“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

NABI MUHAMMAD DIUTUS KEPADA GENERASI TERBAIK DAN MEMUJI GENERASI YANG BERIMAN KEPADA BELIAU WALAU TIDAK PERNAH BERJUMPA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Nabi Muhammad diutus kepada umatnya, para shahabat maupun orang-orang yang beriman kepada beliau dan istiqamah terhadap ajarannya. Generasi ke generasi Islam selanjutnya, tentu generasi terbaik sepanjang sejarah adalah para shahabat dengan pengakuan dan dukungan yang kuat. Namun, beliau sangat memuji umatnya yang beriman kepada beliau walau pun tidak pernah melihat dan tidak pernah bertemu. Hal semacam itu dikarenakan kasih sayang yang sangat besar kepada umatnya. 

Imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ. (رواه ألبخاري: ٣٢٩٣) 

Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah bercerita kepada kami Ya'qub bin "Abdur Rahman dari "Amru dari Sa'id Al Maqbariy dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku diutus pada masa generasi terbaik anak keturunan Adam, dari generasi ke generasi hingga aku berada pada generasi yang dimasanya aku hidup (generasi shahabat)". (HR. Al Bukhari: 3293 - shahih  dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 8502 dan 9023 - isnadnya jayyid menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Kemudian imam al Bukhari juga meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانَ أَصْحَابُنَا يَنْهَوْنَا وَنَحْنُ غِلْمَانٌ أَنْ نَحْلِفَ بِالشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ. (رواه البخاري: ٦١٦٦) 

Telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Ibrahim dari 'Abidah dari 'Abdullah mengatakan, Pernah Nabi ﷺ ditanya, "Siapakah manusia yang terbaik?" Nabi menjawab, "Yaitu generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian akan datang suatu kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksian mereka." Kata Ibrahim; 'dan kawan-kawan kami -ketika itu kami masih kecil-melarang kami bersumpah untuk melaksanakan kesaksian dan janji.' (HR. Al Bukhari: 6166 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 2458, 3378, 5949, 6201, Muslim: 4600 dan 4601 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Al Bukhari: 2457, 3377, 5948, Muslim: 4603 - shahih dari Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits yang semakna, 

حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَيُونُسُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ خَيْثَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ حَسَنٌ ثُمَّ يَنْشَأُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ أَيْمَانُهُمْ شَهَادَتَهُمْ وَشَهَادَتُهُمْ أَيْمَانَهُمْ. (رواه أحمد: ١٧٦٢٦) 

Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Yunus keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ashim bin Bahdalah dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari An Nu'man bin Basyir, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik umat ini adalah generasi yang aku diutus kepada mereka (yakni para sabahat), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelahnya." Hasan menyebutkan, "Kemudian muncullah suatu kaum yang sumpah-sumpah mereka mendahului persaksian mereka dan persaksian mereka mendahului sumpah-sumpahnya mereka." (HR. Ahmad: 17626 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H)

Catatan: Hadits riwayat Ahmad: 17626 ini tergolong hadits 'aziz karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu: 1. Al Hasan bin Musa (w. 209) dan 2. Yunus bin Muhammad bin Muslim (w. 207 H).

Riwayat dha'if tentang ini, 

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رُبَيِّعَةَ قَالَ قَالَ سَلْمَانُ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا بَقِيَ الْأَوَّلُ حَتَّى يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ فَإِذَا هَلَكَ الْأَوَّلُ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ هَلَكَ النَّاسُ. (رواه الدارمي: ٢٥١) 

elah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Aun telah mengabarkan kepada kami Khalid dari 'Atha` bin As Sa`ib dari Abdullah bin Rabi'ah ia berkata, " Salman berkata, 'Manusia akan tetap dalam keadaan baik-baik saja selama masih ada generasi awal, hingga generasi berikutnya belajar (darinya), jika generasi awal telah hilang sebelum generasi akhir belajar, hancurlah manusia". (HR. Ad Darimi: 251 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Salman bin al Islam, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 33 H) 

Demikian juga hadits riwayat ad Darimi: 244 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Salman bin al Islam, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 33 H.

Disisi lain Rasulullah ﷺ sangat memuji orang-orang yang beriman kepada beliau padahal tidak pernah melihat dan bertemu dengan beliau. Sehingga iman mereka patut dipuji dan disanjung. Sebagaimana diabadikan dalam al Qur'an surat al Jum'ah/62 ayat 1 sampai 3. Selanjutnya diakui oleh beliau sendiri. 

Berikut oenulis paparkan hadits-hadits terkait dan ayat al Qur'an yang dimaksud dalam hal tersebut. 

Imam at Tirmidzi meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ زَيْدٍ الدِّيْلِيُّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أُنْزِلَتْ سُورَةُ الْجُمُعَةِ فَتَلَاهَا فَلَمَّا بَلَغَ { وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ } قَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِنَا فَلَمْ يُكَلِّمْهُ قَالَ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ فِينَا قَالَ فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو الْغَيْثِ اسْمُهُ سَالِمٌ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ مَدَنِيٌّ. (رواه الترمذي: ٣٨٦٨) 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Zaid Ad Diili dari Abu Al Ghaits dari Abu Hurairah dia berkata, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah ﷺ yaitu ketika turunnya surah Al Jumu'ah, maka beliau membacanya hingga ketika beliau sampai pada ayat "Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka ..." (QS. Al Jum'ah ayat 3. Maka ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang belum berhubungan dengan kami?" beliau tidak menjawabnya, Abu Hurairah berkata, "Saat itu Salman Al Farisi berada di antara kami." Abu Hurairah melanjutkan; Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya kepada Salman seraya bersabda, "Sekiranya iman itu di perbintangan, sungguh iman itu akan diraih oleh mereka." Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan, dan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, adapun Abu Al Ghaits nama aslinya adalah Salim mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) Abdullah bin Muthi' Madani." (HR. At Tirmidzi: 3868 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 4518 (hadits 'azis, karena imam al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya yang maqbul), Muslim: 4619, at Tirmidzi: 3232, Ahmad: 9038 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Firman Allah dimaksud adalah:

