatir.
Redaksi lain diriwayat oleh Imam Ahmad,
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْهُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَ أَفْلَحَ وَيُؤْتَى بِأَقْوَامٍ فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ فَيُقَالُ مَا زَالُوا بَعْدَكَ يَرْتَدُّونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ. (رواه أحمد: ٢٢١٢)
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Jarir dari Laits bin Abu Sulaim dari Abdul Malik bin Sa'id dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku yang mendahului kalian ke telaga, barangsiapa mendatanginya maka ia beruntung. Dan didatangkan orang-orang lalu diletakkan di sebelah kiri, maka aku berkata; 'Wahai Rabb-ku.' Lalu dikatakan, "Mereka murtad, kembali kepada (kepercayaan) lama mereka setelah ketiadaanmu." (HR. Ahmad: 2212 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 2212 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits. Sedangkan al Bukhari menilainya shaduq yuham.
Imam Ibnu Majah meriwayat bahwa telaga Rasulullah ﷺ seluas antara Ka'bah hingga Baitul Maqdis. Beliau berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِي حَوْضًا مَا بَيْنَ الْكَعْبَةِ وَبَيْتِ الْمَقْدِسِ أَبْيَضَ مِثْلَ اللَّبَنِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ وَإِنِّي لَأَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه إبن ماجه: ٤٢٩١)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Zakariya telah menceritakan kepada kami 'Athiyah dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya saya memiliki telaga (yang luasnya) antara Ka'bah hingga Baitul Maqdis, putihnya seperti putih susu, dan tempat minumnya sejumlah bintang-bintang, dan sesungguhnya aku adalah Nabi yang paling banyak pengikut di antara para nabi kelak di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah: 4291 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Lebih lanjut imam Muslim meriwayatkan,
و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَمَامَكُمْ حَوْضًا كَمَا بَيْنَ جَرْبَاءَ وَأَذْرُحَ فِيهِ أَبَارِيقُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ وَرَدَهُ فَشَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا. (رواه مسلم: ٤٢٥٤)
Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahab Telah menceritakan kepadaku Umar bin Muhammad dari Nafi' dari Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di hadapan kalian ada telaga, yang luasnya sebagaimana jarak antara Jarba dan Adzrah. Di dalamnya terdapat gelas-gelas bagaikan bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang mengambil dan meminum darinya maka setelah itu dia tidak akan pernah haus selamanya." (HR. Muslim: 4254 - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6091, Muslim: 4252 dan 4253 (keduanya hadits 'aziz, imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya yang tsiqah) dan Abu Daud: 4120 sampai lafazh "jarba' wa adzrah" - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Demikianlah dijelaskan oleh Rasulullah tentang cita-cita beliau terhadap umat beliau yaitu memperbanyak keturunan, jangan ada yang murtad setelah beliau wafat dan berpaling dari ajaran yang beliau sampaikan. Karena beliau telah menunggu umatnya ditelaga yang indah dan airnya membuat mereka tidak pernah haus selamanya.
Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya mewadahi dengan syari'at dan hikmah-hikmah yang menjadi petunjuk bagi hidup dan kehidupan manusia. Hal tersebut terhimpun dalam al Qur'an dan Hadits-hadits beliau. Kemudian diwariskan kepada para ulama-ulama, sehingga beliau mengizinkan mereka berijtihad terhadap apa yang belum dijelaskan dalam keduanya agar umat memahami dan mudah menjalankan syari'at. Apa pun yang disyari'atkan oleh Allah dan Rasul-Nya pasti mendatangkan kebaikan. Apa-apa yang belum diketahui hikmahnya juga mesti dijalani dengan ridha dan ikhlas, sehingga mendapatkan ketenangan jiwa dan keberkahan hidup. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Billlahittaufiq wal hidayah,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