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ. (قرآن سورة الچمعة/٦٢: ١) 

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah Yang Maharaja, Mahasuci, Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Jumu‘ah/62: 1)

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ. (قرآن سورة الچمعة/٦٢: ٢) 

Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-Jumu‘ah/62: 2)

وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ. (قرآن سورة الچمعة/٦٢: ٣) 

(Allah juga mengutus Nabi Muhammad) kepada (kaum) selain mereka yang belum (datang) menyusul mereka. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Jumu‘ah/62: 3)

Pada hadits riwayat imam Muslim: 4618 tidak menyebutkan sabab wurudnya, sebagaimana beliau berkata, 

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ جَعْفَرٍ الْجَزَرِيِّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ الدِّينُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَذَهَبَ بِهِ رَجُلٌ مِنْ فَارِسَ أَوْ قَالَ مِنْ أَبْنَاءِ فَارِسَ حَتَّى يَتَنَاوَلَهُ. (رواه مسلم: ٤٦١٨) 

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi' dan 'Abad bin Humaid keduanya berkata; 'Abad Telah mengabarkan kepada kami dan berkata Ibnu Rafi'; Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ja'far Al Jazari dari Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, 'Seandainya agama ini berada di tempat bintang-bintang di langit, tentu seorang laki-laki dari Persia -atau beliau bersabda, 'dari generasi Persia, - akan menuju ketempat bintang-bintang itu hingga ia mencapainya.' (HR. Muslim: 4618 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7735 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَيْمَنَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَطُوبَى سَبْعَ مِرَارٍ لِمَنْ آمَنْ بِي وَلَمْ يَرَنِي. (رواه أحمد: ٢١٢٤٦) 

Telah bercerita kepada kami 'Abdush Shomad dan 'Affan keduanya berkata; Telah bercerita kepada kami Hammam telah bercerita kepada kami Qotadah dari Aiman dari Abu Umamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Beruntunglah orang yang melihatku, beruntunglah -beliau mengucapkannya sebanyak tujuh kali- orang yang beriman padaku tapi tidak melihatku." (HR. Ahmad: 21246 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H) 

Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 21187 dan 21121 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H.

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Anas bin Malik, beliau berkata, 

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا جَسْرٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَرَآنِي مَرَّةً وَطُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي سَبْعَ مِرَارٍ. (رواه أحمد: ١٢١١٨) 


Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim berkata, Telah menceritakan kepada kami Jasr dari Tsabit dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan melihatku (Rasulullah ﷺ mengucapkannya sekali) dan beruntung pula orang yang beriman kepadaku meskipun tidak melihatku (Dan Rasulullah ﷺ mengucapkannya tujuh kali)." (HR. Ahmad: 12118 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H) 

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 12118 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Jisir bin Farqad, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Ja'far dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai', an Nasa'i menilainya dha'if, sedangkan Abu Hatim menilainya laisa bi qawi. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Hadits-hadits tersebut diriwayatkan secara makna dengan lafazh berbeda. Namun, mempunyai maksud yang sama. 

Walau pun demikian terdapat juga hadits yang dha'if dengan redaksi lebih panjang daripada hadits dari Shadiy bin 'Ajlan seperti hadits riwayat imam Ahmad di atas sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ لَهِيعَةَ قَالَ ثَنَا دَرَّاجٌ أَبُو السَّمْحِ أَنَّ أَبَا الْهَيْثَمِ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِمَنْ رَآكَ وَآمَنَ بِكَ قَالَ طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي قَالَ لَهُ رَجُلٌ وَمَا طُوبَى قَالَ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا. (رواه أحمد: ١١٢٤٥) 

Telah menceritakan kepada kami Hasan berkata; aku mendengar Abdullah bin Lahi'ah berkata; telah menceritakan kepada kami Darraj Abu As Samh bahwa Abu Al Haitsam menceritakan kepadanya dari Abu Sa'id Al Khudri dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang yang dapat melihat dan beriman kepadamu." Lalu beliau bersabda, "Beruntunglah orang yang melihat dan beriman kepadaku, kemudian beruntunglah, beruntunglah dan beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan dia belum pernah melihatku." Laki-laki tersebut berkata, "Apakah keberuntungan orang tersebut?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Sebuah pohon di surga yang besarnya seperti jarak seratus tahun perjalanan, pakaian penduduk surga yang keluar dari lengan bajunya." (HR. Ahmad: 11245 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H) 

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 11245 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu: 1. Darraj bin Sam'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu as Samah negeri hidup Maru dan wafat tahun 126 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, sementara Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin mentsiqahkannya. Sedangkan Ahmad bin Hanbal mengatakan, "haditsnya mungkar". 2. 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Hakim menilainya dzahibul hadits, Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth, sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq.  Selebihnya adalah periwayat maqbul. 

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]